
"Woy, Naya di UKS tuh". Ucap Sisil menghampiri Devan disalah satu meja kantin, "Kenapa tu anak?".
Sisil mengangkat kedua bahunya, "Samperin aja". Devan mengangguk dan segera bangun dari duduknya
"Huaaa sakiiit". Sudah sepuluh menit berlalu, Naya menangis dan meringkuk didalam UKS sambil memegangi perutnya yang terasa sakit,
Naya pun menoleh kearah pintu manakala pintu terlihat dibuka oleh seseorang, "Nayaaa, lo kenapa?".
"Hiks hikss Devaaan, perut Naya sakiiit". Rengek Naya dengan nada manja, "Habis makan apa? Makan pedes ya?". Naya menggeleng
"Terus? Sakit kenapa?".
"Naya ngga tau". Devan pun menoleh ke sebuah kalender yang terpampang di dinding, "Pantes, sekarang udah masuk tanggal lo datang bulan". Naya mengerjap polos, "Emang iya? Kok Devan bisa tau?".
"Ck, tiga tahun jadi cowok lo gimana ngga hafal..."
"Lo bawa pembalut ngga? Jaga-jaga takut bocor dikelas".
"Yaaah Naya ngga bawa".
"Yaudah tunggu, gue beli dulu". Ucap Devan, dibalas anggukan dari Naya
---
Bel pulang sekolah telah berbunyi, Devan segera melangkahkan kakinya menghampiri Naya untuk meminta izin karena dirinya harus pergi dengan beberapa anggota OSIS untuk meninjau lokasi bencana alam sekaligus memberikan bantuan lewat penggalangan dana yang telah dikoordinasi oleh para anggotanya
"Yaah, jadi Naya pulangnya dijemput pak Yoyo?". Devan mengangguk, "Gapapa kan?".
"Yaudah, deh. tapi Devan lama ngga?".
"Sebentar kok, mau nitip apa?".
"Hmm Naya mau bakpau coklat".
"Yaudah nanti gue beliin ya". Naya mengangguk senang dan segera berjinjit untuk mengecup singkat pipi Devan, "Naya pulang ya".
"Hati-hati, kabarin gue kalo udah sampe rumah". Ucap Devan seraya mengusap puncak kepala Naya, "Iya, Devan juga hati-hati, Naya tunggu dirumah".
"Iya sayang".
---
"Hahahaha jadi Devan bilang kalo dia punya burung?". Naya mengangguk polos, "Tapi Naya bingung bang, burung Devan dimana? Kok Naya ngga pernah liat?".
Dilan, kakak kandung Devan menertawakan kepolosan dan keluguan adik iparnya ini, padahal ia tahu betul burung apa yang dimaksud sang adik
__ADS_1
Namun Naya tetaplah Naya gadis polos yang jauh dari pikiran kotornya sehingga tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Devan
"Bang, burung Devan dimana? Naya pengen liat". Ucap Naya sekali lagi membuat Dilan tertawa semakin kencang, "Udah Nay abang sakit perut ketawa mulu. Kalo mau liat burung Devan ngomong aja ke Devan, pasti dikasih liat kok hahahaha".
Naya mengerjap polos "Iya deh nanti Naya bilang ke Devan".
"Hahahaha Nay, Nay, ada-ada aja kamu".
"Hah, Devaaaan". Naya segera berlari mana kala melihat Devan berjalan memasuki rumah, "Jangan lari Nay, nanti jatoh". Devan berucap seraya memeluk Naya, Naya pun membalas erat pelukan Devan
"Hehe, Naya kangen Devan".
"Hmm lebay, kaya abis ditinggal lama. Lagi ngapain disini?". Tanya Devan sambil merapihkan poni Naya
"Lagi cerita soal burung Devan".
"Hah?!".
---
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Naya sedang berbaring sambil memainkan ponselnya sementara Devan sedang mengerjakan tugas sekolahnya di meja belajar
"Devaaan bobo yuuuk". Ucap Naya sambil menghampiri Devan
"Aaah, Naya mau bobo sama Devaaan". Rengek Naya sambil menghentakkan kedua kakinya
Devan pun berdecak dan menatap Naya, "Sayaaang, PR gue numpuk dan ada yang dikumpulin besok, kalo gue tidur PR gue ngga dikerjain dong? Kan ngga lucu kalo ketua OSIS dihukum cuma gara-gara ngga ngerjain PR". Naya mengangguk paham, "Yaudah deh Naya temenin Devan sampe selesai ngerjain PR ya".
"Emang belum ngantuk?". Naya menggeleng, "Naya baru ngantuk sedikit sih".
"Hmm yaudah sini, duduk". Devan meraih pinggang kecil Naya dan mendudukkan Naya dipangkuannya dengan posisi menghadap kearahnya
"Devan mau cium Naya ya?". Tanya Naya dengan polosnya, Devan pun termangu dan menahan tawa, "Kok nanya gitu?".
"Hmm biasanya kalo wajah Naya deket sama wajah Devan, tandanya Devan mau cium Naya".
"Hahaha Nay, Nay, lucu banget lo..."
"Coba dong gantian, masa gue mulu yang nyium lo?". Pinta Devan sambil menyodorkan pipinya, tanpa ragu Naya pun mengecup kedua pipi Devan
"Lagi, ini belum". Ucap Devan sambil menunjuk bibirnya
Naya pun tersenyum dan lagi-lagi tanpa ragu ia mengecup bibir tebal milik Devan, "Udah kan?".
Devan menggeleng, "Gue mau lagi". Pinta Devan sambil meraih tengkuk Naya, tanpa basa basi Devan segera mencium bibir mungil istrinya itu, ia ***** dengan lembut dan sangat dalam
__ADS_1
"Istri gue makin jago ciumannya". Devan berucap sambil mengusap bibir Naya yang basah akibat ulahnya
"Kan Devan yang ngajarin". Lagi-lagi Devan tertawa dengan penuturan Naya, sepertinya ia sudah berhasil meracuni otak polos istri mungilnya itu
"Oh iya Naya boleh minta sesuatu ngga?". Devan menatap lembut kedua mata Naya, "Minta apa sayang?".
"Naya mau liat burung Devan, soalnya kata bang Dilan kalo mau liat burung Devan tinggal ngomong aja, pasti dikasih liat, gitu". Jawab Naya dengan polosnya
Devan menghela nafas berat, sepertinya bukan hanya dirinya yang telah meracuni otak polos Naya, tapi sang kakak juga. Devan pun bingung harus menjawab apa
"Tadi Naya keliling rumah, tapi Naya ngga liat ada kandang burung". Sambung Naya
"Burung gue ngumpet".
"Dimana? Naya mau liat burung Devan kayak apa, bagus ngga?".
"Jangan, nanti lo kaget liatnya".
"Kenapa?". Naya mengerjap polos
"Soalnya burung gue gede".
"Gapapa, kan Naya suka yang gede". Devan merasa tertampar mendengar ucapan Naya, sepertinya ia menyesal telah mengatakan yang tidak-tidak kepada istrinya itu
Karena bagaimana pun juga pikiran Naya dan dirinya sangat bertolak belakang, dimana Naya berfikir tentang hewan peliharaan, tetapi Devan berfikiran lain, ya begitu lah otak laki-laki
"Naaay, lupain soal burung ya, sebenernya burung gue udah mati. Udah dikubur". Ucap Devan mengakhiri obrolan absurd mereka, Naya pun mengangguk dengan raut wajah kecewa, "Yaah, Naya kan belum sempat lihat".
"Hehe udah ya sekarang duduk yang anteng, temenin gue ngejain PR". Ucap Devan diakhiri dengan mencium kening Naya
Naya pun bersandar pada bahu Devan sambil ia lingkarkan kedua tangannya pada leher suami tampannya tersebut
---
Keesokan paginya, Devan bangun terlebih dahulu dari Naya, diliriknya Naya yang masih tertidur pulas dengan kondisi piyama yang berantakan dan terangkat sampai batas dadanya hingga terpampang lah kulit mulus seputih susu yang membuat Devan menelan ludahnya
"Astaghfirullah Nay, lo nguji iman gue pagi-pagi?". Batin Devan sambil menurunkan pakaiannya Naya
"Gue udah bertekad ngga akan nyentuh lo sampe lulus nanti, bantu gue Nay, jangan bikin gue khilaf".
Daripada memikirkan yang tidak-tidak. Lebih baik Devan segera beranjak kekamar mandi untuk membersihkan diri
---
__ADS_1