
"Sil, Naya mana?". Tanya Devan saat menghampiri kelas Sisil, "Loh, ini gue sama Mily mau ke kelas Naya, kita mau ke mall".
"Iya, tadi Naya udah bilang ke gue. Makanya gue kesini. Kelas Naya udah kosong, jam terakhir gak ada guru".
"Hah? Tapi Naya ngga kesini".
"Ayo, jadi ngga?". Tanya Mily saat menghampiri Devan dan Sisil, "Bentar, Mil, ini Naya ngga ada. Di kelas juga ngga ada".
"Ke toilet, mungkin? Atau ke kantin?". Tanya Mily menatap Devan dan Sisil, "Gue belum cari kesana sih". Ucap Devan
"Yaudah, gue sama Mily yang cari ke kantin sama toilet. Lo ke atap aja, biasanya tuh anak suka nongkrong disana". Ucap Sisil memberi usul, Devan mengangguk setuju, "Kabarin gue kalo ketemu Naya".
"Siap". Ucap Sisil
Tanpa berlama-lama, Devan berlari menaiki tangga menuju bagian teratas dari gedung kelasnya. Disana, Devan melihat teman-temannya sedang duduk berkumpul bersama Naya seraya menikmati beberapa makanan ringan serta minumannya
Ada sesuatu yang menarik perhatian Devan disana, ia melihat Intan dan Sandra yang sedang duduk di sudut rooftop dengan kedua tangan dan kaki yang diikat dasi seragam sekolah mereka. Devan pun berjalan menghampiri Naya dan teman-teman
"Naya, gue cariin lo ke kelas, ke kelas Sisil, tapi ngga ada, ngapain disini?". Tanya Devan seraya merapihkan poni Naya, "Makan ciki". Jawab Naya seraya menunjukkan makanan ditangannya
"Iya, gue tau lo makan ciki. Tapi kenapa ngga balik ke kelas?".
"Naya ngga boleh ke kelas sama Rangga".
"Kenapa?".
"Biar lo panik nyari Naya, hahahaha". Ucap Rangga, "Ck, gak lucu". Ucap Devan
"Hahaha, bercanda, sebenarnya ada alasan kenapa Naya ada disini".
"Apa?".
"Devan, tolongin gue, dong. Masa gue diikat sama Rangga". Rengek Intan manja, "Dih, geli". Gumam Joseph menatap sinis Intan
"Heh, tikus nakal, gue ngga bakal ikat lo, kalo lo ngga usil sama Naya". Ucap Rangga
"Usil? Usil kenapa?..."
"Lo gapapa kan, Nay?". Tanya Devan memastikan, "Naya gapapa, kok". Jawab Naya tersenyum
"Van, bayi lo ini hampir dikerjain sama dua tikus nakal itu, mereka mau gunting seragam Naya". Ucap Rangga dengan wajah seriusnya menatap Devan, "Mereka minta bantuan Naya bersihin gudang. Ternyata itu cuma alasan buat nipu Naya". Sambung Rangga
"Iya, Rangga nolongin Naya, kata Rangga Intan sama Sandra mau jahatin Naya". Ucap Naya menatap Devan, "Lo ngga sadar mereka mau jahatin lo?".
"Engga, Sandra ngga bilang mau jahatin Naya".
"Ya ampun, Nay? Mana ada orang yang mau ngelakuin kejahatan bilang-bilang dulu?". Ucap Devan
"Hahahaha, Naya ini gampang percaya omongan orang, ya. Gampang di culik, nih, haha". Ucap Tio
"Loh, itu Naya". Ucap Sisil saat memasuki area rooftop bersama Mily, "Nah, ada Sisil, bagus". Ucap Josep tersenyum lebar
"Naya! Kita cari kemana-mana lo malah disini?". Tanya Mily menatap Naya yang sedang mengunyah makanannya, "Maaf Mily, Rangga ajak Naya kesini".
"Wait, kok mereka ada disini juga? Diikat gitu, lagi? Kenapa?". Tanya Sisil menatap Intan dan Sandra, "Ada gunting, nih. Bebas mau lo pake buat gunting apapun". Ucap Joseph memberikan gunting milik Sandra pada Sisil
"Hah? Buat apa?". Tanya Sisil
"Gue kasih tau, tadi gue ngeliat mereka hampir gunting seragam Naya. Untung gagal, gue berhasil bawa Naya kabur". Ucap Rangga menatap Sisil, "Oh, ok. Sekarang gue tau gunanya gunting ini buat apa". Ucap Sisil yang melangkah mendekati Intan dan Sandra
"Yo, Sisil nih, bro! Jagoan gue". Ucap Tio menepuk dada dengan semangat, "Wah, seru, nih". Ucap Rangga antusias
"Sil, lo mau ngapain?!". Tanya Intan yang mulai menyeret tubuhnya mundur menjauhi Sisil, "Gue cuma mau pastiin gunting ini berfungsi dengan baik atau engga".
"Engga! Jauh-jauh lo!". Bentak Intan
"Kenapa? Lo takut? Dengan beraninya lo nindas Naya! Ngebully Naya! Sekarang posisinya dibalik, lo takut? Iya?".
"Nindas Naya? Ngebully Naya? Maksud lo apa-"
Grep, Intan meraih ujung dari seragam bagian lengan yang dipakai Intan. Dan ia gunting secara membabi buta hingga terkoyak
"Ini kan yang mau lo lakuin ke Naya? Sorry, kesempatan ini milik gue". Ucap Sisil sebelum melanjutkan aksinya yang kini beralih pada rok abu-abunya
"Stop, Sil! Stop! Lo kelewatan, ya!".
__ADS_1
"Oh, ya? Kalo gue kelewatan, lo apa, dong? Kurang ajar? Atau keterlaluan?".
Intan kembali melanjutkan aksinya, menggunting seragam atas dan bawah yang dipakai Intan hingga terkoyak dan berlubang di beberapa bagian
"Disini, lo pernah tarik rambut Naya, sampai Naya kesakitan, iya kan? Apa perlu rambut kesayangan lo ini gue gunting juga?". Ucap Sisil meraih helaian rambut panjang milik Intan
"Gue bikin lo botak, ya? Boleh?". Tanya Sisil yang memicu gelak tawa dari teman-teman Devan, "Jangan, please, jangan Sil". Ucap Intan memohon
"Devan? Kok Sisil jahatin Intan?". Tanya Naya cemas menatap Devan, "Sisil cuma mau ngasih pelajaran karna udah jahatin lo. Gapapa, biar Intan kapok..."
"Sini, jangan dilihat". Ucap Devan yang memutar balikkan tubuh Naya menjadi kearahnya, "Lihatin gue aja, ganteng kan". Ucap Devan seraya tersenyum
"Haha, iya Devan selalu ganteng. Ini, Devan cobain ciki Naya, enak". Ucap Naya saat hendak menyuapi Devan, "Gue mau ini". Ucap Devan mengusap bibir Naya dengan ibu jarinya
"Anjir, malah ngebucin lo". Ucap Rangga menatap Devan, "Sirik?".
"Sialan".
Puas memberi balasan pada Intan dan Sandra, Sisil melempar guntingnya sembarang arah. Ia sempatkan mencengkram rambut Intan sebelum mengakhiri aksinya, "Lo dengar, ya. Jangan pernah ganggu Naya lagi, atau kepala lo ini beneran gue botakin". Ucap Intan dengan cengkraman yang semakin kuat
"Akhh...sakit, Sil..."
"Iya! Iya! Gue ngga akan ganggu Naya lagi! Ngga akan nyari masalah lagi!".
"Lo juga!". Ucap Sisil beralih menatap Sandra, "Iya! Gue ngga akan kayak gitu lagi".
"Udah, woy. Tinggalin". Ucap Rangga bangun dari duduknya, "Kunci pintunya, mereka pernah kunciin Naya disini". Ucap Joseph melirik kunci rooftop yang menggantung di pintunya
"Jangan, Jo. Jangan". Ucap Sandra memohon, "Lo berdua harus ngerasain apa yang Naya rasain". Ucap Mily
Sisil tersenyum kecut sebelum berbalik meninggalkan Intan dan Sandra, "Sil, tolong lepasin dulu ikatan di tangan, kaki, gue". Ucap Intan
"Bukan urusan gue".
"Babaaaay". Ucap Mily seraya melambaikan tangannya kearah Intan dan Sandra
"Bayangin, udah sore, sekolah sepi, kekunci di atap, lagi. Hih, serem". Ucap Rangga bergidik ngeri, disambut gelak tawa dari teman-temannya saat mereka berjalan meninggalkan rooftop
Naya menoleh ke belakang, memperhatikan Intan yang sedang menunduk dan Sandra yang sedang menangis. Naya pun menghentikan langkahnya diikuti dengan yang lain
"Udah, lah, Nay. Mereka aja ngga pernah kasihan sama lo. Lo ngapain kasihan sama mereka?". Tanya Joseph
"Naya mau lepasin ikatannya dulu, boleh, kan?". Ucap Naya meraih tangan Devan, "Buat apa sih, Nay? Biarin aja".
"Kasihan, Devan. Ini udah gelap, Intan sama Sandra pasti mau pulang".
"Nay? Bisa ngga sih, lo ngga usah kasihan sama orang yang udah jahatin lo? Ini tuh balasan buat mereka". Ucap Sisil
"Iya. Udah, ayo. Kita jadi ke mall, kan? Gimana kalau nanti malam aja?". Ucap Mily seraya memeluk lengan Naya dan membawanya meninggalkan rooftop
"Intan, gimana ini? Kita ditinggal".
"Ini gara-gara lo. Kenapa Rangga ngeliat lo bawa Naya ke gudang?".
"Gue ngga tau, gue udah pastiin ngga ada yang ngeliat kok".
"Ck, bodoh".
---
"Ngga jadi Nay, hujan deras, gue males kemana-mana kalau hujan"
"Yup, becek, nanti sepatu gue kotor"
"Yaudah kalo ngga jadi. Naya mau menggambar aja"
"Ok, next time ya, Nay"
"Iya, yaudah, Naya matiin ya video call nya...Bye Sisil, bye Mily"
"Bye, Naaaay"
Setelah memutus panggilan videonya, Naya berjalan menuju meja belajar, mengeluarkan perlengkapan menggambar dari dalam lacinya
"Naya? Kamu udah tidur, sayang?". Tanya Santi dari balik pintu kamarnya, "Belum, ma".
__ADS_1
"Mama boleh masuk ngga?".
"Boleh, ma".
Naya bangun dari duduknya untuk menyambut kedatangan Santi, ia ajak Santi untuk duduk disisi tempat tidurnya,
"Sayang, tadi mama beli pakaian buat kamu, nih". Ucap Santi seraya memberikan paper bag untuk Naya, "Wah, mama tumben tiba-tiba beli pakaian buat Naya, biasanya kita beli pakaian bareng".
"Hehe, biar surprise. Coba dilihat dong pakaian yang mama beli. Lucu, gemas, pasti cocok buat kamu". Ucap Santi antusias, Naya pun mengangguk dan mengeluarkan pakaian tersebut
Naya termangu, sebuah gaun tidur tipis menerawang berwarna merah, terpampang di hadapannya. Layaknya jaring, tidak ada sehelai kain yang melapisi gaun tidur tersebut. Hanya pakaian da lam bagian bawah yang terbuat dari kain, itu pun sangat sedikit. Sisanya, hanya seutas tali
Santi menahan tawa melihat raut wajah Naya yang menyiratkan kebingungan, bisa dipastikan bahwa ini pertama kali bagi Naya memegang pakaian seperti itu
"Gimana? Bagus ngga? Kamu suka, kan?".
"Eum, ini pakaian apa sih, ma? Kok aneh?".
"Hihi, ini namanya lingerie".
"Oh, kayak gini, ma? Gak ada pakaian da lam ya, ma? Bagian atas?".
"Ngga ada, sayang. Cuma ada bagian bawah. Ini cocok dipakai buat wik wik".
"Ha? Wik wik itu apa? Suara bebek? Tapi suara bebek, kan, wek wek".
"Hahaha, kamu ngga tau, sayang? Bukannya itu bahasa jaman sekarang, ya?..."
"Gimana ya jawabnya. Wik wik itu, berhubungan suami istri, hehe".
"Oh". Naya mengangguk paham, "Berhubungan in tim ya, ma?".
"Iya! Kamu tau?".
"Tau, ma. Kemarin malam Devan nanya ke Naya, Naya udah siap berhubungan in tim atau belum, gitu".
"Hahahahahahaha". Tawa Santi pecah mendengar ucapan Naya yang terkesan tiba-tiba, "Terus, gimana? Kamu jawab apa? Udah siap? Kalian wik wik?".
"Engga, ma". Jawab Naya membuat Santi menghela nafas kekecewaan, "Yah, kenapa ngga jadi?".
"Kayaknya Devan lupa, ma. Soalnya Devan keburu dipanggil papa. Terus Naya ketiduran nungguin Devan".
"Ah, papa ganggu aja. Yaudah, sekarang kamu pakai, ya. Tunjukkin ke Devan, Devan pasti suka".
"Naya kebawah?".
"Ya, jangan dong. Tunjukkin ke Devan, kalau Devan udah masuk kamar. Ok?".
"Ok, ma".
"Good. Yaudah, mama keluar, ya. Good luck, sayang". Ucap Santi seraya menepuk lembut puncak kepala Naya sebelum meninggalkan kamarnya
Tidak berselang lama, dari dalam kamar mandi, Naya mendengar suara Devan memanggil namanya, namun Naya tidak menjawab karena fokus memakai gaun tidur yang diberikan Santi
"Duh, ini benar kayak gini pakainya? Naya malu". Batin Naya seraya berkaca memperhatikan tubuhnya yang berbalut pakaian tipis menerawang
"Hmm, susu Naya, kelihatan..."
"Naya lepas aja deh, malu banget"
Klek, pintu kamar mandi terbuka dengan cepat, menampakkan sosok Devan yang muncul dengan wajah paniknya
"Nay? Lo ngga apa-".
Devan termangu, sosok Naya dengan gaun tidurnya berada tepat di hadapannya
"Eum, Nay, itu, sorry, gue kira, lo kenapa-napa". Ucap Devan terbata-bata, "Hehe, Naya ngga apa-apa". Ucap Naya seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
Glup, Devan meneguk ludah, tatapan matanya belum teralihkan dari tubuh Naya yang terlihat sek si dan menggoda, dimatanya
"Tahan, Devan, tahan"
Bersambung guyyssss yang penasaran kelanjutannyaa jangan lupa like, komen vote dan hadianyaaa biar aku ga ngaret update
__ADS_1
BTW, cerita yang sebelah hiatus dulu, aku ga dapat feel buat lanjutin ceritanya. Kayaknya bakal aku up sekalian tamat, deh? Aku up nunggu draftnya udah banyak