
Cahaya panas yang melaju ke arah kami telah membakar pintu depan bar. Tak perlu waktu lama hingga itu melahap kosen, plafon kayu, hingga tiang dekat pintu masuk. Semuanya mengering, terbakar, gosong menjadi arang.
Aku melompat melewati meja bar, sedikit terkesan dengan mobilitasku dalam waktu-waktu genting. Will tengah berlari, menghampiri si gadis DiMichelle yang berniat menghalau serangan bola api raksasa itu dengan kaki petirnya. Panah angin ditarik, berputar lebih kuat dari biasanya. Mereka ingin melawan, mereka memiliki insting bertahan hidup yang aktif dalam diri mereka.
Tapi aku tahu itu percuma. Menggunakan serangan ofensif untuk menghalau serangan lain hanyalah suatu bentuk kompetisi kekuatan. Serangan mana yang lebih kuat akan berhasil. Sejujurnya aku percaya pada mereka, sayangnya kekuatan mereka justru punya kecocokan tinggi untuk bola api. Mereka yang awalnya ingin menghalau bola api itu malah akan membuatnya semakin berbahaya.
Singkatnya, di sini hanya aku yang bisa. Hanya aku yang punya kesempatan besar untuk memantulkan serangan, menyelamatkan semua orang. Ah, tidak, menyelamatkan diriku sendiri saja sudah cukup. Jika aku ingin tetap hidup, maka aku harus bergerak.
Aku tarik kerah jaket Will yang tengah berlari.
Aku melangkah melewati si gadis DiMichelle di depan.
Berdiri paling depan, aku rentangkan tangan kanan. Pita tujuh warna mengembang sebelum cahaya itu membuat bola mataku kering seketika.
Terakhir yang aku ingat adalah pekik parau Will di belakang yang menyerukan namaku. Ah, apa yang aku lakukan?
Panas menyengat bola api raksasa terasa benar-benar membakar tangan kananku yang merentang. Aku mengernyit, mengerang dan menjerit selama tanganku berusaha memantulkan energi bola api di depan. Aku ingin melihat, aku ingin tahu apa yang terjadi pada tanganku, tapi jangankan mata, kulit wajahku saja terasa terbakar terpapar panas luar biasa itu.
Serangan ini berat, pemantulannya memakan waktu. Satu detik berlalu terasa seperti setahun. Tiap satu detik, lenganku terasa seperti dicelupkan ke air mendidih. Entah bagaimana rupa lenganku sekarang, aku tidak bisa melihat, tapi jelas aku bisa merasakannya. Panas membara yang membuatku ingin menjerit sekuat tenaga.
"UWOOOOOOOOOO!!!!!!!!!!!!!!!!"
Pita-pita itu akhirnya terputus, berputar di lengan dan melaju ke punggung tangan. Tangan kananku memancarkan cahaya terang yang seolah menyaingi sinar bola api di depan. Cahaya bersinar semakin terang hingga kemudian padam tiba-tiba, memantulkan kembali bola api itu ke arah itu berasal. Aku terpental, terkena recoil kuat dari efek pemantulan. Sentakan kuat aku rasakan ketika punggung menghantam dinding. Rasanya napasku benar-benar habis.
Apa yang sebenarnya aku lakukan?
Kenapa aku melakukan ini?
Aku mencoba membuka mata sekejap. Dua orang itu menghampiriku segera dengan kekhawatiran yang jelas.
Kenapa mereka tidak lari saja?
Di belakang mereka, datang dari pintu depan yang terbakar, tiga orangmenerobos masuk gedung tiba-tiba. Aku ingin memperingatkan, tapi suaraku habis. Tendangan pertama diayunkan pada Will yang tengah berusaha mengangkut tubuhku keluar dari sini. Dia terpental ke pinggir.
__ADS_1
Gadis petir itu punya refleks yang lebih baik. Ketika seorang lagi mengayunkan botol kaca ke kepalanya, dia segera merunduk, berguling ke belakang dengan cepat. Kakinya bersinar emas. Dia lakukan tendangan kuat yang mengenai tepat pinggang si penyerang, membuatnya terpental menghantam kursi-kursi dan meja bulat di kanan.
Dua orang lagi mengepung, mencoba menyerangnya, tapi dia juga bisa melawan. Satu orang membuat pedang dari darah, satu lagi bisa menghilang menjadi debu. Lawan yang buruk, tapi gadis itu lebih buruk lagi bagi mereka.
Tiap serangan ditangkis, dihindari, kemudian dia melakukan serangan balasan menggunakan tendangan dan petir. Dia unggul, kelas. Dia kuat, bahkan saking kuatnya bisa mengimbangi jumlah lawan. Satu tendangan tepat mengenai muka si pengguna darah, sementara dia menggunakan petirnya untuk menyerang secara area, membuat si debu bisa terkalahkan.
Sayangnya, lawan juga punya strategi.
Satu orang lagi yang dikalahkan di awal menghampiri kedua rekannya. Kaki gadis itu hampir saja akan menghajar wajahnya ketika kubah cahaya padam dengan cepat mengelilingi mereka seperti perisai. Tendangan itu terpantulkan, bahkan listriknya tidak bisa menembus pertahanan sempurna di depan. Sesaat aku melirik mereka, si pengguna perisai itu tersenyum.
Ah, ini pertanda buruk.
Gadis itu segera menghampiriku, berteriak-teriak sesuatu, tapi yang bisa aku dengar hanya dengungan. Will yang mencoba bangkit melihat ke jendela, dan langsung saja tergemap. Aku melirik sedikit. Oh, jadi begitu.
Sejak awal, kami sudah terkepung.
Ketika sinar di jendela sudah membuat bayanganku memanjang hingga tembok sebelah, apa yang bisa aku ingat selanjutnya hanya kalau tubuhku terpental kuat menghantam tembok seberang. Ledakan itu membuat mata buta sementara, membuat telinga berdengung semakin kuat, juga menghasilkan rasa sakit instan yang menjalar di seluruh tubuh.
Aku rasa aku kehilangan kesadaran.
Ingatanku selanjutnya adalah ketika aku merasa aku bisa kembali bernapas.
Lengan kananku sakit, untuk yang kesekian kalinya.
Perih, panas, terasa terbakar, tak dapat digerakkan. Aku mengerang tanpa suara. Gelap, sesak, aku tak bisa bernapas.
Aku mendengar suara, seseorang memanggilku.
Aku di sini!
Hei, bantu aku!
Aku membuka mata. Titik cahaya terlihat di langit. Jeritan seseorang memanggilku terdengar semakin nyaring.
__ADS_1
"THEO!!!"
Tumpukan kayu tebal yang menimpaku diangkat satu persatu. Cahaya masuk, menyilaukan. Wajah kedua orang itu buram, tapi aku bisa mengenali suara mereka. Namaku dipanggil berkali-kali, tapi tenggorokanku terlalu kering untuk membalas. Ketika mataku sudha bisa melihat dengan baik, wajah kedua orang itu terlihat.
"THEO!!" Seru Will sembari mengangkat bongkah kayu terakhir yang menimpa perutku. Itu pasti berat, secara aku sendiri rasa baru bisa bernapa lagi setelah kayu itu diangkat. Gadis berambut biru tua di sampingnya membantu menarikku keluar dari tumpukan puing-puing yang terbakar.
"SERANGAN DARI KANAN!!" Pekik Will setelah mendapati adanya sinar biru yang melesat mendekat. Segera gadis biru tua itu mengayunkan tubuhku pada Will, lalu berlari mendekati arah serang.
"AKU URUS, PERGI DARI SINI!!!!!!"
"AKU SERAHKAN PADAMU!!!!"
Aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Petir di kaki gadis itu bercahaya biru lagi ketika aku menoleh, tapi sosoknya segera saja menghilang tertutup debu dan asap bangunan yang hancur oleh banyak serangan. Dia menggunakan banyak jurus, aku tahu ketika melihat lompatan-lompatan petir menari-nari di langit. Dia menghadapi serangan bertubi-tubi itu sendirian, sementara aku dibopong Will menjauh dari sana.
Sampai di gapura desa, aku diturunkan ke tanah. Disandarkan punggungku perlahan oleh tangan yang gemetar. Mataku bergulir menatap Will yang penuh rasa khawatir.
"Tunggu sebentar, aku panggil Avid."
Dia akan bersiul nyaring lagi dengan jari-jemarinya. Dia akan memanggil kuda robot itu, menaikkanku, lalu pergi menjauh. Itu adalah pilihan paling logis. Di desa sana tengha terjadi pertempuran, satu lawan sekian. Petir menari-nari menyambar tiap serangan yang datang. Para penyerang jarak dekat mulai berdatangan mengepungnya. Sedikit aku melirik ke sana, sosok gadis yang tangguh, yang tadi sempat membuatku merinding oleh ancamannya, tengah kepayahan menghajar tiap penyerang sekaligus menghalau serangan jarak jauh.
Satu serangan kena ke bahu, mengucurkan darah.
Satu lagi menggores perut.
Satu lagi membakar ujung rambut.
Tapi dia tidak menyerah. Dia punya tekad besar, mungkin lebih besar dariku.
Ah, betapa memalukannya. Ketika memikirkan kalau gadis itu lebih superior, aku merasakan listrik menyengat ubun-ubunku. Listrik yang kuat, yang membuatku merasakan amarah yang aneh.
Tentu saja aku tahu. Inilah yang disebut rasa malu.
...* * * * *...
__ADS_1