Childish Wife

Childish Wife
CW-18


__ADS_3

Suasana kegembiraan yang berlangsung saat itu, seketika berubah menjadi suasana tegang dan memanas setelah kepala sekolah mereka mengakhiri ucapannya diatas panggung


Berita Devan menyerang Zidan dan dua temannya tadi pagi sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Entah dari mana berita tersebut berasal, yang jelas, nama baik Devan sebagai ketua OSIS sudah tercoreng


Semua tidak menyangka bahwa Devan memiliki sisi menyeramkan seperti itu. Devan telah mengantar ketiga korbannya kerumah sakit. Sangat mengejutkan untuk semua orang yang selama ini hanya mengetahui Devan dari sisi luarnya saja


Kewibawaan yang selalu dijunjung tinggi oleh Devan telah hancur begitu saja. Hampir seluruh murid dari kelas satu sampai tiga membicarakan dirinya


Setelah dinyatakan copot jabatan secara tidak terhormat, Devan melepas ID Card panitia acara yang melingkar dilehernya. Ia berikan benda tersebut kepada Viona, wakilnya di organisasi, lalu pergi meninggalkan aula


Devan berjalan menuju kelas, menghiraukan tatapan-tatapan dan juga bisikan-bisikan yang ditunjukkan untuknya. Sejujurnya Devan tidak mempermasalahkan masalah jabatan tersebut, toh masa jabatannya memang akan habis sebentar lagi


Disisi lain, Naya terlihat menangis terisak di rooftop gedung kelasnya. Tidak sedikit murid yang menyalahkannya setelah mengetahui tindakan brutal yang Devan lakukan adalah demi dirinya


Semua orang mengutuk Naya dengan ucapan yang menyakitkan, berbagai sindiran dan hujatan membuat Naya tidak tahan lagi berada didalam kelas. Naya merasa sendiri, kedua sahabatnya sedang sibuk berpartisipasi dalam acara yang masih berlangsung


Naya menghapus air matanya saat mendengar langkah kaki yang terdengar ramai berjalan menghampiri dirinya, Naya menarik nafas panjang, ia sudah siap jika itu adalah segerombolan murid yang datang karena ingin mencela dirinya


"Intan? Sandra?"


Seketika Naya berdiri kaku saat melihat dua sosok itu bersama teman-temannya. Naya baru ingat kalau mereka memang belum menghujat dirinya atas masalah yang menimpa Devan


Dan sudah Naya pastikan, kedatangan mereka ini untuk melancarkan aksi hujatan tersebut


"Heh, cewek pembawa sial!". Ucap Intan seraya mencengkram rambut Naya dengan kencang, Naya terdengar mengaduh sambil meringis kesakitan pada kepalanya


"Lo sadar ngga sih?! Lo itu cuma beban buat Devan! Sadar Naya! Sadar!". Bentak Intan


"Sok imut, lo ngga pantes pake-pake kayak gini". Ucap Sandra saat melepas bando pink bergambar kelinci dari kepala Naya lalu ia injak-injak bando tersebut dengan tidak berperasaan


"Jangan...itu...dari...Devan". Gumam Naya


"Devan! Devan! Devan! Lo masih berani nyebut nama dia saat lo udah permaluin dia kayak gini!". Ucap Intan lantang dengan cengkraman yang semakin kuat, "Intan, udah. Kepala Naya sakit". Ucap Naya dengan memohon,


"Bodo amat, biar lo tau rasa! Lo udah bikin Devan malu didepan semua orang! Lo bikin Devan kehilangan posisinya! Lo itu ngga lebih dari cewek pembawa sial buat Devan!".


"Haha, gue heran deh sama Devan. Ngapain sih ngebelain cewek beban ini sampe segitunya? Dia ngabisin cowok yang katanya udah kurang ajar sama dia". Ucap Sandra


"Oh, gue ngerti. Lo sengaja ya cari perhatian Devan? Lo digangguin cowok diluar sana dan lo manfaatin Devan yang care sama lo? Sampe Devan kehilangan semuanya kayak gini. Iya?!". Ucap Intan dengan tangan yang semakin kencang


"Aakh, sakit, Intan". Rengek Naya dengan air mata yang terus bercucuran sejak tadi, "Gue makin benci sama lo! Gue harap setelah ini lo sadar diri. Jauhin Devan! Lo ngga mau kan Devan kena masalah lagi karna cewek pembawa sial kayak lo..."


"Lo itu ngga pantas buat Devan!". Ucap Intan sebelum beranjak dari posisinya, Sandra dan yang lainnya masih pada posisi mereka


"Ssst, San?". Panggil salah satu teman Sandra. Sandra pun menoleh dan tersenyum saat temannya itu menunjukkan sebuah kunci ditangannya


"Gerimis nih, cabut, yuk". Ucap Sandra diangguki oleh teman-temannya dan salah satu dari mereka mengunci pintu rooftop tanpa sepengetahuan Naya


Setelah kepergian Intan, Sandra dan teman-temannya, Naya kembali ke posisinya. Berdiri disisi pembatas gedung sambil menatap kebawah. Air matanya masih mengucur bersamaan dengan rintik air hujan yang mulai membasahi seragamnya


Sadar tidak ada tempat berteduh, Naya berlari kecil menuju pintu, ia mencoba membuka pintu yang sama sekali tidak bergerak, pintu itu tidak terbuka


Naya tampak bingung dan panik. Naya merogoh saku seragamnya, berharap menemukan ponselnya untuk menghubungi Devan, namun nihil. Ia baru ingat kalau ponselnya ada didalam tas dan itu ada di kelasnya


Naya menghela nafas kekecewaan. Kini air hujan sukses membasahi seluruh tubuhnya bersamaan dengan kilatan petir yang terasa menyambar diatas kepalanya, "Tolong. Bukain! Naya kekunci!". Jerit Naya sambil memukul-mukul pintu berulang kali


Tiga puluh menit berlalu, Naya yang sedang berjongkok sambil memeluk lututnya, terkejut saat melihat knop pintu diputar berulang kali, "Naya? Lo diluar?".


"Devan?"


"Iy...iya...Naya...".


Nafas Naya tercekat, sangat sulit baginya untuk bernafas saat kondisi tubuhnya menggigil dan kepala yang teramat sakit seperti ini. Dan ini lah kelemahan Naya, tidak bisa terlalu lama terpapar udara dingin dan air hujan, bisa hipotermia yang berujung hilangnya kesadaran


Brak, Naya tersentak saat Devan menendang pintu rooftop dengan kencang. Devan pun berlari menghampiri Naya dan menutupi kepalanya dengan jaket yang ia bawa


"Ya Allah, bibir lo biru, Nay".


Devan merangkul bahu Naya dan segera membawa Naya meninggalkan rooftop menuju gudang yang ada diseberangnya


Ia dudukkan Naya diatas meja yang tidak terpakai, sedangkan ia berdiri ddihadapannya untuk mengeringkan rambut Naya dengan handuk kecil ditangannya


"Sorry gue baru dateng, gue habis dipanggil kepala sekolah. Gue juga baru tau dari anak kelas satu kalo lo ke kunci diatap". Ucap Devan, Naya mengangguk sambil tersenyum tipis merespon ucapan Devan

__ADS_1


Devan menarik nafas dalam sambil memejamkan kedua matanya. Ada rasa sesak yang menyayat hati melihat kondisi wanitanya ini. Naya terlihat lesu, tubuhnya menggigil, wajahnya pucat dan bibirnya kebiru-biruan. Ia tidak tega melihatnya


"Maafin gue. Lagi-lagi gue telat nolongin lo". Ucap Devan, Naya menggeleng pelan


"Devan ngga salah, Naya yang salah"


Naya kembali terisak, ia menunduk untuk menyembunyikan tangisannya, "Devan kenapa masih baik sama Naya? Naya itu cuma beban buat Devan, Naya pembawa sial buat Devan"


"Nay, lo kenapa?". Tanya Devan seraya mengangkat dagu Naya kearahnya


"Ngomong, Nay? Ada apa? Hmm?".


"Nay...Naya...minta...maaf". Ucap Naya dengan suara serak, membuat Devan semakin tidak tega dan merengkuh tubuh Naya kedalam pelukannya


"Lo ngga salah apa-apa, Nay. Buat apa minta maaf?".


"Naya...beban...buat Devan. Naya...pembawa...sial-"


"Sst, berhenti ngomong kayak gitu". Ucap Devan seraya melepas pelukan mereka, "Dengerin gue Nay, lo itu milik gue yang paling berharga dari apapun..."


"Lo jangan ngerasa bersalah atas masalah gue ini. Lo jangan dengerin omongan orang yang cuma bikin lo sakit hati..."


"Masalah ini gue yang nanggung. Gue bikin ulah dan kehilangan posisi, itu udah jadi resiko, Nay. Jadi berhenti nyalahin diri lo sendiri..."


"Karna lo bukan beban, lo bukan pembawa sial. Mereka ngga akan pernah ngerti berartinya lo dihidup gue. Sampe gue nekat habisin orang yang udah berani nyentuh milik gue, satu-satunya orang yang gue cinta".


Naya menggigit bibir bawahnya setelah mendengar rentetan kata-kata manis yang cukup membuat hatinya merasa tenang. Disaat orang lain memojokkan dirinya, hanya Devan yang selalu ada untuknya dan hanya Devan yang tidak menyalahkan dirinya


Devan selalu bisa membuatnya tersentuh dengan kata-katanya. Naya semakin mencintai lelakinya ini, beruntung sekali ia memiliki Devan dihidupnya


"Jangan digigit, nanti berdarah". Ucap Devan mengusap lembut bibir Naya dengan ibu jarinya, "Dingin". Gumam Naya


"Menggigil banget, ya, sampe biru gini?". Tanya Devan, Naya mengangguk pelan


Devan pun tersenyum lalu meraih dagu Naya, ia dekati tubuh Naya dan ia topang tubuhnya sendiri dengan satu tangan pada meja yang diduki Naya


Devan mengecup bibir Naya sebagai awalan, sebelum melu mat bibir kesukaannya itu dengan lembut dan dalam sampai keduanya mulai terbawa suasana


Masih dengan posisi berdiri diantara kedua paha Naya yang terbuka, Devan memeluk tubuh Naya tanpa melepas pagutan bibir mereka, begitupun dengan Naya yang sudah melingkarkan kedua tangannya pada leher Devan


Berlangsung beberapa menit, ciuman mereka berakhir saat keduanya dikejutkan dengan suara petir kencang yang menggelegar saat itu. Mereka saling menatap sambil tertawa kecil, sebelum keduanya kembali memeluk tubuh satu sama lain


"Kita pulang, ya". Ucap Devan seraya menyelipkan rambut ke belakang telinga Naya, "Pulang? Nanti kalo Devan dimarahin ,gimana?".


"Dimarahin kenapa, sayang? Kan tugas gue udah selesai".


Naya terdiam sejenak mendengar ucapan Devan. Ya, Devan benar, tugas dan tanggung jawabnya sebagai ketua OSIS telah berakhir. Lebih tepatnya, Devan terpaksa mengakhiri tugasnya karena masalah yang timbul akibat dirinya


Naya menyadari kesalahannya, andai saat itu ia menolak pergi dengan Zidan, mungkin ia tidak akan terjebak dan tertipu oleh saudaranya itu. Yang menyebabkan Devan emosi dan melampiaskan amarahnya dengan menghabisi Zidan dan orang-orang yang mencampuri urusan mereka


Menatap Naya yang sedang melamun, Devan mengejutkan Naya dengan memberi kecupan singkat dibibirnya, "Kalo bengong, gue cium lagi nih, mau?".


"Ih! Apaan sih".


"Hehe, ayo pulang. Ganti baju, nanti masuk angin". Ucap Devan seraya menutupi bahu Naya dengan jaketnya. Naya pun mengangguk patuh dan turun dari meja, "Naya takut, semua orang benci Naya".


"Jangan takut, ada gue". Devan menggenggam erat tangan Naya dan membawa Naya keluar dari gudang menuju kelas Naya


"Devan!". Panggil Viona yang telah menghadang langkah Devan dan Naya, "Kenapa lagi, sih?". Tanya Devan


"Kenapa, lo bilang? Lo kena masalah kayak gini dan sekarang lo masih berduaan sama Naya?!".


"Kenapa? Naya cewek gue. Salah gue berduaan sama dia?".


"Ck, lo udah gila, ya?".


"Udah lah, Vi. Mending lo urusin, tuh, acara di aula, gue mau balik".


"Balik? Enak banget omongan lo".


"Kenapa? Gue ngga ada urusan disini". Ucap Devan seraya menarik Naya meninggalkan Viona, "Ini semua karna Naya! Naya yang bikin lo kena masalah!". Jerit Viona dari arah belakang, membuat Devan berbalik dan kembali menghampirinya, meninggalkan Naya yang sedang menunduk menahan air matanya, lagi-lagi, ia harus mendengar ujaran kebencian dari orang-orang yang ada disekolahnya


"Heh, ini semua ngga ada hubungannya sama Naya. Jadi lo ngga berhak nyalahin Naya kayak gini. Paham?". Ucap Devan dengan penuh penekanan disetiap ucapannya

__ADS_1


"Haha, lo itu udah kemakan cintanya Naya! Lo cinta buta sampe ngga bisa ngeliat kesalahan dia. Stop jadi cowok bodoh buat belain cewek ngga tau diri kayak Naya..."


"Dia udah permaluin lo didepan guru, di depan anak-anak! Tenaga, pikiran, keringat, semua jerih payah yang udah lo kasih buat sekolah selama tiga tahun, sia-sia gitu aja, kerja keras lo ngga dihargai sama sekali..."


"Naya udah hancurin semuanya! Naya bikin lo kehilangan jabat-"


"STOP, VIONA!". Bentak Devan


"Gue muak denger semua orang nyalahin, Naya. Gue tekanin sama lo, Naya lebih penting dari jabatan yang gue punya..."


"Gue lebih pilih kehilangan jabatan itu daripada kehilangan Naya karna cowok-cowok brengsek diluar sana..."


"Terserah lo mau bilang gue cinta buta atau apapun itu, terserah! Yang jelas, Naya itu berharga buat hidup gue. Kehilangan jabatan? Ngga ngaruh buat gue. Ngerti, lo?".


Devan berbalik meninggalkan Viona, menghampiri Naya yang ia tepuk-tepuk puncak kepalanya dengan lembut


"Ngga tau diri lo, Nay. Lo masih deketin Devan, padahal lo udah bikin masalah buat dia"


---


"Peraturan disekolah lo lebay banget, deh? Padahal berantem itu hal yang wajar, apalagi buat laki-laki, iya kan? Masa karna lo berantem, lo kena sanksi gini sih, haha. Kocak". Ucap Dilan pada Devan


"Mungkin karna Devan ketua OSIS, dipandang disekolah. Otomatis tindakan Devan dianggap mencoreng nama OSIS dan nama sekolahnya". Ucap Willy


"Tapi lebay banget, pah, sampe harus copot jabatan cuma gara-gara nonjokin anak orang, ngga sampe mati, kok". Ucap Dilan


"Sekolah gue emang ngelarang muridnya ribut, mau sesama murid disitu atau sama murid sekolah lain". Ucap Devan menatap Dilan


"Yaudah lah, toh alasan kamu karna ingin memberi pelajaran sama orang-orang itu kan". Ucap Willy


"Tapi kalo masalah ini berlarut-larut gimana? Kalo keluarga korban ngga terima dan nuntut Devan gimana?". Ucap Santi yang mulai khawatir


"Ma, ini semua mereka yang mulai. Mereka yang cegat mobil Devan, mereka yang cari masalah. Masa setelah mereka kalah, mereka menuntut Devan? Kan ngga masuk akal". Ucap Willy


"Mau gimana pun ceritanya, tapi tetap aja polisi melihat ini sebagai kekerasan, anak orang sampai patah tulang, loh" Ucap Santi


"Yaudah lah, ma, kalo mereka emang mau tuntut Devan, yaudah". Ucap Devan


"Kamu ini, santai banget, sih? Ini menyangkut masa depan kamu loh". Ucap Santi


"Mau gimana pun masa depan Devan, asalkan sama Naya, Devan bakal baik-baik aja". Ucap Devan


"Haha, susah ngomong sama orang bucin". Ucap Dilan


"Kamu yakin Naya masih mau sama kamu, kalau kamu dipenjara?". Tanya Santi


"Yakin". Jawab Devan dengan percaya diri


"Naya sama Devan itu udah sehati, sejiwa, ma. Apapun yang terjadi kita bakal bareng-bareng terus selama-lamanya". Ucap Devan sambil tersenyum


"Yaudah, terserah kamu, deh. Mama lagi serius, kamu malah bercanda terus".


"Ya doanya yang baik-baik aja. Mama ini udah khawatir sama hal yang belum tentu kejadian".


"Namanya juga takut, pa".


"Eh, itu Naya". Ucap Dilan seraya melirik Naya yang sedang berjalan menuruni tangga, "Kok belum tidur, sayang?". Tanya Santi


"Naya ngga bisa tidur, ma. Naya nunggu Devan".


"Hehe, maaf ya, sayang". Ucap Devan seraya mengecup punggung tangan Naya


"Yaudah sana kalian istirahat". Ucap Santi, Devan mengangguk dan bangun dari duduknya. Ia rangkul pinggang Naya saat mereka berjalan menaiki tangga menuju kamar


"Mereka serasi ya, pa. Devan keliatan sayang banget sama Naya". Ucap Santi menatap sang suami


"Devan itu ngga usah diragukan lagi perasaannya ke Naya. Dia itu setia, yang selalu sayang dan cinta sama istrinya, kayak papa, hehe". Ucap Willy


"Duh, yang muda bucin, yang tua ngga mau kalah. Dilan nangis aja lah dipojokkan". Ucap Dilan


"Hahahahaha".


---

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa dukungannya kalau mau lanjuuuttttt


__ADS_2