Childish Wife

Childish Wife
CW-8


__ADS_3

"Devan hari ini ngumpul OSIS lagi?".


"Iya sayang. Nanti pulang sama pak Yoyo aja ya, lama kalo nungguin gue lagi". Naya mengangguk, "Yaudah deh".


Devan mengecup kening Naya sebelum mereka turun dari mobil


"Ke kelas sendiri gapapa kan? Gue keruang OSIS dulu".


"Iya gapapa kok".


"Yaudah sana". Ucap Devan seraya mengusap kepala Naya. Mereka pun berpisah diparkiran mobil


"Hay Nay". Sapa Galang dari arah belakang, Naya pun berhenti dan menoleh, "Hay Galaaang".


"Mau permen?". Tanya Galang seraya memberikan satu permen lollipop rasa strawberry kepada Naya


Naya pun mengangguk dan menerima permen tersebut, "Makasih Galaaang".


"Hehe sama-sama cantik. Ke kelas yuk". Naya mengangguk, mereka pun kembali berjalan menuju kelas mereka


"Lo berangkat sendiri?".


"Sama Devan, tapi Devan langsung keruang OSIS".


"Sibuk ya dia?".


"Iya, katanya lagi ngurusin buat persiapan ulang tahun sekolah".


Galang mengangguk, "Oh iya Nay, kapan mau main kerumah gue? Nyokap gue nanyain lo mulu, katanya kangen..."


"Udah lama nyokap minta gue bawa lo kerumah, tapi gak pernah bisa. Selalu dilarang sama Devan haha". Galang tertawa getir


Naya merasa bersalah, Naya menghentikan langkahnya dan menatap Galang, "Naya minta maaf ya Galang, tapi Naya ngga berani pergi kemana-mana tanpa izin Devan".


"Iya gue ngerti kok, udah biasa. Sejak lo jadian sama Devan kita gak pernah deket lagi kayak dulu..."


"Udah berapa tahun kita ngga pernah main bareng?". Ucap Galang


Hening sejenak, Galang menarik nafas dalam-dalam


"Devan ngerebut lo dari gue".


"Kok Galang ngomong gitu?".


"Hehe engga engga. Udah lupain aja". Ucap Galang seraya menepuk bahu Naya


"Kissmark?"


Galang termangu melihat bekas ciuman pada leher Naya, kemudian tersenyum tipis


"Hubungan lo sama Devan udah sejauh mana Nay?".


Naya mengerjap, "Maksud Galang?".


"Yaa, dia ngga macem-macem kan ke lo?".


"Engga kok, Devan baik banget sama Naya, kan Devan sayang sama Naya".

__ADS_1


"Iya, tapi maksud gue-"


Ah sudah lah, tidak usah dilanjutkan, padahal bukan itu jawaban yang ingin Galang dengar dari mulut Naya. Melihat adanya bekas ciuman pada bagian tubuhnya, ia khawatir kalo Devan telah berbuat sesuatu diluar batas terhadap Naya


Tetapi sepertinya Naya tidak mengerti maksud dari pertanyaannya


"Hehe syukur lah kalo Devan baik, gue seneng dengernya".


Naya mengangguk seraya tersenyum, "Naya masuk ya Galang".


"Iya, belajar yang rajin". Galang mengusap kepala Naya sebelum pergi menuju kelasnya


---


"Nay, kantin yuk".


"Tapi Naya lagi nunggu Devan, Mil. Mau ke kantin bareng Devan".


Mily berdecak, "Yaelah nanti juga ketemu di kantin, lebay lo. Ayo". Mily menarik tangan Naya dan membawanya menuju kantin


"Tuh lo liat, lo nunggu cowok lo tapi dia udah disini sama Viona". Ucap Sisil sambil melirik Devan yang sedang duduk bersama Viona, wakil ketua OSIS,


"Samperin sana". Ucap Mily seraya mendorong punggung Naya


Naya mengangguk patuh, "Devaaaan".


Devan dan Viona yang terlihat sedang memperhatikan beberapa lembar kertas diatas meja, kompak mendongak melihat kedatangan Naya


"Sayang?".


Devan meraih tangan Naya dan menuntunnya untuk duduk disisinya


"Maaf ya, tadi jamkos, jadi ke kantin duluan".


Naya mengangguk, "Devan ngapain sama Viona?".


"Ini bahas proposal anggaran dana buat ngundang bintang tamu".


"Hehe jangan salah paham ya Nay". Ucap Viona


"Engga kok". Ucap Naya seraya tersenyum


"Mau makan apa?".


"Bakso, yang pedes".


"Jangan pedes sayang, nanti perutnya sakit".


"Dikit aja, Naya pengen makan yang pedes". Ucap Naya dengan tatapan memohon


"Yaudah, tunggu". Devan mengusap kepala Naya sebelum pergi memesan bakso untuk Naya


"Devan sweet banget ya, perhatian". Ucap Viona, Naya tersenyum tipis


"Sikapnya manis banget sama lo, tapi ke orang lain jutek, dingin hehehe". Sambung Viona


"Karena Devan sayang sama Naya".

__ADS_1


Viona tertawa kecil, "Iya Nay, percaya kok".


"Viona gak punya pacar?".


"Engga".


"Kenapa?". Tanya Naya penasaran


"Gue punya nya calon suami". Bisik Viona


Naya mengerjap, "Calon suami?".


Viona mengangguk semangat, "Gue udah tunangan, lulus sekolah gue mau nikah".


"Waah nikah? Naya juga udah nikah sama Devan".


Viona terdiam, ia cukup tercengang dengan ucapan Naya, "Lo bilang apa Nay?".


"Coba bisikin gue". Ucap Viona seraya mendekatkan kepalanya kearah Naya


"Naya udah nikah sama Devan hehe". Bisik Naya


Sekali lagi, Viona tercengang, entah ia harus percaya atau tidak dengan ucapan Naya itu


"Hahahaha gue aminin aja Nay, semoga lo jodoh sama Devan".


"Hehe iya, makasih Viona".


"Sayang, ini baksonya. Dihabisin ya". Ucap Devan seraya menaruh semangkuk bakso diatas meja


"Hmm Van, ini dibahas nanti lagi ya balik sekolah, gue mau ke kelas". Ucap Viona


Devan mengangguk, ia membantu Viona merapihkan beberapa kertas diatas meja


"Bay Naaay".


"Baaay Vionaaa".


"Mau gue suapin?". Tawar Devan


Naya menggeleng, "Mau makan sendiri".


"Yaudah bagus, ngga nyusahin".


Naya mendengus sesaat dan mulai melahap bakso yang sudah menjadi makanan favorite nya disekolah mereka. Sementara Devan, menyangga kepala dengan lengannya sambil memperhatikan Naya yang terlihat menggemaskan dengan mulut yang berbentuk bulat karna penuh dengan bakso


"Devan ngga makan?".


Devan menggeleng, "Kenyang duluan liat lo makan".


"Hehehe Naya suapin ya, mau ngga?".


"Ngga mau sayang, udah habisin makanannya".


Naya pun mengangguk dan kembali menyantap makanannya. Devan pun juga kembali melanjutkan kegiatannya, yaitu memandangi wajah cantik sang pujaan hati yang berada dihadapannya


"Nay?".

__ADS_1


"Bunda ngidam apa sih bisa punya anak secantik lo?".


---


__ADS_2