
Pukul delapan malam, Devan keluar dari kamarnya untuk mencari Naya, pasalnya, gadis itu sudah tidak terlihat dimeja belajarnya, padahal yang ia tahu Naya sedang asik dengan crayon dan buku gambarnya
Namun entah kapan Naya keluar kamar, Devan tidak menyadari karena ia sedang fokus mengerjakan tugas sekolahnya. Devan segera menuruni tangga dirumahnya, menoleh kearah dapur dan mendapati gadisnya sedang berdiri dihadapan meja dapur
Devan mendekat dan memeluk erat Naya dari belakang, membuat Naya terkejut akan kedatangannya, "Lagi ngapain, sih?". Tanya Devan dengan tutur lembut, kepalanya ia tundukan untuk menghirup leher serta tengkuk gadis itu
"Naya lagi bikin kopi". Jawab Naya sambil mengaduk minumannya
"Tumben kopi? Biasanya susu?".
"Naya bikin kopi buat Devan, habisnya Naya liat Devan kayak suntuk ngerjain PR, jadi Naya bikinin kopi, hehe..."
"Devan mau kan?". Tanya Naya sambil tersenyum, Devan pun mengangguk singkat dan kembali menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya itu, aroma vanilla yang sangat ia suka dari Naya
"Nah, selesai. Devan mau minum kopinya sekarang ngga?".
"Mau, dong. Sini".
Naya meraih gelasnya dan berbalik kearah Devan, "Pelan-pelan, masih panas".
Devan menyeruput kopinya sedikit demi sedikit, menikmati kopi racikan Naya yang selalu menjadi favoritenya, "Enak. Thanks ya, Nay". Ucap Devan seraya meraih dagu Naya
Cup, Devan mengecup singkat bibir Naya sebelumnya tersenyum dengan manisnya, "Yuk, balik kekamar". Ucap Devan, Naya mengangguk
"Lo ngga ada PR?". Tanya Devan seraya duduk dikursi belajarnya. Naya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Devan mau Naya bantuin ngga ngerjain PR nya? PR Devan kan banyak".
"Ngga usah, sayang. Biar gue aja. Lo lanjutin ngegambarnya". Naya mengangguk patuh dan kembali melanjutkan kegiatannya
Tiga puluh menit berlalu, Devan pun menoleh kearah meja belajar Naya, ia tersenyum tipis saat melihat Naya tertidur dengan kepala yang jatuh diatas buku gambarnya. Devan menghampiri Naya, ia angkat tubuh Naya dengan niat ingin memindahkannya ke tempat tidur
Namun seketika tatapannya tertuju pada gambar yang Naya buat. Sebuah potret keluarga bahagia yang sedang piknik dibawah pohon rindang ditemani dua kucing lucu dan menggemaskan
Devan tertawa kecil, "Anak kecil ini siapa, Nay? Anak kita?".
Sadar pertanyaannya tidak akan dijawab, Devan pun mengeratkan tubuh Naya digendongannya, ia cium berkali-kali kening dari pemilik wajah yang terlihat damai dalam tidurnya
"Semoga gambar lo jadi kenyataan, kita hidup bahagia sama anak kita nanti"
---
"Devan!".
"Devan!".
"Ih! Devan kemana sih!". Jerit Naya seraya menghentakkan kakinya berulang kali
"Aduh, Naya. Pagi-pagi udah berisik, kenapa? Hmm?". Tanya Dilan saat berdiri diambang pintu
"Devan kemana, bang?".
"Dibawah, lagi manasin mobil".
Tanpa mengucap sepatah kata lagi, Naya berjalan cepat keluar dari kamarnya, menghampiri laki-laki tampan berperawakan tinggi yang sedang berdiri disamping mobilnya
"Kok belum pake sepatu sih, Nay?".
"Naya ngga mau sekolah!".
"Kenapa?".
"Naya kesal sama Devan! Kenapa ice cream Naya dihabisin, itu kan sisa satu!".
Seketika tawa Devan pecah mendengar ucapan Naya, ia pun mengusap lembut kepala istrinya itu lalu memainkan pita berwarna pink yang menghiasi kepalanya, "Lo lagi pilek, ngga bagus kebanyakan makan ice cream".
"Alasan! Pokoknya Naya ngga mau sekolah. Naya marah!".
"Hehe, jangan marah dong. Nanti gue beliin lagi ya". Ucap Devan seraya melingkarkan tangannya pada pinggang Naya, Naya pun mendongak untuk menatap kedua bola mata suaminya itu
"Devan ngga bohong kan?".
"Engga. Janji, nanti kita beli yang banyak, buat stock di kulkas".
"Yeay, makasih Devan".
Naya berjinjit untuk memberikan kecupan dibibir Devan, "I love you, Devan".
"I love you too". Ucap Devan seraya mencolek hidung Naya
"Emang boleh sebucin itu?". Tanya Dilan dengan tangan yang sudah ia lipat diatas dadanya, ia nampak bersandar dipintu utama yang entah sejak kapan keberadaannya tidak disadari oleh Devan dan Naya
"Masuk, Nay. Pake sepatu". Ucap Devan seraya menyentuh puncak kepala Naya
"Ngga enak mesra-mesraan didepan jomblo abadi". Sambung Devan
"Sialan". Dilan mendengus kesal
---
"Sebenarnya gue males ngundang lu, tapi ngga mungkin kalo gue cuma ngundang Sisil sama Mily, ntar lo nangis ngga diundang ke pesta gue hahaha". Ucap Santi setelah memberikan sebuah undangan pesta ulang tahunnya kepada Naya
"Tapi Naya ngga apa-apa kok, Naya ngga nangis".
Sandra terlihat berdecak sebal sambil memutar bola matanya, "Halah, ngga mungkin, selain nangis lo juga bakal ngadu ke Devan"
"Yaudah lah, intinya gue udah ngundang lo, mau dateng atau engga bukan urusan gue". Ucap Intan
__ADS_1
"Eum, Naya boleh nanya dulu ngga?".
"Apa?".
"Intan ngundang Devan juga?". Tanya Naya, Intan tertawa singkat, "Ya jelas lah, dia itu tamu spesial gue".
Intan melangkah mendekati Naya dan berbisik, "Di pesta nanti gue mau dansa sama Devan".
Intan tampak tersenyum miring sambil memundurkan langkahnya, ia menatap raut wajah Naya yang mendadak sedih dan bibirnya terlihat menekuk kebawah, "Intan bohong! Devan ngga mau dansa sama Intan!".
"Heh, suka ngga suka lo harus liat Intan dansa sama Devan, karna Intan itu ratunya dan lo cuma tamu undangan". Ucap Sandra
"Yups, Devan setuju jadi partner dansa gue..."
"Ayo, cabut". Ucap Intan, Sandra mengangguk lalu melambaikan tangan pada Naya, "See you".
"Naya yakin kok Devan ngga akan mau dansa sama Intan"
Naya memasukkan kertas undangan tersebut kedalam sakunya dan kembali melangkah menuju kelasnya
"Hey, jelek?".
Naya menoleh saat telinganya mendengar ucapan seseorang yang ada disisi kirinya
"Devan?".
"Devan juga setuju jadi partner dansa gue", perkataan Intan terlintas diingatannya, membuat Naya semakin merasa sedih terlebih ia bertemu Devan saat ini
"Haha, dipanggil jelek nengok. Dari mana lo?".
"Toilet".
"Udah mak-"
"Naya mau ke kelas".
Belum sempat Devan menyelesaikan ucapannya, Naya sudah memotongnya lebih dulu dan segera beranjak dari posisinya, meninggalkan pertanyaan yang seketika memutar diotaknya, "Tu anak kenapa lagi?"
Jari Devan menyisir rambut ke belakang, dengan tatapan yang masih memandang punggung Naya yang semakin menjauh
---
"Ok, selesai untuk hari ini. Tepuk tangan buat kerja keras kita semua". Ucap Devan didepan para anggota OSIS dan murid-murid yang berpartisipasi dalam acara ulang tahun sekolah mereka
Seluruh murid pun tampak bertepuk tangan riang gembira meski raut wajah lelah tersirat diwajah mereka,
"Besok geladi resik, jangan sampai ada yang telat. Fokus sama tugas dan perannya masing-masing dan berikan yang terbaik untuk acara nanti. Mungkin itu aja dari gue, silahkan kembali kerumah masing-masing dan selamat beristirahat".
Seluruh murid pun bubar meninggalkan aula, begitu pun dengan Devan. Setelah mengambil tas nya, Devan merogoh ponsel disaku celananya, ia baru ingat kalau sang mama sempat menghubunginya namun karena kesibukan, panggilan masuk dari mamanya itu tidak sempat dijawab olehnya
"Ma, maaf Devan baru selesai, tadi nelfon ada apa, ma?"
"Ya ampun, ada-ada aja. Ada yang luka ngga, ma?"
"Lutut sama telapak tangannya luka. Tapi udah mama obatin kok..."
"Ini Naya masih nangis, kamu kapan pulang sih? Udah jam delapan loh"
"Ini Devan mau pulang, ma. Tapi Devan mau mampir ke minimarket dulu, Devan udah janji mau beli ice cream buat Naya"
"Oh, yaudah. Hati-hati dijalan, sayang"
"Iya, ma"
Devan memutus sambungan telfonnya sambil tersenyum tipis, "Haha si cengeng, jatoh dari sepeda aja nangis"
Dua puluh menit perjalanan. Devan sudah tiba dirumah, ia bergegas memasuki kamarnya, sudah tidak sabar rasanya untuk menemui istrinya itu. Naya terlihat duduk disofa, Devan segera berlutut dibawahnya, menatap luka yang didapat Naya saat menaiki sepedanya
"Sakit ya?".
"Iya, tangan Naya juga sakit". Rengek Naya seraya menunjukkan luka gores ditelapak tangannya, Devan pun meraih tangan Naya, memperhatikan luka tersebut dengan seksama
"Kok bisa jatoh sih? Ngebut naik sepedanya?".
"Engga, Naya pelan-pelan kok. Naya juga dipinggir, tapi Naya ketabrak anak-anak dari belakang". Jawab Naya, Devan mengangguk paham, ia meniup-niup luka ditelapak tangan Naya dengan ibu jari yang ia gunakan untuk mengusap sekitar luka tersebut
"Masih sakit ngga?".
"Masih. Perih banget, Devan".
"Gapapa, ditahan aja. Ini sembuhnya cepet kok".
Devan mengecup punggung tangan Naya sebelum bangun dari posisinya, "Gue mandi dulu ya". Ucap Devan seraya mengacak puncak kepala Naya
Setelah membersihkan diri, ia kembali menghampiri Naya yang masih duduk di sofa, tidak lupa ia juga membawa ice cream yang sempat ia beli untuk Naya. Naya terlihat senang, senyum lebar mengembang dibibirnya. Devan pun menyuapi ice cream tersebut untuk Naya,
"Devan keliatan capek banget?". Tanya Naya saat menatap lekat wajah Devan dihadapannya itu
"Iya, hari ini padat banget, prepare terakhir, besok tinggal geladi resik".
"Waw. Devan udah kerja keras buat sekolah, tapi Naya suka sedih liat Devan diomelin guru..."
"Banyak juga yang ngehujat, katanya Devan itu babu sekolah".
"Gapapa, itu resiko Nay, udah biasa buat gue".
__ADS_1
Devan menghentikan ucapannya, tangannya pun juga berhenti menyuapi Naya, membuat Naya menatap heran dengan kepala yang ia miringkan, "Kok Devan diem? Naya salah ngomong, ya?"
"Engga, kok. Gue boleh minta sesuatu ke lo ngga? Tolong isi energi gue, daya gue habis, nih. Capek banget".
"Hah?". Mulut Naya terbuka dengan raut wajah kebingungan, "Isi energi? Maksud Devan apa?".
"Kiss me". Pinta Devan seraya tersenyum, namun Naya terlihat semakin kebingungan, kini alisnya saling bertautan, "Isi energinya pake chargeran HP?".
"Hahahahahaha". Tawa Devan pecah
"Ya kali gue kissing sama charger HP. Yang bener aja, Nay?".
"Tapi charger kan buat isi daya".
"Ya ngga gitu juga. Sini deh, deketan. Greget banget sama lo".
Naya menurut, ia mendekatkan wajahnya kearah Devan. Devan pun mengecup bibir Naya sebagai awalan sebelum melu mat habis bibir tipis istrinya itu dengan durasi yang cukup lama
Setelah puas mendapatkan apa yang ia mau, Devan melepas pagutan bibir mereka, ibu jarinya mengusap lembut bibir Naya yang basah karena ulahnya
"Thanks, energi gue udah full, gue mau ngerjain PR. Lanjutin sendiri ya makan ice cream nya".
Naya tidak menjawab Devan, ia memperhatikan Devan yang duduk dikursi belajar untuk mengerjakan tugas sekolahnya
"Kasihan Devan, Naya bantuin ngga, ya?"
Naya tampak berfikir sejenak, ada rasa ingin membantu Devan mengerjakan tugas sekolahnya yang tertunda akibat kegiatan organisasinya. Namun Naya juga sadar kalau ia hanya akan menambah beban Devan, karena Devan tidak pernah mau menerima bantuan Naya, itu yang Naya fikirkan
"Naya coba dulu, deh"
"Eum..."
"Devan?". Panggil Naya dari arah sofa, Devan pun menoleh, "Apa?".
"Mau Naya bantuin ngerjain PR ngga?".
"Engga. Ngga usah, gue ngga mau ganggu lo yang lagi makan ice cream".
"Engga, kok, Devan ngga ganggu Naya. Naya bantuin, ya?".
"Ngga usah, sayang. Duduk aja yang anteng. Udah malem, otaknya jangan dipake buat mikirin pelajaran terus, istirahat".
"Tapi Devan mikirin pelajaran". Gumam Naya
"Gue ngga mau ngebebanin lo dengan tugas gue, Naya, istriku. Biar gue kerjain sendiri".
"Yaudah, deh".
Pukul sebelas malam, Devan keluar dari kamar setelah menyelesaikan tugas sekolahnya, ia bergabung bersama Willy dan Dilan yang sedang menonton film laga diruang keluarga
"Eh, belum tidur kamu?". Tanya Willy
"Belum, pa. Baru selesai nugas". Jawab Devan
"Naya udah tidur?". Tanya sang papa lagi. Dijawab anggukan oleh Devan
"Oh, iya. Kamu kan sebentar lagi lulus SMA, gimana rencana kamu kedepannya? Lanjut kuliah atau fokus jadi papa muda?". Pertanyaan sang papa sukses membuat Devan menautkan kedua alisnya, "Fokus jadi papa muda gimana maksudnya, pa?".
"Yaa, fokus sama keluarga kamu, fokus ngasih cucu buat papa sama mama, haha".
"Santai aja lah, pa. Devan mau kuliah dulu".
"Bener tuh, urusan anak pelan-pelan aja. Ya kali gue masih jomblo, lo udah gendong anak". Ucap Dilan menatap Devan
"Makanya cari pacar dong, terus menikah. Atau kalau perlu langsung menikah aja?". Ucap Willy
"Kalem pa, kalem". Ucap Dilan
"Oh iya Van, kamu sudah pernah ketemu Zidan kan? Sepupunya Naya?". Tanya Willy pada sang anak
"Hmm? Yang kuliah di Inggris itu?".
"Iya, tapi jangan salah, sekarang dia sudah di Indonesia, dia pindah kuliah kesini".
"Loh, papa tau dari mana?".
"Kemarin papa ketemu dia di supermarket waktu nemenin mama. Rupanya dia masih ingat sama papa..."
"Dia nanya kabar Naya, katanya dia punya rencana mau ajak Naya tinggal bareng. Kan dia tau kalo ayah sama bundanya sudah ngga ada".
Seketika alis Devan tertaut mendengar ucapan sang papa. Ia terkejut dengan rencana sepupu dari istrinya itu yang ingin mengajaknya tinggal di satu rumah yang sama
Tentu Devan tidak menyukai hal ini. Devan mengetahui Zidan, ia sudah bertemu dengan sosok itu beberapa kali selama ia menjalin hubungan dengan Naya. Dan yang Devan tahu, Zidan memiliki perasaan khusus pada Naya
Mendengar Zidan kembali ke Indonesia, membuat Devan harus berhati-hati dalam menjaga Naya. Istri polosnya itu tidak mengerti perasaan yang dimiliki Zidan selain perasaan ke sesama saudara
"Naya istri Devan, Naya ngga akan tinggal sama siapapun selain sama Devan". Ucap Devan
"Duh, gini nih kalo suami udah posesif". Sindir Dilan
"Haha, adek kamu kayaknya takut Zidan deketin Naya lagi". Ucap Willy
"Yoi, pa, hahaha". Ucap Dilan mengangguk setuju
---
__ADS_1
Bersambung
jangan lupa likenya