Children Of Thalia

Children Of Thalia
Taruhan


__ADS_3

Aku berteriak dalam hati, menguatkan tekad untuk melakukan hal yang nekat. Ketika beruang itu menyerbu dahan tebal di atas tanah, aku berlari mengitarinya sembari tetap bersembunyi di balik pepohonan lebat. Degup cepat jantungku membuat pandanganku terasa buram. Terasa melayang, terasa tak nyata. Napas tersenggal-senggal tak membantu. Aku kunci pandanganku fokus ke depan, mencoba mengabaikan makhluk yang berlari ke seberang.


Dugaanku benar, ada seseorang di sana. Tersungkur berlumuran darah, menekan luka koyakan besar di lengan kirinya. Ketakutan, pucat, putus asa. Dia sudah kehilangan banyak darah. Cepat aku meluncur, menghampiri dan membekap mulutnya erat.


"Kalau ingin hidup, ikutlah!" titahku singkat. Dia mengangguk. Aku lepaskan tanganku dari wajahnya, lalu bergerak mundur cepat dan senyap bersama pemuda terluka di sebelahku.


Agak jauh jarak kami ambil, bersembunyi di balik pohon besar dan tebal, lalu bersandar sejenak mengambil napas. Adrenalin melaju cepat memenuhi kepala hingga jantungku berdegup begitu kencang. Aku tarik napas dalam, menahannya sejenak, lalu mengeluarkannya perlahan untuk menenangkan diri. Aku lirik pemuda di sebelahku yang masih meringis menahan sakit di lengannya. Rasa sakit di dunia ini memang sudah dikurangi berkali-kali lipat, tapi masih terasa sedikit menyengat. Itulah yang aku rasakan saat tadi pegal. Maaf, tapi kita tidak punya waktu sekarang.


"Hei, kau pengguna ilusi, 'kan?" tanyaku berbisik. Pemuda itu menoleh, terkejut.


"Hah?"


"Jawab saja, kau pengguna ilusi??"


Pemuda itu menggeleng dengan wajah gemetar kesakitan. "T-tidak, aku membelokkan cahaya dan membentuk penglihatan yang--"


"Oke, oke, itu cukup. Kau mampu menciptakan ilusi. Sekarang dengar, setelah aku beri tanda, gunakan kekuatanmu pada monster itu. Maksimal berapa detik kau bisa menahan ilusimu?"


"Maksimal?" tanya pemuda itu balik, lalu melanjutkan. "Sepuluh."


"Bagus, itu cukup. Gunakan maksimal setelah aku beri tanda."


"Tunggu, tunggu sebentar, apa? Apa yang mau kau--"


"Sudah, diam. Jangan banyak protes. Kau mau hidup? Kau mau selamat dari sini? Lakukan apa yang aku minta, paham?"

__ADS_1


Tanpa mendengar jawaban si pemuda, aku langsung bergerak lagi ke pinggir, lebih menjauh mengitari si beruang. Tampaknya dia sudah sadar kalau yang diserangnya itu cuma batang pohon keras. Monster itu celingukan, berdiri dengan kedua kaki, kemudian mengaum keras hingga aku merasa telingaku akan pecah. Namun, aku terus berlari hingga kakiku menapak di poin yang sudah ditentukan.


"HEI, KEPALA BESI!!!!!!!!!!!"


Teriakanku yang nyaring langsung membuat beruang itu menoleh. Oh, sial, melihat mulutnya yang penuh dengan gigi tajam dan meneteskan liur tanda lapar membuat kakiku gemetar. Aku pukul kakiku sekali, sekuat tenaga. Bagus, gemetaranku sedikit teratasi. Sisanya tinggal menahan napas untuk menguatkan mental menghadapi makhluk jelek di depan.


Beruang itu menggeram, meraung lagi layaknya hewan buas. Seluruh kakinya turun. Cepat dia berlari melompati batang-batang pohon yang runtuh, menuju ke arahku. Aku tidak bergerak, aku terpaku di tempat, atau lebih tepat kalau disebut memaku diri di tempat. Hanya berdiri, tegap dengan jantung berdebar-debar. Napas tertahan, pandangan terkunci, makhluk itu semakin mendekat.


"ILUSI!!!!!!!!!!!"


Moncong beruang itu hanya lima langkah dari kepalaku ketika pemuda terluka di seberang mengacungkan jari telunjuknya. Cahaya melesat cepat seperti peluru, tapi aku bisa menangkap jalur lintasannya. Mengenai tepat ke tengkuk si beruang, membuat sergapan rahangnya meleset hanya dua langkah dariku. Dia tersungkur, kepalanya menghantam keras batang pohon. Tanpa sempat menarik napas lagi, aku langsung berlari menjauh.


"WILL, SEKARANG!!!!!!!"


Lesatan cepat panah angin menciptakan suara mendesis di udara. Bahkan tanpa perlu menengok ke belakang pun aku sudah tahu kalau Will melakukan tugasnya dengan baik. Satu..... dua..... tiga..... empat lesatan, sesuai yang aku minta. Segera aku bersembunyi lagi di balik pohon besar. Bersandar, tubuhku roboh perlahan. Napas aku atur lagi setelah dari tadi ditahan. Aku bisa rasakan detak jantungku di ubun-ubun, membuat bola mataku seakan menjembul keluar. Aku pejamkan mata erat, menenangkan diri kembali sejenak sebelum menarik napas dalam dan melihat apa yang terjadi di belakang.


Darah, atau mungkin minyak oli memancar keluar dari kedua kakinya, tapi tidak dari kepalanya. Aku menyuruh Will untuk menembak empat kali: dua ke masing-masing kaki, dua lagi ke kepala di titik yang sama. Tembakan ke kaki berhasil membuatnya terluka, tapi kepalanya ternyata lebih keras dari yang aku duga. Selain itu, dugaanku juga benar. Makhluk ini lemah terhadap hipnotis atau ilusi. Sedikit saja dia diberi ilusi, fokusnya langsung hilang. Itulah kenapa beruang ini tidak bisa mengalahkan peri padang rumput, karena peri padang rumput adalah pengguna ilusi. Beruang ini hanya akan menjadi sasaran empuk di tengah sabana itu.


Itu berarti, rencanaku bisa dilanjutkan sesuai rancangan awal. Pergerakan beruang itu sudah dibatasi dengan rusaknya bagian kaki, sekarang aku bisa mengambil jarak ketika bertarung dengannya, walau aku sendiri tahu kalau aku adalah petarung jarak dekat.


"Oke, ayo lakukan!" gumamku pada diriku sendiri.


Lari cepat diambil langsung tanpa aba-aba. Ilusinya sudah terlepas, tapi tidak ada masalah. Aku tetap berlari, lurus maju ke arah si beruang yang tengah meraung-raung merasa aneh karena ilusi. Belum saatnya untuk ilusi lanjutan, mari kita biarkan beruang itu merasakan amarah.


Raungan keras kembali membuat isi kepalaku bergetar. Beruang itu menahan tubuhnya dengan kedua kaki. Tidak bisa bergerak. Tentu saja, itulah kenapa aku menyuruh Will menembak kedua kaki belakangnya. Sekarang yang bisa dia lakukan hanya membuka rahang dan mengayunkan tangan yang berat.

__ADS_1


Dua puluh meter, lima belas meter, sepuluh meter, lima meter, wajahku semakin dekat dengan area serang si beruang yang kepayahan mencoba berdiri dengan normal. Sepuluh langkah, delapan langkah, empat langkah. Beruang itu mengangkat tangannya yang bercakar tajam itu tinggi.


"ILUSI!!!!!!"


Aku melompat, meluncur melewati ketiak si beruang. Ayunan tangannya tak teratur, tapi tetap terasa berat dan cepat. Entah bagaimana kalau aku tidak meluncur cepat ke belakang. Tapi semuanya berhasil. Ilusi tinggal delapan detik lagi.


"PANAH!!!!!!!"


Lesatan panah angin terdengar lagi dari belakang, mengenai punggung berzirah besi hitam yang malah memantulkan serangan itu mudah. Beruang itu menoleh segera dengan tangan yang terangkat tinggi dan rahang penuh taring terbuka lebar. Aku kepalkan tangan, mengisi seluruh tenagaku pada tangan kanan ini.


"HAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!"


Ini adalah trik yang aku pelajari saat latihan bertarung dengan Val. Sebuah trik yang aku sendiri baru tahu ada dalam konsep gift-ku.


Pita tujuh warna mengembang, menari-nari di udara, berputar mengitari lengan, berkumpul menghilang di punggung tangan. Aku ayunkan lengan, meluncur menuju serangan si beruang. Napas aku tahan, adrenalin terpacu. Gemerincing rantai yang mengikat lengan si beruang terdengar, tapi aku tidak menarik tinjuku sedikit pun.


Ayunan lengan tebal itu jelas memberikan jauh lebih banyak tenaga dibanding dengan pukulan dari lenganku yang kurus, tapi itulah yang aku incar. Gift yang aku miliki, senjata terkuatku, bekerja lebih baik pada lawan yang memberikan serangan terkuat.


Aku tidak tahu, tidak memiliki dugaan pada apa yang akan terjadi. Ini adalah pertama kalinya aku mencoba untuk serangan yang besar. Terakhir kali aku mencobanya pada Val, dia tersungkur dengan kaki terkilir. Jelas, itu membuatku merasa bersalah, tapi Val malah tertawa terbahak-bahak karena merasa berhasil menemukan apa yang bahkan aku tidak bisa temukan.


Tenaga yang Val gunakan tidaklah besar, itulah kenapa kakinya tidak patah. Namun, beruang di depanku menggunakan seluruh kekuatan yang dia punya untuk mengayunkan lengan tebal berlilitkan rantai, dengan baris cakar hitam tajam yang siap mengoyak daging mangsanya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi aku yakin pada apa yang aku yakini.


Ketika kesadaranku kembali, sejauh dari apa yang bisa aku ingat, suara gemerincing rantai kembali terdengar bersamaan dengan dentuman barang berat yang jatuh ke tanah. Rasa sakit langsung menyerang lengan seperti lusinan pedang yang menusuk bersamaan. Aku tahan mataku agar tidak terpejam, dan melihat pemandangan yang benar-benar sepadan dengan risiko yang aku ambil.


Lengan kekar beruang itu hancur, meledak seperti balon yang pecah. Gumpalan minyak dan darah palsu bercipratan mengenai tanah, rerumputan, pohon sekitar, juga sebagian wajahku yang menyeringai puas.

__ADS_1


Aku berhasil!


...* * * * *...


__ADS_2