Children Of Thalia

Children Of Thalia
Aliansi -1


__ADS_3

Sewaktu si pengguna debu menyerang, aku bisa melihat jelas arah serangannya.


Bisa melihat jelas sosoknya.


Bisa melihat jelas tinjunya yang mengarah padaku.


Lalu kenapa ketika aku membalas, pukulan dan tendanganku hanya terasa mengenai angin?


Apa aku benar-benar melihatnya menyerang?


Itulah pertanyaan yang langsung muncul di benakku sewaktu melawan si debu. Pertanyaan itu juga langsung terjawab begitu aku mengingat ulang apa yang terjadi sebelumnya. Ada satu orang lagi yang menjadikan kejadian ini mungkin.


Haris Dassler. Harusnya aku tidak melupakan orang itu. Si pengguna ilusi yang berhasil mengelabui beruang timur. Sekarang aku mengerti. Kekuatan aslinya adalah "membelokkan cahaya yang masuk ke mata, sehingga bayangan yang dilihat mata tidak sesuai dengan kenyataannya". Itulah kenapa serangan beruang waktu itu meleset, karena apa yang dilihat monster itu sedikit bergeser dari apa yang sebenarnya terjadi.


Kekuatannya tidak sekuat itu, tapi jelas mengganggu. Dia cocok sebagai support, bukan penyerang. Jika dia bisa menggunakannya, maka akan mematikan.


Tapi aku tahu bagaimana mengatasinya. Semua gift memiliki kelemahan. Untuk urusan ini, aku ingat pemuda itu mesti mendekati kami sewaktu di bar untuk mengganggu pergerakan si gadis DiMichelle. Aku melihatnya sosoknya sekilas di balik jendela. Itu juga terjadi sewaktu melawan betuang timur, dia mesti keluar dahulu dari persembunyian selama mengaktifkan gift-nya.


Maka dari itu, tempat persembunyiannya tidak akan jauh dari sini. Dia mungkin juga memiliki batas jangkauan serang, yang mana semakin menguntungkanku.


Sekarang kita lihat, si pengguna debu sudah mengambil napasnya kembali, bersiap bertarung lagi.


"Gadis DiMichelle, kau ragu karena takut terdiskualifikasi, bukan?"


Dia menatapku, tapi dia memang jujur.


"Kau pasti tahu aturannya. Aturan bodoh yang tidak pandang bulu."


"Yah, bukan berarti serangan fisik dilarang, benar?"


"Itulah kenapa aku bilang aturan bodoh."


"Bagus, kita kalahkan dia sekarang."


Aku mengangkat tangan tinggi-tinggi, mengacungkan telunjukku pada gedung yang agak jauh di seberang. Aku tarik napas dalam.


"WILL, SI PENGGUNA ES ADA DI SANA, JATUHKAN DIA KE TANAH!!!!!!!!!!"


Bahkan sebelum aku benar-benar selesai berteriak, panah angin cepat melesat mengenai atap bangunan kayu yang sebagiannya tinggal puing-puing. Erangan terdengar dari sana, lalu suara gedebuk sesuatu yang jatuh.


Jangan mereka pikir aku tidak memerhatikan selama pertarungan tadi.


Tidak perlu membuat mereka menunggu. Aku langsung berlari menyerang si pemuda debu di depan. Dia tampak terkejut sejenak ketika mendapati rekannya yang mengurus serangan jarak jauh sudah ditemukan, tapi matanya cepat bergulir kembali padaku.


Pertahanannya bagus ketika aku mengayunkan tangan. Aku yakin momentum yang aku buat cukup untuk membuat pukulanku terasa tajam, tapi pertahanannya dengan menyilangkan kedua lengan benar-benar terasa seperti tembok.


"Refleks yang bagus."


Dia berdecak marah, tapi langsung menyeringai.


"Kau punya insting yang mengerikan."


Angin berputar di tubuhnya, menyingkapkan rambutku yang panjang. Lengan, dada, kaki, cepat semuanya diselimuti butiran-butiran pasir yang melayang dari tanah. Tiba-tiba saja tanganku terdorong ke depan, melewati tubuhnya seperti melewati hologram. Aku tidak terkejut, dia bisa mengubah tubuhnya menjadi debu. Aku melihat bagaimana dia beraksi sewaktu gadis DiMichelle itu menyerang.


Pemuda itu berdiri di belakangku dengan tubuh yang masih diselimuti debu. Wajahnya menyeringai tipis, tapi aku bisa rasakan amarah memancar dari matanya.


"Siapa kau? Aku tidak ingat orang itu memberi tahu soal anak pengganggu."


Orang itu 'kah?


"Hanya peserta yang kebetulan lewat, kebetulan bertemu dengan gadis berambut biru di belakang, kebetulan terlibat. Kau lihat, kalian menyerangku duluan sewaktu di bar, ini hanya bentuk pertahanan."


"Begitukah? Maaf kalau begitu."


Wah, dia meminta maaf? Tidak aku bayangkan dari sosok penjahat sepertinya. Atau apakah aku terlalu terpengaruh cerita fiksi?


"Sejujurnya, ini sungguh membuatku penasaran. Untuk apa seseorang mengincar orang lain di ujian masuk seperti ini? Kalian tidak akan lulus, membuang-buang waktu, dan apa efeknya pada target?"

__ADS_1


Mencoba mengulur waktu, jelas. Tapi mereka tidak akan bisa menebak siapa yang aku beri waktu tambahan untuk bersiap. Rencanaku sudah rampung, gadis DiMichelle itu siap bertarung, Will juga aku yakin tengah menarik panahnya. Mengulur waktu di sini justru menguntungkan pihak mereka, tapi memang itulah yang aku incar.


Si pemuda debu ini, mau-tak-mau akan menerima pancinganku.


"Kau tidak perlu tahu terlalu detail, kau hanya peserta dan kami juga tidak disuruh untuk melakukan apapun kecuali pada gadis di belakang."


Aku tahu dia akan memakan umpan. Dia tahu ini pancingan, tapi ini juga menguntungkannya.


"Disuruh.... apa ini soal seseorang bernama Darvan?"


Dahinya berkedut. Tepat sasaran, tapi memang siapa orang Darvan ini?


"Aku bilang tak perlu tahu terlalu jauh. Kami hanya mengincar gadis itu. Apa pun alasannya, itu bukan urusanmu. Bukankah akan lebih baik kalau kau serahkan saja gadis itu? Bukan berarti dia seseorang bagimu, benar? Dia hanya peserta asing yang terlibat masalah, kau tidak punya urusan dengannya."


Ha, tidak kusangka dia akan memberikan tawaran receh khas villain seperti itu. Oh, aku tidak tahan ingin tertawa. Tidak kusangka aku akan benar-benar mendengar kata-kata itu sepanjang hidupku.


Jawabanku sudah jelas, aku pasang kuda-kuda.


"Maaf, kawan. Serangan bola api kalian tadi terasa sakit, kau tahu? Aku masih punya sedikit dendam."


Pemuda debu itu memejamkan mata, seolah kecewa tapi juga tahu kalau ini akan terjadi. Dia pasang juga kuda-kuda.


"Begitu, ya. Kalau begitu maaf, kami anggap kau sebagai pengganggu."


"Aku hargai itu."


Orang itu masih pula tidak sabaran. Dia langsung melompat untuk menyerang begitu konversasi kami selesai. Tubuh debunya membuat dia lebih ringan, kecepatannya luar biasa. Aku bergantung pada refleks, menyilangkan kedua tangan untuk bertahan.


"Relfeks yang bagus." Ujarnya, mungkin mengejekku.


Aku raih lengannya cepat, ingin membantingnya ke belakang. Namun, lengannya langsung saja hilang begitu aku mencoba mengangkatnya. Dia berubah lagi menjadi debu. Lawan yang merepotkan.


Tubuhnya benar-benar menghilang, berubah menjadi debu yang melayang. Apa yang aku lihat hanya kepala dan kedua tangannya yang diselimuti kabut kecokelatan. Dia tampak seperti hantu.


Sosok "hantu debu" itu melaju menyergapku. Aku hanya terdiam.


"MERUNDUK!!!!!"


Teriakan itu terdengar dari belakang. Aku merunduk, kemudian erangan terdengar beserta suara hantaman yang kuat. Ketika aku mengangkat kembali wajah, rambut biru yang lebat terlihat di depan mataku.


"Oh, kau." ujarku tanpa sadar. Gadis itu melirik padaku, kesal.


"Setidaknya kasih tahu rencananya, kau bodoh!!"


Hahah, benar juga.


"Aku sering disebut begitu." Aku bangkit kembali. Si pemuda debu itu tersungkur. Begitu ya. Dia harus berada dalam kondisi "padat" untuk bisa menyerang. Karena itu jika serangan yang datang adalah serangan kejutan, dia tidak bisa menghindar cepat. "Sederhananya, serang dia sampai aku bilang berhenti."


Gadis itu melotot tak percaya. "Itu rencanamu?"


"Kau punya yang lebih baik?"


"........ Semoga ini bekerja."


Yeah, sudah aku duga. Dia lebih ke otak otot. Tidak masalah, dia kuat.


Gadis itu maju duluan, berlari cepat menuju si pemuda debu. Langkah yang jelek, aku jujur, tapi tidak terlalu buruk. Aku mengikuti di belakang.


"URYAAH!!!"


Dia lakukan tendangan tajam seperti tombak, hanya untuk menyadari kalau kakinya lancar melewati tubuh debu si pemuda. Dia berdecak kesal, lalu dengan cepat mengayunkan lagi kaki satunya untuk tendangan belakang ke kepala. Hasilnya jelas, tidak berguna.


Pemuda itu cepat meraih kaki terangkat si gadis, lalu menariknya kuat dengan tubuh yang memadat. Segera dia berbalik, melemparkan gadis itu ke arahku.


Eh?


"Uwah!"

__ADS_1


Berat tubuh terlempar gadis itu membuatku berhenti berlari. Aku rasakan kepalanya membentur dahiku, membuatku hilang fokus sejenak. Detik berikutnya aku sadar hantaman dari depan membuatku semakin terdorong ke belakang. Ketika aku membuka mata setelah tersungkur di atas jalan batu, si pemuda debu itu masih mempertahankan pose akhir tendangannya.


Dia tahu bagaimana cara menggunakan gift-nya. Dia tangguh.


"Minggir!" Aku mendorong tubuh wanita itu dari atas perutku. Dia berat, otot-ototnya juga keras.


"Serangan kita tidak berguna." Ujar gadis itu.


Dia serius baru sadar?


"Ya, aku melihatnya sendiri."


"Kau punya tips?" tanya si gadis.


"Serangan kejutan akan berhasil, tapi apa kau bisa?"


"Jika kau percaya."


Sial.


"Celakalah aku."


"Maka berikan tips lain."


Biarkan aku berpikir sejenak. Ada satu lagi sebetulnya, aku ingin mencoba hal baru lain pada si debu itu.


"Kau tahu, aku belum pernah mencoba kekuatanku pada tipe Enhancer sepertinya."


"Apa kekuatanmu?" gadis itu menoleh penasaran.


"Pemantul serangan."


"Terdengar efektif." Dia menyeringai. Sungguh aku kesal.


"Tidak, terdengar buruk."


"Maka kita lakukan."


Cepat gadis itu bangkit kembali, berlari menyerang dengan pola yang sama. Dia punya rencana, benar? Mari kita asumsikan seperti itu.


Gadis itu, sama seperti yang tadi, dia menyerang dengan kakinya. Percuma, benar. Aku bahkan bisa meohat raut wajah terganggu si pemuda debu. Apa itu rencana yang bagus?


Segera aku bangkit juga, berlari ke arah pertarungan itu. Si gadis yang melihatku mendekat tiba-tiba tersenyum.


Dia.... dia sengaja membuat si debu menangkapnya! Dia membuat si debu itu meraih tangan yang dia ayunkan asal. Begitu. Aku mengerti. Gadis itu mencoba untuk membuat si pengguna debu kesal agar mengulangi gerakan yang sama.


Dia memberi kesempatan ketika si debu lengah. Itu memang rencana yang bagus.


Gadis itu terlempar lagi. Si pemuda mengulangi gerakan yang sama. Dia mungkin mengira refleks yang aku punya akan memaksaku untuk menangkap tubuh si gadis. Maaf, tapi sebelumnya pun aku tidak mencoba.


Si pemuda mengejar dari belakang, bersiap menyerang. Setelah aku menghindari si gadis, aku rentangkan tangan. Raut wajah terkejut itu memang membuatku puas.


Ketika tinju kami saling beradu, pita-pita bercahaya itu mengembang lagi. Namun, kali ini pita itu tidak berkumpul di punggung tanganku. Pita-pita itu langsung merayap menuju si pemuda debu. Itu melesat menuju tengkuknya.


Saat itu, aku merasa tinjuku lebih berat, terasa seperti benar-benar meninju sesuatu yang padat. Ini berhasil!


Tinju di tangan kanan aku tarik segera, membuat pemuda debu itu terdorong lebih maju ke depan. Untuk tangan lainnya, aku kepalkan segera.


Tinju kiri aku luncurkan langsung mengenai perut si pemuda debu. Dia tampak terkejut, tampak kesakitan, tampak kebingungan. Kemudian, dia tersungkur ke belakang sembari mencengkeram perutnya. Matanya yang terbelalak itu menatapku yang masih berdiri dengan tinju kiri yang telah diluncurkan.


"Bagaimana......."


Pemuda itu tak melanjutkan kata-katanya. Dia bangkit kembali, menarik napas dalam, kemudian berteriak sekencangnya.


"TARGET BERUBAH, HABISI PEMUDA BERMABUT HITAM!!!!!!!!"


Keputusan tepat untuk itu. Sekarang akulah targetnya.

__ADS_1


...* * * * *...


__ADS_2