
Dengan emosi yang sudah menggebu-gebu, Devan turun dari mobilnya memasuki tempat nongkrong sang kakak. Disana terlihat Zidan, Dilan dan satu teman kuliahnya yang bernama Leo, serta Naya yang tertidur diatas sofa
Devan menghampiri Zidan dengan wajah yang sudah babak belur
"Nih, Van, orangnya. Udah gue kasih pelajaran, tinggal lo habisin aja". Ucap Dilan seraya mendorong bahu Zidan kearah Devan
"Ampun, Van, ampun". Ucap Zidan dengan takutnya, "Brengsek! Kenapa Naya bisa kayak gini?! Lo apain dia, hah?!". Ucap Devan dengan tangan yang sudah mencengkram ujung jaket yang dipakai Zidan
"Gue cuma ngajak dia minum".
"Cuma? Cuma ngajak minum? Lu goblok apa tolol, sih?! Naya ngga pernah mabok! Dia ngga ngerti minum kayak gitu!..."
"Dia saudara lo, Zidan! Sepupu lo! Kenapa lo tega lakuin itu ke Naya?!".
"Udah lah, lo habisin aja. Asal lo tau, waktu gue dateng sama Dilan, dia lagi nyium cewek lo". Ucap Leo, teman Dilan yang juga mengenal Devan
"Anjing". Gumam Devan menatap Zidan, "MATI LO DITANGAN GUE!". Jerit Devan tepat didepan wajah Zidan
Devan pun melayangkan pukulannya bertubi-tubi pada perut dan wajah Zidan, meninggalkan darah yang mengucur dari sudut bibir dan hidungnya, "Lo pulang ke Indonesia buat ngejemput kematian lo, kan? Gue kabulin sekarang! Gue kirim lo, ke neraka!".
"Van, udah. Ampun. Gue ngga kuat". Rintih Zidan yang sudah kesakitan, "Ngga ada ampun buat lo, brengsek! Tega lo sama Naya! Gak punya otak!". Ucap Devan dengan tangan yang tidak henti-hentinya memukul Zidan
"Argh...udah, Van-"
Bruk, tubuh Zidan tumbang, Zidan terkapar sebelum pingsan dibawah kaki Devan, "Apa-apaan, lo? Pingsan segala!". Ucap Devan seraya menendang bahu Zidan sebagai akhir dari aksinya
"Haha, beneran ngga kuat, dia. Yaudah lah, tinggalin aja". Ucap Dilan
Devan pun mendekat kearah Naya, ia usap lembut kepalanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, "Nay? Maafin gue, sayang. Ini salah gue".
---
"Gini, ma, pa, jadi Zidan bawa Naya ke barber shop nya Leo. Nah, disitu Leo ngerasa ngga asing liat Naya, karna yang Leo tau Naya itu ceweknya Devan, kan. Jadi Leo nelfon Dilan buat pastiin..."
"Dan kebetulan posisi Naya waktu itu ngga ada kabar, Dilan minta Leo buat ngawasin mereka sampai dibuntutin ke kostannya Zidan..."
"Leo ngga bisa berbuat apa-apa karna kata Leo, Naya udah mabok waktu keluar dari mobil. Naya dibopong masuk ke kostan, dan waktu Dilan dateng, Zidan lagi manfaatin keadaan Naya yang mabok berat..."
"Ya, mama papa tau lah, Naya ngga sadarkan diri, dijadiin kesempatan sama Zidan". Ucap Dilan panjang lebar saat menceritakan kejadian yang menimpa Naya kepada kedua orang tuanya
"Astaghfirullah, kasihan anak mama". Gumam Santi sambil menutup wajah dengan kedua tangannya
"Papa benar-benar ngga nyangka, padahal Zidan itu saudaranya, tapi kok tega, ya". Ucap Willy
"Terus Devan gimana? Apa yang dia lakuin disana?". Tanya Santi
"Ya ngamuk lah, ma. Zidan dipukulin sampai pingsan, hampir mati, kali". Jawab Dilan
"Bagus, perlu dikasih pelajaran. Sama sepupu kok tega, kasihan Naya. Dia ngga ngerti apa-apa". Ucap Santi
Disisi lain, Devan masih setia disamping Naya sampai istrinya itu membuka kedua matanya. Naya merintih kesakitan pada kepalanya, ia terus merengek dengan tangan yang ia gunakan untuk mencengkram kepalanya itu, "Jangan kayak gini, Nay. Yang ada kepala lo makin sakit".
"Naya pusing banget, Devan".
"Iya wajar, sayang. Sekarang lo minum yang banyak, ya. Nanti lama-lama pusingnya hilang".
Naya meneguk habis dua gelas air mineral yang diberikan Devan. Setelah itu mendekat untuk memeluk tubuh kokoh yang langsung menyambutnya dengan pelukan erat dan hangat
"Gue bingung, Nay. Gue harus jagain lo kayak gimana lagi? Apa gue harus ngurung lo dikamar? Biar lo aman?..."
"Ngga ada orang yang bisa gue percaya. Zidan sepupu lo, keluarga lo, tapi tega ngelakuin itu ke lo. Gue harus gimana?".
"Eum, emang Zidan lakuin apa ke Naya?". Tanya Naya dengan kepala yang mendongak menatap Devan, Devan pun tersenyum tipis lalu melabuhkan kecupan singkatnya di kening Naya, "Lo ngga ngerti ya, Nay? Zidan udah jahat sama lo".
"Jahat? Emang Zidan kenapa?".
__ADS_1
"Hayo, kenapa? Lo inget ngga lo ngapain aja sama Zidan?". Tanya Devan, Naya berdehem dengan tatapan yang memandang langit-langit kamar mereka, Naya berusaha mengingat hal apa saja yang ia lakukan bersama sepupunya itu
"Naya ingat!". Ucap Naya dengan senyum mengembang dibibirnya, Devan pun ikut tersenyum, ia sudah tidak sabar mendengar keseluruhan dari cerita Naya, "Coba ceritain ke gue dari awal sampai akhir".
"Eum, jadi. Waktu Naya sampai dirumah, Naya mandi, habis itu Naya jalan-jalan sama Zidan. Ke taman, naik ayunan, makan ice cream..."
"Habis itu, Naya temanin Zidan ke tempat cukur rambut". Ucap Naya
"Iya, terus? Habis ke tempat cukur rambut lo inget sesuatu ngga? Zidan ngasih lo apa?".
"Hmm? Apa ya?". Ucap Naya dengan mata yang berkedip-kedip, kembali mengingat kejadian saat bersama Zidan
"Ingat-ingat, Nay". Ucap Devan seraya mengusap tangan Naya
"Oh iya, Naya ingat. Zidan ngasih Naya minuman, tapi rasanya aneh".
"Habis minum itu kepala lo sakit?".
"Iya. Naya ngga mau minum lagi tapi Zidan malah teriak-teriak, Zidan marahin Naya".
"Lo dimarahin?". Tanya Devan, Naya mengangguk pelan, "Naya takut liat Zidan marah-marah, jadi Naya habisin minumannya" .
"Ya Allah". Gumam Devan seraya mengusap kasar wajahnya, "Habis itu, apa lagi? Lo inget, ngga?".
"Zidan...Zidan...eum-"
"Zidan kenapa?". Tanya Devan menatap lekat mata Naya, Naya pun menggeleng pelan lalu memalingkan wajahnya kearah lain, "Cerita aja, Nay, ngga usah takut".
"Naya takut Devan marahin Naya". Ucap Naya dengan cemas, "Engga, gue janji ngga akan marahin lo. Cerita aja, Zidan kenapa?". Tanya dengan tutur lembut agar Naya mau terbuka dan menceritakan kejadiannya dengan detail
"Zidan...cium Naya". Ucap Naya dengan tangan gemetar, Naya menatap lekat wajah Devan yang menyiratkan kekecewaan, "Devan jangan marah". Rengek Naya seraya menangkup wajah Devan dengan kedua tangannya
"Engga, gue ngga marah, kok. Zidan cium lo dimana?".
"Disini". Ucap Naya seraya menunjuk pipinya, "Lo yakin? Ngga salah ingat?"
"Yaudah, jadi dia cium lo di pipi? Ya, meski gue tetap kesel dengarnya, tapi seenggaknya dia ngga macam-macam sama lo, ngga berlebihan".
"Makasih, ya, Devan ngga marah sama Naya". Ucap Naya menyentuh tangan Devan, Devan membalas dengan mengusap pipi gempal yang bersemu kemerahan itu, "Mana mungkin gue marah sama lo, sayang? Gue marah sama Zidan karna dia udah berani nyentuh milik gue".
"Yaudah sekarang bobo, ya. Udah malem". Ucap Devan seraya memberikan kecupan mendalam dikening Naya, "Love you, Nay".
"Love you too, Devan".
Keesokan paginya, setelah bersiap dan sarapan, Naya dan Devan berpamitan pada kedua orang tua mereka untuk berangkat sekolah. Devan membawa Naya memasuki mobilnya dan memasang seatbelt ditubuh istrinya itu, "Gue suka kalo lo pake bando, makin cantik". Puji Devan seraya menepuk-nepuk puncak kepala Naya dan beranjak cepat menuju kursi kemudinya
Diperjalanan menuju sekolah, sesi mengobrol mereka didalam mobil harus terganggu karena ada satu mobil yang mengikuti mereka. Devan menatap tajam kearah kaca spion disisi kanannya, memperhatikan mobil hitam yang tampak hendak mendahului mobilnya
Devan pun ingin memastikan apakah mobil tersebut benar mengikuti mereka atau tidak, akhirnya Devan melambatkan laju mobilnya dan membiarkan mobil tersebut berlalu melewati mereka
Ckit, Devan mendadak menghentikan laju mobilnya, membuat tubuh Naya terhempas kearah dashboard dihadapannya, "Ih! Naya kaget". Ucap Naya menatap Devan
"Sorry, Nay. Kayaknya ada yang ngga beres". Ucap Devan menatap mobil yang telah menghadang mobilnya itu
"Devan? Mereka siapa?". Tanya Naya saat melihat dua orang turun dari mobil dan berjalan menghampiri mobil mereka
"Ngga tau. Liatin aja, dulu". Jawab Devan seraya melepas seatbelt, "Loh, Devan mau kemana? Devan mau turun?".
"Iya, tunggu disini".
Dug dug dug, salah satu orang yang turun dari mobil itu memukul kaca jendela kemudi disisi Devan
"Devan, Naya takut, kita pergi aja, ya". Ucap Naya memohon seraya mengguncang lengan Devan, "Tenang, sayang. Tunggu sebentar, jangan keluar dari mobil". Ucap Devan mengusap kepala Naya lalu turun dari mobilnya
"Oh, jadi lu yang semalem mukulin Zidan? Bocah SMA". Ucap salah satu dari orang tersebut dengan nada mengejek
__ADS_1
"Jadi lu berdua ini temannya? Mau ngapain nyari gue? Sampe ngikutin gini". Ucap Devan
"Heh, gara-gara lu, Zidan patah tulang leher!". Jawabnya dengan nada emosi, "Ya, terus? Tujuan lu berdua nyari gue, apa? Balasin dendam Zidan?". Tanya Devan
"Ngga usah banyak bacot". Ucap orang tersebut dengan tangan yang ia layangkan ke wajah Devan, namun Devan menahan tangan tersebut dengan cepat, "Sorry, kalo lu mau ribut, gue ngga bisa ngeladenin. Gue buru-buru". Ucap Devan
"Haha, bilang aja takut?".
"Takut? Temen lo aja bisa patah leher. Apa lagi, lo? Simpen aja tangan lo, kan sayang kalo patah". Ucap Devan sambil tersenyum tipis dan pergi meninggalkan dua orang tersebut
"Bocah tengil! Kurang ajar!".
Bugh,
Devan meringis kesakitan saat punggungnya dihantam balok kayu dengan kencang oleh salah satu orang yang sedari tadi hanya berdiam diri memperhatikan percakapan sengitnya dengan rekannya itu
Rupanya orang itu berperan untuk menyembunyikan kayu tersebut dibalik tubuhnya dan ia lakukan aksinya saat Devan lengah
"Lo ngga berani tangan kosong, hah?! Pengecut!". Ucap Devan
"Anjing!".
Dua orang tersebut kompak berjalan mendekati Devan. Devan pun bersiap sambil menahan sakit pada punggungnya. Naya yang menyaksikan kejadian itu, hanya menunduk sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya seraya berdoa agar Devan baik-baik saja
Tidak berselang lama, Naya dikejutkan dengan pintu kemudi yang terbuka, Naya menjerit ketakutan sebelum bernafas lega saat melihat sosok berseragam putih abu-abu yang membuka pintu tersebut yang tidak lain adalah Devan
Tatapan Naya beralih kedepan, memperhatikan dua orang yang sudah terkapar diatas aspal, "Kok bisa?". Gumam Naya
"Devan, mereka pingsan?". Tanya Naya menatap Devan "Ya ampun! Devan? Bibir Devan berdarah". Ucap Naya seraya menangkup wajah Devan dengan kedua tangannya
"Gapapa". Ucap Devan
"Gapapa apanya?!".
"Duh, sapu tangan Naya mana, ya". Gumam Naya saat sibuk mencari sapu tangan berwarna pink didalam tasnya
"Gue gapapa, sayang".
"Tapi berdarah! Naya bersihin dulu". Naya membersihkan noda darah disudut bibir Devan dengan hati-hati.
Raut wajah cemas pun tidak bisa ia sembunyikan, membuat Devan tersenyum kearahnya, "Bibir gue sakit, ciumannya libur dulu ya, tunggu sembuh". Ucap Devan
"Ih! Emang siapa yang mau ciuman?".
"Oh, ngga mau, ya? Hahaha- duh, anjir, sakit banget". Devan meringis seraya menyentuh sudut bibirnya
"Ketawanya biasa aja, kali, udah tau bibirnya sakit. Ayo berangkat, kita udah telat".
"Oh iya. Mampus, gue kan ada sesi penyambutan di opening acara". Ucap Devan seraya memasang seatbelt dengan terburu-buru
"Tuh kan, pasti nanti Devan dimarahin, deh".
"Kayaknya sih, iya".
Devan kembali melajukan mobilnya menuju sekolah mereka, meninggalkan dua orang yang belum sadarkan diri dari pingsannya
---
"Mohon maaf sebelumnya jika saya selaku kepala sekolah mengganggu waktu bapak ibu guru dan murid-muridku sekalian yang sedang menikmati jalannya acara perayaan ulang tahun sekolah kita..."
"Saya berdiri disini bukan tanpa alasan. Saya ingin menyampaikan suatu hal penting dan mendesak, yang saya dengar secara tiba-tiba di pagi hari ini. Karena adanya hal tersebut, membuat saya berfikir dengan jernih sebelum mengambil keputusan yang tepat..."
"Dan saya telah memutuskan, bahwa saya mencopot jabatan ketua OSIS pada Devandra Sagara secara tidak terhormat".
---
__ADS_1
Bersambung...
yang kepo kelanjutannya, jangan lupa kasih dukungannya. makin seru loh