Childish Wife

Childish Wife
CW-20


__ADS_3

"Naya capek". Keluh Naya saat membungkuk, "Hahaha, lagian semangat banget kelilingin pasar malam sebesar ini".


"Hehe, ini kan first time Naya ke pasar malam- Eum, Devan, Naya pengen batagor". Ucap Naya secara tiba-tiba saat melihat pedagang makanan didepan mereka


"Yaudah. Lo duduk disitu tuh, gue yang beli". Ucap Devan seraya menunjuk sebuah bangku kayu yang ada di parkiran, Naya mengangguk dan beranjak dari posisinya


Tidak berselang lama, Devan kembali membawa sebungkus makanan ditangannya, "Minumnya masih ada ngga?".


"Masih. Devan mau minum?".


"Engga, kalo habis biar gue beliin lagi".


"Masih ada, kok".


"Yaudah, habisin dulu batagornya. Gue pengen duduk". Ucap Devan mendudukkan bokongnya disamping Naya, "Devan mau ngga?". Tanya Naya menunjukkan makanannya


"Engga, gue kenyang liat lo makan mulu daritadi".


"Hehehe, jajanan disini enak-enak banget, sih".


"Yaudah habisin". Ucap Devan seraya mengeluarkan ponselnya dari saku celana, "Oh iya Nay, habis ini ikut gue ke cafenya Tio, ya. Mau kan?".


"Hmm? Teman-teman Devan ada disana?".


"Iya, biasa, nongkrong. Udah lama gue ngga gabung".


"Tapi Naya takut teman-teman Devan marahin Naya gara-gara masalah kemarin".


"Mereka teman-teman gue, Nay. Ngga ada yang berani marahin lo".


"Yaudah, Naya ikut".


"Nah, gitu dong".


Setelah puas bermain dan berjalan-jalan di pasar malam. Mereka kembali kedalam mobil menuju tempat tujuan mereka berikutnya. Disana, kedatangan mereka sudah disambut heboh oleh beberapa teman sekelas Devan dan teman dari kelas lainnya yang diantaranya anggota OSIS


Mereka langsung memberi kursi untuk Devan dan Naya. Naya mereka dudukkan ditengah-tengah mereka, sedangkan Devan mereka beri kursi yang berseberangan dengan Naya


"Mau pesan apa lagi, Nay? Biar Devan yang bayar, hahaha". Ucap Tio seraya duduk disebelah Naya, "Ini aja, Naya kenyang".


"Lo suka minum ngga?". Tanya salah satu teman Devan yang bernama Joseph, Devan dan yang lain kompak memperhatikan interaksi antara mereka, "Suka". Jawab Naya seraya tersenyum


"What? Gokil juga lo, gue kira ngga suka". Joseph menaruh gitar yang ada dipangkuannya lalu membungkuk untuk mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang ada disamping kakinya


Sebotol anggur merah dengan kadar alkohol tinggi Joseph letakkan dimeja hadapan Naya, membuat yang lain tercengang terutama Devan, "Apa-apaan, lo?". Tanya Devan


"Lah? Katanya suka minum, ya gue kasih. Mumpung bawa". Ucap Joseph


"Goblok, gue yakin maksud Naya bukan itu". Ucap Devan yang mengundang gelak tawa dari teman-temannya, "Emang maksud lo apa, Nay? Minum apa?". Tanya Joseph


"Asep nanya minum kan-"


"Joseph, anjir. Sejak kapan nama gue Asep? Aduh". Protes Joseph sambil menepuk jidat


Gelak tawa kencang kembali terdengar dari meja mereka, "Pasti lo, nih, yang ngajarin Naya manggil gue Asep?". Tanya Joseph menatap Devan yang merespon dengan mengangkat kedua bahunya


"Naya kirain nama kamu Asep". Ucap Naya,

__ADS_1


"Iya, Nay, iya. Terserah lo, deh. Jadi maksud lo itu, lo suka minum apa?".


"Air putih. Naya suka minum air putih". Jawab Naya seraya tersenyum, "Ya Tuhan". Gumam Joseph


"Ya harusnya gue ngga nanya, sih". Ucap Joseph yang kembali memasukkan botol minumannya,


"Udah paling bener Naya itu minumnya susu, iya kan Nay?". Tanya Tio diangguki Naya,


"Naya suka minum susu juga". Ucap Naya


"Tuh, kan".


"Eh, Nay. Gue denger lo pacaran sama Devan udah tiga tahun kan? Lo udah ngapain aja sama dia?". Pertanyaan kali ini keluar dari mulut seseorang yang dikenal playboy diantara mereka, Rangga


"Stress". Gumam Devan saat mendengar pertanyaan temannya itu


"Naya sama Devan ngga pernah ngapa-ngapain". Jawab Naya seraya menggeleng, "Masa sih, Devan itu ngga sealim keliatannya, gue ngga percaya Devan ngga pernah ngehasut lo buat anu-anu". Ucap Rangga yang diiringi tawaan dari teman-temannya


"Parah, lo, Ngga". Ucap Tio, "Heh, lu jangan kotorin pikiran Naya, dia masih anak-anak, masih suci". Ucap Joseph menatap Rangga


"Lo tadi ngasih dia wiski, anjir, apa bedanya, haha..."


"Lo udah pernah tidur sama Devan kan?". Tanya Rangga secara gamblang, Devan pun menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kalo nanya yang bener". Ucap Devan menendang kaki Rangga


"Tapi benar kata Rangga, setiap malam Naya tidur sama Devan". Ucap Naya


"APA?!". Yang lain kompak terkejut mendengar pernyataan Naya, "Udah, udah, yang ada dipikiran Naya sama dipikiran lo itu, beda. Ngga usah dilanjut". Ucap Devan


"Tapi maksud Naya, setiap malam, itu apa?". Tanya Tio menatap Devan, "Lo berdua tidur bareng gitu? Tiap malam?". Sambung Joseph


"Ngga usah kepo lo, Asep. Ntar lo ngiri". Ucap Devan, "Ck, sialan".


Naya sudah tidak bisa menunggu lagi. Ia ingin segera pulang dan beristirahat, ia pun melirik jam tangannya, "Devan? Pulang, yuk. Naya ngantuk". Ucap Naya dengan tatapan mata yang sudah sayu


"Yah? Masih sore loh, Nay. Jarang-jarang Devan bisa ngumpul gini, biasanya OSIS mulu". Ucap Joseph, "Tapi Naya ngantuk banget".


"Yaudah, pulang, yuk". Ucap Devan bangun dari duduknya diikuti oleh Naya. Devan pun berpamitan pada seluruh teman-temannya dan membawa Naya meninggalkan restoran tersebut


"Maaf ya, gue kelamaan, istri gue ngantuk deh". Ucap Devan mengacak puncak kepala Naya, "Gapapa, Devan kan kangen ngumpul sama teman-teman..."


"Tapi Naya ngga kuat, ngantuk banget. Maaf ya, Devan".


"Gapapa, sayang..."


"Astaga, Nay. HP gue ketinggalan". Ucap Devan yang seketika menghentikkan langkahnya saat mereka menuju parkiran,


"Tunggu didalam mobil. Gue ambil HP dulu". Ucap Devan seraya menaruh kunci mobil di telapak tangan Naya


"Masuk mobil, jangan kemana-mana, gue lari biar cepat". Ucap Devan, Naya mengangguk patuh dan melangkah menuju mobil Devan setelah Devan beranjak pergi dari posisinya


"Tadi mobil Devan parkir dimana, ya?"


"Ups, ada cewek pembawa sial". Ucap Intan yang baru turun dari mobilnya


"Intan?"


Naya gugup seketika membuat kunci mobil yang ada ditangannya terjatuh, "Eum, itu kunci mobil Devan, ya? Salut gue, ternyata lo masih punya muka buat dekatin Devan?".

__ADS_1


"Naya, pergi, dulu". Ucap Naya setelah meraih kunci mobilnya dengan cepat, "Eh! Mau kemana, lo?!". Tanya Intan yang mencengkram pergelangan tangan Naya


"Intan, Naya mau pulang". Ucap Naya seraya meringis kesakitan, "Dengerin gue, putusin Devan!".


"Ngga mau, Naya ngga mau putus sama Devan".


"Ck, benar-benar ngga tau diri ya, lo". Ucap Intan dengan tangan yang semakin kencang, "Akh, sakit, Intan".


"Woy, apa-apaan, nih?".


Naya dan Intan kompak menoleh saat mendengar suara seseorang dari samping mereka, "Bagas?"


"Lo jadi cewek kasar banget? Lepasin Naya! Dia kesakitan!". Bentak Bagas seraya menarik tangan Naya dari genggaman Intan, "Lo siapa? Lo kenal sama cewek ini?". Tanya Intan melirik Naya


"Iya, gue...gue pacarnya Naya".


"Hah? Waw, hahahahaha". Intan tertawa seraya membungkam mulutnya


"Naya? Gue ngga nyangka, ternyata ini sifat asli lo?".


"Na, Naya-"


"Udah, lah Nay. Ngga penting ngeladenin cewek ini. Ayo, cabut". Ucap Bagas menarik tangan Naya meninggalkan Intan


"Tapi, Naya mau-"


"Udah, ayo. Ikut gue".


Tidak berselang lama, sosok Devan telah kembali, Devan menghampiri mobilnya yang terletak di sudut parkiran, Devan menatap bingung kearah mobilnya yang masih terkunci dan sosok Naya tidak ada disekitar mobilnya


"Ck, gue cuma ninggalin sebentar, tapi udah ngilang? Ya Tuhan". Batin Devan mengsuap kasar wajahnya


"Hay, Devan?". Sapa Intan dari arah belakang, Devan pun berbalik kearahnya, "Lo ngapain disini?". Tanya Devan


"Ngopi aja sama teman-teman. Lo nyari Naya, ya?".


"Tau dari mana, lo?".


"Gini, tadi itu gue ketemu Naya, terus ada cowok dateng yang ngaku pacarnya".


"Ck, kalo niat lo cuma ngomporin gue sama Naya, mending lo diem, deh".


"Loh, gue serius kok, gini ya Devan, cowok itu asing banget, kayaknya bukan anak sekolah kita..."


"Lo cari aja kesana". Ucap Intan menunjuk ke sebuah arah, "Cowok itu bawa Naya kesana". Sambung Intan


"Awas ya kalo lo bohongin gue". Ancam Devan, "Gue ngga bohong". Ucap Intan yang tersenyum seraya melangkah mendekati Devan


"Naya selingkuhin lo, jadi, mending lo putusin dia". Ucap Intan dengan telunjuk yang mengusap-usap dada Devan dari luar pakaiannya


Devan pun menggenggam tangan Intan yang menyentuh dadanya, "Putusin Naya terus jadian sama lo?". Tanya Devan, Intan mengangguk dengan senyum khasnya


"Ngga usah mimpi!". Ucap Devan seraya menghempas kasar tangan Intan dan beranjak dari posisinya


"AAKH!". Jerit Intan dengan dua tangan mengepal kencang, "Gue ngga akan nyerah gitu aja"


 

__ADS_1


Bersambung


Yuk. Jangan lupa dukungannyaaaa


__ADS_2