
"Ni bocah nonton apa bengong?".
Devan berdiri disisi Naya, mengamati Naya yang tampak sedang menatap layar TV namun dengan pandangan yang seakan kosong
Devan pun mengibas-ngibas tangannya didepan wajah Naya sampai Naya tersentak
"Kaget". Ucap Naya,
Devan tersenyum dan duduk disebelah Naya, "Bengong ya? Mikirin apa?".
"Mikirin bunda sama ayah, Naya kangen mereka". Ucap Naya seraya tersenyum tipis
Devan menghela nafas panjang kemudian merengkuh tubuh mungil Naya kedalam pelukannya, "Kalo kangen cukup doain dari sini".
Naya mengangguk,
"Devaan?".
"Kenapa?". Tanya Devan seraya mengusap rambut Naya
"Naya pengen nyusul mereka".
Deg, Devan terkejut mendengar pertanyaan Naya. Ia lepas pelukannya dan memegang kedua bahu Naya
"Ngomong apa? Ulangin?!". Bentak Devan
"Na...Naya...pengen nyusul...bun-"
"Ngga boleh!". Ucap Devan dengan wajah serius
"Tapi...Naya pengen ketemu bunda sama ayah...Naya kangen". Lirih Naya dengan mata yang berkaca-kaca
"Jangan tatap gue kayak gitu Nay, hati gue sakit ngeliatnya".
"Doain aja. Weekend nanti gue temenin lo ke makam bunda sama ayah".
"Kalo lo nyusul mereka, gue sama siapa Nay? Lo ngga mikirin gue?". Sambung Devan
"Kan ada mama, papa sama bang Dilan".
Devan mengusap kasar wajahnya, "Ngga ngerti ni bocah". Gumam Devan
"Sekarang gue ngabisin hidup gue sama lo, bukan sama mereka".
Naya mengerjap polos, "Emang kenapa?".
"Hah? Kok kenapa?..."
"Kan itu tujuan gue nikahin lo Nay, gue pengen hidup sama lo..."
"Ngerti ngga sih?". Naya mengangguk paham
__ADS_1
"Dah lah ngga usah dibahas. Dengerin gue baik-baik Nay..."
"Ngga boleh ngomong lagi mau nyusul bunda sama ayah, ngga boleh! Kalo lo kangen nanti gue temenin ke makam mereka, paham?".
"Iya, Naya paham".
Devan menghela nafas lega dan kembali memeluk Naya, "Gregetan, gue gigit ya Nay?".
Naya menggeleng, "Nanti sakit".
"Ngga sakit kok, coba dulu".
Devan melepas pelukan dan menatap Naya, "Coba dulu ya? Janji ngga sakit".
Naya mengangguk, Devan pun tersenyum penuh kemenangan. Tanpa babibu lagi Devan mendekatkan kepalanya kearah leher Naya,
"Eungh". Naya sedikit meloloskan suaranya sambil mencengkram erat kedua bahu Devan
"Uuu...daaah".
Devan pun menyudahi aksinya setelah memberikan gigitan kecil yang meninggalkan tanda berwarna merah gelap, sangat kontras dengan warna kulit Naya yang seputih susu
"Hehehe ngga sakit kan?". Tanya Devan seraya tersenyum puas
"Engga, tapi geli".
"Geli-geli enak hahaha".
---
Namun karena Naya sempat meminta sesuatu hal yang aneh kepada Devan dan tentunya tidak turuti oleh suaminya itu. Alhasil Naya pun marah
Bagaimana mungkin Devan menuruti permintaan wanitanya itu. Kalian tahu Naya meminta apa? Naya meminta mandi bersama Devan,
Mungkin itu hanya hal sepele dan sah-sah saja jika mereka mandi bersama. Toh mereka pasangan halal. Tapi tidak untuk Devan, daripada menuruti permintaan Naya, lebih baik ia melihat Naya marah dan mengoceh layaknya anak kecil sepanjang waktu
Ia sadar, ia bukanlah laki-laki yang cukup kuat dalam urusan menahan syahwat, terlebih pada Naya yang sudah menjadi istrinya
Jangankan mandi bersama, berganti pakaian pun mereka harus masuk kedalam kamar mandi. Devan merasa belum siap untuk itu semua
Ia takut akan kehilangan kendali dan nantinya menjadi laki-laki yang haus akan se*sual. Entah sampai kapan Devan akan menundanya, ia pun tidak tahu
Yang pasti, tujuannya saat ini adalah fokus menyelesaikan sekolahnya terlebih dahulu, urusan yang "aneh-aneh" dengan Naya bisa ia lakukan kapan saja
tok tok tok
"Devaaaan, Nayaaa, kok belum turun ?Ayo sarapan, nanti telat. Mama tunggu yaaa".
Santi segera beranjak dari balik pintu setelah menghimbau pasangan muda itu untuk segera keluar dari kamar mereka
"Pokoknya kalo kita telat terus dihukum, itu semua salah lo". Ucap Devan seraya menyisir rambut Naya
__ADS_1
"Bodo amat, lagian ngga mau mandi bareng".
Pagi ini menjadi pagi yang sangat sibuk untuk Devan, karena telah menolak permintaan Naya untuk mandi bersama, alhasil ia harus menebusnya dengan mengurus segala keperluan Naya untuk sekolah
Mulai dari menyiapkan buku pelajaran, menyiapkan seragam, sepatu, bahkan mulai menyisir rambut dan memakaikan bando pun harus ia yang melakukannya, beruntunglah Naya menikah dengan laki-laki yang memiliki segudang kesabaran
Meski Devan juga tidak kalah mengoceh dari Naya, sebenarnya ia melakukan ini dengan suka rela, ia senang melakukan ini untuk Naya
"Udah, istri gue cantik maksimal. Paling cantik satu sekolah". Ucap Devan seraya merapihkan sedikit poni Naya setelah memakaikan bando dengan hiasan kelinci putih disisi kanannya, kekanakan sekali
"Hehe makasih Devan".
"Cium bisa kali, capek nih gue".
Cup, satu ciuman lembut mendarat sempurna di bibir tebal milik Devan
Puas mendapatkan apa yang ia mau, ia pun mengusap kepala Naya dan segera membawanya turun untuk sarapan
"Tumben lama banget, abis ngapain sih?". Tanya Santi
"Biasa ma, kalo ngga ribet bukan Naya namanya". Ucap Devan seraya menyiapkan sarapannya, Naya mendengus
"Pfft". Dilan menahan tawa
"Leher kamu merah kenapa Nay?".
Pertanyaan yang dilontarkan Dilan sukses membuat Santi dan Willy kompak menoleh kearah Naya
Sementara Devan memicingkan kedua matanya menatap Dilan seolah berkata, "Sialan"
Dilan pun tersenyum seraya meledek sang adik
"Iya Nay. Itu kenapa sayang?". Tanya Santi
"Di gigit-"
"Tawon!". Ucap Devan memotong ucapan Naya
"Iya sayang, semalem ada tawon dikamar". Sambung Devan
Naya mengerjap kebingungan, "Kok aku ngga tau?".
"Kamu tidur, dia gigit leher kamu waktu kamu tidur".
"Tawon itu bernama Devan". Ucap Willy seraya mengunyah makanannya
"HAHAHAHA"
---
Jangan lupa likenya bestie~
__ADS_1