
"Maaf tuan muda, saya takut nyonya akan marah, jika tuan muda pulang membawa wanita..."
"Kalau saya boleh memberi saran, lebih baik tuan muda meminta izin terlebih dahulu pada nyonya". Ucap sang supir dengan cemas
"Buat apa minta izin? Ngga ada yang bisa larang saya bawa siapa pun kedalam mansion milik saya". Ucap Joseph
"Baik, tuan muda. Mohon maafkan saya".
"Hmm".
Joseph menunduk, menatap wajah teduh Naya yang sedang terlelap diatas pahanya. Ia usap lembut puncak kepala Naya tanpa mengganggu tidur lelapnya
"Nay? Sebenarnya apa yang terjadi sama lo sampai kabur dari rumah?"
Joseph meraih outer panjang yang ada dimobilnya untuk menutupi tubuh Naya. Ia tahu, udara pagi itu sangat dingin, ditambah pendingin di mobilnya, membuat Naya menggigil hingga kedua tangannya terasa seperti es membeku
"Hari ini gue akan bawa lo ketemu Devan, tapi lo harus istirahat dulu"
Dua puluh menit perjalanan, mobil itu sudah tiba disebuah rumah megah dan mewah. Bangunan besar seperti mansion yang tidak salah bila dikatakan sebagai istana didunia nyata bergaya modern, sangat elegan dan memanjakan mata
Mobil Joseph disambut beberapa pria bertubuh kekar di teras rumahnya. Membuat Joseph berdecak sebal. Karena, jika orang-orang tersebut ada dirumahnya, bisa dipastikan jika sang papa, Henry, sedang berada didalam. Dimana ada Henry, disana ada para pengawalnya
"Ada tua bangka, masih inget pulang, dia?"
Setelah mobil berhenti, Joseph mencoba membangunkan Naya dari tidurnya. Naya mengerjap beberapa kali sebelum terlonjak kaget, ia pun bangun dari diduknya dan melirik keluar jendela
"Joseph, itu, mereka siapa?". Tanya Naya gugup
"Anak buah bokap gue".
"Emang kita dimana?".
"Dirumah gue".
"Ha? Naya ngga mau disini, Naya mau, Naya mau ke...".
"Mau kemana, Nay? Lo aja ngga ada tujuan, kan? Ini hampir subuh, mending lo disini dulu, istirahat".
"Ngga mau, Naya takut".
"Takut kenapa?".
"Joseph temannya Devan, Naya ngga mau kalau Joseph bawa Naya temuin Devan".
"Loh, kok Naya tau rencana gue?"
"Jadi lo kabur karna Devan? Ck, gue ngga ngerti, Nay..."
"Tapi mending kita turun dulu, ngobrol didalam, ayo". Ucap Josep seraya turun dari mobilnya yang langsung disusul Naya
Naya meneguk ludah, rasa takut semakin menjadi mana kala orang bertubuh besar itu kompak menatap dingin kearahnya
Naya sedikit bergeser ke belakang tubuh Joseph yang langsung disadari oleh Joseph sendiri dengan menggenggam tangan Naya
"Siapa yang suruh ngeliatin? Tunduk!". Titah Joseph seraya melirik orang-orang tersebut yang langsung patuh dengan ucapannya
Didalam, kehadiran mereka disambut oleh beberapa pelayan. Salah satu dari mereka berjalan menghampiri keduanya lalu membungkuk sopan
"Ada yang bisa saya bantu tuan muda?". Tanya seorang pria paruh baya dengan pakaian rapi khasnya pelayan
"Siapin kamar di sebelah kamar saya. Terus, buatin coklat hangat dan bawa makanan ringan".
"Baik, tuan muda". Ucap pelayan tersebut seraya membungkuk lalu pergi dari posisinya. Diikuti pelayan lain yang segera menjalankan tugasnya
"Eum, Joseph, Naya bingung, kok sepagi ini mereka semua udah bangun?". Tanya Naya saat mendongak menatap Joseph
"Haha, mereka itu tugas malam, Nay. Orang-orang diluar tadi, mereka emang ditugasin buat kawal keberadaan bokap gue..."
"Dan bapak tua tadi, namanya pak Gio, kepala pelayan dirumah ini. Dia dan pelayan dibawahnya harus stand bye kapan pun gue atau keluarga gue butuh".
"Cih, ngga sudi nyebut keluarga". Gumam Joseph seraya berdecih
"Eum? Joseph ngomong apa?".
"Engga, ayo. Ikut gue".
"Kemana?".
"Hutan".
"Wah? Rumah Joseph ada hutannya?".
"Ck, ya ngga ada lah, Nay. Percaya aja, lo".
"Hehe, Naya kira beneran ada".
---
Suasana siang hari saat itu tidak terik seperti biasanya. Terlihat awan sedikit gelap dan angin terasa sejuk. Seperti pertanda akan turunnya hujan
__ADS_1
Saat jam istirahat, Rangga, Tio dan Eza menghampiri Devan yang sedang duduk seorang diri di rooftop gedung sekolahnya
Devan terlihat menghisap sebatang rokok ditangannya, ditemani sekaleng minuman kopi yang ada disisinya
"Anjir, lo sekolah absen doang tapi ngga ikut pelajaran". Ucap Rangga seraya mendorong bahu Devan, "Bodo amat". Jawab Devan dengan tatapan lurus kedepan
"Heh? Emang Naya belom balik?". Tanya Tio seraya berjongkok didepan Devan, "Belom".
"Ck, kemana ya, itu bocah?". Gumam Tio bertanya-tanya
Devan menoleh ke sekiling, mengabsen teman-temannya satu persatu
"Fandy sama Brian mana?". Tanya Devan
"Ke kantin". Jawab Tio
"Joseph?". Tanya Devan lagi
"Ngga masuk". Jawab Tio
"Kenapa?".
"Mana gue tau".
"Katanya sih, balik dari tongkrongan dia dikepung sama orang suruhan dari musuh bokapnya". Ucap Rangga
"Serius lo?". Tanya Eza
"Ya, terakhir dia chat gue begitu. Dia kabur ke gang melati". Jawab Rangga
"Haha, tuh anak udah mati di keroyok, kali". Ucap Eza tertawa kecil
"Nasib jadi anak bos mafia. Jadi incaran musuh bokapnya, padahal bokapnya kemana-mana dikawal, tapi bokapnya ngga ngasih pengawal buat Joseph". Ucap Tio
"Bokapnya emang brengsek, Joseph aja muak". Ucap Eza
"Heh, ngga usah ngomongin orang. Apalagi itu orang tua". Ucap Devan
"Lo udah lapor polisi belom?". Tanya Rangga menatap Devan
"Gue ngga sebodoh itu sampai ngga lapor polisi. Tapi belum ada hasilnya". Ucap Devan
"Hmm, yaudah, sabar aja". Ucap Rangga
"Sabar muka, lo! Gue stress mikirin Naya. Kasihan dia, tidurnya dimana? Makan nya gimana?..."
"Argh! Gue emang bangsat!". Jerit Devan seraya meninju dinding disisinya
"Ngga lucu, anjing". Ucap Eza menatap Rangga, "Hehe, bercanda".
"Devan?! Sini lo!". Panggil Sisil dengan emosi menggebu, ia tarik kerah seragam Devan dengan kedua tangannya sampai Devan bangun dari duduknya
"Gue dengar Naya hilang! Lo kenapa santai-santai disini?! Kenapa ngga cari Naya?!". Tanya Sisil emosi, Devan pun menurunkan kedua tangan Sisil dari seragamnya
"Lo kalo ngga tau apa-apa mending diam. Lo ngga tau stress nya gue cari Naya dari pagi-pagi buta tapi ngga ada hasilnya! Ngga ada petunjuk apapun buat temuin Naya!..."
"Sekarang gue tanya sama lo, apa lagi yang bisa gue lakuin selain nunggu laporan pencarian dari polisi? Apa? Lo bisa kasih ide ngga? Gue harus ngapain biar Naya ketemu? Hmm?". Tanya Devan dengan kedua alis terangkat
"Akh!". Jerit Sisil seraya mengacak rambutnya, "Sorry, gue khawatir sama Naya, gue takut dia kenapa-napa". Ucap Sisil
"Lo pikir gue engga?..."
"Gue kasih tau ke lo semua, Naya istri gue! Apa gue tenang istri gue kabur dan hilang? Engga! Rasanya kayak mati!". Ucap Devan dengan mata berkaca-kaca yang dibalas tatapan tidak percaya dan rasa terkejut dari teman-temannya dan kedua sahabat Naya
"Naya istri lo?". Tanya Sisil
"Iya, dia istri gue". Jawab Devan
"Seriously?". Gumam Mily
"Anjir, gue baru sadar". Ucap Rangga seraya meraih tangan kiri Devan yang tersemat cincin dijari manisnya
"Iya, juga? Ternyata itu cincin nikah lo?". Tanya Tio
"Bodoh kalo ngga ada yang percaya". Ucap Devan
"Ya gue percaya, sih. Lo aja keliatan bucin ke Naya". Ucap Eza
"Kalo kata Joseph, rela goblok demi Naya". Sambung Rangga
"Shut up, Rangga!". Ucap Sisil menatap sengit kearah Rangga, "Bisa ngga sih, jangan ngomongin yang ngga penting?".
"Iya, sorry, sorry". Gumam Rangga
"Gini, Van. Balik sekolah, gue sama Mily bantu lo cari Naya. Kita bakal datangin tempat-tempat yang pernah Naya omongin ke kita..."
"Ada beberapa tempat yang pengen banget dia kunjungin. Siapa tau Naya kabur ke salah satu tempat itu. Nanti hasilnya, gue kabarin ke lo". Ucap Sisil
"Ok, thanks, Sil. Thanks, Mil". Ucap Devan menatap kedua sahabat Naya yang kompak mengangguk
__ADS_1
"Ayo, Mil". Ucap Sisil sebelum pergi meninggalkan rooftop bersama Mily
"Heh, jadi gimana rasanya malam pertama?". Tanya Rangga tertawa kecil
"Si anjing, pertanyaan lo to the point banget". Ucap Eza, Tio pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya
"Lo pengen tau rasanya? Sini, gue kasih tau". Jawab Devan seraya meregangkan otot-otot tangan dan jari-jarinya
"Buset, gue cuma nanya". Ucap Rangga
"Alibi, lo itu lebih berpengalaman dari gue. Sok-sokan nanya?". Ucap Devan
"Hahahahaha, kabur". Ucap Rangga yang lari terbirit-birit meninggalkan rooftop
Bugh, Devan kembali meninju dinding sebelum duduk kembali
"Lo kemana sih, Nay". Gumam Devan
"Sabar. Berdoa aja semoga Naya baik-baik aja dan cepat ketemu". Ucap Eza menepuk bahu Devan
---
Rangga
*mengirim foto Devan yang sedang melamun*
"Liat, ini manusia ke sekolah kerjaannya bengong terus"
Tio
"Ya wajar lah, belajar juga ngga konsen"
Brian
"Kalo gue sih mending cabut, cari Naya sampai ketemu"
Rangga
"Cari kemana lagi, goblok? Alaska?"
Brian
"Kemana, kek"
Rangga
"Jo? Nyimak aja, lo? Eh, lo dikeroyok?"
^^^"Hmm"^^^
Brian
"Gantian lah, ayo keroyok. Atau bokap lo kita keroyok, Jo? Wkwk"
^^^"Boleh. Matiin sekalian"^^^
Rangga
"Hahaha, definisi anak anjing"
Joseph melempar ponselnya keatas permukaan sofa, lalu menatap Naya yang sedang berbaring menonton TV di sofa seberangnya
"Nay? Lo ngga mau ketemu Devan? Kasihan, kata Rangga dia bengong terus disekolah".
"Ngga mau..."
"Oh iya, Joseph jadi kan temanin Naya cari kostan?". Tanya Naya seraya bangun dari posisinya
"Ngapain?".
"Naya ngga mau disini lama-lama".
"Kenapa? Lo takut sama bokap nyokap gue tadi? Cuekin aja, anggap ngga ada".
"Ya, Naya takut, sih. Tapi Naya mau tinggal di kostan aja".
"Gue ngga yakin anak kayak lo bisa tinggal sendirian. Gini aja deh, gue antar lo kerumah Devan. Mertua lo juga pasti pusing nyariin lo".
"Mama? Papa?"
"Tuti sama Bejo juga pasti kangen sama lo".
"Oh iya! Tuti sama Bejo. Gimana ya kabar mereka, siapa yang kasih makan? Pasti dirumah lagi sepi". Ucap Naya khawatir
"Anjir, malah khawatir sama anak ayam". Ucap Joseph menggeleng-gelengkan kepalanya
---
chuaakkzzzzz
__ADS_1
bersambung doloooo yuk jangan lupa like komen vote hadiahnya semuanyaaaaaa hehe tenchuuu
besok aku up lagi kalo ngga ngareett, kalo ngga mageerr hehe