Childish Wife

Childish Wife
CW-5


__ADS_3

Pagi pagi sekali Naya sudah terbangun dari tidurnya karena merasakan adanya beban diatas kedua dadanya yang sedari tadi terus mengusik tidur lelapnya


"Devaan"


"Kok bobo diatas susu Naya, kan sakiiit, kepala Devan beraaat". Gumam Naya sambil meringis


Tangan Naya terulur untuk mengangkat kepala Devan dengan niat ingin ia turunkan dari atas dadanya, namun Naya terkejut, "Devan panas".


"Devaaan, bangun Devan...susu Naya sakiit".


"Devaaan". Naya terus menepuk pipi Devan sampai Devan terbangun


"Pusing Naaay". Lirih Devan, Naya mengangguk, "Tapi susu Naya sakit ditidurin kepala Devan".


Seketika Devan mengangkat kepalanya dan berpindah pada bantal disisi Naya. "Ya Allah, sorry Nay, gue ngga sengaja. Gue kira bantal soalnya empuk banget".


"Hmm kalo empuk yaudah Devan boleh bobo disini lagi kok. Naya buka ya biar Devan lebih enak bobonya". Naya hendak menyingkap piyama yang dipakainya namun buru-buru Devan menahan tangannya


"Jangan. Jangan dibuka. Nanti panjang urusannya". Naya mengerjap polos, "Urusan apa?".


"Udah jangan dibahas. Kepala gue pusing banget Nay, gue tidur lagi sebentar ya, bangunin gue jam enam". Naya mengangguk paham, "Yaudah, nanti Naya bikinin teh anget ya".


"Iya, makasih sayang".


Satu jam telah berlalu, Devan baru selesai membersihkan diri, ia segera keluar dari kamar mandi untuk memakai seragam sekolahnya yang telah disiapkan oleh Naya


"Devaaan".


"Apa?".


"Kepala Devan masih pusing?". Naya menatap lekat wajah Devan dengan tatapan polosnya, "Udah engga, kan dah minum obat".


"Sini deh Nay". Sambung Devan


"Kenapa?". Tanya Naya dengan bingung, "Sini dulu". Naya mengangguk dan menghampiri Devan

__ADS_1


"AKHH DEVAAAN!". Naya menjerit saat pipi kanannya digigit oleh Devan, "Kok Naya di gigit, sakiiit Devaan". Ucap Naya dengan mata yang berkaca-kaca


"Huaaa mamaaa!! Devan jahat!!". Jerit Naya lagi sambil menangis Devan yang baru memakai celana abu-abunya tiba-tiba merasa panik. Ia tidak menyangka respon Naya akan seperti ini padahal ia hanya merasa gemas setiap kali menatap wajah polos istri kecilnya itu


"Sayaang kok nangis sih, gue cuma bercanda". Ucap Devan seraya mengusap pipi Naya yang tadi ia gigit


"Devan kayak anjing".


"Astaghfirullah, lo ngatain gue?!". Bentak Devan


"Huaa mamaaa". Naya berlari kecil meninggalkan kamar mereka, "Mampus gue kalo dia ngadu ke mama". Gumam Devan seraya memakai seragamnya dengan cepat


"Mamaaa". Naya berhambur memeluk Santi yang sedang membuat teh hangat untuk Willy, Willy dan Dilan yang sedang duduk dikursi makan ikut keheranan melihat Naya yang menangis


"Kenapa sayang? Kok nangis?". Tanya Santi seraya memeluk punggung Naya


"Huaaa Devan gigit Naya maaaa hiks hikss".


"Kayak anjing". Sambung Naya


"HAHAHAHAHA". Tawa Willy dan Dilan pecah mendengar jawaban Naya


"Nayaaa, sini". Ucap Devan dari arah tangga, Naya menggeleng, "Naya takut di gigit lagi".


"Emang apanya yang di gigit sih Nay?".


"Ini bang". Jawab Naya dengan menyentuh pipinya yang masih terasa sakit, "Ya Allah sampe merah gini loh sayaang". Santi mengusap lembut pipi Naya, "Huaa sakit mamaaa". Rengek Naya


"Biar mama jewer". Santi berjalan menghampiri Devan dan memberi hadiah berupa jeweran pada kupingnya


"Aargh ampun maaa...sakit".


---


"Kak Devan, pulang sekolah kumpul ya?". Devan mengangguk, "Di aula ya, kasih tau yang lain".

__ADS_1


"Siap kak".


"Tumben Naya ngga nyamperin lo? Biasanya rempong, Devaaan Devaaaan". Ucap Tio menirukan suara Naya


"Lagi ngambek gara-gara gue gigit pipinya". Teman-teman Devan terkejut mendengar ucapan Devan, "Agresif juga lo Van".


"Ngga gitu. Gemes sendiri gue liat mukanya, gue gigit malah nangis".


"Hahahaha iya juga sih. Kalo gue jadi lo pasti Naya udah gue gigit, gemes banget emang, lucu". Ucap Galang, teman Devan


Devan melirik Galang, "Pengen gue tonjok pake tangan kanan apa kiri Lang?".


"Hahaha santai lah bro". Ucap Tio


"Haha nyatanya Naya emang lucu. Jarang-jarang cewek umur segini masih lucu-lucunya".


Tidak terima temannya terus memuji-muji Naya, Devan menoleh kearah Galang sambil memicingkan kedua matanya, "Ck, lu bisa diem ngga? Ngga usah muji-muji Naya!".


"Bro udah lah, kalem". Ucap Tio seraya menepuk bahu Devan, namun Devan malah menepis tangan Tio


"Pawangnya marah kan tu, udah tau doi ngga suka ada yang muji-muji Naya". Ucap Tio,


Galang pun tertawa kecil seraya bermain ponselnya, "Berlebihan".


"Terserah gue lah, Naya cewek gue". Galang tersenyum tipis, "Baru cewek, belom istri, gak ada yang tau gimana kedepannya".


"Anjing! Maksud lo apa ngomong kayak gitu!". Jerit Devan sambil mencengkram kerah seragam Galang, seluruh siswa yang berada di kantin kompak menoleh mendengar umpatan Devan, termasuk Naya


"Van udah Van, inget lo ketua OSIS. Jaga sikap lo". Bisik Tio


Galang yang sempat tersentak dengan sikap Devan, seketika tersenyum dengan santainya


"Gak kebayang cewek polos, lugu kayak Naya bisa bertahan sama cowok kayak lo, kasian banget pasti". Ucap Galang seraya menghempaskan tangan Devan dengan kasar dari kerahnya


Devan mengepalkan kedua tangannya dan bersiap untuk memberi bogem mentah pada Galang, namun Tio terlebih dahulu mendorong Galang keluar dari area kantin

__ADS_1


"Aarrgh!!!".


---


__ADS_2