Childish Wife

Childish Wife
CW-16


__ADS_3

"Van? Lo ngga lupa kan nanti malem pesta ulang tahun gue?". Tanya Intan saat menghampiri Devan di aula


"Inget. Tapi ngga janji bisa dateng atau engga".


"Why?".


"Ada urusan".


"Yaaah, ayo lah, Van-"


"Sorry, gue tinggal, Ntan". Ucap Devan dan berlalu pergi untuk menghampiri Naya, Intan pun menatap sebal dan melirik kearah Devan yang sedang berlari menuju tangga


"Ck, Naya lagi, Naya lagi. Apa sih yang Devan liat dari cewek cengeng kayak gitu?"


Melihat Devan berlari menghampirinya, Naya mempercepat langkahnya menaiki tangga menuju kelasnya, "Nay, Nay. Jangan buru-buru nanti lo jatoh". Ucap Devan seraya meraih ujung rok yang dipakai Naya


"Ih! Devan mau ngapain narik rok Naya!". Jerit Naya, "Hush, jangan teriak, nanti dikira gue ngapa-ngapain lo".


"Lo ngapain sih jalan buru-buru gitu? Kalo lo jatoh gimana?".


"Biarin". Ucap Naya dengan acuh seraya memalingkan wajahnya kearah lain, enggan menatap Devan yang berdiri pada anak tangga yang lebih rendah dibawahnya


Devan menatap lekat wajah Naya. Ia raih tangan Naya dan ia usap lembut dengan ibu jarinya, "Nay? Lo lari gini karna ngeliat gue kan? Sebenarnya kenapa sih? Gue salah apa?".


"Perasaan tadi pagi baik-baik aja?".


"Devan ngga salah apa-apa".


"Jangan coba-coba bohongin gue".


Naya melirik Devan, membuat Devan menaikkan kedua alisnya seolah bertanya, "Yaudah Naya ngaku! Naya lagi kesal sama Devan!". Ucap Naya seraya menghentakkan kakinya


"Kesal? Emang gue salah apa?".


"Sekarang Devan dekat sama Intan. Naya tau kok kalo Devan diundang ke pesta ulang tahun Intan kan?".


"Iya, bukannya anak lain juga diundang? Lo juga kan?". Tanya Devan, Naya mengangguk pelan, "Naya juga tau kalo di pesta nanti Devan mau dansa sama Intan".


"Hah? Apa lo bilang? Dansa? Sama Intan?". Tanya Devan, Naya mengangguk lagi sambil menggigit bibirnya


"Pfft". Devan nenahan tawa


"Ih! Ngga ada yang lucu!". Bentak Naya dengan mata bulatnya


"Hahahahaha, lo lucu! Kata siapa gue mau dansa sama Intan?".


Devan menaiki anak tangga yang dipijak Naya, membuat kaki mereka bersejajar, "Jadi ini yang bikin istri gue ngambek?". Bisik Devan tepat ditelinga Naya


"Naya ngga ngambek, Naya cuma-"


"Cuma apa? Lo denger dari mana kalo gue mau dansa sama dia?".


"Tau ah! Naya mau ke kelas". Naya berlalu pergi meninggalkan Devan yang masih tertawa diposisinya, "Dasar, kebiasaan banget, gampang percaya omongan orang"


Jam pulang sekolah tiba, setelah memasukkan buku dan alat tulisnya kedalam tas, Naya beranjak keluar kelas menuju aula untuk menghampiri Devan yang terlihat sedang sibuk berjalan kesana-kemari dengan beberapa lembar kertas ditangannya


Naya berdiri tepat didepan punggung Devan. Ia tarik-tarik bagian belakang seragam Devan, membuat Devan berbalik badan kearahnya, "Nay? Lo ngapain disini? Udah ngga kesal sama gue?".


"Naya ngga mau bahas itu".

__ADS_1


"Oh, haha. Terus lo kesini mau apa?".


"Eum...Devan pulang malem lagi, ya?".


"Engga, gue balik sore. Lo mau nungguin?".


"Mau sih, tapi kepala Naya pusing".


Mendengar rengekan Naya, Devan pun menempelkan tangannya dikening Naya, "Agak panas, Nay. Lo pusing dari tadi?". Naya mengangguk pelan, "Naya boleh ngga pulang duluan ngga?".


"Yaudah, gue telfon pak Yoyo dulu buat jemput lo. Ikut gue sini". Devan menarik tangan Naya dan membawa Naya kesisi aula, ia dudukkan Naya pada bangku yang sudah ia ambil didepan panggung acara


"Duh, ngga diangkat sama pak Yoyo". Gumam Devan saat mencoba menghubungi supir mamanya tersebut


"Naya pulang sendiri aja deh, naik taksi".


"Engga, Nay. Ngga boleh".


Devan kembali menghubungi pak Yoyo namun hasilnya tetap sama, ia tidak mendapat jawaban dari telfon tersebut, "Gue anterin aja, ayo". Ucap Devan seraya menyentuh puncak kepala Naya. "Tapi Devan kan lagi sibuk ngawasin geladi, nanti Devan di marahin pak Gunawan". Ucap Naya dengan khawatir


"Engga, sebentar aja kok. Yuk, gue anterin".


Naya pun mengangguk dan mengikuti langkah Devan menuju parkiran mobil


"Woy, Naya, didepan ada orang yang ngaku sepupu lo tuh, dia nungguin lo". Ucap seorang teman kelas Naya


"Sepupu Naya?". Tanya Naya


"Iya. Gue ngga tau namanya siapa". Ucap temannya itu, Naya mengangguk dengan wajah bingung


Naya sedang mengingat-ingat siapakah sepupu yang dimaksud temannya itu, karena yang ia tahu, semua saudaranya tidak ada yang tinggal di Indonesia


"Thank you". Devan menepuk bahu temannya itu dan segera membawa Naya menemui sosok yang mengaku sepupu dari istrinya itu. Mungkinkah itu Zidan? Devan harus melihatnya sendiri


"Naya! Ya Tuhan, gue kangen banget sama lo". Ucap Zidan seraya memeluk Naya dengan tiba-tiba, Naya yang tersentak hanya mengerjapkan matanya berkali-kali, berusaha mencerna situasi yang terjadi saat ini


Devan yang terlihat kesal, seteketika menjauhkan Naya dari Zidan "Jaga sikap lo!".


"Heh, gue kangen Naya, dia sepupu gue. Salah kalo gue peluk dia?". Tanya Zidan


"Eum, nama kamu siapa?". Tanya Naya dengan tatapan polos. Zidan pun tersenyum simpul dan memegang kedua bahu Naya, "Gue Zidan, sepupu lo, anaknya om Galih sama tante Poppy, lu inget kan?".


"Zidan?". Tanya Naya, Zidan mengangguk sambil tersenyum, "Waktu kecil kita sering main bareng, makan bareng, jalan-jalan bareng. Eum, mungkin lo lupa karna itu udah lama..."


"Tapi coba lo inget-inget deh, kita lahir di tanggal dan bulan yang sama, kita pernah rayain ulang tahun bareng-"


"Oh, iya! Naya ingat! Naya ingat Zidan!". Ucap Naya dengan senyum mengembang dibibirnya, "Lo inget gue kan?". Tanya Zidan


"Iya, Naya ingat kamu, Zidan itu superhero nya Naya, Zidan pernah nolongin Naya waktu Naya jatoh dari ayunan".


"Nah, lo bener. Gue superhero yang nolongin lo". Ucap Zidan mengusap kepala Naya


"Peluk gue, Nay. Lo ngga kangen, emang?". Tanya Zidan dengan kedua tangan yang ia rentangkan kearah Naya, membuat Devan semakin kesal


Devan melangkah mendekati Zidan dan menepuk bahu laki-laki itu, "Naya istri gue, jadi jangan kelewatan". Bisik Devan


Zidan tercengang, ia pun melirik Naya dengan tatapan seolah bertanya, "Nay, emang bener lo-"


"Devan?". Panggil Viona dari arah belakang, Devan pun menoleh kearahnya, "Kenapa?".

__ADS_1


"Lo ngapain disini? Dicariin pak Gunawan tuh. Masuk!". Ucap Viona


Devan menghela nafas sambil menyisir rambutnya ke belakang, "Gue mau nganter Naya balik".


"Ck, udah sih. Naya kan bisa naik taksi. Geladi belom selesai. Ayo". Ucap Viona sebelum beranjak dari posisinya


"Devan masuk aja, ya. Takut pak Gunawan marah". Ucap Naya


"Tapi Nay-"


"Lo mau balik kan? Sama gue aja, ayo". Ucap Zidan menatap Naya, "Eum, gimana ya". Gumam Naya


"Devan? Naya boleh ngga pulang sama Zidan?". Tanya Naya dengan hati-hati, ia tidak ingin lelakinya itu marah meski sebenarnya Devan sudah menahan amarahnya sejak tadi, "Yaudah, lo balik aja sama dia".


Zidan tersenyum miring mendengar ucapan Devan, "Ayo Nay".


"Devan ngga marah, kan?". Tanya Naya, Devan pun tersenyum tipis seraya mengusap puncak kepala Naya, "Gue ngga marah, sayang. Hati-hati dijalan, ya. Tunggu gue dirumah".


"Yaudah, Naya pulang dulu". Ucap Naya sebelum masuk kedalam mobil Zidan


"Titip istri gue". Ucap Devan tatapan dingin, "Haha, lo ngga usah khawatir". Ucap Zidan


Zidan segera masuk kedalam mobilnya dan pergi meninggalkan area sekolah


Pukul lima sore, Devan baru tiba dirumah, ia segera berlari menaiki tangga menuju kamarnya untuk menemui Naya. Tetapi sosok yang dicari itu tidak ada, hanya ada ponsel Naya yang sedang mengisi daya diatas meja


Devan pun kembali kelantai bawah, ia menghampiri sang mama yang sedang membuat kopi didapur. Ia cium tangan Santi sambil bertanya keberadaan Naya, istrinya, "Tadi habis mandi Naya keluar sama Zidan. Katanya mau jalan-jalan".


"Kok diizinin sih, ma?".


"Masa mama larang sih, ganteng? Mereka kan saudara. Lagi pula mereka cuma sebentar, karna katanya Naya mau berangkat ke pesta ulang tahun temennya".


"Hmm, yaudah deh Devan tunggu dikamar aja". Ucap Devan seraya berjalan kembali menuju tangga


"Makan dulu, sayang. Kamu udah makan belum?".


"Nanti aja, ma".


---


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam dan Devan masih berdiri di balkon kamarnya, menantikan sebuah mobil yang mengantar istrinya pulang. Namun mobil yang ia tunggu tidak kunjung datang


Devan tidak bisa melakukan apapun selain menunggu kepulangan Naya karena ia tidak tahu kemana perginya Naya dengan sepupunya itu


"Sayang? Kamu ngga jadi ke pesta ulang tahun teman kamu?". Tanya Santi saat menghampiri Devan dikamarnya


"Naya aja belum pulang, ma. Devan nungguin Naya dari tadi".


"Hmm, iya sih. Udah jam sembilan tapi Naya belum pulang, kemana ya".


"Devan ngga bisa diem aja kayak gini, ma. Devan pengen cari Naya, tapi ngga tau cari kemana".


Drrtt, dering pada ponsel Devan membuat Devan dan Santi kompak menoleh keatas meja, menatap ponsel Devan dengan layar terang menyala. Devan pun segera meraih ponselnya, membaca nama dari sosok yang menghubunginya saat ini, "Bang Dilan".


"Dilan, sayang? Yaudah angkat". Ucap Santi, Devan mengangguk patuh dan segera menerima panggilan dari kakaknya itu


"Halo, Van. Gue lagi sama Naya, nih. Naya mabok, buset, sampe teler gini".


"Apa?!".

__ADS_1


---


Bersambung~hehe lumayan buat temen baca sebelum bobo. Jangan lupa dukungannya yaw, tenchuuu


__ADS_2