
Tata kramanya benar-benar luar biasa. Tak heran, dia membawa nama yang begitu besar. Aku lihat Vald dan Lee terbelalak dan langsung canggung. Mereka juga langsung meletakkan tangan kanan di dada, tapi dengan gerakan yang lebih kaku.
"Senang berjumpa lagi, senior Rolfe." Ucap Lee, gelagapan karena panik. Dapat dimengerti, baru kali ini dia menghadapi orang dengan nama terkenal.
"Lama tak jumpa, senior Rolfe." Kata Val, lebih tenang dan tegap, tapi aku bisa merasakan kepanikan juga darinya. Aku kira Rolfe juga sadar akan kecanggungan itu. Rolfe melepas semua formalitasnya seketika dan tersenyum lebar.
"Rolfe saja cukup. Aku bukan orang yang begitu spesial." Dia lalu melirik barang-barang kami, kemudian berjalan ke belakang mobil. "Simpan saja semua itu di bagasi, biar tempat duduk kalian lega."
Mereka akan terus gugup jika dibiarkan, jadi aku yang mulai bergerak. Aku mengambil tas selempangku dari Rolfe, lalu menyimpannya di bagasi belakang setelah Rolfe membukanya. "Kalian tidak mau menyimpan tas kalian juga?"
Val dan Lee menggelengkan kepala, bersamaan.
"Oh, tidak. Kami hanya lima menit dari sini, kan? Dipangku saja bisa." Jawab Lee, sementara Val hanya mengangguk. Aku tidak mau berdebat, lagipula tas mereka berdua tidak besar, jadi terserah saja.
"Baiklah." Aku melirik pada Rolfe, yang kemudian mengangguk. Dia menutup pintu bagasi, kemudian berjalan ke pintu sopir.
"Kalau begitu, ayo."
Mobilnya adalah minibus biasa, seperti mobil keluarga. Sebetulnya aku cukup terkejut ketika melihatnya, mengingat dia ini adalah anak dari keluarga konglomerat, tapi aku juga kagum karena penampilannya yang sederhana. Dia juga ramah dan sopan, begitu kontras dengan temannya, si rambut merah yang perlu waktu sepanjang jalan untuk membuatnya berhenti merajuk.
Tidak banyak yang kami obrolkan di mobil, hanya untuk mencairkan suasana. Sesaat aku tidak percaya aku bisa lebih komunikatif daripada Lee, tapi aku juga tahu kalau itulah salah satu sifat Lee. Cukup sulit baginya berbicara dengan orang baru, mungkin terkait masa lalunya. Itulah kenapa dia mudah menjadi bahan perundungan. Aku ingat waktu itu aku dan Val perlu ikut campur tangan untuk masalah perundungan Lee di sekolah. Namun, Rolfe tampaknya lebih pandai mengatasi situasi. Tidak perlu waktu lama hingga Lee bisa percaya diri untuk lebih bebas mengobrol.
Sesuai janji, aku membahas tentang alasan utama kenapa aku tidak mau masuk Helder. Ansel tidak terkejut karena aku sudah bercerita padanya lebih dulu, tapi Rolfe benar-benar terkesiap. Lee dan Val juga terkejut. Tentu saja, aku belum pernah cerita tentang ini, tidak kepada siapa pun. Bahkan aku tidak pernah membahasnya dengan Lizzy, tidak pernah pula berharap akan membahas ini dengan siapa pun, tapi memang tidak ada yang bisa menebak apa yang akan aku hadapi di depan, karena itu aku juga tahu akan ada saat di mana aku harus bercerita tentang ini pada mereka.
Keluar dari distrik ternyata lumayan macet, tapi tidak ada yang protes, atau bahkan sadar karena mereka terus-menerus memberikanku pertanyaan. Terima kasih untuk Ansel dan Rolfe yang membantuku menenangkan kedua saudaraku ini. Mereka mungkin lebih paham alasanku karena mereka juga kenal dengannya, dengan Asera yang lain di Helder. Rolfe juga mempercepat laju mobilnya agar diskusi tentang ini bisa lebih cepat diselesaikan.
Mobil berbelok ke sebuah apartemen. Tidak terlalu mewah, tapi cukup besar. Ini adalah tempat sementara kami untuk bernaung. Inilah tempat yang disediakan Divisi Keamanan Helder. Setelah kejadian itu, polisi menyegel panti asuhan selama penyelidikan berlangsung, mungkin beberapa bulan, tapi aku meminta Divisi Keamanan untuk mengawasi mereka lebih lama.
__ADS_1
Setelah mobil berhenti, aku menghela napas panjang. Aku tidak mau bilang akhirnya, mengingat aku akan pergi seminggu setelah ini, tapi aku juga lega pertanyaan tentang latar belakangku terhenti sampai sini saja.
"Ambil waktu kalian, kami menunggu di depan." Kata Rolfe.
"Terima kasih sudah mengantar kami, Senior Rolfe." Kata Val sebelum membuka pintu mobil.
"Sampai jumpa lagi, Senior Rolfe, Senior Ansel." Kata Lee.
Sebagai orang yang duduk di samping pintu, aku keluar mobil lebih dulu, dilanjutkan Lee dan Val dari pintu sebelah. Mobil berputar di parkiran, lalu pergi ke depan. Aku terdiam, tidak tahu harus berbuat apa, tidak tahu harus berkata apa. Maksudku, banyak hal di kepalaku, apa yang ingin aku katakan tidak akan cukup dalam waktu yang mereka berikan, hingga aku sendiri bingung harus mengatakan yang mana.
Pada akhirnya, aku memulai dengan menghela napas panjang.
"Bingung juga jika begini." gumamku sambil terkekeh. "Lizzy dan yang lain masih di sekolah, benar?"
"Ya." Jawab Val, "kau yakin tidak ingin bertemu mereka dulu?"
"Aku akan semakin ragu untuk pergi. Lagi pula nanti kemalaman untuk sampai Helder." Agak sedikit mengecewakan, tapi memang tidak ada pilihan. Aku sudah membulatkan tekad, tidak baik untuk laki-laki untuk tidak memegang kata-katanya. "Lagi pula aku akan kembali minggu depan, bukan berarti aku akan langsung tinggal di sana."
"Nah, jika itu Theo, aku yakin dia tidak akan membawa kabar buruk."
"Kalian terlalu melebih-lebihkan."
"Tidak."
"Tentu saja tidak."
Mereka berdua menyangkal bersama, dengan irama yang sama. Aku menatap mata mereka, begitu penuh dengan keyakinan dan kepercayaan, begitu membara hingga aku sendiri ingin percaya.
__ADS_1
"Kami percaya, karena kau adalah Theodore Radley." Kata Val dengan seringai lebar.
"Bahkan meski kau tidak percaya, kami akan selalu percaya padamu." Kata Lee, dengan senyuman yang begitu hangat.
Aku membuka mulut, ingin meluapkan segala hal di benakku. Rasa terima kasih, rasa syukur, rasa senang, ingin rasanya aku sampaikan pada mereka. Tapi aku sadar bukan kata yang semestinya menjadi perantara. Aku melangkah, sedikit melompat, meraih tubuh Val dan lee dalam lenganku. Aku dekap mereka erat seolah aku tidak akan bertemu mereka lagi. Aku tidak bisa melihat wajah mereka, aku tidak mau mereka melihat wajahku. Tapi begitu merasakan tangan mereka di punggungku, aku tahu kalau mereka tengah tersenyum. Tidak ada kata, tidak ada saura, hanya sepuluh detik yang begitu hangat. Aku lepaskan tanganku dari mereka setelah merasa kalau aku bisa menunjukkan wajahku lagi.
"Katakan pada Lizzy kalau aku akan membawa kabar baik minggu depan."
"Aku yakin dia juga tidak pernah meragukanmu."
"Pergilah, ini langkah awalmu."
Tidak perlu lagi ada kata-kata. Semua sudah aku katakan, semua sudah aku sampaikan. Aku berbalik, berjalan ke luar parkiran. Tidak sedikit pun aku melirik ke belakang, karena aku tahu tidak perlu bagiku untuk melihat ke belakang. Seperti kata Val, aku hanya harus fokus untuk tujuanku. Akan aku ciptakan temapt yang aman untuk mereka, untuk Lizzy, tidak akan aku biarkan siapa pun menghalangi.
Mobil diparkir di depan, sesuai kata Rolfe. Aku melihat bayangan apartemen dari kaca mobil yang gelap, tapi langsung aku masuk ke dalam mobil tanpa keraguan apa pun lagi.
"Cukup cepat." Kata Ansel, melihatku di kursi belakang dan merasa heran.
"Oh, aku kira kau tidak suka menunggu?"
"Sedikit lebih lama tidak masalah, untuk sekarang."
"Sungguh perhatian. Tapi tidak, ini sudah cukup."
Pada akhirnya, aku tidak bisa menahan keinginan untuk melihat lagi apartemen di samping. Dua orang berdiri di sana, agak jauh. Mereka tersenyum menatapku, membuatku balas tersenyum. Sangat disangkan aku tak bisa bertemu Lizzy, tapi aku rasa ini juga tidak masalah.
"Saudara yang baik, benar begitu?" tanya Rolfe sambil melihatku dari kaca depan. Aku tersenyum, menyandarkan punggungku ke jok mobil sebelum menjawabnya singkat dan tegas.
__ADS_1
"Tentu saja."
...* * * * *...