Childish Wife

Childish Wife
CW-28


__ADS_3

"Rasanya hampa banget, Nay, ngga ada lo. Biasanya gue denger lo ngoceh, liat lo manja, ngerengek minta ice cream..."


"Cepat balik ya. Gue kangen banget sama lo. Masa lo tega sih liat gue kayak gini, kayak orang bodoh yang ngga punya semangat hidup, hehehe, gue lebay banget, ya"


"Anjir, lihat, kan? Gue rasa Devan udah gila? Tadi murung, sekarang ketawa sendiri?". Ucap Rangga pada teman-temannya


"Hmm, kasihan gue lihatnya". Ucap Eza


"Naya itu udah kayak separuh jiwanya, kalo Naya hilang, jiwanya ikut hilang juga". Ucap Tio


"Jiah, bahasa lo bermakna banget". Ucap Rangga


"Karna gue paham gimana cintanya Devan ke Naya". Ucap Tio


"Kalo dibiarin terus bisa masuk RSJ, gue samper dulu, deh". Ucap Rangga saat bangun dari duduknya untuk menghampiri Devan yang sedang menyendiri diri


"Woy". Sapa Rangga seraya merangkul bahu Devan, "Apa?".


"Ngopi ngga? Tuh muka kusut banget keliatannya".


"Udah ngopi daritadi".


"Hehe, iya juga, sih. Yaudah, gabung lah disana, sendirian mulu". Ucap Rangga melirik teman-teman mereka


"Gue mau balik". Ucap Devan bangun dari duduknya, "Belom bel, coy".


"Bodo amat". Jawab Devan acuh dengan tetap berjalan meninggalkan kantin


"Devan?". Panggil Galang dengan berteriak dari arah belakang


Devan pun berbalik seraya mengerutkan dahi menatap Galang yang melangkah mendekatinya


"Kenapa?". Tanya Devan


Bugh, bogem mentah seketika melayang tepat disudut bibir Devan


Murid-murid yang berada dikoridor kompak terkejut melihat serangan mendadak yang Galang berikan untuk Devan. Salah satu murid ada yang berlari ke kantin memberitahu kejadian itu pada teman-teman Devan


"Apa-apaan sih?! Lo ngajak ribut?!". Tanya Devan emosi


"Ribut kalo emang harus ribut. Gue ladenin! Dengar, ya, kalo lo ngga bisa jaga Naya dengan baik, balikin Naya ke gue!..."


"Jangan karna kebodohan lo yang lebih pentingin orang lain, Naya jadi hilang kayak gini! Brengsek!". Teriak Galang dengan mencengkram kerah seragam Devan


"Woy, Galang. Udah!". Ucap Tio yang berlari lalu mendorong Galang menjauhi Devan


"Devan lagi stress lo jangan nambah masalah!". Sambung Tio menatap sengit Galang, "Heh, teman lo ini ngga becus jaga Naya. Kalo dia ngga pentingin Intan, ngga mungkin Naya marah sampai kabur dan hilang!".


"Naya udah hilang, jadi ngga ada gunanya lo protes kayak gini". Ucap Devan sebelum beranjak dari posisinya, meninggalkan Galang yang terlihat kesal dengan dua tangan saling mengepal


"Bro, kalo lo peduli sama Naya, coba lo cari dia. Daripada marah-marah ngga jelas". Ucap Tio menatap Galang


"Benar, tuh, pake sok-sokan memiliki Naya, padahal lo bukan siapa-siapanya, haha". Ucap Rangga mengejek lalu pergi meninggalkan Galang diikuti teman-temannya


---


Naya menghela nafas berat, ia bangun dari posisinya dan duduk disisi tempat tidur, "Naya bosan, Joseph dimana, ya?"


Hendak mencari laki-laki itu, Naya berjalan keluar dari kamarnya, ia berhenti di depan pintu kamar Joseph yang ingin ia ketuk dari luar, namun suara sepatu hak tinggi mengalihkan perhatian Naya


Naya menoleh, menatap Katie, ibunda Joseph yang berjalan angkuh menghampirinya


"Saya kira kamu udah pergi dari sini. Belum puas, ya, tujuan kamu menggoda anak saya?".


"Naya, ngga menggoda...Joseph".


"Oh, ya? Asal kamu tau, kamu itu wanita pertama yang dibawa pulang sama anak saya. Sudah jelas kamu menggoda Jo sampai dia membawa kamu kesini..."


"Kelihatan, kamu manfaatin wajah dan tubuh kamu buat menggoda anak saya. Kamu pintar, ya, cari mangsa".


Klek, pintu kamar disisi mereka terbuka, menampilkan sosok tinggi berkaos hitam serta celana pendek dengan warna senada


"Heh, berisik!". Bentak Joseph menatap Katie

__ADS_1


"Jo? Mama ngga suka wanita ini-


"Sstt, lo bukan nyokap gue". Ucap Joseph memotong ucapan Katie


"Dan dia ini bukan cewek penggoda kayak lo. Jadi gue nggak minta pendapat lo soal cewek yang gue bawa, kerumah-gue-sendiri!". Ucap Joseph dengan penekanan pada kalimat terakhir


"Ayo". Ucap Joseph seraya menarik tangan Naya menuju tangga


"Kita mau kemana?".


"Makan ice cream, mau ngga?".


"Mau!".


"Bocil, semangat banget sama ice cream".


"Hehehe, Naya suka".


Setelah mengambil beberapa ice cream, Joseph membawa Naya menuju ruang billiard. Disana, Joseph mendudukkan Naya di kursi tinggi pada mini bar yang ada diruang tersebut, lalu ia tinggalkan Naya untuk bermain billiard, menghilangkan rasa jenuhnya


"Joseph? Naya boleh nanya ngga?".


"Apa? Soal nyokap gue?".


"Hehe, kok tau?".


"Tuh. Di muka lo banyak pertanyaan yang bikin lo penasaran".


"Eh, masa sih?". Tanya Naya seraya mengusap seluruh wajahnya, "Di muka Naya banyak pertanyaan? Tapi siapa yang tulis?".


"Duh, itu perumpamaan aja, Nay. Gue jitak sini kepala lo. Gregetan gue".


"Oh, hehehe. Jadi Naya boleh nanya ngga?".


"Boleh".


"Eum, tadi itu mama kandungnya Joseph, kan?".


"Iya".


"Bukan kesal lagi, benci ke ubun-ubun".


"Kenapa?".


"Ya, ceritanya panjang. Yang jelas, hubungan gue sama dia ngga akur dari gue masih kecil".


"Oh, yaudah deh, jangan dilanjutin, Naya takut Joseph kesal dan marahin Naya karna banyak tanya".


"Hahaha, engga kok, gue malas aja lo nanya-nanya soal orang itu, ngga penting..."


"Gini deh, soal tadi, udah lo pikirin belom? Jadinya gimana?".


"Hmm, gimana apanya?".


"Gue antar ketemu Devan". Tanya Joseph seraya menaruh stik billiardnya diatas meja lalu menghampiri Naya dikursinya


"Ngga mau!".


"Kenapa?".


"Naya kan udah bilang, Naya marah sama Devan".


Joseph menghela nafas panjang mendengar jawaban Naya. Memang gadis keras kepala, berulang kali ia ajak untuk bertemu Devan, tapi Naya selalu menolak. Justru Naya lebih memilih tinggal seorang diri dibanding kembali bersama Devan


Joseph berfikir, sepertinya ia harus turun tangan, ia harus membuka jalan pikiran Naya agar lebih paham kalau keputusannya pergi dari rumah adalah keputusan salah dan terlalu gegabah


"Nay, dengerin gue, lo boleh marah sama Devan, tapi lo juga harus tau, kasar, marah, bentak-bentak, itu udah jadi kepribadian Devan..."


"Kalau lo mau Devan berubah, susah, Nay. Ubah kepribadian itu susah, butuh waktu lama dan butuh pendirian yang kuat, konsisten sama diri sendiri buat berubah jadi yang lebih baik". Ucap Joseph


"Terus maksud Joseph, Naya harus terima sama sifat Devan? Naya juga capek dibentak-bentak terus". Keluh Naya dengan sendu


"Tapi buktinya lo bisa bertahan sama dia sejauh ini, tiga tahun? Bahkan sampai lo jadi istrinya. Itu tandanya lo terima dia apa adanya. Lo terima baik, buruknya Devan. Lo kayak gini karna emosi sesaat, iya, kan?..."

__ADS_1


"Jadi saran gue, lebih baik lo balik ke Devan. Dia satu-satunya orang yang lo punya, dan kemana lagi lo akan pulang kalau bukan ke pelukan dia?..."


"Lo paham omongan gue, kan, Nay?".


Brak, Naya membanting cup ice creamnya diatas meja bar, lalu ia melompat turun dari kursinya


"Mau kemana?".


"Naya mau pergi cari kostan". Ucap Naya seraya berjalan kearah pintu yang langsung disusul oleh Joseph


"Engga, engga. Pilihannya cuma dua, lo tetap disini atau balik kerumah Devan". Ucap Joseph yang sudah berdiri menghalangi pintu


"Naya ngga mau dua-duanya! Joseph itu teman dekatnya Devan, udah pasti Joseph belain Devan..."


"Mendingan Naya pergi, Naya ngga mau tiba-tiba ngeliat Devan ada disini. Awas!". Ucap Naya seraya menyingkirkan Joseph dari pintu


"Ya Tuhan, itu anak bebal banget, ngga bisa dibilangin"


"Naya! Jangan pergi!". Panggil Joseph sebelum berlari menyusul Naya


---


Terkulai lemas dipermukaan sofa, Devan berbaring dengan mata terpejam. Menahan rasa sakit di kepalanya setelah meneguk habis satu botol minuman dengan kadar alkohol cukup tinggi yang ia ambil dimobilnya


Tidak berselang lama, deru mesin mobil terdengar diluar tongkrongan nya, Devan acuh, tidak penasaran siapa yang datang. Dipikirnya, itu adalah teman-temannya yang baru pulang sekolah


"Nih anak mabok?".


"Woy! Bangun, lo!".


"Ugh? Apaan? Siapa?". Tanya Devan seraya mengerjap beberapa kali


"Bangun! Gue tonjok kalo ngga bangun!".


"Argh! Sial!". Gumam Devan


Sempoyongan, Devan berusaha untuk bangun dari duduknya lalu mendongak untuk menatap sosok yang sedang berdiri dihadapannya


"Jo?". Panggil Devan seraya memastikan penglihatannya yang sedikit kabur


"Lo Joseph bukan?". Gumam Devan seraya memijat pilipisnya


"Iya, ini gue. Lo ngapain disini? Lo cabut?". Tanya Joseph


"Hmm". Jawab Devan mengangguk


"Terus lo kenapa mabok? Ada masalah?".


"Ya. Lo tau kan Naya hilang? Gue sampai gila mikirinnya".


"Hahaha, karna Naya istri lo, makanya lo sampai gini?".


"Ha? Lo tau dari mana Naya istri gue?".


"Ya, Naya yang cerita ke gue".


"Naya? Maksud lo apa, sih? Gue ngga ngerti, duh, kepala gue". Devan meringis seraya memegangi kepalanya


"Tuh, gue bawa cewek yang udah bikin lo gila". Ucap Joseph melirik kearah pintu masuk


Devan pun memutar tubuh ke belakang, menatap sosok yang dimaksud Joseph


"Na...ya".


"NAYA?!". Jerit Devan sebelum berlari menghampiri wanita mungil yang langsung menyambutnya dengan pelukan erat


---


Yah, habis guys...


Menurut kelean di chapter ini, tuan muda Jo beneran bawa Naya ketemu Devan, atau itu cuma mimpinya Devan, ya?


Duh, kasihan kalo cuma mimpi. Bisa-bisa Devan tambah gila ngga tuh ekwkkw

__ADS_1


Yuk, dilike dulu, komen, vote dan hadiahnya kalau mau up lagiiii. Tengkyuuu


__ADS_2