Childish Wife

Childish Wife
CW-24


__ADS_3

Setelah mengganti pakaiannya, Naya menghampiri Devan yang sedang mengerjakan tugas sekolahnya diatas karpet ruang TV. Naya duduk di sebelah Devan, memperhatikan wajah suaminya yang terlihat serius dengan tugasnya


"Kenapa ngeliatin?". Tanya Devan saat menoleh menatap Naya, "Gapapa". Gumam Naya


"Nay? Gue boleh nanya ngga? Kenapa tadi lo pakai baju kayak gitu?".


"Naya cuma nyobain, kok".


"Masa, sih? Lo dapat baju itu dari mana? Bukannya lo ngga punya?".


"Di beliin mama. Kata mama, Devan pasti suka liat Naya pakai itu, tapi ternyata Devan ngga suka".


Devan mengehla nafas seraya mengusap kasar wajahnya, "Bukannya ngga suka, Nay. Gue suka kok lihatnya, lo makin cantik dan kelihatan sek si..."


"Tapi, pakai baju itu di depan gue agak bahaya, bikin gue nafsu. Lo ngerti maksud gue kan?".


"Devan nafsu?".


"Iya, gue laki-laki normal dan ngeliat istri gue pakai baju kayak gitu, rasanya ngga tahan, Nay".


Naya termangu dengan alis yang saling bertautan, ia mencoba mencerna ucapan Devan yang menurutnya sedikit membingungkan


"Devan nafsu kenapa? Dan ngga tahan kenapa?".


"Gini, lo udah siap berhubungan in tim atau belum?".


"Berhubungan in tim sama Devan?".


"Ya, iya lah Nay. Lo ngga boleh ngelakuin itu sama cowok lain, haram".


"Oh, gitu. Tapi Naya belum siap, Naya takut. Kata Sisil, berhubungan in tim itu sakit".


"Kata Sisil? Dia pernah?".


"Naya ngga tau".


"Hmm, jadi lo belum siap?".


"Iya, tapi Naya bingung, hehe".


"Yaudah, jangan pakai baju itu lagi, ya. Simpan aja bajunya. Oh iya, fisika nya udah di kerjain?".


"Belum".


"Ambil bukunya, kerjain disini bareng gue".


"Malas".


"Nay? Ngga boleh malas".


"### Ya udah, deh. Naya ambil dulu".


"Sendirian lo? Naya mana?". Tanya Joseph saat duduk disebelah Devan, "Di kelas, ada guru".


"Hmm. Eh, lo udah dengar belom, besok pemilihan ketua OSIS baru sama anggotanya".


"Oh, yaudah, bagus".


"Haha, baper lo, ya? Sedih?".


"Sedih kenapa? Kan udah waktunya ganti yang baru".


"Ya, gue kira lo sedih karna pemilihannya ngga lama setelah lo di tendang dari OSIS, hahahaha".


"Ngga peduli".


"Hehe, dingin amat? Eh, ada Intan, kayaknya dia mau kesini. Gue cabut, ah". Ucap Joseph yang terburu-buru beranjak dari posisinya


Namun berbeda dengan Joseph, Devan justru menatap Intan yang tersenyum kearahnya, ia balas senyum Intan, membuat Intan tersipu malu seraya menyelipkan rambut ke belakang telinganya


"Hay? Gue boleh duduk disini ngga?". Tanya Intan memegang kursi di hadapan Devan, "Boleh, duduk aja".


Intan mengangguk seraya tersenyum dan segera duduk dikursinya, "Tumben ngga sama Naya?".

__ADS_1


"Lagi ada guru".


"Hmm. Oh, iya Devan? Gue minta maaf, ya, selalu jahatin Naya".


"Minta maaf sama Naya, bukan sama gue".


"Iya, gue tau, hehe. Jujur, kenapa gue jahatin Naya, karna gue iri sama dia".


"Kenapa?".


"Ya, karna dia cewek lo. Sedangkan gue, teman lo dari kecil, yang berharap jadi cewek lo, ternyata bukan apa-apa dimata lo".


Devan tertawa kecil mendengar ucapan Intan, "Bagi gue aneh, teman dari kecil tapi mengharapkan hubungan lebih dari teman".


"Ya, mungkin bagi lo aneh. Tapi bagi gue, engga. Lo tau kan, dari SMP gue naksir sama lo. Tapi lo ngga menganggap perasaan gue..."


"Lo malah jadian sama Friska, setelah itu jadian sama Naya".


"Tapi bukan berarti lo bebas menindas Naya. Naya ngga salah apa-apa".


"Iya, sorry. Lo ngga benci gue, kan?". Tanya Intan yang memberanikan diri untuk menggenggam tangan Devan yang ada diatas meja. Namun, perlahan Devan menarik tangannya


"Ngga benci bukan berarti ngga kecewa. Lo tega jahatin Naya yang sifatnya penakut, lemah, ngga punya keberanian buat ngelawan..."


"Sedangkan gue pacarin dia dengan tujuan melindungi dia, tapi gue selalu kecolongan sama orang jahat kayak lo".


"Devan? Kok lo ngomong gitu, sih? Apa gue sejahat itu dimata lo?".


"Iya, lo emang jahat, kan?".


Kring, bel pulang sekolah berbunyi, Devan terlihat berdiri untuk memakai jaketnya lalu ia sampirkan tas nya di bahu kanannya


"Gue mau balik". Ucap Devan


"Yaudah". Ucap Intan mengangguk pelan


"Devan?". Panggil Naya saat tiba di kantin dan senyumnya seketika luntur saat melihat Intan duduk bersama Devan, "Hey? Mau minum dulu ngga? Atau langsung pulang?". Tanya Devan seraya merapihkan anak rambut Naya


"Yaudah, yuk". Ucap Devan saat merangkul bahu Naya dan membawanya pergi meninggalkan


Intan yang nasih duduk diposisinya, hanya tersenyum kecut melihat punggung Devan yang semakin menjauh


"Kayaknya gue yang terlalu berharap. Nyatanya, udah bertahun-tahun, tapi lo ngga pernah peduli perasaan gue"


Diperjalanan pulang kerumah, Naya merajuk meminta dibelikan seekor anak ayam warna-warni yang dijual dipinggir jalan


Devan tidak mengabulkan permintaannya, karena menurutnya, mengurus anak ayam sangat merepotkan. Ditambah dengan suara yang terus keluar dari mulut ayam itu. Sangat berisik dan sangat mengganggu


Naya menarik nafas panjang, ia merasa lelah setelah puluhan menit merajuk seraya menitikkan air mata. Ia merasa kecewa Devan tidak bersedia membelikannya anak ayam


"Naya marah sama Devan!". Ucap Naya seraya memandang kearah luar jendela, "Hehe, lucu banget sih, lo? Marah kok bilang-bilang?..."


"Selain anak ayam deh. Lo mau apa? Gue beliin".


"Naya cuma mau anak ayam!".


"Ngga, Nay. Selain itu".


"Ck! Yaudah, deh. Naya mau pelihara cowok ganteng!".


"Hah?! Apa lo bilang? Coba ulangin?".


"Naya mau pelihara cowok ganteng!". Uvap Naya tepat di depan wajah Devan, "Haha, emang gue kurang ganteng, ya?".


"Devan jelek!".


"Oh, gue jelek? Yaudah, Devan nya buat cewek lain aja, ya? Devan bukan punya Naya lagi".


"Yaudah, sana!".


"Benar, nih? Ngga nangis kalo Devan dikasih ke cewek lain?".


"Naya ngga peduli. Naya kan lagi marah".

__ADS_1


"Hahaha, sekarang marahnya konsisten, ngga gampang dibujuk".


Pukul delapan malam, Naya berjalan menuruni tangga mencari keberadaan Devan yang sedari tadi tidak muncul di penglihatannya. Naya menghampiri Willy yang sedang menonton siaran komedi di ruang keluarga


"Naya? Kok belum tidur?".


"Naya cari Devan. Devan kemana ya, pah?".


"Loh, papa ngga tau itu anak kemana. Dia ngga bilang mau keluar rumah?".


"Engga. Naya kira Devan dibawah".


"Engga, kok. Dari tadi papa sendirian. Di kolam renang juga ngga ada siapa-siapa".


Mata Naya mulai berkaca-kaca, ia menggigit bibir bawahnya seraya menoleh ke seluruh sudut ruangan guna mencari keberadaan lekakinya itu, namun sosoknya tetap tidak ada dimanapun


"Hey? Kok sedih, sih? Sini duduk dulu". Ucap Willy seraya meraih tangan Naya dan ia dudukkan Naya disebelahnya


"Lagi berantem ya sama Devan? Soalnya dari tadi kamu cuekin Devan terus?".


"Naya cuma kesal, pah. Naya ngga diizinin pelihara anak ayam sama Devan".


"Anak ayam? Hahaha, ada-aja permintaannya?".


"Naya pengen, pah".


"Ya sudah, besok papa belikan, ya. Yang warna-warni itu kan?".


"Iya, pah. Papa serius mau beliin buat Naya?".


"Iya. Sudah, ya, jangan sedih. Soal Devan ditunggu aja, mungkin dia lagi ke minimarket?".


"Iya, pah".


Naya tersenyum seraya mengusap air dipelupuk matanya. Ia duduk bersandar, bergabung dengan papa mertua menyaksikan siaran TV


"Oh, iya Naya. Kamu ngga mau punya mobil? Usia kamu kan sudah cukup untuk punya SIM. Kalau mau punya mobil, papa belikan, setelah itu kamu bikin SIM..."


"Nanti bisa papa, Devan atau Dilan yang mengajari kamu menyetir. Biar kamu lebih bebas pergi kemana-mana sendiri, jalan-jalan, gitu".


"Kalau diizinin sama Devan, Naya mau, pah. Tapi kalo ngga boleh, yaudah, ngga apa-apa..."


"Soalnya Devan ngga pernah izinin Naya pergi sendirian, pah. Jadi, gimana mau punya mobil? Hehe".


"Hmm, ya, ya. Ada benarnya juga kamu. Ya sudah, biar nanti papa bicarakan sama Devan".


Tidak berselang lama, deru mesin mobil terdengar memasuki pekarangan rumah,


"Tuh, Devan pulang". Ucap Willy seraya tersenyum. Naya pun terlihat bersemangat dan segera bangun dari duduknya untuk menghampiri Devan


"Jangan lari, Naya. Nanti kepeleset". Ucap Willy memberi tahu, Naya hanya menoleh seraya mengangguk dan tersenyum


"Naya, Naya, suami dirumah, dicuekin. Suami pergi, sedih. Eh, suami pulang, senang banget. Hahaha..."


"Lucu ya anak itu". Batin Willy seraya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya


Di teras, Naya menantikan Devan yang bersiap turun dari mobil, Devan terlihat seperti mengambil sesuatu di kursi sebelah kemudinya, alis Naya saling tertaut melihatnya


"Devan ngapain, ya?"


Sebuah suara riuh mulai terdengar, suara anak ayam. Naya tercengang saat Devan membawa sebuah kandang berukuran kecil berisi dua anak ayam berwarna merah muda dan biru


"Hah? Anak ayam?". Ucap Naya dengan senyum lebar dibibirnya


"Buat istriku tercinta". Ucap Devan seraya memberikan kandang kecil tersebut pada Naya, "Aaah, terimakasih, Devan". Ucap Naya penuh haru lalu memeluk lelakinya itu


Devan tersenyum lega melihat Naya kembali tersenyum, ia dekap tubuh istrinya itu seraya mengecup puncak kepalanya berkali-kali


"### Sama-sama, sayangku".


bersambung duluuuuu


Jangan lupa dukungannyaa yaaaaw

__ADS_1


__ADS_2