
Kriingg, bel pulang sekolah
Naya berjalan seorang diri menuju gerbang sekolah, menghampiri pak Yoyo yang telah menunggunya disamping mobil
"Selamat sore non Naya". Ucap pak Yoyo seraya membungkuk sopan lalu membukakan pintu mobil untuk Naya
Naya pun membalas sapaan pak Yoyo dan segera masuk kedalam mobil
"Naya pulang sama siapa?".
"Om sama tante kan udah meninggal, dan gue belum tau Naya sekarang tinggal sama siapa?..."
"Ngga mungkin kan Naya berani tinggal sendirian?".
---
"Mamaaa". Ucap Naya seraya memeluk tubuh Santi dari samping
"Eh...anak mama udah pulang".
Naya melepaskan pelukannya lalu mencium tangan Santi. Setelah itu beralih menatap permukaan meja dapur yang dipenuhi dengan bahan kue dan beberapa alat-alat untuk membuat kue
"Mama lagi bikin kue?".
"Iya sayang, lagi nyoba resep baru hehe, mau bantuin mama?".
Naya mengangguk semangat, "Naya ganti baju dulu ya ma".
"Iya sayang".
Disisi lain
Galang yang sejak tadi penasaran dengan kehidupan Naya setelah ditinggal kedua orang tuanya, memutuskan untuk mengikuti mobil yang ditumpangi oleh Naya,
Karena setahu dirinya, ayah Naya adalah anak tunggal, dan ibunda Naya adalah anak dengan dua bersaudara dan itu pun tinggal diluar negeri. Kakek dan neneknya pun sudah tiada baik dari ayah ataupun ibunda nya.
Jadi bisa dibilang, Naya sudah tidak memiliki sanak saudara yang berada di dekatnya, oleh karena itu ia merasa penasaran. Mengingat tidak mungkin gadis manja dan kekanakan seperti Naya bisa mengurus dirinya sendiri
Dan berkat rasa penasarannya itu, ia telah tiba dihadapan sebuah rumah mewah dengan nuansa serba putih dan pagar hitam menjulang tinggi didepannya
"Naya tinggal disini? Rumah siapa? Setau gue ini bukan rumah om Danu".
Galang semakin penasaran, ia menoleh ke arah kanan dan kiri, berharap ada seseorang yang dapat ia mintai informasi mengenai Naya
"Ada security". Gumam Galang
__ADS_1
Galang sedikit melajukan motornya menghampiri security tersebut
"Sore pak".
"Sore mas, ada yang bisa saya bantu?".
"Mmm saya lagi nyari rumah teman saya pak, tapi saya lupa di nomor berapa".
"Kalo boleh tau nama temannya siapa mas? Siapa tau saya kenal".
"Naya pak".
Security tersebut nampak berfikir sejenak, "Naya? Mbak Naya istrinya mas Devan ya mas?".
Galang tercengang dengan jawaban security tersebut
"Naya istrinya Devan? Ini security ngga salah ngomong?".
"Maaf pak, saya ngga tau nama suami teman saya itu pak hehe, bisa tunjukin aja rumahnya pak?".
"Loh itu mas, tadi mas sudah berhenti tepat didepan rumahnya". Ucap security seraya menunjuk rumah yang dimasuki oleh Naya
"Iya sih tadi Naya masuk kesitu, tapi serius Naya istrinya Devan? Ngga percaya gue".
"Ohh yaudah pak, makasih banyak pak".
"Engga, gue ngga percaya".
---
Pukul delapan malam, Devan baru tiba dirumah, ia langsung berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, tidak memperdulikan ajakan kedua orang tuanya yang masih berada dimeja makan untuk mengajaknya makan malam
Ia sudah cukup lelah dengan aktivitasnya disekolah hari ini, tidak terbesit dipikirannya untuk makan malam, yang ia inginkan hanya membersihkan diri dan beristirahat sesegera mungkin
"Devaaan". Naya berlari kecil dari kursi belajarnya dan berhambur memeluk sang suami
Devan pun menyambut pelukan hangat Naya, ia rengkuh tubuh mungil itu didalam pelukannya seraya ia kecup puncak kepalanya berulang kali
"Kok belum tidur?". Tanya Devan menatap kedua mata Naya
Naya menggeleng, "Nungguin Devan, mau bobo sambil dipeluk Devan".
"Hehe gue mandi dulu ya".
"Iya".
__ADS_1
Devan menjauhkan tubuhnya dan mulai melepas seluruh atribut sekolahnya, setelah itu beranjak memasuki kamar mandi
Hampir lima menit berlalu, Devan sudah selesai dengan kegiatannya, ia pun sudah berganti pakaian rumahan yang nyaman digunakan untuk beristirahat melepas penatnya
Bruk, Devan menjatuhkan dirinya diatas tempat tidur, Naya yang masih berada di kursi belajarnya sedikit terkejut dengan suara hentakan yang diciptakan Devan
"Ya ampun, kasian Devan pasti capek banget".
Naya menutup buku gambarnya dan merapihkan crayon nya diatas meja belajar. Setelah itu mencuci kedua tangan dan kaki lalu menyusul Devan yang terlihat sudah memejamkan kedua matanya
Naya mendudukan bokongnya diujung tempat tidur lalu tangannya terulur meraih salah satu kaki Devan. Baru saja menyentuh permukaan kulitnya, Devan tersentak. Ia segera mendudukkan bokongnya dan menahan tangan Naya
"Lo ngapain Nay?".
"Naya mau pijitin Devan".
"Ngga usah, gue ngga mau".
Naya menekuk bibirnya kebawah, raut wajahnya pun seketika menjadi sedih
"Kenapa sih Devan ngga pernah mau Naya pijitin? Iya Naya tau Naya ngga bisa pijit, tapi seenggaknya rasa pegel yang Devan rasain bisa ilang meski sedikit..."
"Soalnya Naya tau Devan pasti kecapean, Nay-"
Cup, Devan mengecup singkat bibir Naya untuk menghentikan ocehan yang keluar dari mulut istrinya itu
"Bawel. Gue bukannya gak mau lo pijitin Nay, tapi gue ngga mau lo capek, pegel, karna pijitin gue, ngerti?".
Naya mengangguk pelan
"Yaudah sini, katanya mau dipeluk".
Naya segera merangkak naik ke tempat tidur dan mendekati Devan yang telah menyambutnya untuk masuk kedalam pelukannya
"Badan Devan keras banget". Ucap Naya seraya menekan-nekan dada bidang Devan dengan telunjuknya
"Kalo empuk punya lo dong haha".
"Oh iya Devan ngga mau bobo diatas susu Naya lagi?".
---
Bersambung----
Dimohon untuk memberikan jempol! Gue maksa nih! 😈
__ADS_1
Baca doang, likenya engga 😬