Children Of Thalia

Children Of Thalia
Killing Time


__ADS_3

^^^Selasa, 9 Juni 2043.^^^


^^^SMP Polaris, Kota Athem^^^


^^^4 hari sebelum ujian masuk Helder^^^


Siang ini panas, benar-benar panas. Matahari bersinar terik dari kemarin, seolah hujan tak henti selama seminggu ke belakang adalah cara awan untuk menghabiskan pasokan air mereka. Musim panas, di hari selasa yang padat, dengan mentari terik dari pagi hingga sore. Apa yang bisa menjadikan hari ini lebih buruk?


Tentu saja, mengenakan pakaian olahraga dan lomba lari dengan saudara sepanti yang tiba-tiba melakukan taruhan untuk traktir makan siang.


"UWOOOOOOOOOOOHH!!!!!!!!!!!!"


Jeritan Val terdengar sampai ujung lapangan, tentu saja begitu memekakkan telinga untukku yang hanya terpaut sekitar tiga puluh meter darinya. Lagipula apa-apaan dia? Berteriak begitu ketika lari hanya akan membuang-buang energi. 


"FINISH!!!!!"


Seruan Lee terdengar bersamaan dengan kaki rampingku yang melewati garis putih titik awal kami berlari. Aku berhenti seperti mobil yang mengerem, sementara di belakangku, Val, berhenti seperti truk. Dia mengambil jarak yang lebih jauh untuk berhenti, lalu langsung bertumpu pada lutut seolah sudah lari marathon.


"Terpaut satu detik, cukup mengejutkan." Kata Lee sambil melihat stopwatch di ponselnya. "Whoa, sebelas detik. Aku heran kau tidak dipanggil untuk klub lari, Theo."


"Tunggu, sebelas detik?" Val membalas sebelum aku sempat berbicara. Dia lalu menatapku tak percaya, mungkin agak kecewa juga. "Theo, itu rekor daerah, 'kan?"


"Klub lari lebih cepat dari itu." Sahutku sembari berjalan mendekati Lee. Aku lihat ponselnya, lalu menyeringai jahil. "Tiga belas detik? Tidak kusangka, Val."


Val mengerutkan dahi. Kesal, jelas. Bukan cuma karena dia kalah dariku, tapi dia tahu kalau sejak awal aku tahu aku bisa menang. Kecepatan bukanlah titik terbaiknya. Dia ini truk, dia tidak berfokus pada kecepatan, tapi kekuatan. 


"Argh, sial!" dia mengumpat sambil menghantamkan kakinya ke tanah, lalu mendatangiku dengan ekspresi yang tak berubah. Aku mengeluarkan dompet, mengambil selembar uang lima steri sebelum Val membuka telapak tangannya di depan. "Yang biasa, 'kan?" tanya laki-laki marah itu.


"Ya. Empat, ya."


"Ugh, baiklah."


Val menarik uang itu dariku, kemudian berbalik sambil misuh-misuh. Aku tidak tahan untuk tidak menyeringai dan memanasinya lebih jauh.


"Hei, kau yang duluan mulai taruhan, 'kan?"


"BERISIK!!!"


Dan dia berjalan cepat menjauh. Aku terkikik sambil menutup mulutku dengan lengan sedikit. Kebiasaan. Itu karena wajahku cukup menyeramkan ketika menyeringai, setidaknya itulah yang aku dengar ketika SD.


Aku berkacak pinggang, menatap langit dengan mata yang menyipit. Silau, tapi warna biru cerah itu seperti mimpi. Awan hitam menutupinya selama seminggu kemarin, sampai-sampai aku merasa sedikit aneh tidak melihat awan siang ini. Aku menghela panjang sambil bertumpu pada lutut, lalu merobohkan diri ke tanah lapang yang kering dan panas.


"Aku kira taruhan kalian itu soal traktir." Kata Lee yang juga duduk di sebelahku. 


"Naah, aku punya banyak uang minggu ini. Baru gajian kemarin."


"Sungguh? Dapat berapa kali ini?"


Aku tidak langsung menjawab, lagipula kenapa dia harus bertanya? Maksudku, tidak salah, tapi aku tidak mau membahasnya. 


"Mungkin dua kali traktir di restoran mewah."


"Bagus, kalau begitu lakukan."


Suara itu bukan dari Lee. Itu suara dalam laki-laki. Aku mendongak, Lee menoleh. Orang itu di belakang. Walau belum melihatnya, aku tahu suara siapa itu. Menyebalkan ketika melihat wajahnya yang selicik ular itu tersenyum saja tanpa hawa kehadiran apapun di belakangku.


Aku memejamkan mata, menarik napas, lalu mengeluarkannya perlahan. Kedua tanganku diletakkan di kedua sisi kakiku. Dengan cepat, aku luncurkan kaki kiriku ke belakang. Gerakan yang terbaca, tentu saja. Orang itu melompat ke belakang. Dengan cepat aku melompat bangkit, lalu berdiri tegap dengan waspada.

__ADS_1


Yah, bukan berarti aku harus waspada juga, tapi aku kira ini adalah salam terbaik untuk orang sepertinya.


"Tidak lelah-lelah kau menemuiku, Ansel."


Orang itu tersenyum, menyebalkan. Dia ini ular, tidak kurang, tidak lebih. "Kau tampaknya lelah menemuiku, Theo."


Kami saling menatap, memelototi mata masing-masing. Begitu tajam dan mengintimidasi. Tidak ada kata-kata, tapi aku merasa seolah kami sedang berkomunikasi, hingga Lee memecah itu semua.


"Sudahlah, kau bodoh." Lee menegurku dengan tamparan ringan ke kepala, membuat fokusku hilang. Segera aku menoleh padanya. Dia menunduk sopan dengan senyum yang... aku boleh bilang itu memikat, untuk orang yang tidak tahu bagaimana sifat aslinya. "Lama tak jumpa, Senior Ansel. Maaf, Theo memang tidak tahu bagaimana caranya sopan."


Hah? Aku? Tentu saja aku tahu, ditambah aku juga tahu kapan dan untuk siapa itu digunakan dengan benar.


"Hei, kenapa menggunakan bahasa sopan padanya?"


Tapi Lee malah menginjak kakiku kuat setelah aku bertanya. Matanya melirik apdaku, mata galak pembunuh orang. Dia tidak berkata apa-apa, tapi aku bisa dengar kata DIAM hanya dari matanya. Aku memalingkan pandangan, lebih baik diam saja kalau sudah begini.


"HAHAHAH, Itu benar, itu sungguh benar." Orang itu mendatangiku. Tubuhnya yang tinggi menghalangi sinar matahari ke tubuhku, tapi tidak sedikit pun aku senang melihat seringainya yang menutup langit biru. "Ajarkan anak ini sopan santun lain kali, ya. Kelihatannya dia perlu belajar lebih banyak."


...... Oh, persetan.


"HEAAAAA!!!"


Aku mengayunkan kaki ke depan. Dia melompat mundur, lagi. Baiklah, terserah padanya. Aku ambil langkah maju, mengayunkan siku ke atas. Orang itu menahannya dengan dua tangan. Hah, dia membuat bagian bawahnya terbuka. Ketika aku merasakan kakiku menapak daratan lagi, aku ayunkan tendangan pada lutut. Orang itu ambruk ketika tendanganku kena telak. Satu tendangan lagi aku ayunkan ke kepala.


Namun, seringainya pada waktu sepersekian detik itu membaut perhatianku teralihkan seketika. Sadar-sadar, pemuda itu sudah mencengkeram lengan dan mendorong bahuku ke belakang. Kaki kirinya menyepak kaki kiriku yang tengah bertumpu ke tanah, kemudian membantingku lumayan keras. Hantaman membuat punggungku sedikit tersentak, tapi untungnya aku mendarat di atas gundukan tanah yang tidak terlalu padat. Orang itu langsung berdiri kembali sambil menepuk-nepuk lututnya, sementara aku masih tersungkur.


"Salam baik juga untukmu, Theo." Kata orang itu. Aku ingin memukul wajahnya, tapi dia mengulurkan tangan. Heh, lumayan juga.


Aku menerima ulurannya. Dia menarikku bangkit berdiri lagi. Pakaianku kotor, tapi untungnya kaos olahraga ini tidak berwarna putih. "Kau sengaja membuatku marah, ya? Agar jalan berpikirku kacau."


Orang ini..... tapi, oke, memang benar aku tidak mengandalkan teknik tertentu saat bertarung. Semua aku serahkan pada insting.


"Aku penasaran apa kau memang punya teman."


"Eh, kau bukan temanku?"


Huh?


"Haa?"


Orang itu terkikik menyebalkan. Lebih menyebalkan lagi, Lee dibelakangku juga tertawa sambil menutup mulutnya.


"Kau lihat, Lee? Theo malu-malu adalah pemandangan yang langka."


"Memang hebat, Senior Ansel. Si anjing hitam galak seketika berubah menjadi anak anjing jinak. Oh, aku merasa ingin mengelusnya sekarang."


"Lakukan dan aku gigit tanganmu." Balasku. Lee membantuku membersihkan baju, tapi tanah tetap menempel di beberapa bagian hingga aku pikir biarkan sajalah, buang-buang waktu. "Lagi pula, sejak kapan kalian akrab begitu? Aku pikir ini pertama kalinya lagi kalian bertemu."


"Senior Ansel membantu kita keluar dari masalah yang lebih panjang waktu itu. Kami dimintai keterangan dan tawaran perlindungan, tapi atas nama kami, dia menolak semuanya." Jawab Lee. Huh, tunggu, dia tidak merasa curiga sedikit pun?


"Kau tidak merasa aneh? Bukankah lebih baik kalau kau menerima program perlindungan?"


"Memang, tapi....." Lee memalingkan pandangan, berpikir sejenak, lalu menatapku lagi. "Aku hanya berpikir kalau kau tidak akan setuju program itu."


Aku tidak mengerti, sama sekali. Lebih baik aku memecahkan kode error pemrograman daripada memahami seorang gadis.


"Kau itu bodoh, jelas tidak akan paham." Kata Ansel lantang. Aku tidak marah karena sebutannya, Lee biasa menyebutku begitu yang mana mungkin dari alasan yang sama. Aku mengerti, tapi entah kenapa lumayan kesal juga jika mendengar itu diucapkan seorang pemuda menyebalkan yang bisanya hanya menggangguku.

__ADS_1


"HEEI, THEOO!!"


Val berlari menghampiri. Kantong plastik di tangannya penuh oleh roti. Sesuai pesanan, atau mungkin tidak karena dia memakan waktu cukup lama untuk membelinya.


"Habis?" tanyaku setelah Val berhenti berlari.


"Habis....." dia memberikan kantong plastik itu sambil terengah-engah. Kehabisan napas? Orang sepertinya? Agak mengherankan juga. Dia mengangkat wajahnya, lalu melirik Ansel di samping. "Oh, ada Ansel."


"Hei, Val!" Sapa Ansel. Tunggu, dia juga sudah akrab dengan Val?


"Bagaimana kau bisa dekat dengan saudara-saudaraku ketika aku tidak mengetahuinya?" Tanyaku sambil mengeluarkan dua bungkus roti daging. Tidak sesuai pesanan, tapi tidak masalah.


"Aku ekstrovert, tidak sepertimu." Jawaban singkatnya selalu membuatku kesal. Sekarang aku baru sadar. Dia juga memegang kantong plastik yang lebih berat. Dia mengeluarkan sebotol minuman olahraga, lalu melemparkannya pada Val. "Minum dulu, hari ini lebih panas dari biasanya.


"Oh, iya. Terima kasih." Val membuka tutup botol dan langsung meneguk air di dalamnya hingga habis setengah dalam waktu singkat. Wajahnya terlihat seolah hidup kembali. "Haaaaah.... segar kembali."


Ansel juga melemparkan sebotol minuman padaku, dan memberikannya secara biasa pada Lee. Oh, baiklah. Mungkin aku sudah terlalu terbiasa pada sifat-sifat buruknya.


"Tangkap." ucapku sembari melempar sebungkus roti. Untung aku minta Val beli empat. Tadinya aku ingin makan dua, tapi tak apalah.


Ansel menangkap roti itu tepat. "Trims." Ucapnya sambil membuka bungkus roti.


Aku tidak langsung makan. Aku diam sejenak, berpikir sesuatu, lalu menatap Ansel yang malah melahap roti itu seperti orang lapar. "kalian tidak penasaran bagaimana orang ini bisa masuk SMP?"


Val dan Lee terpaku tiba-tiba, lalu ikut menoleh pada Ansel. Sungguh? Mereka lupa kalau sekarang kita sedang di sekolah? Walau memang ujian sudah selesai, tapi ini belum masa libur, 'kan?


Setelah semua mata menatapnya, Ansel meneguk minuman dahulu, lalu menjawab santai. "Kenapa bingung? Tentu saja aku melompat pagar."


"Lee."


"Tentu saja."


Lee segera meraih ponselnya, mencoba menghubungi guru. Ansel dengan santai merentangkan tangan.


"Tidak secepat itu." Dia mungkin menggunakan gift. Seingatku kekuatannya itu manipulasi gelombang, tak peduli apakah gelombang mekanik atau elektromagnetik. Jelas dia bisa mengacaukan sinyal ponsel, tapi aku adalah lawan yang buruk.


"Tidak secepat itu, bagimu." Aku menyentuh bagian garis antena ponsel Lee. Kekuatanku sedikit aktif, tapi tidak sampai terlihat pita-pita itu karena seranga yang dipantulkan terlalu lemah.


"Oh, ada sinyal." Kata Lee. Mendengarnya, Ansel benar-benar kepanikan.


"TUNGGU-TUNGGU! Tunggu sebentar, oke. Aku tidak datang tanpa alasan."


"Apa itu alasan yang cukup masuk akal untukmu melompat pagar sekolah?" Tanya Val. Wah, matanya sekarang sama galaknya dengan Lee.


"Uh, aku tidak tahu. Kenapa tidak mencoba dengar?" Dipelototi semua orang, Ansel mundur beberapa senti. Dia duduk sopan, membungkukkan punggungnya sedikit. "Maaf....."


Aku menghela napas panjang. Mungkin aku memang sudah terbiasa dengan sifat buruknya.


"Ini soal ujian masuk, benar?"


"Tepat." jawab Ansel. Dia duduk bersila lagi seperti sebelumnya. "Ini hanya bocoran, khusus untukmu. Aku memiliki informasi dari orang-orang OSIS yang mendapat salinan dokumen pendaftaran peserta ujian masuk Helder tahun ini. Banyak anak konglomerat mendaftar, tapi aku rasa kau hanya akan tertarik pada satu nama."


"Dan.... siapa itu?"


Seringai Ansel berubah. Kali ini terasa lebih dingin. Dia lalu menjawab, "DiMichelle."


...* * * * *...

__ADS_1


__ADS_2