
Punggungku sakit. Pegal, kaku, rasanya ingin langsung berbaring. Menghabiskan hampir lima jam di mobil ternyata lebih melelahkan dari yang aku kira. Lebih mengejutkan lagi, perjalanan ini tergolong cepat. Jarak Argon ke Leanzea sekitar empat ratus kilo. Cepat kalau naik kereta, tapi lumayan memakan waktu kalau mobil. Untungnya ada jalan tol, tapi jalanan saat ini cukup padat mengingat saat ini banyak orang yang mau mengikuti ujian masuk di sekolah-sekolah impian mereka.
Selama ini, aku hanya tahu Helder dari kabar dan informasi internet saja. Lebih lagi, aku tidak pernah tertarik untuk mencari tahu. Sejak awal aku memang tidak memiliki minat untuk masuk Helder, meski memang wali kelas dan beberapa guru lain sering membujukku agar aku mendaftar ke sana, mengingat aku adalah receiver dengan banyak prestasi. Ketika aku akhirnya berkata pada mereka kalau aku akan ikut ujian masuk, muka mereka memancarkan kegirangan yang terang. SMP Polaris bukanlah SMP Negeri, tapi cukup diperhitungkan sebagai sekolah favorit. Adanya aku yang berprestasi di bidang teknologi di sana benar-benar mendongkrak peminat sekolah, dan sekarang aku juga menerima undangan Helder untuk mengikuti ujian praktik.
Aku tidak pernah tahu, atau bahkan melirik sedikit pun Helder selama ini, tapi aku di sini sekarang, berdiri di depan gerbang besar bak benteng masa lalu. Dibangun oleh para receiver yang mendambakan masa depan di mana para receiver muda akan meninggalkan perang dan kekerasan, untuk fokus membangun Thalia menjadi negeri yang lebih kaya. Tembok tebal menjadi pagar pembatas yang mengelilingi sekolah, benar-benar mengelilingi Helder yang luasnya saja seperti satu kota sendiri. Orang-orang lebih sering memanggil sekolah ini sebagai "Benteng Helder", karena memang benar-benar terlihat seperti benteng, kecuali arsitekturnya lebih tampak geometris dan modern.
"Terkesima? Kau akan di sini mulai minggu depan." Kata Ansel yang mendatangiku dari belakang. Dia merentangkan tangannya, menunjuk menara tinggi dengan simbol tiga komet yang menjadi ikon Helder. "LIhat itu? Menara Persatuan. Berdiri tepat di titik tengah Helder. Saking tingginya, dari tiap sisi pun terlihat. Sekadar info, simbol tiga komet itu--"
"Menjadi lambang untuk receiver." ucapku memotong Ansel. Informasi itu sudah terlalu sering aku dengar sampai-sampai di sekoah pun diajarkan tentang ini. "Tiga komet dengan tiga warna: merah, biru, kuning, adalah simbol untuk tiga tipe receiver; aggressor, affector, dan enhancer. Dibuat melingkar sebagai lambang kalau ketiga receiver harus saling mendukung agar bisa maju."
Ansel menatapku, memicingkan mata dengan kesal. "Setidaknya biarkan aku menjelaskan."
"Yang kau jelaskan itu sudah dijelaskan waktu aku kelas tujuh."
"Setidaknya kau bisa membuatku merasa keren."
"Oh, maaf dan terima kasih."
Melihat wajah Ansel, rasanya kami seperti bertukar peran. Sebulan yang lalu dialah yang menggangguku selama dua minggu. Mungkin raut wajahku waktu itu sama seperti Ansel saat ini. Ternyata memang menyenangkan menjadi iblis kecil pengganggu, meski benar-benar mengganggu.
"Rolfe mana?" Tanyaku sambil celingak-celinguk. Rolfe menurunkan kami di depan gerbang, tapi dia langsung pergi lagi.
"Parkir. Kita duluan saja. Lagipula tidak akan lama, kan?" Jawab Ansel, mulai berjalan masuk Helder. Aku mengikuti dari belakang.
"Harusnya aku yang tanya. Konfirmasi pendaftaran tidak akan lama, kan?"
"Aku rasa. Tergantung antrean juga sebetulnya. Harusnya sekarang sudah mulai kosong." Ansel melihat jam tangan, sementara aku melihat jam dari ponsel. Setengah lima sore, setengah jam lagi dan seluruh layanan administrasi ditutup. Benar-benar di akhir. Mungkin para pengurus administrasi sudah mulai beres-beres sambil berharap tidak akan ada lagi pengunjung.
"Di mana tempatnya?"
"Lurus saja. Gedung administrasi tak mungkin jauh dari gerbang depan." Ansel melirik ke kanan, menatap gedung besar dengan lambang perisai di atapnya. "Itu markas utama divisi keamanan. Tidak mau lihat-lihat dulu?"
"Di sana, ya?" gumamku sambil menatap gedung itu juga. Memang membuatu penasaran, tapi ini bukan waktu yang tepat. "Ingatkan aku untuk ke sana nanti."
"Tidak mau bertemu dia?"
"Awal masuk sekolah saja."
Pandanganku lurus ke depan lagi, berjalan dengan pikiran yang berusaha menghiraukan keberadaan markas utama di kanan. Sejujurnya, dadaku saat ini berdebar kencang, rasanya bergitu panas membara. Aku ingin berlari ke sana, melakukan apa yang semestinya aku lakukan, tapi semua itu tak ada artinya jika aku tak lolos menjadi siswa.
Gedung administrasi tampak seperti sebuah bank. Tidak terlalu besar, tapi menonjol karena warna catnya yang biru cerah. Orang-orang berjalan keluar. Beberapa bersama orang tua mereka, beberapa lagi bersama teman, ada juga yang terlihat sendirian datang. Tidak terlalu banyak, mungkin memang sudah lewat sesi padat. Ketika aku melangkah masuk, udara dingin langsung menerpa, juga semilir harum sitrun yang tenang.
Begitu terbelalaknya aku ketika mendapati kalau hanya tampak dua orang lagi yang tengah mengantre. Isi gedung benar-benar sudah kosong. Malah terlihat beberapa pegawai yang sudah mulai beres-beres setelah shift mereka habis. Pencahayaan gedung ini terang, tapi warnanya hangat sehingga tampak cocok dengan kertas dinding merah tua di seluruh sisi ruangan. Aku ingin langsung mengantre, sama seperti yang lain. Tapi Ansel menarik bahuku dari belakang.
__ADS_1
"Sebentar, kau ambil jalur undangan, kan?"
"Ya, ini suratnya."
Sesaat setelah aku memperlihatkan surat undangan Helder, Ansel langsung meraihnya. "Ayo, antreanmu tidak di sini."
Dia berjalan ke arah koridor, yang mana begitu sepi seperti lorong hotel di malam hari. AKu mengikuti saja, aku sendiri tidak tahu bagaimana proses administrasi di sini. Mungkin memang lebih baik mengikuti apa kata Ansel saja.
Dia berjalan melewati koridor yang agak panjang, berbelok ke kiri, lalu berjalan lagi sektiar dua puluh meter. Kakinya berhenti di depan sebuah pintu hitam, begitu hitam legam hingga aku penasaran kayu apa yang digunakan. Warnanya tidak seperti cat, seperti kayu hitam alami. Aku tidak tahu siapa orang penting yang duduk di balik pintu itu, tapi aku tahu itu bukan ruangan yang bisa dimasuki orang biasa.
Meski begitu, Ansel, pemuda sembrono ini tanpa ragu memutar knob pintu dan mendorongnya agak kuat. Dia tahu orang di balik pintu ini adalah orang penting, tapi dia benar-benar tidak peduli.
"Yahoo, aku kembali!"
"UWAH!!"
Dari dalam terdengar suara seorang pemuda yang terkejut. Aku melirik penasaran. Ruangan di dalam cukup besar, malah sepertinya sebesar ruang kelasku di Polaris. Banyak lemari yang penuh dengan dokumen-dokumen. Semuanya tertata rapi. Di atas lemari juga terdapat kardus-kardus yang menumpuk. Satu lemari tengah, mungkin tepat membelah garis tengah ruangan, berisi piala-piala dan sertifikat penghargaan. Di depan lemari tersebut adalah sofa dan kursi berwarna hitam, sebuah meja kokoh berwarna cokelat mengilap, juga beberapa makanan ringan seperti pocky dan keripik kentang di atasnya.
Seseorang duduk di sofa, mengangkat kakinya ke atas kursi, rambutnya berantakan dan mengenakan kacamata yang sedikit bergeser. Dia menatap kami, terpaku, terkejut, tapi tangannya tak berhenti menekan tombol kontrol permainan yang tampak di televisi besar di depannya. Whoa, bahkan ada set stereo juga? Ditambah, ruangan ini pasti kedap suara karena tidak sedikit pun suara dari luar terdengar.
Tapi, bagaimana ya. Melihat pemandangan itu, aku tak bisa berkata-kata. Jelas ini adalah ruangan orang penting, jelas juga kalau Ansel tak mungkin sembrono membawa surat undanganku ke sembarang tempat, juga aku yakin orang di depan bukan siswa biasa. Tapi apa yang kuliha benar-benar menghancurkan ekspektasiku. Aku sontak mengernyitkan dahi, merasa agak kecewa, tapi Ansel langsung menepuk bahuku.
"Sudah-sudah, berwajah seperti itu malah akan membuatnya tambah buruk." Kata Ansel, memaklumi seolah sudah terbiasa. Dia berjalan masuk, perlahan dengan senyuman jahil. "Tutup pintu itu."
"Hei-hei, sedang apa kau di sini, ketua?"
Ketua?
"A-a-a-AKU YANG HARUSNYA BERTANYA!!!!! OH!!!!!!"
Jeritannya terdengar berbeda ketika dia menyadari karakter permainannya mati karena dia meleng sedikit. Wajah penuh kekecewaan langsung terlihat. Bahu yang tadi tampak begitu tegang langsung melemas. Aku melirik ke televisi besar. Permainan yang aku kenal sedang ditampilkan dengan kualitas gambar yang tidak pernah aku sangka akan melihatnya langsung.
"Midgard Quest?"
Ansel terkikik geli melihat jendela pemberitahuan kalau pemuda itu kalah dalam misinya. "Dia payah, 'kan?"
Aku tidak mau memberi komentar, secara dari awal saja aku tidak mengerti kenapa, dan memang aku tidak bisa memikirkan pertanyaan lain selain kenapa? Tapi melihat hasil yang diperoleh pemuda itu, mulutku konstan berbicara.
"Memang...."
Jawaban singkat, yang mana membuat Ansel tertawa lebih keras.
"OH, LUAR BIASA!!!!" Tawanya menggelegar memecah keheningan yang tadi sempat terasa di dalam ruangan. Aku melirik pemuda itu. Penuh kekecewaan dan amarah yang membara. Dapat dimengerti, kasihan juga kalau dilihat.
__ADS_1
"Lagian, lagian.... SIAPA YANG MEMBERIMU IZIN KE SINI, HA???" Orang itu bangkit, berteriak sembari menunjuk-nunjuk Ansel dengan kesal. "KAU TAHU INI RUANGAN KERJA, KAN? TIDAK BISA DIMASUKI SEMBARANG ORANG, DAN KAU KE SINI TANPA KETUK DU—"
"Naah, naah berisik." Potong Ansel sembari menyumbat kedua telinga dengan kedua jari telunjuknya. "Lagian siapa juga yang menyuruhmu bermain game di ruang kerja?"
"Kerjaku beres dari jam tiga, aku luang sampai jam enam. Dan lagi, siapa anak ini? Kau menculik orang lagi?"
Lagi?
"Kenapa kau berkata seolah aku sudah pernah melakukan kejahatan?"
Oh, memang dia tidak pernah?
"Memang kau tidak pernah?"
Pemuda itu menyahut dengan kata yang sama dengan yang aku pikirkan dalam waktu yang juga bersamaan. Sekarang aku mulai berpikir apakah memang pilihan benar untuk mengikuti orang ini.
"Tidak.... tidak, tentu saja tidak!" Balas Ansel, agak mengambil jeda di tengah yang mana membuatku sedikit curiga.
"Terserah, dari pada itu." Pemuda itu mengalihkan pandangannya padaku. Matanya tajam memelototiku seperti harimau yang mengunci mangsa. Sesaat, aku bisa melihat bayangan hitam bergumul di belakangnya seperti asap, entah apakah itu gift atau ilusiku karena aura intimidasi yang begitu kuat darinya. "Maaf nak, kau sudah melihatku. Menghapus sedikit ingatanmu tidak akan sakit."
Ap—
"Tunggu, apa?"
Gumpalan asap hitam itu berputar, mengalir ke tangannya seperti air, kemudian menggumpal seperti jeli. Itu melapisi tangannya seperti sarung tangan. Ketika dia mengepalkan tangan, bentuk bayangan itu berubah menjadi seperti kepala ular, dengan geliat dan juluran lidah yang benar-benar menyerupai.
"LUAPAKAN INI!!!!!!!!"
"TUNGGU-TUNGGU!!!!!!!"
Pemuda itu melompat, meluncur ke arahku dengan cepat. Aku rentangkan tangan kananku, berharap kekuatan apa pun itu bisa aku pantulkan. Namun, sebelum serangan itu mendarat, Ansel berkata dengan tenang.
"Asera."
Yang dapat aku rasakan setelahnya hanyalah tinju ringan di telapak tanganku. Aku membuka mata, melihat ekspresi penuh keterkejutan pemuda yang tadi penuh akan amarah. Bayangan itu menghilang seolah tak pernah ada. Pemuda itu belum menarik tangannya, tapi wajahnya berputar, menoleh pada Ansel di samping.
"Asera?"
Dengan bangga dan seringai lebar, Ansel mengangguk kuat. "Theodore Radley Asera. Dia ini peserta undangan yang kau sendiri tanda tangani suratnya."
Ekspresi pemuda itu langsung berubah.
...* * * * *...
__ADS_1