
"Sebenarnya ada apa sih, Van? Ngga biasanya kan Naya kayak gini?". Tanya Galang
"Sumpah gue ngga tau apa-apa, Lang. Gue juga bingung kenapa Naya kayak gini, gue ngga tau apa salah gue". Jawab Devan
Pintu kamar Naya terbuka, seorang dokter serta perawat keluar dari ruangan Naya, dokter memberitahu kalau Naya sudah sadar dari pingsannya. Naya dinyatakan hiportemia karena terlalu lama terpapar hawa dingin dari hujan yang terus-terusan mengguyur tubuhnya
Setelah dokter memberikan seluruh penjelasannya, Devan dan Galang diperbolehkan masuk untuk menemui Naya. Devan segera berlari menghampiri istrinya itu, ia meraih tangan Naya yang terlihat pucat dan terasa dingin di genggamannya
Devan mencium-ciumi tangan Naya, sambil ia usap-usap untuk memberikan sedikit kehangatan. Namun Naya segera menarik tangannya, ia tidak membiarkan Devan menggenggam tangannya lebih lama
Devan menatap sendu kearah Naya, ada apa dengan istrinya ini? Mengapa raut wajah Naya terlihat acuh tanpa ekspresi? Dimana raut wajah ceria yang selalu ia lihat di wajah cantik istrinya ini?
"Naya ngga mau ketemu Devan". Ucap Naya dengan suara serak
"Kenapa, Nay? Apa salah gue? Ngomong. Jangan kayak gini, sayang". Ucap Devan
Naya tidak menjawab Devan, tatapan Naya beralih pada Galang yang berdiri disisi Devan
"Galang?". Panggil Naya, Galang pun mengangkat kedua alisnya sebagai respon, "Dimsum nya Galang makan, kan? Ngga di buang?".
"Iya, gue makan bareng anak-anak di warkop, gapapa kan?".
"Gapapa, asalkan ngga dibuang".
"Apaan sih, Nay? Lo ngapain ngasih dimsum buat Galang?". Tanya Devan
"Terserah Naya". Jawab Naya
"Lo pucat banget Nay, gue beliin teh manis hangat dulu ya di kantin". Ucap Galang, Naya mengangguk seraya tersenyum, "Makasih, Galang".
"Sama-sama". Ucap Galang sebelum meninggalkan kamar Naya
Sepeninggal Galang, Naya memalingkan wajahnya kearah lain, ia enggan menatap Devan yang kini sudah duduk disebelahnya
"Hey, lo kenapa sih, Nay? Gue punya salah sama lo?". Ucap Devan seraya menggenggam tangan Naya
"Devan pikir aja sendiri".
"Loh, jujur aja gue sendiri bingung apa salah gue? Lo marah karna ngga gue izinin ikut ke sekolah?".
"Bukan".
"Terus, karna apa?".
Naya menghela nafas panjang, ia tarik tangannya dari genggaman Devan
"Naya ngga mau terus-terusan jadi cewek bodoh yang gampang dibohongin..."
"Sekarang Naya sadar, selama ini Devan ngga tulus sama Naya, benar kata Intan dan Sandra kalo Devan pacarin Naya karna kasihan".
"Lo ngomong apa sih? Kenapa sekarang lo ngeraguin gue? Apa keseriusan gue selama ini kurang dimata lo. Iya?".
"Sayang! Ya ampun Naya, anak mama, kamu ngga kenapa-napa kan, sayang?". Tanya Santi seraya mengusap-usap wajah menantunya itu saat memasuki ruangannya
Devan membuang nafas kasar karena waktunya dengan Naya untuk menyelesaikan masalah harus tertunda karena kedatangan kedua orang tuanya, Devan pun mundur dan memberi ruang untuk Santi dan Willy
"Nay, Nay, kamu itu kebiasaan, hobinya menghilang, bikin satu rumah stress nyariin kamu". Ucap Willy
"Pa! Jangan omelin Naya kayak gitu, dong! Kasihan".
"Papa ngga omelin Naya, ma".
"Maafin Naya, pa, ma. Naya emang nyusahin, Naya beban buat kalian. Harusnya Naya nyusul ayah sama bun-"
"NAYA!". Ucap Devan, Santi dan Willy kompak
"Jangan ngomong gitu, sayang. Ngga boleh". Ucap Santi
__ADS_1
Devan mengusap kasar wajahnya, ia masih menatap wajah Naya yang sedari tadi masih acuh terhadapnya, ia sangat penasaran apa yang membuat Naya mendadak seperti ini?
"Kata Devan kamu pingsan dimakam ayah sama bunda? Kenapa ngga minta temenin Devan, hmm?..."
"Untung ada Galang yang nemuin kamu. Coba kalo orang jahat, kamu bisa diculik atau diapa-apain, gimana kalo sampai kejadian kayak gitu?".
"Maafin Naya, ma".
"Iya, mama maafin, yang penting jangan pernah diulangin lagi, ya". Ucap Santi, Naya mengangguk paham
"Ma, Naya ngga mau Devan ada disini, Naya ngga mau ngeliat Devan".
"Loh, kenapa, sayang? Ada apa?".
"Gapapa, ma. Devan keluar aja". Ucap Devan seraya berjalan keluar dari ruangan Naya
Tidak berselang lama, Willy keluar dari ruangan Naya, ia menghampiri sang anak yang sedang duduk bermain ponsel disalah satu kursi tunggu yang ada disana
"Devan. Benar kamu punya pacar disekolah?". Tanya Willy seraya duduk tepat disebelah Devan
"Hah? Papa ngomong apa sih? Ya ngga ada lah, pa".
"Tapi Naya bilang, dia lihat kamu mencium siswi lain didalam ruang OSIS".
"Astaghfirullah, jadi itu yang bikin Naya marah kayak gini?".
"Jangan-jangan Naya lihat gue lagi tiupin matanya Livy?".
"Demi Allah, pa. Devan berani sumpah Devan ngga ngelakuin itu. Naya salah lihat".
"Jangan bohong, kamu? Ingat ya, kamu yang meminta papa menikahkan kamu dengan Naya, kamu yang bersedia memikul tanggung jawab kepala keluarga diusia semuda ini..."
"Pernikahan kalian sah meskipun siri, tapi kamu ngga boleh mempermainkan Naya, kasihan dia. Kamu satu-satunya yang dia punya". Ucap Willy
"Ya Allah, pa. Devan ngga bohong. Papa tau Devan cinta sama Naya, Devan ngga mungkin sejahat itu..."
"Nah, itu si ganteng, mama pulang duluan ya, sayang. Mau siap-siap arisan..."
"Nanti kamu pulang sama Devan". Ucap Santi
Santi pun bangun dari duduknya dan mengusap kepala Naya, lalu menatap putra bungsunya yang berdiri disebelahnya, "Jagain menantu kesayangan mama ya, ganteng. Jangan sampai kabur lagi". Devan mengangguk paham
Santi pun menghilang dari balik pintu, menyisakan Devan dan Naya diruangan itu, Devan duduk ditepi ranjang Naya, membuat Naya menautkan kedua alisnya
"Devan ngapain duduk disini?".
"Emang kenapa? Gue pengen deket-deket sama lo". Ucap Devan seraya merapatkan duduknya kearah Naya
Naya pun mendorong-dorong tubuh Devan agar menjauh darinya
"Pergi sana! Devan udah jahat sama Naya".
"Cium dulu, baru gue pergi".
"Ngga mau, cium aja pacar Devan".
Devan tersenyum mendengar ucapan Naya, "Pacar apa sih, istriku? Gue cuma punya lo. Ngga ada lagi".
"Bohong".
"Sumpah, kalo bohong hidung gue panjang kayak pinokio".
"Ngga lucu".
"Iya, karna yang lucu itu cuma lo". Ucap Devan seraya mencolek hidung Naya
"Ih". Naya menepis tangan Devan
__ADS_1
"Gue baru tau alasan lo marah, karna lo ngeliat gue sama cewek diruang OSIS? Itu si Livy".
"Oh, jadi Devan ciuman sama Livy".
Ctik, Devan menyentil kening Naya, membuat Naya mengusap kening seraya mengerucutkan bibirnya
"Harusnya tadi lo buka mata lo lebar-lebar..."
"Mana ada gue ciuman sama dia? Lo itu salah lihat, nyonya Sagara..."
"Gue lagi tiupin mata Livy yang kelilipan, karna gue sama dia lagi ambil banner yang ada diatas lemari dan itu berdebu..."
"Dan jarak gue pun ngga sedeket itu, sewajarnya aja".
"Beneran?".
"Beneran. Gue ngga pernah bohongin lo..."
"Dan percaya ngga percaya, seumur hidup gue pernah ciuman sama lo doang".
"Ih, apaan sih".
Devan tersenyum, ia meraih kedua tangan Naya dan ia genggam dengan erat, "Nay, harus gimana lagi gue ngebuktiin kalo gue cuma cinta sama lo?..."
"Berhenti ngelakuin hal bodoh yang nyakitin diri lo sendiri. Karna gue yang ngerasa bersalah, gue udah janji didepan makam ayah sama bunda buat ngebahagiain lo, bukan bikin lo nangis..."
"Jadi please, lebih percaya lagi sama gue, gue suami lo, orang yang akan nemenin lo selama-selamanya. Jadi jangan pernah ngeraguin gue lagi, please, ya".
Naya terlihat menarik nafas dalam, membuat Devan menatap gemas kearah istrinya itu, "Kenapa? Gue banyak omong, ya?".
"Devan udah sering banget ngomong kayak gitu".
"Iya, gue sendiri sampe bosen. Habisnya lo ngga pernah ngerti kalo gue cuma cinta sama lo, ngga ada cewek lain". Ucap Devan meyakinkan, Naya mengangguk paham
"Maafin Naya, ya. Naya salah paham terus sama Devan, Naya berfikiran jelek terus sama Devan".
"Gapapa, gue ngga marah. Gue cuma takut lo kenapa-napa kalo ngambek dan kabur kayak gini, itu aja. Lo itu segala-galanya buat gue, Nay".
Naya tersenyum seraya mengangguk. Naya meraih tangan kanan Devan dan mengecup punggung tangannya cukup lama. Devan tersenyum haru, ia menyentuh kepala Naya yang masih menunduk saat mencium tangannya
"Semoga lo ngerti gimana cintanya gue sama lo, Nay"
---
"Devan". Panggil Naya seraya menarik ujung kaos yang dipakai Devan, Devan pun menoleh dan tersenyum manis pada istrinya itu, "Iya, sayang?".
"Katanya Devan mau nemenin Naya bobo?".
"Iya, gue beresin buku dulu ya buat besok". Ucap Devan seraya mengacak puncak kepala Naya, Naya pun mengangguk dan membiarkan Devan melanjutkan legiatannya
Tidak berselang lama, Devan menyusul Naya ke tempat tidur, ia langsung menarik Naya kedalam pelukannya, ia lalu ia masukkan tangannya kebalik piyama Naya, ia usap punggung Naya dengan lembut
"Devan?".
"Hmm?".
"Sebentar lagi pemilihan ketua OSIS yang baru, Devan sedih ngga lepas jabatan?". Devan tertawa kecil mendengar pertanyaan istrinya, "Engga, justru gue senang dan lega sebentar lagi lepas beban dan tanggung jawab".
"Devan capek jadi ketua OSIS?".
"Capek, sayang. Capek otak, pikiran, tenaga".
"Tapi Devan hebat, Devan berhasil jadi ketua OSIS yang keren, yang luar biasa deh".
"Hahahaha, Nay, Nay. Bisa aja lo bikin gue ketawa, thanks, ya". Ucap Devan diakhiri dengan mengecup kening Naya
---
__ADS_1
Yak bersambung, jangan lupa dukungannya, tengkyuuuuu