
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Devan baru selesai mengerjakan tugas sekolahnya yang sempat tertinggal karena kegiatan OSIS, setelah merapihkan meja belajarnya ia segera menuju kamar mandi untuk buang air kecil dan membersihkan diri sebelum beristirahat
"Naya kemana?". Batin Devan saat tidak mendapati Naya ditempat tidur mereka
"Udah malem gini belum tidur?".
Setelah selesai dengan urusannya di dari kamar mandi, Devan melangkahkan kakinya menuruni tangga untuk mencari Naya
"Ngga ada".
Devan segera mencari ke seluruh pelosok dan tiap sudut rumahnya namun tidak mendapati Naya dimana pun.
Devan mulai panik, keringat dingin mulai mengucuri tubuh atletisnya, sambil berlari ia kembali menaiki tangga, menghampiri kamar kedua orang tuanya dan juga kamar Dilan, siapa tahu ada Naya didalam sana
"Ngga ada disini, gue kira udah tidur tu anak". Ucap Dilan,
"Ya Allah Nay lo kemana sih". Gumam Devan sambil mengusap kasar wajahnya
"Tadi kata mama Naya keluar kan beli kue putu?". Santi mengangguk cepat, "Iya pah, tapi mama ngga tau kalo Naya belum naik keatas, soalnya mama ke kamar duluan".
"Belinya dimana ma? Jauh?".
"Engga sayang, depan rumah kok, kue putu yang biasa lewat".
"Coba Dilan cek CCTV dulu". Dilan berlari kecil menuruni tangga menuju ruang monitor CCTV diikuti Devan dan kedua orang tua mereka
"Tuh kan, dia beli kue putu kok". Ucap Santi seraya menunjuk layar monitor
Dengan seksama mereka pun kompak memperhatikan CCTV, memantau gerak-gerik Naya
"Lah, mau kemana tu anak?". Dilan terheran melihat Naya yang tiba-tiba berlari meninggalkan pekarangan rumah mereka,
"Ya ampun, itu Naya mau kemana?". Tanya Santi dengan nada cemas, Devan semakin panik
"Devan mau nyari Naya ma". Devan segera berlari meninggalkan ruang monitor
"NAYA!!". Devan berteriak mengelilingi komplek perumahan untuk mencari keberadaan istri mungilnya, meski beberapa kali ia mendapat protes dari penghuni komplek lainnya yang merasa terganggu dengan teriakan Devan tapi Devan tidak peduli, bagaimana pun ia harus menemukan Naya
"Nayaaa, lo dimana sayang".
"Gue ngga akan maafin diri gue sendiri kalo sampe lo kenapa-napa". Gumam Devan
Sudah tiga puluh menit berlalu, Devan belum berhasil menemukan Naya, buliran air mata sedari tadi terus membasahi pipinya. Ia sungguh takut terjadi hal yang buruk pada istrinya itu, ia berjanji akan menghukum dirinya sendiri jika hal itu sampai terjadi
"Nayaaaaa". Lirih Devan sambil terus melangkahkan kakinya
"Maaf mas saya sudah keliling tapi saya tidak menemukan mbak Naya". Ucap seorang satpam komplek yang turut membantu Devan mencari Naya
Devan menghela nafas kekecewaan, "Tolong dicari sekali lagi ya pak, saya mohon". Pinta Devan dengan sopan
"Baik mas, saya cari lagi".
"Terimakasih banyak pak".
Satpam tersebut kembali melanjutkan pencarian Naya begitu pun dengan Devan
"Hiks hiks hiks",
__ADS_1
Devan menghentikan langkahnya saat mendengar suara tangisan dari balik semak-semak yang berada di taman komplek,
"Siapa yang nangis? Setan?"
Karena rasa penasarannya, Devan pun melangkahkan kakinya mendekati semak-semak, ia tidak peduli kalau yang ia lihat nanti adalah sesosok makhluk astral atau sejenisnya, ia tidak takut
"Hiks hiks hiks".
"NAYA!".
"Ya Allah!".
Naya mendongak saat namanya dipanggil oleh Devan. Devan pun segera bersimpuh dan memeluk tubuh Naya yang sedang menangis tersedu sambil memeluk kedua lututnya
"Devaaan". Lirih Naya
"Kenapa lo bisa disini hah?!".
"Lo bikin gue khawatir Naya!!". Jerit Devan sambil mengguncang tubuh Naya
"Devaan, jangan marah-marah, Naya takuuut".
"Gimana gue ngga marah?! Lo udah bikin gue takut!! Setengah mati gue nyari lo kemana-mana bodoh!!".
"Lo mau bikin gue gagal jadi suami?! Iya?!".
"Arrghh!!". Naya bergidik ketakutan saat mendengar teriakan Devan yang terdengar sangat kesal
"Kita pulang". Devan hendak membopong Naya kedalam gendongannya namun Naya sempat meringis kesakitan, membuat Devan menghentikan aksinya
"Kenapa?".
"Ck, ada-ada aja!!". Devan pun kembali menggendong Naya seperti koala dan berjalan meninggalkan taman komplek
"Devaaan, Naya jalan kaki aja-"
"Bisa diem ngga?! Katanya kaki lo luka, emang bisa jalan?".
"Hmm Naya ngga tau".
"Yaudah diem".
"Lo kenapa bisa ditaman? Bukannya lagi beli kue putu depan rumah?". Naya tidak menjawab pertanyaan Devan, ia memilih untuk menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher suaminya itu
"Nay? Lo kenapa bisa ditaman?!".
"Lo ngapain disanaaa?!!". Naya masih terdiam
"Naya! Kok lo diem aja?!".
"Kan Devan nyuruh Naya diem!". Omel Naya di depan wajah Devan
Iya juga sih, pikir Devan
"Yaudah sekarang lo jawab pertanyaan gue".
Naya mengerjap polos, "Yang mana?".
__ADS_1
"Yang tadi".
"Yang tadi?".
"Yang barusaaan!!".
"Hehe ulangin, Naya bingung Devan nanya apa soalnya sambil marah-marah".
"Ya Allah Nay, kurang sabar apa lagi gue ngadepin lo? Tiga tahun gue kuat jadi cowok lo dan sekarang jadi suami lo. Laki mana yang punya banyak kesabaran kayak gue?". Naya memiringkan kepalanya mendengar rentetan ucapan Devan
"Devan marah-marah lagi ya?". Tanya Naya dengan polosnya
"Ngga! Baca puisi!". Naya mengangguk, "Puisinya bagus".
"Astaga Nayaaa, kalo ngga cinta udah gue lempar lo ke jurang..."
"Ah udah lah gue nyerah ngomong sama lo. Ntar aja lo jelasin dirumah". Tutur Devan
Akhirnya Devan memilih bungkam sampai mereka tiba dirumah
"Jadi kamu lari karena ngejar anak kucing sayang?". Naya mengangguk, "Anak kucingnya lucu ma, mau Naya bawa pulang tapi kabur, terus Naya kejar-kejar sampe taman".
Semua terheran mendengar penuturan Naya, bagaimana bisa hanya karena anak kucing ia membuat seluruh penghuni rumah panik setengah mati
"Naya ini emang unik, ajaib". Ucap Devan sambil mengunyah kue putu yang tadi dibeli oleh Naya
"Devaaan, itu kan kue Nayaaa". Rengek Naya, "Oh masih inget sama kue? Kirain lupa".
Devan pun menyuapi kue putu tersebut untuk Naya yang sedang mendapatkan pengobatan luka pada kakinya
"Udah sayang, ngga perih kan?".
"Engga ma, makasih ya ma".
"Iya sama-sama sayang".
"Naya, lain kali ngga boleh sembarangan pergi kayak gini ya, bilang dulu, kasian Devan nyariin Naya kemana-mana". Ucap Willy, Naya mengangguk pelan "Naya...minta maaf...pah".
Willy mengangguk sambil tersenyum, "Gapapa, ya sudah ayo kembali ke kamar".
Devan kembali membopong Naya menuju kamar mereka dan mendudukkan Naya disisi ranjang
"Devaaan". Naya menarik ujung kaos Devan saat Devan hendak ke kamar mandi, Devan pun berbalik dan bersimpuh dikaki Naya sambil tersenyum, "Kenapa sayaang?".
"Naya minta maaf ya udah bikin Devan marah". Devan menahan tawa mendengar penuturan Naya, seharusnya Naya meminta maaf karena telah membuatnya khawatir, tetapi justru kemarahan Devan yang membuat Naya merasa bersalah
"Kenapa? Lo takut liat gue marah?". Naya mengangguk, "Makanya jangan asal pergi, lo ngga sayang ya sama gue?".
"Naya sayang kok sama Devan".
"Yaudah jangan tinggalin gue lagi". Naya mengangguk, "Janji ya? Jangan tinggalin gue"
"Iyaaa Naya janji". Devan tersenyum dan mengecup tangan Naya
"Nay?".
"Hmm?".
__ADS_1
"I love you".
---