
"Gue heran sama Devan, datang ke tongkrongan cuma buat nanya penjual anak ayam?..."
"Sebucin itu kah lo ke Naya?". Tanya Rangga menatap Devan yang sedang bermain ponselnya, mengacuhkan teman-teman yang sedang menertawakannya
"Kebucinan seorang Devandra tidak usah diragukan lagi. Rela goblok demi Naya". Ucap Joseph seraya tertawa, membuat Devan menoleh menatapnya, "Maksud lo gue goblok? Iya?".
"Ya iya lah, malam-malam nyari anak ayam? Ngga penting banget, anjir".
"Lo ngomong gitu karna lo ngga punya orang yang spesial dihidup lo. Yang rela ngelakuin apa aja buat bahagiain orang itu". Ucap Devan
"Ya, benar sih. Ngga ada yang spesial dihidup gue".
"Hidup lo itu suram, bro. Nyokap pela cur, bokap tukang selingkuh". Ucap Rangga dengan frontal, "Anjing, dark banget jokes lo". Ucap Eza
"Bukan jokes. Mereka emang bangsat!". Ucap Joseph seraya menendang kursi kosong sampai terjatuh, "Udah, kalem, Jo..."
"Jadi gimana? Naya udah ngga ngambek?". Tanya Tio yang diangguki Devan
"Haha, Naya ngambeknya lucu juga, ya. Perkara anak ayam". Ucap Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya
"Eh, tadi pas pemilihan ketos, lo semua pilih siapa?". Tanya Eza
"Lo nanya? Ngga ada yang pilih, Za. Golput semua". Ucap Rangga seraya mengunyah kuaci dimulutnya
"Udah gue duga sih..."
"Feeling gue yang kepilih itu, yang bocahnya culun? Yang pake kacamata".
"Yang kemarin jatoh di parkiran? Kesandung?". Tanya Rangga yang memicu tawa teman-temannya, "Anjir lo, Za. Bikin gue ngakak ingat kejadian itu. Tapi pede banget tuh bocah calonin diri jadi ketos? Hahaha".
"Yang penting kan niatnya, Jo. Gue liat visi misi nya bagus, kok". Ucap Devan
"Yo! Mantan ketos berkomentar". Ucap Tio meledek, "Haha, lo ngapain disini? Sana OSIS, bukannya sibuk persiapan voting, kan?".
"Bodo amat, semenjak ngga ada lo, gue males ke OSIS. Asal lo tau, waktu anniversary kemarin, gue cabut. Ngga mood, anjir, dengar lo di depak gitu aja". Ucap Tio
"Ya udah lah, ngga penting juga. Gue malah heran sama orang-orang kayak lo, mau aja jadi kacung sekolah. Apa lagi lo". Ucap Rangga menatap Devan, "SMP ketos, sekarang ketos. Ngapain, coba? Buang-buang waktu sama tenaga". Sambung Rangga
"Nyari kesibukan aja". Jawab Devan santai
"Devan?". Panggil Naya yang tiba-tiba muncul di kantin, membuat Devan dan teman-temannya kompak menoleh kearahnya,
"Apa, Nay?". Tanya Devan saat Naya sudah tiba dimeja mereka, "Tuti sama Bejo belum makan siang, gimana nih". Jawab Naya dengan cemas
"Tuti? Itu nama nenek gue, anjir". Ucap Rangga
__ADS_1
"Ih! Tuti nama anak ayam punya Naya! Tuti sama Bejo!".
"HAHAHAHAHAHA". Tawa teman-teman Devan pecah mendengar penuturan Naya,
"Terinspirasi dari mana sih ngasih nama kayak gitu? Hahahaha, ngakak gue". Ucap Joseph
"Devan yang ngasih namanya..."
"Ini gimana, Devan? Kasihan mereka belum makan, kalo mati gimana?". Tanya Naya seraya mengguncang bahu Devan, "Kalo mati ya di goreng".
"Nah, pakai sambal enak tuh". Sambung Tio
"Ngga boleh, mereka masih bayi. Naya mau telfon pak Yoyo, deh, mau minta tolong kasih makan Tuti sama Bejo".
"Pintar. Yaudah sana ke kelas, jangan kabur kemana-mana".
Naya mengangguk patuh dan pergi meninggalkan kantin
"Naya lucu, ya. Kayak bocil, gemas". Ucap Rangga seraya tertawa kecil, "Lo juga gemas. Gemas pengen nonjok". Ucap Devan yang disambut gelak tawa dari teman-temannya
"Sadis, bro". Ucap Rangga bergidik ngeri
Bel pulang sekolah sudah berbunyi dua puluh menit yang lalu, Naya yang sudah merasa lelah dengan kesehariannya di sekolah, memutuskan untuk ke parkiran, menghampiri mobil Devan yang masih kosong dan terkunci
"Devan kemana, ya. Naya tunggu di depan kelas ngga ada, di mobil juga ngga ada"
"Oh, Devan sama Intan? Pantas Devan ngga kelas Naya"
"Ngga usah diliat, nanti lo sedih". Ucap Galang seraya menutup mata Naya dari arah belakang
Naya pun menyentuh tangan Galang dan berbalik kearahnya, "Galang? Galang dari mana aja? Kok baru kelihatan?".
"Habis sakit, ini baru sembuh, hehe".
"Ya ampun, Galang sakit apa? Kok ngga kasih tau Naya?".
"Cuma sakit biasa, kok. Balik sama gue, yuk. Mau ngga?".
"Pulang sama Galang?..."
"Hmm, gimana, ya". Gumam Naya seraya menoleh kearah Devan yang sedang berdiri disisi luar kemudi mobil Intan
"Kayaknya Devan lagi sibuk sama Intan, daripada lo nunggu kelamaan, mending sama gue. Udah sore nih".
"Tapi Naya takut dimarahin Devan, Naya tunggu Devan aja, deh".
__ADS_1
"Udah, ayo. Kalo dia ngomelin lo, nanti gue omelin balik". Ucap Galang seraya merangkul bahu Naya dan membawanya menuju mobilnya
"Galang? Ini gapapa?". Tanya Naya cemas, "Ngga apa-apa, Nay, takut banget sih, lo..."
"Ayo, masuk. Nanti gue beliin ice cream". Ucap Galang seraya menyentuh puncak kepala Naya yang mengangguk semangat memasuki mobil Galang
Sambil menikmati se-cup ice cream, ditangannya. Naya berbincang santai dengan Galang sepanjang perjalanan pulang kerumah. Sesekali mereka membahas hal lucu yang membuat keduanya tertawa terpingkal
Asik berbincang, keduanya dikejutkan dengan kedatangan mobil Devan yang tiba-tiba menghadang mobil Galang dari belakang. Beruntung Galang sigap menginjak pedal rem nya, jika tidak, bisa dipastikan terjadi kecelakaan
Devan membuka pintu mobilnya dengan kasar, lalu berjalan cepat menghampiri mobil Galang dan menepuk kaca jendela disisi Naya berulang kali
Seketika Naya panik, ia buru-buru memakai tasnya dan keluar dari mobil Galang, disusul sang pemilik mobil
"Lo ngapain pulang sama dia?! Kan gue suruh lo nunggu di depan kelas!".
"Naya-"
"Lo itu kebiasaan! Ngga pernah dengarin omongan gue!". Bentak Devan menatap Naya, "Heh, ngga usah bentak Naya". Ucap Galang menyentuh bahu Devan yang langsung di tepis olehnya, "Bukan urusan lo!".
"Pulang!". Ucap Devan seraya menarik tangan Naya dengan kasar membuat ice cream ditangannya jatuh, "Yaah, ice cream Naya jatuh". Ucap Naya sendu
"Ngga penting!".
Setelah memasukkan Naya kedalam mobilnya, Devan pun segera meninggalkan lokasi
"Devan, Devan, lo ngga pernah berubah, ya. Masih kasar dan selalu bentak Naya"
Diperjalanan pulang, Naya menangis terisak dengan tatapan keluar jendela, sementara Devan fokus menyetir dengan amarah yang masih membara
"Ice...cream...Naya". Gumam Naya disela-sela tangisannya
"Ck, lo dengar omongan gue ngga sih? Kenapa lo balik sama Galang? Kan gue nyuruh lo nunggu di depan kelas!". Ucap Devan dengan suara lantang, membuat tangis Naya pecah
"Nangis? Bisanya cuma nangis? Cengeng lo!".
"Naya udah nungguin Devan di depan kelas! Sampai sekolah udah sepi!". Ucap Naya tidak kalah lantang, derai air mata semakin mengucur di pipinya
"Tapi Devan ngga ada! Naya cari ke parkiran juga ngga ada! Ternyata Devan sama Intan!..."
"Terus kenapa Devan marah sama Naya?! Jangan bentak-bentak Naya terus! Jangan marahin Naya terus!..."
"Naya capek disalahin terus-terusan, hiks...hiks". Ucap Naya seraya mengusap air matanya
"Bunda, Naya ngga mau disini, Naya mau ikut Bunda"
__ADS_1
---
Bersambung guysss yuk jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya. Tencuuuu