Children Of Thalia

Children Of Thalia
Pengepungan - 1


__ADS_3

Ini.... sejujurnya di luar dugaan. Gadis itu membungkuk dengan tangan di dada. Sebuah sikap yang langsung membuatku merasa tidak enak. Aku mundur dua langkah, merasa lemas di kaki setelah akhirnya negosiasiku berhasil. Tapi aku yakinkan lagi diri. Jika aku jatuh sekarang, maka aku akan kalah. Aku bertumpu pada kaki kanan yang ada paling belakang, berdiri dengan kaku sembari membetulkan sikap dan mengumpulkan lagi ketenangan.


"Jika itu bagimu, maka sudah cukup. Aku sendiri tidak mau menghabiskan waktu untuk omong kosong, dan aku yakin kau juga tidak. Jika apa yang kau mau adalah bekerja sendiri, maka silakan." Aku ayunkan lengan ke Will di belakang sembari melirik sedikit. "Will, turunkan panahmu. Kita selesai di sini."


Mata penuh kewaspadaan Will masih belum padam. Sedikit menyala di bawah pencahayaan remang-remang ini, secara metafora dan literal. Aku menepuk bahunya pelan. "Will, kita selesai di sini."


Pemuda itu mengambil waktu lima detik sebelum merespons. Dia turunkan busurnya, menghilang kembali menjadi angin yang mengalir lembut. Dia pejamkan mata. Ketika dibuka lagi, nyala di matanya padam.


"Baiklah, kalau itu yang terbaik." Gerutu Will, terdengar tidak puas. "Tidak perlu mengingatkan kami untuk menjaga jarak. Apa tadi kau bilang? Kau mengatur supaya Haris Dassler dikejar beruang? Dari sana saja sudah jelas kalau kau orang berbahaya."


"WILL!!"


Aku membentak. Dari sepanjang ujian, baru kali ini aku meninggikan suara. Will melotot padaku, penuh amarah. Aku paham, tapi bukan saatnya terbawa emosi. Urusanku adalah menyelesaikan ujian, tak lebih.


"Kita selesai di sini. Perihal dia berbahaya atau tidak, itu urusan lain. Ujian ini tidak akan membiarkan orang berbahaya lolos." Aku berbalik, menghadap gadis itu sekali lagi. "Entah apa tujuanmu, tapi jika kau sepakat untuk menjaga jarak, maka kami akan menjauh. Begitu saja dan selesai, setuju?"


Tanpa seringai, senyum, atau bahkan sudut miring sedikit pun di mulutnya, gadis itu mengangguk pelan. "Setuju."


"Bagus." Aku menepuk kedua tangan, mencoba memecah suasana menegangkan ini meski kedua kakiku masih terasa sedikit lemas. Agar tidak terlalu kelihatan kalau aku juga gugup, aku berjalan ke meja bartender, melewati mereka yang masih bersitegang di belakang. "Sekarang mari kita kembali ke tujuan kita. Berapa harga air di sini? Oh, sial, mana bartendernya?"


Aku tidak ahli dalam mempertahankan percakapan, makannya ketika aku mendapati kalau kedua orang itu masih diam saling menatap ketika aku berusaha mengalihkan perhatian mereka, aku merasa kalah saat itu juga. Mulut ditutup, badan berbalik. Mungkin lebih baik memberi mereka waktu.


"Aku ambil beberapa botol air saja, ya. Tidak perlu khawatir, label untuk minuman keras di sini masih terlihat, aku tidak akan salah ambil."


Namun, saat aku tengah menyortir botol-botol minuman, Will tiba-tiba saja menghampiriku. Dia ikut menurunkan botol-botol itu dari rak kayu mengilap, mencari air mineral biasa yang mungkin ikut tersimpan.


"Kau benar, tidak ada gunanya memperpanjang masalah."


Tanpa sadar, aku menyeringai. "Haha, akhirnya kau mengerti."


"Menahan diri, lebih tepatnya."


"Itu sudah bagus."


Kami turunkan seluruh botol di lemari hingga rak-rak itu kosong menebarkan harum kayu yang khas. Tidak satupun air mineral terlihat. Aku sampai memeriksa rak-rak sebelah, tapi tetap saja tidak ada. Semua botol itu punya label, yang mana aku yakin itu minuman keras walau tidak berwarna.


"Semuanya air biasa, tak perlu khawatir."  Kata gadis itu, membuat kami menoleh sebentar. Dia menghampiri kami. Tangannya merentang menyambar botol yang aku pegang. Dia tarik sendiri gabus penutup botol itu seperti menarik tutup pulpen, lalu ditumpahkannya sedikit cairan ke lantai. Listrik kebiruan di kakinya kembali meretih, tapi tidak sebesar biasanya.


"APA YANG KAU--"


"Relaks, Will." titahku tegas sambil merentangkan tangan ke hadapan pemuda di belakang.


"Dengarkan kawanmu itu, tenanglah sedikit. Aku tidak akan melakukan apapun." Lanjut si gadis. "Lihat ini."


Dia mengangkat lututnya seperut, lalu dientakkan kuat ke atas lantai kayu hingga terdengar dentuman. Dua dentuman, tepatnya. Yang pertama adalah ketika kakinya menghantam lantai, yang kedua dari listrik yang meledak sewaktu kakinya menghantam lantai. Listrik itu melompat menjadi petir kecil, merambat, menyambar cairan di sebelahnya. Jelas terlihat listrik melompat-lompat di atas cairan itu, tapi tidak ada nyala api meski kami berada di bawah pencahayaan remang-remang.


"Lihat? Tak ada api. Ini air biasa. Helder tak mungkin memberikan minuman keras betulan di ujiannya." jelas gadis itu dengan rasa puas. Susah rasanya mengakui, terutama setelah kita baru gencatan senjata, tapi dia sungguh membantu.

__ADS_1


"Memang alkohol bisa menyala oleh listrik?" Tanya Will. Pertanyaan bagus, aku juga tidak tahu.


"Bisa." Jawab gadis itu tegas.


"Bagaimana kau tahu?" Lanjut Will bertanya.


"Insting." Dan gadis itu langsung menjawab lagi penuh keyakinan. "Aku sudah mencoba meminumnya. Tak ada bau alkohol, tak memabukkan, tidak ada rasa-rasa aneh pula. Itu cuma air."


"Tekad yang bagus." Ucapku, berkomentar sembari menahan tawa. "Cerdas dan gila itu beda tipis."


"Mungkin aku lebih suka disebut gila."


Dia bahkan punya kata-kata yang sama. Kesusahan aku menahan tawa sembari menyortir kembali botol-botol ini. Namun, ketika aku melirik sebentar pada Will, dia sudah duluan menyeringai, terkikik sambil menutup sedikit wajahnya di balik kerah jaket olahraga yang dia kenakan.


"Yah, bagaimana pun, ini betul-betul membantu. Kami mungkin akan menemukan fakta ini cepat atau lambat, tapi kalau bisa cepat, kenapa tidak? Terima kasih."


Oh, dia tanpa ragu berterima kasih!


Aku sudah tahu sejak awal kalau Will memiliki sifat orabg-orang ekstrovert, tapi aku tidak mengira akan selancar ini. Baru tiga menit yang lalu mereka beradu pandang penuh hasrat bertarung, dan sekarang Will bisa tertawa santai di depannya. Sedikit aku melirik gadis itu. Dia ternyata lebih terkejut dariku. Dia jelas tidak menyangkanya, sama sepertiku. Tapi dia memilih untuk balas tersenyum, melupakan apa yang telah terjadi. Aku hargai. Lega rasanya melihat ketegangan itu sirna.


"Bagaimana kalian akan membawa itu?" Tanya gadis di depan.


"Ditenteng, tentu saja." Jawab Will enteng. "Memang bagaimana lagi?"


Gadis itu merentangkan telunjuk, mengarah pada laci di kanan meja.


"Ada semacam kantong hadiah di sana. Setidaknya pakai itu. Tidak mungkin kalian berkuda sambil menggenggam botol air."


"Terima kasih." Ujarku. Gadis itu semakin tersenyum.


Sebuah senyuman yang, entah kenapa disertai pandangan yang seolah kosong.


"Anggap saja permintaan maaf."


Gadis itu berdiri, meneuk-nepuk lututnya yang sedikit berdebu, lalu meregangkan pinggang sebentar. Dia tarik napas dalam, lalu dikeluarkan dengan perlahan.


"Kalau kendaraan, ada sepeda motor di dekat balai desa. Kalian selesaikan permintaan kecil kepala desa, dan dia akan memberikan motor itu pada kalian. Pakai itu untuk mempersingkat waktu."


"Memangnya boleh?" tanya Will menyela. Gadis itu menjawab sambil berkacak pinggang. Tentu saja, kini dengan keramahan di wajahnya.


"Kalau kalian lihat lagi aturan di buku pedoman, kalian akan mengerti bahwa tidak ada aturan yang melarang peserta mengendarai kendaraan, selama kendaraan itu bukan hasil perbuatan ilegal. Jika kau memenuhi permintaan kepala desa, sistem akan membuatmu bisa mengendarai motor tiba-tiba. Itu sama saja seperti kalian yang tiba-tiba ahli mengendarai kuda. Helder juga mungkin memikirkan betapa sulitnya berpergian di kota besar seperti ini tanpa kendaraan."


Itu masuk akal. Kenapa tidak terpikirkan dari awal?


"Itu sangat membantu. Terima kasih." Lagi-lagi, Will dengan energi aktifnya berterima kasih tanpa keraguan.


Gadis itu tersenyum, kemudian berbalik ke pintu. "Aku pergi duluan. Semoga berhasil."

__ADS_1


"Kau juga." Sahut Will.


"Terima kasih, juga sama-sama." Sahutku, berterima kasih sekaligus menyahut salam terakhirnya. Dia lalu berjalan pergi.


Kembali kami fokus pada botol-botol di atas meja. Ukuran tas hadiah ini tidak terlalu besar, tapi panjang talinya bisa diubah sehingga bisa menjadi tas selempang. Satu persatu aku pilah botol-botol ini, melihat mana saja yang bisa masuk ke tas. Aku tidak tahu seberapa lama aku akan berjalan, makannya lebih bagus kalau bawa minuman sebanyak yang aku bisa.


"Dia tidak terlalu buruk, eh?" bisik Will, membuatku tersenyum tipis.


"Cepat sekali pandanganmu soal dia berubah."


"Ayolah." Will menggelengkan kepala, aku rasa bentuk kekaguman. "Tidak mungkin orang jahat membantu tanpa ragu."


"Kau ada benarnya. Meski.... yah, itu malah membuatku semakin bingung."


"Soal apa?"


"Dia mengejar si pengguna ilusi, benar? Kenapa perlu menghabiskan waktu mengejar seseorang di tengah ujian dengan batas waktu seperti ini? Terlebih, kau sendiri berkata dia ini tidak seburuk yang dikira."


Kata-kataku membuatnya terpaku sejenak. Tangannya berhenti bergerak, matanya berhenti bergulir. Dia perlahan menengadah, menatapku lurus dengan kata bulat yang melotot.


Kita berada di kapal yang sama, benar?


"Jangan bilang......"


"Aku tidak mau menduga."


Namun, suara benturan dan dentuman membuat perhatian kami seketika teralihkan. Aku berdiri, bersamaan dengan rekan di sebelah. Gadis berambut biru tua itu terjatuh sambil memegang kepalanya, tepat di samping lawang pintu lebar yang agak hangus setelah terkena serangan petirnya sendiri.


"Nona DiMichelle?" panggilku datar.


"Hei, kau baik-baik saja?" Tanya Will. Melangkah dia keluar dari meja bartender, ingin menghampiri gadis di depan. Namun, tangan gadis itu segera merentang dengan tangan terbuka lebar. Tatapannya, ekspresi yang dia buat waktu itu, aku tidak bisa melupakannya.


"JANGAN BERGERAK!!!!!!"


Hanya sedetik, atau hanya satu kedipan setelahnya, mataku mendapati apa yang membuatku sontak menarik napas. Pemandangan di luar, baris bangunan kayu yang tertata, orang-orang yang berlalu-lalang seperti biasa, semuanya tiba-tiba samar ketika cahaya terang membuat bayanganku semakin memanjang ke belakang. Cahaya itu mendekat, semakin menyilaukan hingga mataku terasa seolah terbakar.


Gadis itu menyalakan petir di kakinya.


Will melompat, mencoba menolong dengan panah yang ditarik tanpa pikir panjang.


Aku, orang dengan kemampuan pemantul, cuma berdiri di tempat, merasa kalau apapun yang aku lakukan tidak akan ada gunanya. Cahaya itu panas, terasa menyengat begitu terasa semakin dekat. Biarpun aku bisa memantulkan serangan itu, selanjutnya tempat ini akan terbakar, dan kami pada akhirnya terjebak dalam kobaran api besar. Pemikiran itu membuat tubuhku terdiam, tak dapat bergerak. Mataku melirik ke jendela samping, seseorang di sana dengan jari yang membentuk pistol mengarah ke depan. Seringainya itu tampak lebih kejam dari hyena, lebih licik daripada rubah.


Aku tahu siapa dia. Cukup dengan menyadari dia siapa saja aku bisa mendapat sedikit gambaran soal apa yang terjadi di sini, soal kenapa gadis itu bisa membentur tembok di samping lawang pintu terbuka, kemudian jatuh dengan tidak biasa.


Haris Dassler. Seharusnya aku tahu sejak awal. Seharusnya aku mengikuti apa yang dikatakan Sean dan Ansel. Jangan sedikitpun berurusan dengan DiMichelle, biarpun hanya interaksi kecil. Sekarang aku paham. Bukan DiMichelle pembawa masalah, tapi aku akan terlibat ke dalam masalah mereka.


Panas. Wajahku kering, mataku perih, kulitku perih. Aku terdiam, melihat Kedua orang di depan yang masih berusaha keras bertahan. Sesaat, waktu terasa melambat. Cahaya itu semakin mendekat. Kosen pintu terbakar, dinding terbakar. Gadis itu berusaha bangkit, tapi serangan cahaya itu lebih cepat. Will berusaha meraih tangan si gadis, tapi serangan di depan lebih cepat.

__ADS_1


Tanpa sadar, aku melompat melewati meja bartender, berlari ke depan mereka dengan keyakinan penuh kalau aku cukup cepat. Tidak tahu, aku tidak sepenuhnya sadar waktu itu. Aku hanya ingat satu hal: aku merentangkan tangan lurus ke depan.


...* * * * *...


__ADS_2