
Weekend kali ini mereka awali dengan pergi ke mall yang ada dipusat kota, mereka menonton film lalu berbelanja perlengkapan untuk ujian sekolah. Setelahnya, kedua pasangan muda itu mengunjungi taman bermain untuk menaiki bebeurapa wahana permainan kesukaan mereka hingga sore hari
Keesokan harinya, kesibukan dimulai, mereka kembali menjalankan aktifitasnya sebagai pelajar. Setelah memasukkan buku-buku serta alat tulisnya kedalam tas, Naya terlihat berjalan kesana-kemari mencari sesuatu, Devan yang sedang memakai jam tangan, memperhatikan gesitnya Naya saat berpindah-pindah tempat seraya memijit keningnya
"Nyari apa sih? Lo ngga pusing bolak-balik gitu?". Tanya Devan
"Iya, Naya pusing. Tapi Naya lagi nyari topi, Devan liat topi Naya ngga? Duh, upacara, lagi, Naya ngga mau dihukum karna ngga pakai topi".
Mendengar ucapan Naya membuat tawa Devan pecah. Devan terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menatap heran kearah istrinya itu
"Nay, Nay, pagi-pagi bikin gue sakit perut. Sini deh, gue kasih tau dimana topi lo".
"Dimana? Devan lihat?". Tanya Naya seraya mendekat kearah Devan, "Dimana?". Tanya Naya lagi
"Di kepala lo!". Jawab Devan dengan gemas, Naya pun tampak bingung sebelum menyentuh kepalanya
"Oh, iya, ini topi Naya, udah dipake, hehe". Ucap Naya
"Ngga usah haha-hehe lo, pikun, dasar".
"Hehehe, topinya kearah belakang, ngga keliatan, deh". Ucap Naya seraya mengubah posisi topinya dengan benar
"Alasan, pikun ya pikun aja".
"Ah, malu". Gumam Naya
"Hahaha, udah, ayo berangkat. Ngga ada yang lupa lagi, kan?". Tanya Devan memastikan, "Ngga ada".
"Eh, ada yang lupa, gue belom kiss lo". Ucap Devan sebelum mengecup singkat bibir Naya,
"Devan modus terus".
"Hehehe udah, yuk". Ucap Devan seraya merangkul Naya keluar dari kamar mereka
---
"Ehem, benar, kan. Udah gue duga kalo lo lagi ngeliatin Devan". Ucap Sandra saat menghampiri Intan yang sedang memperhatikan Devan bermain basket dari depan kelasnya
"Haha, sumpah, dia makin ganteng kalo main basket". Puji Intan tanpa mengalihkan pandangannya kearah Devan, "Rebut dia, dong, dari Naya. Masa lo kalah dari si cengeng itu?". Ucap Sandra yang berusaha memanaskan suasana
"Ngga ada kata kalah di kamus gue".
"Buktiin, seenggaknya lo bisa dapatin perhatiannya".
"Ok, lo liat, San. Gue bakal lakuin sesuatu buat dapatin perhatian cowok idaman gue".
Intan terlihat merapihkan tatanan rambutnya sebelum melangkah menuju lapangan basket, meninggalkan Sandra yang terlihat antusias menunggu aksi apa yang akan dilakukan sahabatnya itu
"Van! Van! Awas!". Teriak Joseph saat memberitahu Devan bahwa ia akan menabrak Intan yang berada disampingnya
Namun Devan telat menghentikan laju larinya dan membuat Intan tersungkur disisi lapangan, "Ck, lo ngapain disini?!". Bentak Devan
"Kok malah bentak gue sih? Apa dia tau gue pura-pura? Akting dulu, deh". Batin Intan saat menunduk
"Aduh, kaki gue sakit". Rengek Intan seraya memegangi kakinya, "Bangun, ngga usah manja". Ucap Devan yang masih berdiri dihadapan Intan, "Ngga bisa, kaki gue sakit banget, Van".
"Jo, bangunin dia, nih". Ucap Devan menatap Josep, "Males banget, lo aja".
"Van? Kaki gue kekilir, loh, sakit banget". Ucap Intan manja, "Bangun sendiri ngga bisa?". Tanya Devan, Intan menggeleng lemah
Tio yang memperhatikan Intan dan Devan, melempar bola basketnya pada Joseph lalu menghampiri mereka disisi lapangan, "Dah sini, gue antar ke UKS". Ucap Tio seraya meraih bahu serta tangan Intan dan membantunya berdiri, "Aduh, aduh, kaki gue..."
Bruk, Intan terlihat goyah dan jatuh ke pelukan Devan, membuat Devan tersentak dan reflek memeluk Intan
"Akh, kaki gue sakit". Rengekan Intan semakin menjadi, ia mencengkram seragam Devan dengan kencang, seakan menyalurkan rasa sakitnya
"Van, bawa gue UKS, ya". Pinta Intan memohon, "Yaudah, lah, lo bawa ke UKS, sana. Tanggung banget". Ucap Tio yang kembali masuk ke lapangan basket
__ADS_1
"Ck, sial". Gumam Devan
Devan melepaskan Intan dari pelukannya, namun lengannya masih dipegang erat oleh Intan, "Gue ngga kuat berdiri, Van. Serius, ini sakit banget".
"Ngerepotin, lo".
Mau tidak mau, Devan pun membopong Intan ke UKS. Sandra yang masih berdiri didepan kelasnya, tersenyum puas melihat Intan berhasil menjalankan aksinya
"Ups, si cengeng ngeliat". Batin Sandra saat melirik kearah gedung di seberang kelasnya, terlihat Naya memperhatikan Devan dan Intan dari lantai dua kelasnya bersama Sisil dan Mily
"What? Diantar ke UKS?". Ucap Mily yang tidak percaya dengan apa yang ia lihat, "Sabar, Nay. Jangan cemburu, gue yakin si ular itu cuma pura-pura, dia caper". Ucap Sisil
"Betul, aktingnya kurang natural". Sambung Mily, "Naya gapapa kok, Devan kan baik, gapapa kalo Devan nolongin Intan".
"Bukan masalah Devan baik atau enggak, Nay, Intan itu-".
"Iya, lo benar, Nay, Devan itu cuma nolongin Intan". Ucap Mily saat memotong ucapan Sisil
"Ck, lo ngga ngerti, ya? Cowok lo lagi dimanfaatin sama Intan". Ucap Sisil yang sudah gemas dengan pemikiran Naya yang belum juga sadar dengan kejadian dilapangan itu
"Maksud Sisil dimanfaatin gimana?". Tanya Naya
"Ya Tuhan, mending sekarang lo ke UKS, bawa cowok lo keluar dari sana". Ucap Sisil seraya mendorong tubuh Naya, "Naya ke UKS?".
"Iya! Cepat! Ngga pake lama!". Ucap Sisil, Naya mengangguk cepat dan segera menuruni tangga
"Mil, bisa ngga sih, lo bantu gue bikin Naya jadi pintar dikit? Jangan bikin Naya bodoh dengan pemikiran lugu yang dia punya..."
"Jelas-jelas Intan itu manfaatin Devan, tapi dia menganggap Devan baik karna nolongin Intan? Ck, bikin gue kesal". Ucap Sisil
"Ya gue cuma ngga mau Naya mikir yang engga,engga. Lo kan tau Naya itu gampang baper".
"Tapi kalo Naya ngga sadar sama tipuan Intan, bisa-bisa Naya kehilangan Devan".
"Mustahil, Sil. Mau sekeras apapun usaha Intan, kalo Devan cinta mati sama Naya, Intan bisa apa?".
"Yakin, dong. Percaya aja deh sama Devan, dia itu udah dikasih julukan si bucin akut, si cinta mati, si cinta buta..."
"Padahal mereka udah bikin heboh satu sekolah karna masalah kemarin. Dan mereka yang udah ngehina Naya, merasa tertampar ngeliat si bucin akut masih setia sama Naya, hahaha".
"Ya, semoga omongan lo benar. Gue bakal jadi orang pertama yang hajar Devan kalo dia ngehianatin Naya".
"Gue yang kedua".
Disisi lain, Devan terlihat mencuci tangannya di wastafel setelah membaluri kaki Intan dengan krim dan sedikit memberikan pijatannya disana. Setelah itu, ia keringkan tangannya dengan handuk lalu menghampiri Naya yang duduk menunggunya
"Maaf, ya, bikin lo nunggu". Ucap Devan seraya mengusap kepala Naya,
"Gapapa. Eum, Intan udah bisa jalan?". Tanya Naya menatap Devan, "Udah. Tinggalin aja, ayo".
"Eh, Devan? Kaki gue masih sakit. Lo ngga mau gendong gue ke kelas?". Tanya Intan dengan wajah sendu
"Jalan sendiri. Jangan kayak orang lumpuh".
Jawaban menohok Devan terasa menembus jantung Intan. Intan terperangah dibuatnya
Tanpa mengucap sepatah kata lagi, Devan merangkul Naya meninggalkan UKS, membuat Intan semakin geram karena Devan masih saja mengutamakan Naya disaat dirinya sedang butuh bantuannya
Meski hanya kebohongan belaka, setidaknya Intan ingin mendapatkan perhatian lebih dari Devan yang ternyata sangat sulit ia dapatkan
"Naya, gue bakal singkirin lo"
Meninggalkan UKS, Devan membawa Naya ke kantin, Devan menarik kursi untuk Naya lalu menyentuh puncak kepala wanitanya itu, "Mau makan apa?".
"Naya ngga mau makan. Naya mau ice cream, boleh ngga?".
"Ice cream, terus? Kan tadi pagi udah, dirumah?".
__ADS_1
"Hmm, Naya mau lagi, please". Ucap Naya dengan tatapan memohon, "Huft, lagi lucu-lucunya, ngga tega nolaknya. Yaudah, tunggu, ya". Ucap Devan sebelum beranjak menuju lemari pendingin penyimpanan ice cream
Tidak berselang lama, Devan kembali membawa satu cup ice cream dan segelas cappucino dingin ditangannya
Ia dudukkan bokongnya di samping Naya lalu menyeruput minumannya, sementara Naya mulai menikmati ice cream nya
"Benar ngga mau makan? Emang ngga lapar?". Tanya Devan seraya menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Naya
"Engga, tadi Naya makan sandwich di kelas, kenyang".
"Siapa yang bawa sandwich?".
"Mily".
"Hmm".
"Oh iya Devan, nanti pulang sekolah Sisil sama Mily ngajak Naya ke mall, mau beli hoodie couple buat perpisahan. Buat foto-foto".
"Perpisahan apa?".
"Perpisahan sekolah".
"Hahaha, ujian aja belom, sayang? Buru-buru banget?".
"Persiapan, Devan. Selain hoodie, mau couple sepatu, juga".
"Yaudah, gue ikut, ya. Jagain lo".
"Jagain Naya? Kan Naya pergi sama Sisil, sama Mily".
"Pokoknya gue ikut".
"Iya, yaudah".
Setelah menghabiskan waktunya di kantin, mereka kembali ke kelas masing-masing. Pada pelajaran terakhir, Naya hanya diminta mengerjakan tugas dan mengumpulkannya di ruang guru
Setelah mengunjungi ruang guru, Naya berjalan menuju ruang kelas Sisil dan Mily, hendak menunggu dua sahabatnya itu yang masih mengikuti pelajaran
"Naya?". Panggil Sandra saat menghadang Naya di koridor kelasnya, "Sandra?".
"Mau tolongin gue ngga?".
"Tolongin apa?".
"Gini, gue dihukum suruh bersihin gudang diatas".
"Sandra dihukum kenapa?".
"Ngga presentasi, hehe. Bantuin gue, yuk. Lo lagi ngga ada guru, kan?".
"Iya, Naya lagi ngga ada guru".
"Yaudah, yuk. Gue ngga bisa bersih-bersih sendiri, capek, hehe. Kalo ada yang bantuin kan lumayan".
"Yaudah, Naya bantuin. Tapi jangan lama, ya, soalnya Naya mau nungguin Sisil sama Mily".
"Iya, santai. Belum bel, kok, ayo".
Sandra tersenyum tipis seraya merangkul bahu Naya menuju gudang
"Sip, si bodoh masuk jebakan".
---
Bersambung guysss..
Jangan lupa like, komen, vote dan hadianya. Nanti aku spill visualnya satu-satu, okeeeyyyy
__ADS_1