Children Of Thalia

Children Of Thalia
Di Balik Bayang


__ADS_3

Ansel's PoV


"Kerja bagus menahannya selama ini, Eli. Ini, kau seperti kepiting uap." Ujar Sean sembari menyodorkan kipas elektrik portabel pada Eli.


Dengan segera tangan Eli menyambar kipas itu. "Yeah, bagus sekali." Dia langsung menyalakannya ke putaran tertinggi. Keringat di dahinya terbawa angin. Tampak pula kemejanya yang sudah basah kuyup seperti habis kehujanan. "Akting yang bagus di sana, kau tidak kehilangan karaktermu."


Sean tersenyum, mengambil lagi cangkir kopinya dengan rasa tersanjung setelah dipuji. "Apapun yang diperlukan. Kau jauh lebih hebat lagi. Bahkan Bu Rita tidak sadar yang berbicara dengan mereka itu bukan Ellis Grant yang asli."


"Ya, aku merasa berdosa sudah membohonginya," sesal Eli, tapi wajahnya riang lagi. "Kau lihat, aku ini bukan seorang yang pandai berpidato, apalagi penyair, tapi aku jelas berpengalaman dalam menyamar."


"Tentu, sampai gaya bicaramu pun begitu lucu aku dengar." Sahut pemuda di belakang, mendatangi mereka setelah memastikan ruangan itu kedap suara. Dia langsung duduk, lebih santai dan bebas dibanding Eli, langsung meminum kopinya sampai habis, lalu menghela napas menenangkan diri. Dia lalu melanjutkan, "bahkan Kuro dan Rolfe sempat bertanya padaku apakah Ellis Grant di sana memang benar Elijah Marceau, atau Ellis Grant yang asli. Caramu berjalan, mengangkat tangan ketika berpidato, gaya bicara, bahkan sampai kebiasaan Grant yang memainkan pulpen ketika gugup, semuanya bisa kau tiru."


"Aku hargai pujiannya, meski datang darimu."


"Hah?"


"Tidak." Eli meneguk lagi kopinya, sekali teguk sampai habis. Ekspresinya berubah, kerutan di dahinya lebih turun. Dia meletakkan gelasnya perlahan, nendorong alas gelas itu sedikit ke tengah meja, lalu duduk bertumpu pada siku. "Pengamanan pada Bu Rita harus ditingkatkan." Ujar Eli serius, tapi Ansel memotong.


"Sudah, dari sejak kalian mengobrol."


Ansel Elias Clive, dari kemarin sudah menyusun strategi pengamanan hari ini. Dia menurunkan Wild Dogs untuk pekerjaan rahasia, sementara dirinya bersama Elijah Marceau dan Sean Fabre Sephoris menyelesaikan urusan lain. Setelah menjemput Theo, sesuai permintaan Theo sendiri, dia tidak kembali ke asrama, melainkan ke markas besar Divisi Keamanan untuk menyempurnakan pemasangan topeng silikon wajah Ellis Grant yang dipakai oleh Elijah Marceau. Ketika acara berlangsung, dia bekerja di balik bayang, kontras dengan teman-temannya yang langsung naik ke atas panggung.


"Heh, seperti yang diharapkan dari Ansel Elias Clive." Sahut Sean, menghirup lagi kopinya. "Bahkan OSIS tidak tahu kalau anggota pengamanan di luar sudah diganti beberapa menjadi orang-orang Divisi Keamanan."


"Oh, itu ulah Gabriel, bukan dariku," Ansel segera membantah. "Mereka bukan orang-orangku. Sejujurnya itu ide bagus. Sebagai siswa, anggota Wild Dogs cukup dikenal. Yah, sebut saja, siapa di sekolah ini yang tidak mengenal Rolfe dan Felice? Gabriel mengirimkan beberapa orang-orangnya untuk jadi satuan pengamanan ujian."


"Lalu di mana Wild Dogs?" Tanya Sean, Ansel menyeringai.


"Belum bisa aku beri tahu, aksi kami rahasia soalnya."


"Apartemen Higgs di kota," Eli memotong dengan tak acuh, membuat Ansel langsung meliriknya tajam. "Kenapa? Kau juga membawa Gianni, tentu saja aku mendengarnya. Dia mata-mata ganda, kau tahu?"


Menyadari kesalahannya, Ansel tersenyum pahit merasakan kekalahan. "Sial, tentu saja. Dia sulit menutup mulut, tapi diperlukan."


Sementara, Sean tersenyum puas merasakan kemenangan. "Bodoh." Komentar Sean tajam. "Lagi pula buat apa kau merahasiakan ini? Kita semua tahu faktanya."


"Ya, fakta mengerikan."

__ADS_1


Mata mereka bergulir, melirik barisan foto di pojokan. Foto-foto itu mengabadikan kejadian, menjadi bukti akan suatu peristiwa besar. Semuanya sudah disusun, dipaku di tembok. Foto paling atas adalah garis utama masalah, kesimpulan yang bisa diucapkan dalam satu kalimat singkat.


Seolah mengambil kesempatan, Elijah Marceau, orang yang sejak tadi berperan sebagai Ellis Grant, mengatakan apa yang mereka temukan seminggu yang lalu. "Tidak ada yang tahu, tidak boleh ada yang tahu. Ellis Grant sudah dibunuh seminggu yang lalu."


Kasus itu diketahui setelah Ellis Grant, penyair terkenal yang membawakan syair-syair perjuangan Thalia, hilang kabar tiba-tiba. Helder sudah memberikan undangan untuk menjadi pembicara di depan peserta ujian ke kediaman pria itu, tapi sama sekali tidak ada jawaban, tidak ada surat balasan. Itu membuat Helder merasa janggal. Sean dan Gabriel lalu mengutus Eli untuk pergi sebagai utusan Helder ke sana. Saat itulah mereka menemukan fakta pahit. Ellis Grant sudah mati terbunuh bersama keluarganya di kediaman mereka yang agak jauh dari perkotaan.


"Fakta apa yang sudah kau temukan?" Tanya Sean setelah menghabiskan kopinya.


"Setidaknya, ada kemungkinan kejadian ini tidak berhubungan langsung dengan LOST." Jawab Ansel. "Pembunuhan itu kejam, tapi tidak rapi. Rumah Ellis Grant terlalu berantakan, hingga seperti mereka telah dirampok. Tapi jika dirampok, sangat janggal jika perhiasan berlian koleksi istri Ellis tidak diambil, padahal ada di laci bawah lemari. Apalagi jasad mereka sampai terkoyak. Perampok mana yang menghabiskan waktu mengoyak tubuh korban mereka sebelum kabur? Terlalu meninggalkan bukti."


"Bagaimana hal itu tidak berhubungan dengan LOST?" Tanya Sean, langsung dijawab oleh Eli.


"Sejauh penyelidikan kami soal LOST, mereka bertindak efisien. Contohnya saat pengejaran U-1 dan U-2. Kematian mereka itu singkat, isi kepala mereka hancur. Pergerakan mereka juga rapi dan cepat sehingga sulit dilacak. Pembunuhan berantakan seperti itu bukan gaya LOST, atau itulah yang aku pahami."


"Itu benar, ini masalah gaya dalam aksi," Ansel melanjutkan penjelasan, "tapi belum 100% pasti. Masih banyak kemungkinan lain yang mesti dicari. Kenyataannya, kami menemukan fakta lain kalau ternyata Ellis Grant siap menjadi sponsor dan penyumbang untuk kemajuan teknologi tanpa Gift. Jika kita hubungkan dengan LOST, maka itu bisa menjadi motif, secara salah satu tujuan LOST adalah untuk menciptakan superiorisasi receiver di masyarakat."


"Tunggu, sponsor apa?"


"Project Deus." Jawab Eli. "Tentang perkembangan teknologi berdasarkan kekuatan receiver. Bertujuan untuk menciptakan keseimbangan antara manusia dengan receiver. Hasil akhirnya adalah menciptakan alat di mana manusia biasa bisa menggunakan kekuatan mirip gift. Dari sudut pandang orang-orang biasa, ini menguntungkan, tapi proyek itu menghasilkan kontroversi di kalangan receiver, secara salah satu tujuan lain proyek itu adalah....."


Sean yang semenjak tadi mendengarkan tiba-tiba merasa buku kuduknya berdiri. Dia tanpa sadar membawa cangkirnya ke mulut, tapi kopi sudah habis dia minum. Akhirnya dia letakkan lagi cangkir di atas meja, lalu dijauhkannya ke tengah. Dia menepuk muka dengan kedua tangan, mengusapnya sampai ke rambut. Tampak ekspresi yang begitu campur aduk, tapi didominasi oleh ketakutan.


"Berarti Helder akan memanipulasi berita kematian Ellis Grant nantinya?" Tanya Sean dengan suara bergetar. Ansel mengangkat bahu.


"Terserah padamu, ketua OSIS. Kami hanya pelaksana."


"Tanyakan pada Gabriel dan Squirrel. Kasus ini terlalu besar untuk kita. Aku sendiri memilih manipulasi berita saja, kita sudah terlanjur membawa Ellis Grant di depan peserta ujian. Apakah penyelidikan kasus ini berjalan independen?"


"Diurus Merlins, dibantu Wild Dogs." Jawab Eli. "Tadi sudah aku bilang, mereka pergi ke Apartemen Higgs."


"Memburu pelaku?"


"Mencari pelaku."


"Tunggu, bukankah Wild Dogs harusnya berjaga di sini?"


"Tidak semua," Ansel menjawab tenang, "Aku masih di sini. Rolfe dan Claus juga tidak pergi. Armine masih tidak mampu beroperasi. Pengamanan di sini cukup, aku jamin itu. Sisanya yang pergi menyelidiki juga aku yakin berpengalaman."

__ADS_1


"Di mana mereka berjaga?"


"Luar aula, mengawasi dari sudut yang krusial. Siap terjun ketika aku mengirimkan sinyal. Lagipula, masalah kita bukan hanya di dunia nyata."


Sean mengerutkan dahi, tapi langsung sadar akan apa yang dimaksud Ansel. "Kota Sintes!"


Eli terkekeh, membuat Sean menoleh padanya. "Bahkan Bu Rita, receiver pemilik Kota Sintes, mengakui kalau misalnya ada siswa tak baik masuk ke ujian, hanya orang-orang di dalam sana saja yang bisa melakukan sesuatu. Walau, yah, aku juga yakin pada peraturan yang diterapkan."


"Tidak perlu khawatir," Ansel memotong, "anak yang aku bawa waktu itu, Theodore Radley, juga sudah memikirkan keras soal ini. Dia tidak akan sebegitunya gegabah."


"Jadi kita percaya saja padanya?" Tanya Eli, memastikan.


"Setidaknya aku percaya." Jawab Ansel, tanpa ragu.


"Dia bagian dari Asera, lebih baik aku percaya." Tanpa diduga, Sean juga ternyata menyatakan hal yang sama.


"Kalau itu keputusan kalian, maka aku juga sama."


Mendorong cangkirnya juga ke depan, Eli seolah memberi tanda kalau dia juga sepakat dengan kedua temannya. Dia lalu merobohkan punggung, berbaring melemaskan pundak di atas karpet yang empuk.


"Kasus ini yang paling rumit." Keluh Eli sambil menghela napas.


"Setuju." Ansel merespons singkat sambil meremas jidat.


"Aku setuju." Sean juga merespons sambil mengangguk dan bersidekap.


"Banyak orang yang berpotensi jadi tersangka." Eli melanjutkan lagi. "Bagaimanapun, Project Deus benar-benar membawa kontroversi yang besar, hingga ke titik di mana orang-orang yang mendukungnya akan mendapat diskriminasi oleh kelompok receiver."


"Oh, kalau pengerucutan sih, sudah aku lakukan." Sahut Ansel, lalu melanjutkan, "itu juga penyebab kenapa pengamanan ujian praktik ini mesti diperketat."


"Yeah, aku juga paham." Sean ikut menggubris. "Alasan kenapa kita waspada sekarang, tak lain karena pencetus Project Deus itu sendiri."


Paham akan apa yang mereka bicarakan, Eli menghela napas panjang. "Begitu, pada akhirnya kita kembali ke permasalahan awal."


"Ya, mereka benar-benar membuat kita pening, Keluarga DiMichelle itu."


...* * * * *...

__ADS_1


__ADS_2