
Setelah memakai kedua sepatunya, Devan menatap Naya yang masih terlihat sibuk didepan kaca riasnya
Devan menghela nafas, "Belum selesai Nay?".
"Hmm, sebentar, Naya mau kuncir rambut dulu".
Devan menghampiri Naya dan meraih satu buah kuncir rambut berwarna pink serta sisir dengan warna senada
"Sini, gue aja". Ucap Devan seraya menyisir rambut Naya lalu mengikatnya seperti ekor kuda, tidak lupa ia juga merapihkan sedikit poni-poni yang semakin mempermanis wajah mungil istrinya itu
Kalau diingat-ingat, Devan memang sudah terbiasa menyisir dan menata rambut panjang milik Naya sejak mereka pacaran. Devan selalu mengambil alih "pekerjaan" itu karena ia begitu menyukai saat jari jemari lentiknya menyentuh rambut halus beraroma buah itu
Layaknya sang ayah yang sedang menata rambut gadis kecilnya, Devan melakukannya dengan senang hati sehingga hasilnya pun sangat rapih dan sempurna. Devan sudah sangat terlatih, berbagai tatanan rambut sudah pernah ia "kreasikan" pada rambut sang istri
"Cantik banget sih, istri siapa?".
Naya tertawa kecil, "Istri Devan".
"Yaudah kita sarapan yuk".
Devan menggeleng lalu menunjuk bibirnya. Naya pun paham, ia mengecup bibir tebal milik suaminya itu sebelum mereka turun kebawah untuk sarapan bersama
---
"Nay, gabung kelompok gue yuk, kurang satu nih". Ucap Fero, teman sekelas Naya
Naya menoleh ke meja yang terletak disudut kelas, tempat berkumpulnya murid yang telah masuk kedalam kelompok Fero, terdapat tiga murid laki-laki yang terlihat sibuk dengan ponselnya masing-masing
"Baru empat, kurang satu". Ucap Fero melanjutkan
Naya mengangguk. Ia setuju bergabung dengan kelompok Fero karena hanya diriny yang belum masuk kedalam kelompok mana pun
Selain itu, murid-murid yang beberapa kali pernah satu kelompok dengan Naya, memilih mencari "orang baru" yang mereka ajak untuk bergabung dengan kelompoknya. Naya tidak mempermasalahkan itu, bergabung dengan siapa saja tidak masalah untuknya, toh tujuannya sama, belajar dan mendapatkan nilai
"Coy, Naya gabung nih". Ucap Fero pada tiga murid itu
"Jangan diapa-apain, princess nya Devan haha". Sambung Fero
Ketiganya hanya tertawa, lalu salah satu dari mereka, Randy, terlihat sedang menuliskan nama Naya diatas kertas yang sudah tersedia setelah itu berunding untuk berbagi tugas
"Naya aja yang bikin PPT nya, bagus kalo dia yang bikin". Ucap Raka yang pernah satu kelompok dengan Naya
Fero dan yang lainnya menoleh menatap Naya, "Lo mau bikin PPT?". Tanya Fero
Naya mengangguk, "Boleh".
"Yaudah balik sekolah kumpul dirumah gue ya". Ucap Fero
__ADS_1
Ketiganya kompak meng-iyakan ucapan Fero, kecuali Naya. Naya tampak bingung,
"Gue yang izin ke Devan". Ucap Fero
Naya mengangguk seraya tersenyum, bagaimana Fero bisa paham dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Naya
---
"Hoek"
"Hoek"
"Loh, Naya kenapa?".
Galang melangkahkan kakinya mendekati pintu toilet perempuan. Dari luar, ia masih mendengar suara Naya yang sedang mengeluarkan isi perutnya
"Kok Naya mual-mual gitu?".
"Ada yang ngga beres".
Dengan langkah cepat, Galang pergi meninggalkan toilet perempuan
"Devan mana?!". Tanya Galang kepada salah satu anak OSIS
"Tuh didalem".
Tidak mau berlama-lama lagi, Galang pun segera menerobos masuk kedalam ruang OSIS, menghampiri Devan yang sedang duduk didepan laptop
Devan menatap tajam kearah Galang, "Ngomong tinggal ngomong".
"Ngga disini, goblok".
"Kok goblok-goblokan sih? Lu kenapa?".
"Gue tunggu diatap". Ucap Galang sebelum meninggalkan ruangan OSIS
Devan pun menatap heran kepergian Galang, "Tuh anak kenapa?".
Setelah menutup laptopnya, Devan berjalan menyusul Galang ke rooftop gedung sekolah mereka
"Mau ngomong apa?". Tanya Devan
Galang menoleh dengan seringai yang menghiasi bibirnya
Bugh
"Bangs*t". Devan mengumpat saat sudut bibirnya ditinju kencang oleh Galang
__ADS_1
"Lo kenapa mukul gue?!". Teriak Devan
"Lo pantes dapetin itu, anjing!". Teriak Galang tak mau kalah
"Lo ngomong apa sih?!".
Galang mencengkram ujung kerah seragam Devan dengan kedua tangannya, "Jangan lo kira gue ngga tau apa-apa. Lo ngehamilin Naya kan?".
Devan termangu sejenak, setelah itu tertawa kecil seraya melepas kedua tangan Galang dari kerahnya
"Ngga usah ngaco kalo ngomong!". Ucap Devan dengan tatapan tajam
"Halah, gue tau. Lo udah nikah kan sama Naya?! Dan lo nikahin Naya karna dia hamil duluan! Iya kan?! Kurang ajar lo!!". Teriak Galang seraya kembali mencengkram kerah Devan
Bugh, Devan tidak mau kalah, ia balas pukulan Galang tadi tepat disudut bibirnya
"Mulut lo sesekali perlu gue hajar".
"Kenapa? Ngga terima? Lo panik udah ketauan brengseknya?". Ucap Galang seraya menyeka sudut bibirnya
"Udah gue duga lo ngga sebaik keliatannya, dari luar sok wibawa, ternyata bejat juga..."
"Niat lo pengen ngejaga Naya ternyata cuma akal-akalan lo aja. Lo sama kayak yang lain, manfaatin kepolosan Naya!!..."
"Lo manfaatin dia yang tulus cinta sama lo!! Brengsek!!..."
"Gue nyesel ngebiarin Naya sama lo!!!". Teriak Galang dengan emosi yang meledak-ledak
Devan mengusap kasar wajahnya lalu menarik nafas dalam-dalam
"Lo tau dari mana gue udah nikah sama Naya?".
"Ck, jadi bener omongan gue?".
"Gue akuin gue udah nikah sama Naya. Tapi omongan lo soal Naya hamil itu ngga bener. Dia ngga hamil".
"Masih ngelak? Gue liat sendiri Naya mual-mual di toilet".
"Devan? Galang?".
"Naya?". Ucap Devan, Galang kompak
"Bibir Devan kenapa? Kok berdarah?". Tanya Naya dengan cemas
Naya menoleh menatap Galang, "Bibir Galang juga berdarah".
"Devan sama Galang berantem lagi?".
__ADS_1
Bersambung ---
Yookk boleh dong jempolnyaaa