
"Naaay, lagi ngapain?".
"Ini lah macam-macam gaya ber-cinta yang bisa kamu coba dengan pasanganmu, nomer empat bikin ketagihan"
"WOY, NAYA! ASTAGHFIRULLAH"
"Lo baca apaan sayaaang?".
"Baca ini, waktu Naya lagi download film muncul artikel ini, terus Naya klik deh".
"Naya pengen ber-cinta tapi sama siap-"
"Sama gue lah!". Ucap Devan secara tiba-tiba
"Eh, hmm, yaaa, maksud gue, gue kan suami lo, lo ngapain bingung mau ber-cinta sama siapa". Ucap Devan seraya menggaruk tengkuknya
Naya mengerjap, "Emang ber-cinta itu apa sih?".
Devan tercengang sejenak. Ia pikir istri kecilnya ini tahu maksud dari ber-cinta. Ternyata tidak. Dan lagi-lagi Devan disadarkan oleh kenyataan kalau istrinya adalah Naya, gadis dengan segudang kepolosan dan keluguannya. Membuat laki-laki tampan itu bingung harus menjawab apa
"Katanya pengen, tapi ngga tau apa itu ber-cinta?".
"Naya ngga tau, tapi yang Naya baca disini, ber-cinta itu nikmat. Devan udah pernah ber-cinta belum?".
"Ya belum lah, bercinta itu bikin dede bayi Nay kalo lo ngga tau".
"Hah? Dede bayi?! Naya mau!".
"Ayo Devan, kita ber-cinta!".
"Naya mau gaya Doggy!".
"NAYAA!!". Naya tersentak lalu menatap wajah sang suami terlihat merah dibagian pipi dan telinganya
"Kok muka Devan merah? Devan sakit?".
"Eng, engga, gue, gak kenapa-napa". Ucap Devan terbata-bata
"Ooh...". Naya mengangguk
"Ayo kita ber-cinta". Ucap Naya dengan tatapan memohon
"Sial, gue harus apa".
Devan menghela nafas berat, "Nanti ya sayang".
__ADS_1
"Nanti kapan? Naya mau sekarang". Ucap Naya seraya mengguncang lengan Devan
Devan melirik jam dinding, pukul sembilan malam, ia harus bisa mengalihkan obrolan mereka sebelum terjadi hal yang Naya inginkan. Bagaimana pun juga Devan akan berpegang teguh pada pendiriannya untuk tidak 'menyentuh' Naya sampai mereka lulus sekolah
"Sayang, udah malem. Mending kita bobo ya?..."
"Besok kan libur, kita ke makam ayah sama bunda, mau kan?". Ucap Devan seraya mengusap kepala Naya
Naya mengangguk semangat, "Naya mau!".
"Good". Devan tersenyum, ia segera mematikan laptop setelah menutup artikel yang telah mencuci otak istri polosnya itu, "Jangan pernah muncul lagi di depan mata istri gue, artikel laknat".
---
Keesokan paginya, setelah sarapan bersama, Naya dan Devan bersiap untuk mengunjungi makam kedua orang tua Naya, sesuai janji Devan beberapa hari yang lalu pada istri kecilnya itu
"Assalamualaikum bunda, ayah. Naya dateng sama Devan, Naya rindu bunda, rindu ayah". Ucap Naya seraya mengusap batu nisan ibunda,
Devan pun turut mengucap salam dan mengusap batu nisan mendiang sang ayah mertua
"Bunda, ayah, Naya dateng bawa kabar gembira. Naya sama Devan udah menikah. Bunda sama ayah seneng kan dengernya? Hehe".
"Devan nepatin janjinya buat terus menjaga Naya..."
"Jadi bunda sama ayah ngga usah khawatir ya. Naya baik-baik aja".
Devan tersenyum haru mendengar istrinya sedang bercerita sambil memainkan rumput-rumput kecil yang ada disekitar pusara sang ibunda,
Tangannya Devan terulur untuk mengusap kepala Naya, membuat kepala yang sedang menunduk itu jadi mendongak menatap kedua matanya,
"Nay?". Devan tersentak, entah sejak kapan wajah sang istri berubah memerah seperti ini
"Devaaan". Lirih Naya dengan mata yang sudah berkaca-kaca
"Jangan nangis".
Sejujurnya tangis Devan pun ingin pecah menatap wajah sang istri yang sudah memerah akibat menahan tangis. Ada rasa sakit melihat wanitanya bersedih seperti ini, ia tidak tega, ia merasa kasihan pada Naya
Diusia yang masih terbilang muda, ia sudah kehilangan kedua sosok orang tuanya secara tiba-tiba akibat kecelakaan mobil beberapa minggu yang lalu
Bisa dibayangkan kondisi Naya saat ini, gadis dengan sifat kekanak-kanakkan yang selalu dimanja oleh kedua orang tuanya, kini telah ditinggal pergi untuk selama-selamanya. Tentu berat untuk Naya yang bisa dibilang sangat bergantung kepada orang tuanya
Devan membalikkan tubuhnya, ia hapus air mata yang menggenang di kedua pelupuk matanya, setelah itu menyentuh batu nisan pada pusara sang ayah mertua,
"Ayah, ayah ngga perlu khawatir, Devan janji akan bahagiain Naya, menyayangi Naya dengan segenap hati Devan..."
__ADS_1
"Devan akan menjaga Naya. Puteri kecil kesayangan ayah yang sangat berarti untuk Devan..."
"Karena Naya adalah nyawa bagi Devan".
---
"Huaaa Devaaan, Naya mau ikuuut". Ucap Naya seraya berjongkok sambil memeluk sebelah kaki Devan
Devan yang baru saja berjalan keluar dari kamar mereka, tiba-tiba menghentikan langkahnya saat Naya menyusul dan langsung memeluk satu kakinya sambil menangis
Naya sedang merajuk, ia meminta Devan untuk membawanya ikut serta ke sekolah. Padahal Devan sedang terburu-buru karena sudah ditunggu anggota OSIS lainnya untuk rapat dan mengecek persiapan acara ulang tahun sekolah mereka minggu depan
"Gue mau ngumpul sayang, rapat OSIS, bukan mau main".
"Tapi Naya mau ikuuut". Rengek Naya seraya mengguncang kaki Devan yang masih ia peluk
"Lo mau ngapain disana? Nanti bete, minta pulang, ribet gue nya".
"Huaaa Devan pelit! Devan pelit!". Jerit Naya
"Heh kenapa sih? Naya? Kamu ngapain? hahaha". Ucap Dilan dari depan pintu kamarnya
"Bawa Naya main nih, gue buru-buru ke sekolah". Ucap Devan pada sang kakak
"Ayo Nay, sama abang aja, kita beli es krim". Ucap Dilan
"Yeaay. Ayo abang! Naya mau".
Mendengar kata es krim, seketika Naya melepas pelukannya pada kaki suaminya itu dan berlari kecil menghampiri Dilan
"Bang Dilan baik, ngga kayak Devan. Devan jahat! Pelit!". Ucap Naya seraya menghapus air matanya
"Pokoknya Naya sebel sama Devan! Hump!". Naya memalingkan wajahnya
Devan terkekeh dan hendak mengacak poni wanitanya itu. Namun tangannya ditepis terlebih dahulu oleh Naya
"Ja-ngan sen-tuh Na-ya!". Ucap Naya penuh penekanan pada suku katanya dengan wajah yang terlihat serius namun terlihat menggemaskan dimata Devan
"Hahahaha yaudah, yaudah, gue jalan dulu ya".
"Yaudah, Naya ngga peduli".
Devan segera menuruni tangga dengan gelak tawa yang masih keluar dari mulutnya
---
__ADS_1