Children Of Thalia

Children Of Thalia
Kota Sintes


__ADS_3

Kepalaku berputar, telingaku berdengung. Rasanya seperti habis turun dari kora-kora. Aku mengernyitkan dahi, cahaya menyorotku kuat seperti sinar matahari yang menyinari wajahku dari jendela panti dulu. Dengan kesadaran yang masih setengah penuh, aku membuka mata.


Tupai. Di depanku berdiri seekor tupai gemuk. Mulutnya penuh oleh kacang. Dia menatapku dengan mata hitam bulatnya, begitu lekat dan tajam seolah menerawang jiwaku langsung. Aku mengangkat tangan, ingin setidaknya meraih tupai itu, tapi dia langsung kabur begitu mendapati aku masih bisa bergerak. Merasa kecewa, aku menghela napas.


Rasa geli dan menusuk membuat wajahku gatal. Aku bangkit sembari menggaruk pipi. Cahaya matahari yang langsung menyorot membuat mataku berdenyut. Aku memicingkan mata, perlahan membukanya ketika pupilku sudah terbiasa.


"..... Jadi begitu."


Aku tidak akan bilang ini di mana? Seperti orang tersesat di hutan. Aku ingat, aku tahu apa yang terjadi. Inilah Kota Sintes. Aku, juga seluruh peserta ujian praktik tampaknya dipindahkan ke sini langsung dari dalam aula. Entah apa yang mereka lakukan, teknologi ini terasa terlalu nyata untuk sekadar virtual reality. Mungkin ini ilusi dari suatu gift, tapi untuk bisa menciptakan sebuah kota besar yang berfungsi layaknya kota di dunia nyata, sehebat apa penggunanya?


Menyingkirkan segala pemikiran yang tidak perlu, aku menepuk kuat pipiku. Mumpung masih segar, aku mulai bangkit. Kepalaku benar-benar berputar hingga jalanku sempoyongan. Orang-orang bilang langsung bangkit setelah lama berbaring atau duduk akan membuat tekanan darah menurun, mungkin aku terkena semacam itu. Hanya beberapa detik, kemudian aku bisa berdiri tegap.


Tempatku berbaring adalah hamparan padang rumput yang benar-benar luas. Saking luasnya, aku bahkan tidak melihat ada ujung di balik cakrawala itu, tapi aku melihat menara yang menjulang tinggi dari kejauhan. Menoleh lagi, aku lihat garis awal hutan hujan di belakang. Gelap dan beraroma tanah, seperti baru diguyur hujan. Di kiri ada dinding tinggi, mungkin seratus meter, tidak membiarkan sedikit pun pemandangan luar terlihat. Aku rasa memang tidak ada apa-apa di sana, mengingat arena ujian praktik ini hanya sekitar kota.


Aku tarik napas, merasakan udara sejuk yang tidak pernah aku bayangkan akan bisa menghirupnya. Benar-benar segar. Apa begini kualitas udara sebelum Perang Ekor Bintang? Aku harap aku bisa merasakannya di dunia nyata. Ini seperti mengingatkanku pada masa lalu yang tidak pernah aku alami. Baiklah, sudah cukup adaptasinya.


"Mari kita lihat."


Barang-barangku menghilang, tentu saja. Sudah tertera di peraturan kalau peserta ujian tidak diperbolehkan membawa barang apapun kecuali kartu ujian dan pkaian olahraga SMP yang dikenakan. Ketika meraba-raba tubuhku, aku mendapati ada sesuatu di saku dalam jaket. 


Itu adalah kartu ujian, yang mana juga tidak membuatku terkejut. "Informasi yang diperlukan akan tersedia di kartu ujian". Mereka benar-benar memikirkannya. Ketika aku mengetuk lingkaran bersinar di pojok kiri bawah, hologram tiga warna tampil di depanku, membuatku sedikit terkesiap.


"Hebat......" Aku bergumam tanpa sadar. "Teknologi macam apa ini? Hologram berwarna, 5D? 7D? Dalam kartu setipis ini?"


Ketika aku mengingat lagi, bahwa ada kemungkinan ini semua hanya sejenis gift, aku langsung menyingkirkan lagi ketertarikanku pada kartu. Apa yang ditampilkannya adalah peta tiga dimensi dari kota ini, disertai titik biru tempat aku berada.

__ADS_1


"Timur Laut, padang rumput dekat hutan hujan raksasa." Gumamku setelah melihat peta. "Cukup jauh dari pusat kota. Kita lihat..... empat puluh kilo, Seberapa besar kota ini??"


Aku menatap langit. Matahari tepat berada di titik tertinggi. Sekarang jam dua belas siang, tepat tengah hari. Huh, aku heran apakah memang perlu satu jam untuk memindahkan seluruh peserta ke kota ini? Tadi kita mulai jam sebelas, bukan?


Oke, kesampingkan itu sejenak sebagai petunjuk lain waktu. Mari kita lihat apa lagi yang aku punya. Aku menggeser layar tiga dimensi itu dengan jariku seperti tengah menggeser layar ponsel. Sebuah gulungan muncul dengan simbol belut berwarna biru tua. Belut listrik, mungkin itu yang ingin mereka sebut. Gulungan itu terbuka, memperlihatkan susunan kata yang perlahan terbentuk dari huruf-huruf yang melayang.


"Tempat Barat Daya dari jarum setengah lingkaran."


Riddle? Apa ini teka-teki yang mereka maksud? Peraturan memang mengatakan soal ini.


Buku panduan berisi aturan-aturan yang aku maksud juga ada di sini. Menggeser sekali dari halaman teka-teki adalah buku panduan. Aku sudah membaca tentang ini duluan. Ada dua ratus halaman dengan penjelasan aturan-aturan yang berlaku, musuh, keterangan iklim wilayah, peta kota keseluruhan, peta pembagian daerah kota, hingga keterangan item yang bisa digunakan.


Secara sederhana, ada sepuluh aturan utama. Pertama, peserta harus menyelesaikan ujian dalam waktu tiga jam. Kedua, peserta boleh menggunakan kendaraan dalam wujud apapun. Ketiga, peserta boleh menggunakan gift untuk membuka teka-teki, mengalahkan musuh, atau memperpendek jarak. Keempat, gift tidak boleh digunakan untuk menyerang sesama peserta. Kelima, peserta diperbolehkan bekerja sama, terutama dengan peserta lain yang memiliki teka-teki yang sama. Keenam, setiap luka yang diterima akan sembuh sepuluh kali lebih cepat dengan rasa sakit yang dikurangi. Ketujuh, konsep kematian masih sama dengan dunia nyata, peserta akan dinyatakan gagal jika mendapat kematian. Kedelapan, pelanggaran yang dilakukan akan langsung dihukum dengan diskualifikasi. Kesembilan, peserta yang terbunuh dengan alasan apapun akan dinyatakan gagal. Kesepuluh dan terakhir, setiap tingkah laku peserta akan dinilai, yang mana akan memengaruhi hasil akhir.


Aturan-aturan sederhana. Pada intinya ini sama seperti kehidupan nyata, kecuali aku punya tugas yang mesti diselesaikan dalam batas waktu tertentu. Mari kita lihat bagaimana teka-teki yang aku dapat.


Aku menatap langit lagi, tanpa sadar.


Nah, tidak mungkin. Aku kurang petunjuk. Terlalu banyak kemungkinan yang muncul hingga dugaanku hanya berupa dugaan lemah. Jikalau ini benar, maka mereka benar-benar buruk dalam membuat teka-teki.


Tentu saja, tidak ada salahnya untuk memeriksa. Karena jika memang benar ini jawabannya, antara memang Helder memberiku kemenangan mudah atau orang itu ikut campur dalam pembuatan soal. Untuk sekarang, paling benar pergi ke titik tengah, meski empat puluh kilometer jauhnya.


Peraturan bilang peserta boleh menggunakan seluruh benda yang ada di dalam kota. Artinya aku bahkan bisa menggunakan kendaraan tanpa surat izin, tapi lalu dibatasi oleh segala perbuatan peserta akan dinilai. Maka aku hanya bisa menggunakan sepeda atau skuter. Sungguh tidak logis, perjalanan ke tengah kota itu 40 kilo, apa mereka ingin aku mengayuh sepeda sejauh itu dalam waktu kurang dari satu jam?


Padang rumput ini sungguh luas. Aku berjalan menyusuri jalan setapak dari bebatuan yang tersusun rapi. Bahkan hingga hutan di belakang terlihat mengecil, hanya terlihat padang rumput di sekitar. Boleh dibilang aku terkena panik, mengira kalau aku sudah tersesat, tapi kemudian aku mendengar suara.

__ADS_1


Gemericik air, aliran sungai, juga orang-orang yang mengambil airnya. Sontak aku celingukan mencari arah. Jalan setapak ini membantu. Aku mengambil langkah cepat. Jika hutan adalah ujung jalan, maka awal jalan setapak harusnya mengarah ke desa atau kota kecil.


Semakin aku menyusuri jalanan, semakin aku mendengar jelas suara gemericik itu. Langkah perlahan berubah menjadi lari-lari kecil. Napasku terengah-engah, tapi kepalaku tak berhenti berputar kanan-kiri melihat sekitar. Padang rumput terasa semakin luas saja. Meski subur, aku merasa seperti di gurun kematian.


Semenit, dua menit berlalu. Ketika mataku sudah hampir memejam kelelahan, angin semilir berembus mengantarkan suara tawa riang penduduk. Sontak mataku terbuka lebar. Aku melompat ke balik pohon besar yang entah bagaimana aku tidak sadar ada di depanku.


Aliran sungai, dugaanku benar! Di sana juga tampak orang-orang yang tengah berkumpul dengan ember-ember kayu mereka. Wajah mereka lebih ke kemerahan dengan rambut cokelat terang. Pakaian yang mereka kenalan seperti pakaian adat suku tertentu, tapi aku tidak tahu dari mana. Mereka asyik mengobrol sembari mengambil air, lalu pergi meninggalkan sungai dengan girang.


Pemandangan yang damai, seperti gambaran fantasi Eropa abad pertengahan di Midgard Quest. Aku malah seakan menunggu adanya suku peri atau semacamnya di sini. Tapi itu urusan lain, prioritas sekarang adalah mencari petunjuk.


Aku tak bisa lebih terkejut lagi begitu melihat air yang mengalir di sungai. Begitu bening, seolah tidak ada air sama sekali di sana. Bahkan kaca pun aku rasa tak bisa sebening ini. Bayanganku tak terlihat, tapi aku bisa melihat jelas ekosistem di dasar sungai. Tak ada ikan, tapi terdapat bebatuan berbagai warna seperti seni kaca. Beberapa tanaman air tumbuh subur, tapi anehnya tidak terlihat sedikit pun lumut. Aku tidak mengerti sistem dunia buatan ini. Apakah memang sengaja dibuat tidak sempurna? Ataukah memang banyak bug?


Melihat air yang begitu jernih membuatku tak tahan untuk tidak mencelupkan tangan. Namun, baru sebuku jari saja, aku bisa merasakan dinginnya air seolah menusuk belakang leherku. Apa ini air gletser? Air murni dari pegunungan Utara? Tentu aku tidak mau meminumnya, sejernih apapun ini. Kuman tidak terlihat, kecuali kalau memang pembuat dunia ini tidak menambahkan data kuman. Apalagi di dunia nyata, kebanyakan virus purba ikut beku di dalam es gletser.


Menyedihkan memang, tidak bisa langsung minum, tapi ini petunjuk yang bagus. Desa-desa biasanya dibangun di hilir sungai, atau di dekat sumber air. Tujuanku selanjutnya berarti menyusuri aliran sungai ini. Jika aku bisa bertemu beberapa warga sekitar, mungkin aku bisa minta sedikit bantuan soal transportasi. Sekarang aku mendapat tujuan. Orang-orang tadi aku lihat berjalan menjauhi sungai. Apakah desa mereka memang lumayan jauh dari sini? Tidak sesuai dugaan. Biasanya pemukiman dibangun dengan mengelilingi sumber air. Meski begitu, lebih baik mengikuti mereka daripada berjalan bertualang lagi sampai ke hilir yang aku sendiri tidak tahu pasti ada apa di sana.


Jejak kaki mereka tersembunyi oleh rerumputan setinggi lutut, agak sulit menemukannya. Aku berjalan memutar, menyusuri alur sungai sedikit, kemudian menemukan jalan berlumpur yang tidak ditumbuhi rumput. Mungkin inilah jalan yang biasa mereka gunakan. Mereka sudah tahu jalan pulang, tidak perlu lagi mengikuti jalur yang sudah terbentuk. Aku rasa begitulah pemikiran mereka, dan semoga memang begitu.


Aku ikuti jalan setapak berlumpur itu perlahan, berhati-hati semoga orang-orang itu tidak menyadariku. Buku aturan bilang peserta tidak akan bisa menebak dari mana musuh akan datang. Siapa tahu orang-orang itu juga akan menjadi lawan. Itulah kenapa aku mengendap-endap.


Jalan berlumpur membuat suara langkah kaki terdengar jelas, jadi aku berjalan di pinggir, menginjak tanah berumput yang lebih kering. Rerumputan ini semakin tinggi semakin jah aku berjalan. Semakin juga aku merasa khawatir akan kehilangan jejak. Jalan setapak itu mulai menipis seiring dengan semakin tingginya ilalang-ilalang yang memenuhi pandangan sekitar. Aku mulai ragu apakah aku masih berjalan lurus atau sudah kehilangan jalur, tapi ketika menyadari ilalang yang tumbuh mulai pendek lagi, aku tahu aku sudah dekat tujuan.


"MENUNDUK!!!!!!!!!!!"


Jeritan yang terdengar tiba-tiba membuatku tersentak. Dua tangan panjang mendorongku dari samping, merobohkan tubuhku yang kecil dengan mudah. Hanya sekilas, hanya sepersekian detik setelahnya, aku bisa menangkap pemandangan ganjil dari ilalang-ilalang yang beterbangan, mendekat padaku secepat angin.

__ADS_1


...* * * * *...


__ADS_2