
"Naya, kamu sudah siap belum?". Tanya Willy dari balik pintu kamar
Tidak berselang lama, sosok manis bertubuh kecil itu pun muncul dengan dress sabrina berwarna merah maroon ditubuhnya, "Wah, cantiknya anak papa". Puji Willy seraya mengusap lembut puncak kepala Naya
"Hehe, terimakasih, pa. Papa juga ganteng. Pakaiannya cocok sama papa, keren".
"Hahaha, bisa aja kamu, demam kamu udah turun kan?". Tanya Willy seraya menempelkan telapak tangannya pada kening Naya, "Udah, pa. Semalam minum obat lagi".
"Pintar, yaudah, kita berangkat, yuk". Ucap Willy mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Naya
"Oh iya, pa? Kita pergi berdua aja?".
"Iya, berdua. Susah payah loh papa minta izin ke suamimu itu. Posesif banget". Ucap Willy saat berkeluh kesah saat mereka berjalan menuruni tangga
"Pah, pokoknya kalo Naya kenapa-napa, kita berantem ". Ucap Devan menatap sang papa dengan maksud mengajaknya bercanda
"Loh, siapa takut? Tapi kamu tenang aja. Papa akan jaga Naya dengan baik".
"Good job. Sini dulu, Nay". Titah Devan pada gadisnya itu yang langsung dituruti dengan menghampirinya diruang keluarga, "Hati-hati, ya. Gue percaya papa bisa jagain lo, tapi kalo ada apa-apa, telfon gue, ok?".
"Iya, ok. Devan tenang aja". Devan pun tersenyum seraya mengacak puncak kepala Naya
"Kiss dulu". Ucap Devan seraya menunjuk pipinya, "Halah, ngga usah. Kelamaan". Ucap Willy saat menarik Naya meninggalkan ruang keluarga
Naya hanya bisa tertawa menatap Devan yang sedang mengacak rambutnya frustasi
Hampir dua puluh menit perjalanan, Naya sudah tiba disebuah gedung tempat acara berlangsung. Pagi ini, Willy membawa Naya ke acara pernikahan seorang anak dari salah satu rekan bisnisnya. Setelah menemui pemilik acara dan beberapa rekannya, Willy membawa Naya kesalah satu meja tamu yang telah disediakan. Willy dudukkan Naya dikursi itu, lalu Willy tinggalkan Naya sejenak untuk mengambil minuman
"Hay". Sapa seorang lelaki muda yang tiba-tiba duduk disamping Naya, membuat Naya terkejut ketakutan dan menggeser kursinya
"Wait, wait, hahaha, lo ngga usah takut, gue bukan orang jahat". Ucapnya dengan senyum lebar dibibirnya, "Gue Bagas, nama lo siapa?". Tanya Bagas mengajak Naya bersalaman, namun Naya menggeleng pelan, "Naya".
"Naya? Nama lo Naya?". Tanya Bagas yang direspon anggukan oleh Naya, "Nama lo lucu juga, kayak orangnya, hehe. Lo disini sama siapa? Kok sendirian?".
"Papa".
"Mana papa lo?". Tanya Bagas, Naya menunjuk dagu kearah Willy yang sedang berjalan menghampiri meja mereka, "Itu, papa". Bagas mengangguk paham seraya tersenyum menatap Willy
"Kamu siapa?". Tanya Willy menyentuh bahu Bagas, "Saya Bagas, om". Jawab Bagas yang dengan cepat mencium tangan Willy, membuat Willy tersentak dan menatap bingung kearahnya, "Keponakan om Dani".
"Oh, ponakannya Dani".
"Saya boleh duduk disini kan om?".
"Boleh, lah. Terserah kamu aja".
"Hehe, anaknya cantik banget, om". Ucap Bagas melirik Naya, "Jelas dong, papanya aja ganteng".
"Hahaha, bisa aja. Eum, Naya jomblo ngga, om?".
"Kamu ini, modus ternyata, sudah kenalan".
__ADS_1
"Hehe, namanya juga usaha".
"Abang, dicariin mama katanya disuruh ikut foto keluarga". Ucap seorang anak kecil yang menarik ujung pakaian Bagas, "Kamu aja, sana. Abang ngga ikut".
"Hey, foto keluarga itu penting, loh. Jangan sampai kamu menyesal karna melewatkan momen itu". Ucap Willy
"Ok, om. Saya kesana dulu, ya. Nanti balik lagi". Ucap Bagas penuh semangat, "Naya, gue foto-foto dulu, ya, sebentar". Ucapnya sambil tersenyum sebelum meninggalkan Naya dan Willy, "Anak yang aneh". Ucap Willy
Beberapa jam berlalu, Naya dan papa mertua baru tiba dirumah, sambil memeluk boneka beruang berukuran besar, Naya berlari kecil menghampiri Devan yang sedang duduk bersama Santi dan Dilan diruang keluarga
"Kaget, kirain bonekanya lari sendiri. Naya nya ngga keliatan". Ucap Dilan yang disahuti tawaan dari Devan dan Santi, "Bonekanya gede banget sih, Nay? Emang ngga berat bawanya?". Tanya Devan
"Berat, hehe. Tapi bonekanya lucu kan?". Tanya Naya, "Lucuan yang peluk bonekanya sih".
"Halah, si bucin". Sindir Dilan
"Itu papa beli apa?". Tanya Santi saat melihat suaminya membawa tiga paper bag ditangannya, "Ini, tadi papa ajak Naya ke mall, papa belikan Naya boneka, sepatu, jaket sama aksesoris lucu-lucu".
"Hmm, pantesan lama banget". Ucap Devan
"Ya, sekali-kali papa pinjam istri kamu, toh, papa bawa pulang tanpa lecet, kan". Ucap Willy
"Yaudah, sayang. Kamu ganti baju dulu, gih. Habis itu makan, ya. Mama udah masakin makanan kesukaan kamu". Ucap Santi mengusap kepala Naya, "Makasih, ma".
"Sama-sama, sayang".
---
"Devan? Kita jadi jalan-jalan ngga?". Tanya Naya saat menghampiri Devan yang duduk disofa dengan tatapan lurus ke depan, "Devan?". Panggil Naya mengguncang bahu Devan
"Ini, bando dari gue, yang kemarin lo pake ke sekolah, kok rusak?". Tanya Devan seraya menunjukkan bando milik Naya yang rusak karena diinjak-injak Sandra
"Aduh, Naya lupa soal bando itu, kok bandonya ada sama Devan?"
"Nay? Gue nanya, bando ini kenapa bisa rusak?". Tanya Devan mengangkat bandonya di depan wajah Naya
"Gue tau kenapa bando ini rusak. Tapi gue pengen denger lo akan jawab jujur atau engga"
"Eum, kemarin Naya lari-larian, terus bandonya jatoh, keinjak-injak". Jawab Naya sedikit menunduk, menghindari kontak mata dengan Devan, "Lo ngga bohongin gue?".
"Engga, Naya ngga bohongin Devan". Ucap Naya cemas, Devan pun tersenyum tipis, "Lo tau gue kan, Nay? Gue paling benci dibohongin".
"Tapi Naya ngga bohongin Devan".
"Masih ngga jujur"
"Ok. Terus lo ngga penasaran kenapa bando ini bisa ada sama gue?".
"Eum, Naya penasaran, sih". Gumam Naya
"Bando ini gue dapat dari Galang. Galang dapat laporan dari anak kelas dua yang ngeliat Intan ngebully lo diatap. Itu kejadian kemarin kan? Waktu lo hujan-hujanan?". Tanya Devan dengan tatapan mengintimidasi, Naya pun terlihat gelagapan dengan kedua tangan gemetar
__ADS_1
"Eum, itu, Intan, iya, Intan-"
"Intan, apa? Bando ini diinjak Sandra sampai rusak. Gue bener, kan?".
Naya tampak menghela nafas panjang sebelum mengangguk seraya memejamkan matanya, Devan pun turut menghela nafas kecewa karena Naya berani membohonginya, itu adalah hal yang sangat ia benci
"Naya? Apa susahnya, sih, buat jujur? Lo anggap gue apa? Gue suami lo dan gue cuma minta lo jujur, itu aja".
"Maaf". Gumam Naya saat menunduk seraya mere mas kedua tangannya, "Gue kecewa lo bohongin gini, tapi gue lebih kecewa karna lo ngga cerita soal pembullyan itu. Intan kasar ke lo, dia tega lakuin itu ke lo. Siapa yang marah? Gue Nay! Gue marah dengarnya!..."
"Andai gue ada disitu, gue akan lakuin hal yang sama ke Intan, gue benci ada orang yang berani nyakitin milik gue. Gak peduli cewek atau cowok, gue pastiin dia dapat balasannya..."
"Tapi bodohnya gue, gue ngga tau apa-apa. Gue tau kejadian itu dari orang lain, bukan dari lo. Sekarang gue tanya, kenapa lo ngga cerita ke gue? Hmm?". Tanya Devan yang sedikit menunduk untuk melihat wajah Naya
"Heh, kalo gue lagi ngomong, diliat! Bukannya nunduk!". Bentak Devan mengguncang kedua bahu Naya, "Hiks...hiks...Na, Naya...minta...maaf...hiks...hiks". Ucap Naya menatap Devan dengan air mata bercucuran
"Ck, gue ngga butuh maaf lo, Nay. Gue pengen tau kenapa lo ngga cerita ke gue? Mereka keterlaluan, loh..."
"Mereka ngunciin lo diluar, hujan-hujanan, kalau penyakit lo kambuh, lo pingsan, apa mereka akan tanggung jawab? Engga, kan?". Ucap Devan
"Iya, Naya salah. Naya ngga cerita karna Naya takut Devan marah". Ucap Naya menghapus air matanya, "Udah pasti gue marah, tapi bukan ke lo. Ke mereka. Lo ngerti ngga, sih?!".
"Kalo Devan marahin mereka nanti mereka marah juga sama Naya. Pasti Naya dibilang tukang ngadu".
"Apa salahnya? Mereka tau kalo lo cewek gue, gue berhak marah kalo cewek gue diapa-apain, masa gue diem aja?".
"Argh!". Devan tampak mengerang seraya menyisir rambutnya kebelakang, "Ngga habis fikir, bisa-bisanya lo diam aja dibully kayak gitu".
"Naya takut sama mereka".
"Ya, karna lo penakut, jadi mereka seenaknya".
Naya mengangguk pelan lalu menundukkan kepalanya. Devan pun mendekat dan menarik Naya kepelukannya, "Maaf gue udah bentak lo". Ucap Devan mengusap kepala Naya
"Lo pasti paham soal gue kan, Nay? Dari dulu, apa pernah gue diam aja ngeliat lo diapa-apain sama orang brengsek diluar sana?..."
"Waktu SMP, lo kena pelecehan, gue sedih karna ngga ada orang yang bisa ngejagain lo. Itu alasan kenapa gue maksa lo jadi cewek gue..."
"Gue pengen lo mengandalkan gue, Nay. Apa gunanya gue jadi suami lo, kalo lo sembunyiin kejadian kayak kemarin? Sama aja lo ngelindungin mereka, biar mereka gak kena marah sama gue, iya, kan?". Tanya Devan, Naya mengangguk dipelukannya,
"Jangan diulangin lagi, ya. Kalo ada apa-apa cerita sama gue".
"Iya, maafin Naya udah sembunyiin kejadian kemarin".
Naya melepas pelukan mereka dan menatap Devan, "Maafin Naya juga udah bohongin Devan. Naya janji, Naya ngga akan bohong-bohong lagi" .
"Bagus, ini baru istri gue, kesayangan gue". Ucap Devan seraya mengecup puncak kepala Naya
"Yuk, jalan-jalan". Ajak Devan, Naya mengangguk semangat dan tersenyum lebar
---
__ADS_1
Bersambunggg dilike dulu yang kepo sama kelanjutannya.
doain biar aku ga ngaret updatenya hihihi