
Para warga berhamburan keluar dari rumah-rumah kayu mereka, berlari menjauh dari kekacauan yang terjadi di tengah desa. Jeritan dan pekikan mewarnai kekacauan luar biasa yang dengan cepat menghancurkan ketenangan sekitar.
Aku di sini, berlari melewati kembali rumah-rumah yang beruntung masih berdiri di jalan yang tadi aku lalui, berlari kecil mendekati ledakan-ledakan dan serangan-seranganyang melayang, meluncur ke segala arah.
Sekarang bagaimana aku masuk ke sana?
Petir berlompatan di udara, berbaur seakan menari dengan sinar-sinar dan bola-bola api yang juga meluncur membabi buta. Gadis berambut biru tua itu terpojok, tapi dia masih bisa bertahan. Tiga orang penyerang jarak dekat itu tangguh dan punya koordinasi bagus. Gadis itu lebih fokus pada pertahanan. Aku tahu karena dia sebelumnya bisa melumpuhkan harimau robot raksasa dengan sekali serang. Namun, lawannya sekarang adalah sesama peserta, yang jelas akan membuatnya didiskualifikasi jika langsung menyerang menggunakan gift.
Orang-orang itu jelas bukan peserta biasa. Gadis itu tadi menyinggung soal orang bayaran. Jika memang dia sejak awal tahu ada peserta gadungan yang mengincarnya dengan bayaran uang, maka sikapnya selama ini dapat dipahami.
Dengan kata lain, mereka tidak peduli apakah harus terdiskualifikasi atau tidak. Tugas mereka adalah membuat targetnya tereliminasi.
Mari memikirkan sedikit, langkah apa yang tepat di situasi sekarang.
Langkah paling tepat..... harus ada "bukaan".
Luncuran bola-bola api tampak lebih kecil dar serangan sebelumnya yang membakar bar, tapi lebih cepat pula. Kerusakan yang dihasilkan harusnya tidak terlalu besar, benar?
Aku menarik napas dalam, menahannya kuat ketika mengencangkan kepalan tangan. Langkah pertama tegas aku ambil dengan lompatan, bersiap menghampiri pertarungan di depan. Mataku bergulir mencari-cari alur serangan yang pas. Harus tepat agar tercipta celah untukku masuk ke dalam pertempuran. Satu bola api meluncur dari balik bangunan utara, meleset jauh arahnya. Itu tidak akan mengenai si gadis, mungkin memang hanya serangan membabi buta, tapi itu cocok untukku. Aku menghentikan langkah, berlari ke arah berlawanan menghampiri ujung arah luncuran bola api.
"HEI, GADIS DIMICHELLE!!!!!!!!!!!!!"
Pekikanku membuat mata gadis itu bergulir sejenak. Dia mungkin tahu, atau mungkin hanya sekadar insting, tapi jelas dia tampak seperti mendapat apa yang aku maksudkan.
Aku tarik lenganku ke belakang, mengepalkannya kuat hingga terasa sedikit berdenyut. Bola api itu jatuh, meluncur menghampiriku. Titik yang tepat, aku memerlukan satu titik di waktu yang tepat. Ini bukan waktunya hitung-hitungan, ini adalah insting.
"TIARAAAP!!!!!!!!!!!!"
Aku ayunkan tangan setelah merasa kalau kedua kakiku berdiri di tempat yang tepat. Seperti pemain voli, kepalan tanganku tepat mengenai bola api yang jatuh dari atas. Pita-pita tujuh warna muncul, menari-nari di lengan, mengantarkan bola api itu ke arah yang aku inginkan. Pemantulan yang aku lakukan sejatinya tak selalu mengarah pada arah awal. Sama seperti cermin. Jika sudutnya pas, maka cahaya senter yang dipantulkan oleh cermin dapat diarahkan ke titik yang kita mau.
Pemantulan dari «Reflector», sejatinya bisa dikendalikan asal aku mengetahui sudut yang tepat agar pemantulan energi serangan sesuai mengikuti arah yang aku inginkan.
Ledakan udara mengembung menghalau asap-asap tebal yang tercipta oleh pertarungan luar biasa yang dengan cepat menghancurkan seisi desa. Tubuh kurusku terpental oleh rekoil dan gaya lompatan, tapi mataku tetap terbuka untuk melihat hasil dari apa yang aku lakukan. Bola api itu memantul, meluncur lurus ke arah si gadis berambut biru di depan. Refleks cepatnya membuat dia langsung merunduk begitu melihat ada bola api yang mengarah padanya. Di belakang gadis itu, si pemuda pengguna perisai berdiri bersiap mengayunkan tendangan.
Dia tidak sempat menghindar. Bola api itu meluncur terlalu cepat untuknya dapat menghindar. Ledakan yang terjadi seolah membuat pertarungan terhenti seketika. Semua terdiam, melotot pada si pemuda yang terpental hingga menghantam reruntuhan di belakang. Dia tersungkur, hilang kesadaran akibat serangan telak dari luncuran api mendadak. Tak lama kemudian, tubuh orang itu bercahaya terang hingga wujudnya benar-benar tak terlihat. Cahaya itu mengecil, berubah menjadi bintang kecil, kemudian melesat cepat ke langit.
Ada dua lesatan terjadi saat itu. Si pemuda perisai yang kena serangan telak, juga satu lagi dari balik gedung yang terbakar. Itu membuatku terpaku sesaat.
__ADS_1
Kenapa malah dia yang kena diskualifikasii?
Cahaya itu jelas menandakan peserta yang gugur, entah apakah itu tereliminasi atau terdiskualifikasi. Persoalannya, aku paham kenapa si pemuda perisai itu tereliminasi, tapi cahaya kedua itu dari si penyerang, bukan?
Setelah cahaya kedua melesat jauh ke langit, serbuan bola api tiba-tiba berhenti, menghilang begitu saja seolah kehabisan bahan bakar. Aku menatap kosong bangunan tempat cahaya itu berasal. Berputar, kepalaku memikirkan segala hal, segala kemungkinan. Ini boleh jadi satu cara, tapi kemungkinannya terlalu.....
Tidak, tidak seperti sebelumnya. Ini bukan taruhan. Sekarang aku mengerti. Alasan kenapa si penyerang terdiskualifikasi, alasan kenapa gadis berambut biru itu tidak kenapa-napa setelah menyerangku langsung waktu di bar, semuanya terhubung.
Haha, bahkan untuk sistem rumit yang hanya bisa dijalankan oleh gift, dunia ini pun memiliki bug, ya? Benar-benar lucu.
Kembali ke rencana awal, aku bangkit lagi. Langkah ku ambil cepat, berlari ke arah si gadis berambut biru yang di sana sedang menunggu. Mereka melanjutkan lagi pertarungan. Sayang sekali, keseimbangan tim mereka jatuh karena dua orang yang tereliminasi. Mereka punya banyak celah. Mereka tidak punya pertahanan.
"WILL!!!!!!!!!!"
Tepat setelah aku berteriak, panah angin melesat cepat mengarah pada si pengguna es. Si pengguna es sejak tadi mengganggu pertarungan. Dia membuat jalanan licin dengan membekukannya, membuat pergerakan gadis itu terbatas akibat suhu dingin, juga membuat tiap serangan menjadi terganggu akibat frekuensi serangan yang tinggi.
Cukup dua atau tiga detik. Sewaktu serangan es itu terhenti, aku masuk ke dalam pertarungan. Aku tarik lenganku ke belakang, menghampiri si pengguna pedang darah dengan cepat. Dia terkejut, tapi refleksnya masih berjalan. Aku tahu, aku tidak berniat untuk serangan kejutan. Aku luncurkan tinju seperti piston yang naik. Pemuda pengguna pedang darah mengayunkan pedangnya padaku. Itulah yang aku tunggu.
Tinjuku mengenai tepat ujung pedang itu. Darah, meski kekentalan dan kepadatannya berbeda dengan air, pada dasarnya tidak jauh beda ketika beku. Mungkin lebih kental dan tampak padam. Ketika beku, mungkin darah akan lebih padat, tapi tetap rapuh karena pada dasarnya plasma darah tersusun dari air. Karena itu, ketika pedang darah yang diayunkan sekuat tenaga bertemu dengan pukulanku yang memantulkan energi serang, pedang itu akan patah seperti ranting kayu, pecah seperti kaca yang dilempar batu.
Sepersekian detik kemudan, tinjuku yang masih meluncur ini mengenai telak hidung si pengguna pedang darah. Aku bisa rasakan sedikit tulangnya retak, karena aku juga sedikit merasa sakit di buku-buku jari. Orang itu langsung tersungkur sembari memegangi hidungnya dan mengerang kesakitan.
Dari atas, dari gedung seberang jalan, cahaya cepat dilesatkan, membuatku sedikit terkejut ketika itu lewat tepat di samping telingaku. Sontak aku menunduk, berlari bersembunyi di balik pilar bangunan yang masih berdiri. Panah-panah angin Will meluncur cepat mengganggu bidikan si pengguna laser. Serangan-serangannya meleset, yang mana itu bagus. Aku tenangkan diri sebentar dengan mengatur napas. Setelah merasa relaks, langkah aku ambil, keluar dari persembunyian. Aku rentangkan tangan lurus ke pusat serangan. Dia punya pola. Sebelum serangannya melesat, kedipan cahaya akan terlihat darinya.
Setelah keluar dari tempat persembunyian, orang itu akan mendapat gambaran target yang lebih jelas, yang mana membuatnya lebih mudah membidik. Dia sniper andal, aku tahu karena tiap tembakannya presisi meski dia sedikit tidak sabaran. Dia tetap mengarahkan tembakan padaku atau si gadis berambut biru, tidak pada Will yang juga mengganggu serangannya. Setelah aku terlihat jelas, dapat diketahui dia akan menyerang ke arah mana. Untuk orang sepertinya, bidikan pertama yang dia ambil pasti ke kepala.
Karena itulah, aku rentangkan tangan menutup wajah, agak miring telapak tanganku mengarah pada si pemuda pengguna pedang darah. Kedipan cahaya terlihat, serangan melesat cepat. Kena kau.
Segera setelah pita-pita simbol gift-ku ini muncul lagi, dalam kecepatan yang tidak bisa aku tangkap, serangan itu tampaknya mengenai telak si pengguna pedang darah. Aku lihat orang itu terpental hingga lima meter jauhnya sebelum tersungkur menjadi gumpalan cahaya yang melesat tinggi ke langit, diikuti temannya yang dari gedung seberang.
"Boleh juga." Kata si gadis rambut biru itu sembari menghampiriku dari belakang. "Meski aku tidak mengerti sistemnya, tapi kau cerdas bisa kepikiran."
Dia ternyata bisa jujur juga.
"Aku tersanjung."
Itu benar. Sekarang aku paham. Alasan kenapa gadis itu tidak terdiskualifikasi ketika menyerangku, alasan kenapa si pengguna api dan si penyerang cahaya yang terdiskualifikasi setelah serangan mereka dipantulkan olehku, adalah karena aku "memantulkan" serangan, tidak "menerima". Artinya, ketika aku memantulkan gift, sistem tidak membaca aku yang "terkena" serangan, karena aku memantulkannya seperti cermin. Ini adalah bug yang memalukan, jelas. Sekelas Helder membuat kesalahan seperti ini terasa bodoh, tapi menguntungkan bagiku.
__ADS_1
"SIALAN!!!!!!!!!"
Si pemuda satu lagi yang bisa berubah jadi debu mulai menyerang. dia kehilangan kesabaran. Jelas, sudah tidak banyak lagi yang bisa dia lakukan. Dia bisa berubah menjadi debu, tapi lalu apa?
Aku tarik tanganku dalam sembari mengencangkan tinju. Apa pun serangannya, asal bisa disentuh maka bisa aku pantulkan.
Namun, ketika aku mengayunkan tanganku, sosok pemuda itu tiba-tiba menghilang dari pandangan. Aku terbelalak sedikit, membuatku lengah. Tinju si pengguna debu sudah melayang pada pipi kananku sebelum aku sadar.
Aku ayunkan lagi tinju dan tendangan. Si debu itu ada di hadapanku, itulah yang bisa aku lihat. Tapi seluruh pukulan dan tendanganku tidak ada yang kena. Aku lirik ke belakang, gadis berambut biru itu juga bahkan tak bisa melakukan apa-apa. Tiap pukulan si pengguna debu kena telak hingga aku tersungkur ke belakang.
Pemuda debu itu berdiri di depan, terengah-engah setelah menggunakan gift-nya berlebihan. Itu bagus, ada jeda. Aku juga lumayan kelelahan. Serangannya telak semua, kemampuan menghindarnya lebih dari lincah. Dia bergerak sebegitu cepatnya hingga aku bisa melihat after-image yang menjadi gangguan di depan.
Hanya ada satu jawaban logis dari pola serangan ini.
"Hei, gadis DiMichelle, bisa menyerang jarak jauh?"
Gadis itu bangkit, terengah-engah pula setelah bertarung sengit sejak tadi.
"Jangkauan berapa?"
"Lima.... mungkin enam meter."
"Maksimal sepuluh?"
"Itu lebih bagus."
"Ke mana?"
"Nanti aku kasih tanda."
"Aku paham."
Dia bangkit lagi, berdiri tegap dengan tatapan yang tajam. Memang beda jika penggiat bela diri. Dia tampak kokoh seperti batang pohon, juga tajam seperti sengat lebah.
"Kalau gagal, kita akan tereliminasi saat ini, kau mengerti?" kata gadis itu memastikan. Aku mengangguk mantap, tapi juga kontra dengannya.
"Tidak akan gagal, asal seranganmu tepat."
__ADS_1
......* * * * *......