
"Yah, gerimis, Nay". Ucap Bagas seraya menadah tangannya keatas, "Naya mau ke parkiran lagi, deh. Naya mau pulang".
"Bentar". Ucap Bagas yang mulai melepas jaketnya dengan cepat untuk menutupi kepala Naya, "Ngga usah, Bagas". Ucap Naya seraya menghindar, "Gapapa, pake aja, nanti lo sakit. Hujannya mulai deras, ayo, gue antar ke parkiran".
Bagas merangkul bahu Naya membawanya kembali menuju parkiran mobil cafe. Tetapi langkah keduanya terhenti saat mereka bertemu Devan saat berbelok di belakang mobil yang ada disana
Bagas yang tidak mengenal Devan, menggenggam tangan Naya dengan niat ingin mengajak Naya kembali berjalan bersamaan dengan hujan yang semakin deras. Namun, Bagas dikejutkan dengan sebuah tinjuan mendadak yang mendarat disudut bibirnya
Naya menjerit, seketikanya tangannya reflek menopang tubuh Bagas yang hampir tersungkur kebawah, "Bagas? Bagas gapapa?".
"Haha, lo peduli banget ya, Nay?". Tanya Devan dengan senyum kecut, "Sini!". Bentak Devan seraya menarik tangan Naya dengan kencang menjauhi Bagas, "Akh, sakit."
"Berani ya lo bantah omongan gue?! Gue nyuruh lo nunggu dimobil, tapi lo malah berduaan sama cowok ini?!". Bentak Devan menatap Naya
"Gila, kasar banget". Batin Bagas
Bugh, Bagas melabuhkan pukulan diwajah Devan saat melihat Naya meringis kesakitan
"Bagas ngga boleh pukul Devan". Ucap Naya, "Dia kasar sama lo, Nay".
"Ck, lo siapa sih?". Tanya Devan dengan tatapan sengitnya pada Bagas, "Gue cowoknya Naya!".
"Bagas! Naya bukan pacar Bagas! Pacar Naya itu Devan". Ucap Naya
Naya melepas jaket yang ada di kepalanya dan ia berikan pada Bagas, "Naya ngga butuh ini".
"Devan, kita pulang, ya". Ucap Naya seraya meraih lengan Devan, namun Devan menghempasnya dengan kasar, "Lo bisa pulang sama cowok lo ini". Ucap Devan yang langsung pergi dari posisinya, disusul Naya dibelakangnya
"Gue cuma bantu lo ngejauh dari cowok kayak dia Nay, dia kasar, dia ngga baik buat lo"
Disisi lain, Naya berlari dengan hati-hati mengejar langkah Devan yang semakin menjauh, sambil memanggil-manggil nama Devan meski Devan terus mengacuhkannya
Tanpa memperdulikan Naya, Devan membuka pintu kemudinya, hendak masuk kedalam namun tangan Naya menahan pintu itu, membuat Devan manatapnya dengan tajam
"Apa lagi sih?".
"Devan mau tinggalin Naya?".
"Kan ada cowok lo. Minggir!". Ucap Devan seraya mendorong bahu Naya menjauhinya, "BAGAS BUKAN PACAR NAYA!". Jerit Naya dengan emosi yang tak tertahan
"Oh, ya? Kalo bukan cowok lo, terus siapa? Cowok yang lagi berusaha ngedeketin lo, iya?".
"Engga! Bagas ngga kayak gitu!".
"Masuk". Titah Devan seraya melirik mobilnya, Naya mengangguk cepat dan segera masuk kedalam mobil
Diperjalanan pulang, Devan memutar tubuhnya ke kursi belakang, ia ambil jaketnya yang ada di kursi, dan ia berikan pada Naya
"Pake, badan lo menggigil". Ucap Devan, Naya mengangguk patuh dan menutup tubuhnya dengan jaket tersebut
__ADS_1
"Devan? Bagas bukan pacar Na-"
"Ngga usah dibahas. Mau bikin gue marah lagi?".
"Engga. Maaf". Gumam Naya seraya menunduk
Devan menghela nafas panjang lalu meninju stir kemudinya. Membuat Naya terlonjak kaget dan menoleh menatapnya, "Devan kenapa?".
"Gak". Jawab Devan tanpa menoleh, Naya pun mengangguk pelan
---
"Gue kesal, selalu ada orang...yang ganggu hubungan gue...sama Naya".
"Ya, wajar sih, karna menurut gue Naya emang cantik". Ucap Dilan memberi pendapat, "Haha, karna cantik, ya? Gue pikir...orang-orang...pengen manfaatin...Naya".
"Bisa jadi karna itu juga".
Dilan terlonjak dari posisinya saat melihat Devan kembali meneguk minumannya
"Van, udah, anjir! Lo udah mabok". Ucap Dilan seraya merebut gelas bir
yang ada di tangan Devan
"Lebay. Segini gue belom mabok".
"Dah sana balik ke kamar, ntar papa kesini diomelin lo ketauan minum-minum gini".
"Diomelin? Emangnya gue anak kecil?". Ucap Devan seraya bangun dari duduknya
"Argh, sakit banget".
"Nah, kan. Awas aja kalo tepar, gue lempar lo kebawah". Ucap Dilan saat melihat Devan membungkuk seraya menekuk kepalanya kedalam
"Haha, ngomong-ngomong, bang, yang itu enak juga, besok, lagi". Ucap Devan melirik botol minuman alkohol diatas meja milik Dilan
"Bacot. Ngga ada lagi, deh! Ketauan papa, gue ngga mau nolongin".
"Takut amat lo".
Dengan tubuh sempoyongan karena menahan sakit di kepalanya, Devan melangkah meninggalkan balkon menuju kamarnya, hendak membuka pintu, ia dikejutkan dengan kemunculan Naya yang membuka pintu terlebih dahulu. Devan mengerjap beberapa kali, mencoba menajamkan penglihatannya yang sedikit kabur
"Nay?".
"Devan dari mana?".
"Itu, balkon, dari balkon". Jawab Devan seraya menunjuk asal ke sembarang arah, "Yaudah, ayo bobo, ini udah malam". Ucap Naya seraya meraih tangan Devan. Devan pun mengangguk dan mengikuti Naya masuk ke kamar
"Nay, Bagas...bukan...cowok lo, kan?".
__ADS_1
Pertanyaan Devan membuat Naya berbalik menatapnya, Naya menatap lekat wajah Devan yang tampak sayu, "Naya udah jelasin berkali-kali, kalo Bagas bukan pacar Naya".
"Lo bohongin gue atau engga?".
"Engga, Naya ngga bohongin Devan"
Devan tersenyum lalu mendekat memeluk Naya. Ia dekap erat tubuh kecil itu dan ia jatuhkan kepalanya disalah satu bahunya, "Gue takut lo ninggalin gue, takut banget". Gumam Devan
"Naya ngga akan ninggalin Devan".
"Gue senang dengernya". Ucap Devan seraya melepas pelukannya, ia angkat satu tangannya untuk mengusap lembut bibir Naya, "Can i kiss you?". Tanya Devan dengan lembut, dibalas anggukan dan senyuman dari Naya
Saling memeluk tubuh satu sama lain, mereka menyatukan pagutan bibir didalam remangnya lampu tidur saat itu. Devan mengulum seluruh bibir Naya tanpa sisa, ia ***** lembut bibir kenyal yang selalu menjadi favoritenya itu
Tanpa melepas tautannya, Devan mendorong pelan tubuh Naya sampai ke tempat tidur, ia baringkan Naya dan ia kungkung dibawahnya. Ciuman mereka semakin dalam, Naya terlihat memeluk erat leher Devan sambil sesekali mere mas rambut belakang suaminya yang berhasil membawanya larut dalam suasana hangatnya kamar saat itu
Suara lenguhan Naya sedikit demi sedikit lolos disela-sela ciuman mereka. Saat ciuman Devan turun ke lehernya, Naya reflek mendongak, seolah memberi ruang pada Devan untuk memanjakan salah satu bagian tubuh sensitifnya
Devan tersenyum puas, Naya terlihat sangat menikmati ciuman yang ia berikan. Ia pun telah membuat beberapa tanda disekitarnya. Tanda kepemilikan yang hanya bisa diciptakan olehnya
Devan mengakhiri sejenak kegiatannya, ia usap lembut pipi Naya yang bersemu kemerahan, membuat wajah mungil itu semakin cantik dan menggoda, dimatanya, "Nay, gue mau tanya". Ucap Devan lembut
"Apa?".
"Lo udah siap atau belum, berhubungan in tim sama gue?".
"Berhubungan...in tim?". Tanya Naya memastikan yang dijawab anggukan oleh Devan, "Kita ngese*s, ber cinta".
"Eum, emang boleh?".
"Boleh, kita kan suami istri".
"Oh, bikin dede bayi, ya?".
"Iya, bikin dede-"
Tok tok tok
"Devan, kamu udah tidur?". Tanya Willy dari balik pintu kamar
"Papa? Mampus. Apa gue ketauan mabok?"
"Devan? Keluar, papa tau kamu belum tidur".
"Nay, gue keluar dulu sebentar". Ucap Devan seraya bangun dari duduknya, Naya pun hanya bisa mengangguk dan membiarkan Devan untuk menemui sang papa
---
Jangan lupa dukungannya guyss. aku double up
__ADS_1