
Ansel's PoV
"Informasi sudah dikirimkan, langsung ke Squirrel." ujar Kuro, berbicara dengan Ansel melalui sambungan telepon dalam server khusus satuan Wild Dogs. Jawaban dari Ansel cukup singkat: cuma terima kasih, tapi itu cukup. Dia tak perlu tahu bagaimana Ansel akan menindaklanjuti informasi itu, tidak pula Ansel perlu mengetahui bagaimana Kuro mendapatkannya. Selama tujuan mereka selaras, maka semua beres.
Sambungan kemudian dimatikan. Kedipan hijau dari radio kecil di telinga Kuro mati, helaan panjang terdengar, membuat Gianni yang duduk di depan penasaran.
"Apa kata Ansel?"
Kuro, meski ragu akan jawabannya, tapi merupakan orang yang blak-blakan.
"Umpatan, tawa, lalu "akhirnya aku temukan!" Diakhiri terima kasih dan menutup sambungan."
"Tentu saja dia akan begitu." Sahut Noe memberi komentar. "Kau juga pasti bereaksi seperti itu, benar?"
Gianni memalingkan pandangan, tapi tidak mengelak. "Setidaknya aku lebih tenang."
Tentu saja. Itu tidak aneh, malah akan mengherankan kalau reaksi mereka kurang dari itu.
Sekitar satu setengah tahun yang lalu, di pertengahan semester, terjadi kejadian yang menggegerkan Helder dan seluruh media berita di Thalia. Seorang guru muda berbakat ditemukan tak bernyawa di dalam tong sampah restoran dekat sekolah. Keadaannya mengenaskan, wajahnya sudah tidak menunjukkan rupa, hingga polisi pernah berkata bahwa akan sulit mengenali siapa ia jika bukan dari sidik jari.
Orang pertama yang menemukannya adalah seorang pemuda. Usianya enam belas, kelas dua dari Akademi Helder yang terkemuka. Waktu itu, dikatakan kalau sebagian rambutnya memutih akibat ledakan emosi yang kuat ketika melihat jasad gurunya sendiri dalam kondisi mengenaskan.
Gianni Messina, kelas 2 Akademi Helder, tidak masuk dua Minggu setelah kejadian itu. Dia terkena syok dan depresi. Dia adalah siswa yang paling dekat dengan Natalie Hirtzel, sang guru yang menjadi korban tewas.
Dia bukan satu-satunya. Waktu itu, ada seorang lagi bersamanya. Seorang siswa yang juga melihat langsung dengan emosi bergejolak. Siswa sombong yang pernah menyatakan perasaannya pada Natalie Hirtzel dan langsung ditolak dengan pelajaran yang tidak akan pernah dia lupakan.
Waktu itu, Ansel Elias Clive adalah satu-satunya siswa, juga mungkin orang pertama yang menyadari siapa yang ada di balik kematian ibu gurunya. Dia melakukan penyelidikan sendiri, di bawah bayang-bayang kota. Dia buntuti jejak si pelaku hingga menemukan markas mereka di kota sebelah.
Ansel Elias Clive, bersama dengan dua temannya, adalah orang yang pertama menyerang karena kesombongan mereka akan kekuatan yang mereka punya sebagai terkuat seangkatan. Hasilnya, dua siswa tewas terbunuh, hanya Ansel yang berhasil selamat dengan menghabisi seluruh musuh sekaligus markas mereka dengan serangan yang mampu membelah gunung, menciptakan gempa terbesar sejak satu dekada terakhir di Thalia. Kalau waktu itu Squirrel tidak datang, mungkin Thalia sudah terbelah dua.
Hasil akhir dari kejadian itu adalah semakin menjauhnya jejak para pelaku. Itu karena ternyata markas yang Ansel temukan hanyalah markas eksekutor, bukan dalang asli. Itu membuat Ansel sadar kalau bahaya yang tersembunyi di negeri Thalia ternyata lebih mematikan dari yang sebelumnya dia duga. Itulah alasan utama kenapa dia membentuk Wild Dogs, agar dia bisa secara langsung menghajar orang-orang yang mengancam kedamaiannya.
Itu juga kenapa, ketika mendapat pesan singkat dari Kuro, Ansel langsung menarik napas. Dia tidak menyangka akan mendapatkan lagi petunjuk tentang kasus itu setelah hampir setahun tanpa petunjuk apapun.
"Ansel, ini....."
"Ibu Nat." Ansel langsung memotong Sean yang terkejut setelah melihat pesan yang sama di ponselnya. "Apa-apaan?"
"Setelah setahun, kah?" ujar Eli, juga mendapat pesan yang sama dari Gianni. "Kasus ini terlalu dalam untuk kita gali," Lanjutnya. Dia sadar kalau kasus yang mereka selidiki mungkin lebih berbahaya dari yang dia duga.
"Satu kail ditarik, delapan ikan kena."
"Bukannya lempar batu?" Tanya Sean.
"Tidak, kail." kata Eli, menjawab menggantikan Ansel. "Kau senang, benar? Akhirnya jejak mereka terlihat lagi. Kau bahkan tidak bisa menahan senyumanmu itu."
"Heh..... heheheh.... kau betul-betul mengerti aku." Ansel memberikan balasan dengan cepat, dikirimkan pada Kuro. Langsung dia matikan ponsel, kemudian bangkit dari duduknya. "Ayo, ini pekerjaan kita sekarang."
"Kau dan aku?" tanya Eli memastikan.
__ADS_1
"Bertiga." Jawab Ansel tegas. "Sean, hanya kau yang bisa mendekati ruang administrasi."
"Bercanda, ya?" Sean menyahut. "Ketua OSIS juga punya batasan, kau tahu?"
"Kalau begitu urus aula. Koordinasi dengan Eli. Aku akan bawa Squirrel ke ruang administrasi."
"Siapa yang kau cari?" tanya Eli.
"Kau belum mendapat dugaan?" Ansel menatap Eli, agak kecewa, tapi baik Eli maupun Sean langsung menghela napas panjang.
"Aku tidak mau menduga." jawab Eli.
"Tidak mau percaya pula." terus Sean, memalingkan muka.
"Percaya-tidak-percaya." Ansel menarik napas perlahan. Tidak mau percaya juga, tapi logika di kepalanya terus saja mengantarkan dia untuk menuju ke sana. "Orang yang tahu soal operasi rahasia Regu Tetha, orang yang bisa menculik Ibu Nat tahun lalu tanpa memancing curiga, orang yang bisa menyusupkan musuh ke ujian hingga mengincar Estrellita Lorena DiMichelle, sekaligus mempunyai waktu untuk mengawasi gerak-gerik kita. Aku rasa cuma Pak Jamie, pembina Divisi Keamanan."
"Memang hanya dia yang bisa dijadikan tersangka." Lanjut Eli, dengan penuh ketidakpercayaan.
"Artinya Divisi Keamanan tidak bersih, benar?" Lanjut Sean, sembari menatap tajam pada Ansel dan Eli.
"Sulit untuk berkata tidak, untuk sejujurnya." Jawab Eli sambil tersenyum pahit.
"Bukankah kemungkinan itu hanya menjadikan hampir seluruh guru sebagai tersangka?"
"Kau benar, dugaan itu berlebihan."
Suara serak-mesin yang terdengar seperti speaker lama terdengar dari belakang, membuat mereka bertiga menoleh serentak. Bersandar pada dinding sana adalah seorang yang tertutup bayang. Dia mengenakan setelan jas lengkap di cuaca sepanas ini. Dia duduk dengan posisi seiza di atas lantai keras, dengan kaus kaki dan sarung tangan tebal terpasang. Tubuhnya ramping, tampak bidang, juga jangkung. Dia tampak seperti seorang elegan biasa, hingga sorotan mata naik lagi melihat topeng tupai besar di kepalanya yang menyingkirkan segala kesan tegas yang terasa ketika melihat setelannya.
"Heya, An-se-l." Sahut Squirrel membalas sapaan ramah muridnya. "Halo juga Sean, Eli, kalian baik?"
"Tidak terasa sebegitunya buruk," sahut Eli. Dia membungkukkan badan. "Lama tak jumpa, Squirrel."
"Bersyukur untuk nasib yang baik," sahut Sean, sopan seperti biasanya. "Bagaimana denganmu, Squirrel?"
Orang itu tidak langsung menjawab. Pandangannya turun sejenak sebelum dia mendongak dan menjawab dengan suara sayu.
"Tidak terlalu baik, sayangnya." Dari saku dalam jasnya, dia keluarkan selembar foto. Diletakkannya foto itu di atas meja, membuat ketiga pemuda di sana terbelalak seketika.
"Mustahil......." gumam Sean.
"...... Ini bahkan tidak aku duga." Gumam Ansel sambil menepuk jidat dan mengusap wajahnya kuat.
"Dari mana ini didapat?" tanya Eli dengan mata mengernyit.
"Aku ambil sendiri, tiga minggu lalu di waktu sekarang." Jawab Squirrel dengan kata-katanya yang memang berbelit. "Apakah ini cukup menjadi bukti?"
Mereka bertiga terdiam. Foto itu menghancurkan semua ekspektasi mereka, semua dugaan dan analisis yang mereka susun sejak awal dikoyak begitu saja oleh selembar foto, berisi seorang wanita yang tengah duduk meminum kopi bersama seorang pria tua berjanggut tebal. Tidak ada yang tidak tahu siapa mereka.
"Apa mungkin kematiannya juga palsu?" ujar Sean, menatap tajam wanita di foto. Dia adalah Avery Grant, istri si penyair Ellis Grant yang ditemukan tewas dua minggu sebelumnya.
__ADS_1
Seseorang yang tengah berdiskusi dengannya, seseorang yang dikenal baik di antara yang terburuk di dunia bawah. Otak dari gerakan penolakan Project Deus, Gilles Hayward.
"Tidak, pemeriksaan langsung oleh Helder, ilegal oleh Divisi Keamanan. Semua jasad yang ditemukan di kediaman Grant itu cocok identitasnya dengan keluarga Grant. Foto ini diambil sebelum kejadian itu terjadi." kata Eli, menjawab pertanyaan Sean.
"Dia melakukan pembunuhan lalu bunuh diri?"
"Tidak ada bukti."
"Kalau begitu apa pelakunya bukan dari kelompok penolak Project Deus?"
"Kurang bukti juga."
Eli menjawab setiap pertanyaan yang diberikan Sean, sementara Ansel hanya terdiam dengan mata tajam menatap setiap mili dari foto di atas meja. Semuanya semakin kabur. Tiap kali pecahan fakta baru ditemukan, dia semakin sadar kalau kegelapan di teka-teki ini semakin membesar.
Meski begitu, dari tatapan mata boneka yang tajam mengunci pada Ansel, dapat dilihat kalau Squirrel percaya padanya.
"Hayward bukanlah kriminal." kata Ansel tiba-tiba, membuat keributan dari Eli dan Sean berhenti seketika. "Dia menolak Project Deus, itu saja. Gerakannya memang menggiring banyak orang, tapi dia sendiri bukan kriminal. Dia tidak berlaku ekstrem, tidak ada catatan pelanggaran hukum pula. Pertemuan antara Avery Grant dengan Hayward tak mesti selalu merujuk pada konspirasi diam-diam, tapi mungkin sesuatu yang lebih awam, seperti meminta saran soal gerakan anti, atau........"
"..... Hubungan rahasia?" lanjut Sean, tapi langsung dijawab tegas.
"Tidak! Tunggu, itu mungkin saja, tapi aku memikirkan hal lain." Ansel memerhatikan lagi foto itu lebih dekat. Ekspresi yang tertangkap, gesture tubuh, senyum tipis Ivory, tatapan dingin Hayward. Dia perhatikan semuanya, hingga sampai pada satu dugaan. "Tidakkah kalian merasa aneh? Hayward adalah receiver, tak heran dia melawan keberlanjutan Project Deus, tapi Ivory Grant adalah manusia biasa. Kenapa dia harus melawan suatu proyek yang menguntungkan dia dan orang-orangnya?"
Pada akhirnya, Sean dan Eli juga sampai pada dugaan yang sama.
"Bukan Ivory yang mendatangi Hayward, tapi Hayward yang mendatangi Ivory?" ujar Sean mengutarakan dugaannya.
"Hayward ingin Ivory membujuk suaminya untuk menghentikan dukungan terhadap Project Deus?"
Ansel tidak menggelengkan kepala, tapi juga tidak mengangguk. "Tidak ada bukti," sahutnya. Dia palingkan pandangan, berpikir lebih keras untuk dugaan yang lebih masuk akal lagi. Namun, Squirrel bertepuk tangan memecah suasana.
"Baiklah, itu saja dariku saat ini." Squirrel meraih lagi lembar fotonya, disembunyikan lagi ke dalam saku dalam jas hitam tebal. "Skema besarnya nanti saja, aku ingin mendengar dulu soal rencana kalian tentang DiMichelle. Aku mungkin intel, tapi tugasku sebagai guru tidak berubah."
Ansel, yang tadi memasang muka masam nan kaku akibat dugaan yang tiba-tiba dipatahkan oleh selembar foto, tiba-tiba saja kembali menyeringai.
"Yah, apa lagi yang paling baik untuk dilakukan?" Pemuda itu menarik napas dalam, menenangkan sejenak pikirannya. "Eli, aku ingin kau pergi ke ruang administrasi ujian bersama Squirrel. Cari data peserta yang terdapat ketidaksesuaian dalam identitasnya, sekecil apa pun. Buat daftar, tidak peduli mau pendek atau panjang. Kalau itu Squirrel, aku yakin bisa dapat izin. Aku dan Sean akan mengurus aula. Sean, ambil komando untuk anggota Divisi Keamanan selain Wild Dogs. Otoritas Gabriel masih di bawahmu, harusnya Divisi Keamanan juga tunduk, tapi Wild Dogs memang agak lain. Tugas utama kita adalah membuat ujian ini berjalan dengan aman. Tidak ada kata gagal."
"Satu pertanyaan," sela Squirrel sembari mengangkat tangan kirinya. "Bagaimana dengan di dalam ujian itu sendiri? Kita tidak berada di dunia yang sama dengan para peserta."
"Oh, benar, aku belum memberitahumu soal anak itu."
"Siapa?"
"Theodore Radley."
TIba-tiba saja, Squirrel terdiam. Tidak ada kata, tidak terlihat sedikit pun reaksi, tapi Ansel entah kenapa bisa mengira kalau guru nyentriknya itu tengah menyeringai lebar di balik topengnya.
"Kau percaya pada anak itu?" Tanya Squirrel tegas.
"Aku percaya."
__ADS_1
"Maka aku juga percaya."
...* * * * *...