Children Of Thalia

Children Of Thalia
Ketua OSIS Akademi Helder


__ADS_3

Pemuda itu menoleh lagi padaku, lalu kembali ke Ansel. Padaku lagi, pada Ansel lagi. Dia lalu menarik tangannya. Tanpa berkata-kata lagi, dia duduk di sofa, melemaskan punggung, melemaskan bahu, tampak seperti jeli yang mencair. Dengan wajah damai, dia menatap langit-langit.


"Jika besok aku menghilang, aku harap kau tamatkan akunku."


Ansel terkekeh, menatap sombong pemuda yang tampak seperti sudah kehilangan harapan, kemudian berkata sinis. "Tidak, aku hapus di depan batu nisanmu."


"Iblis."


"Ha-ha-ha!!!"


"TUNGGU, SERIUS, INI ADA APA!?"


Aku terpaksa meninggikan suaraku. Serius, apa yang mereka bicarakan? Orang ini payah di game, tidak telrihat berwibawa meski aku yakin dia ini orang penting. Aku mengerti, tapi apa yang mereka bicarakan setelahnya sama sekali tak bisa aku cerna.


"Jangan terlalu dipikirkan. Orang ini memang selalu bereaksi berlebihan. Ayo, duduk saja, nyamankan dirimu. Oh, kau juga bisa ambil control stick kedua di bawah laci, kau main Midgard Quest juga, 'kan?"


"Tidak, terima kasih."


"Sayang sekali."


Ansel segera duduk di hadapan orang itu, agak ke pinggir agar aku dapat tempat. Dengan masih kebingungan akan situasi yang tadi, aku perlahan duduk di sampingnya. Orang di hadapanku menghela napas panjang, kemudian duduk lebih serius.


"Ayolah, setidaknya lebih serius jika menghadapiku di sekolah. Ada aturan, kau tahu?" Keluh pemuda itu sambil merapikan rambutnya. Rambut poninya menutup sebagian muka, jadi aku baru bisa melihat matanya yang berwarna biru sepertiku, atau lebih gelap dariku.


"Yaah, kau juga sudah di luar waktu kerja, bukan? Aku pikir perkenalan santai untuk anak ini tidak buruk juga."


"Lucu menganggap ini tidak buruk." Pemuda itu lalu tersenyum tipis, menoleh padaku dengan angin yang lebih ramah di sekitarnya. "Maaf, kau harus melihat sesuatu yang tidak pantas sebagai kesan pertama."


Tutur katanya lebih sopan dari Ansel. Akhirnya aku bertemu orang normal.


"Ah, tidak. Aku tidak terlalu memikirkannya."


Pemuda itu meletakkan tangan di dada, lalu membungkuk sedikit dengan mata yang masih menatapku.


"Namaku Sean Fabre Sephoris, ketua OSIS Helder. Meski dibilang ketua OSIS, aku seangkatan dengan Ansel, jadi santai saja selama tidak berhubungan dengan formalitas sekolah. Gift-ku, tadi sudah bisa dilihat, aku tipe aggressor dengan nama gift «Darkest», mengendalikan kegelapan."


Tata krama yang indah, atau mungkin memang begitulah harusnya berkenalan yang baik, tidak seperti orang di sebelahku. Aku terlalu terbiasa dengan situasi tak formal selama ini. Aku ingat hanya beberapa orang di Polaris yang menerapkan aturan perkenalan formal selama aku di sana. Melihat itu lagi di sini membuatku cukup terkesima sekaligus canggung. Segera aku juga meletakkan tangan kanan di dada dan membungkuk.


"Ah, salam kenal. Aku Theodore Radley Asera. Senang bertemu denganmu, Senior Sephoris."


"Sean saja untukmu. Aku yakin kau juga tidak mau dipanggil Asera, benar?"


Tentu saja dia tahu itu.


"Benar. Aku akan menghargainya jika senior mengenalku sebagai Theodore Radley saja."


"Sudah aku duga. Yah, dia juga punya masalah dengan Asera. Aku tidak tahu, apa ada semacam dendam? Maksudku, bukankah itu nama yang bagus?"


"Jangan menggali terlalu dalam, nanti susah menutupnya." Potong Ansel tegas. Terima kasih, untuk hanya kali ini aku berterima kasih. "Lebih penting lagi, ini surat konfirmasi undangan. Dia masuk Helder, lusa nanti ikut ujian praktik."

__ADS_1


Sean mengambil surat itu, dibacanya dan dilihat tanda tanganku di akhir surat. Konfirmasi selesai. Dia menutup lagi surat itu dengan rapi. 


"Akan aku sampaikan ke bagian administrasi, tapi aku juga butuh berkas-berkas pendukungnya."


"Oh, aku membawanya!" segera aku membuka ransel. Di pemberitahuan pendaftaran memang sudah disebutkan untuk membawa berkas-berkas seperti akta lahir, ijazah sebelumnya, serta bukti persetujuan sekolah atas prestasi yang aku terima. Aku letakkan amplop besar itu di atas meja, langsung dibuka oleh Sean dan diperiksa satu persatu. "Aku menyertakan kartu NFC di dalamnya, kalau-kalau kalian membutuhkan data digital."


Seang merogoh amplop lebih dalam lagi, mengeluarkan kartu yang aku maksud. "Tambahan yang bagus. Terima kasih." Kata dia sambil tersenyum. Dia letakkan lagi amplop itu di meja, lalu menghela napas panjang. "Aku rasa sudah segini saja. Kau akan mendapat kartu ujianmu besok. Informasi-informasi ujian juga tertulis lengkap di sana, digital. Jangan lupa bawa kartu itu sebagai syarat ujian nanti lusa."


"Aku mengerti. Terima kasih, Senior Sean."


Orang itu tiba-tiba memicingkan mata. Tubuhnya sedikit condong ke depan, menatapku seolah tengah menerawangku lebih jauh. Sedikit aku mundur ke belakang, tapi mulutku masih tertutup rapat saat dia kembali duduk dengan normal.


"Kau tidak kelihatan seperti dia. Mata dan rambutmu berbeda." Ujar Sean. Aku paham kenapa dia berkata seperti itu, orang-orang juga sering berkata begitu dulu.


"Dia lebih mirip adik bungsunya, Elysia Ciaran. Mereka benar-benar sama hingga waktu aku pertama melihatnya, aku kira dia telah mengecil jadi anak SD lagi." Sahut Ansel menjawab. Itu juga benar, Lizzy mirip dengannya, yang mana membuatku tidak bisa melupakan wajah orang itu.


"Liz.... adikku Elysia dan dia mendapat rambut dari ibu kami, sementara aku dari ayah. Tapi warna mata kami sebetulnya sama, sampai aku mendapat gift ini di usia lima tahun."


Sean memicingkan matanya lagi, kali ini lebih fokus menatap mataku tajam. "Setelah diperhatikan, cara kalian menatap sesuatu memang sama. Kau mungkin akan sama menyeramkannya seperti dia nanti."


Kami sama. Menyebalkan, tapi itu memang benar.


"Dia sudah sering disebut menyeramkan di sekolahnya." Sahut Ansel lagi. "Aku juga merasa mereka punya potensi kekuatan yang sama. Akan menyenangkan memiliki Asera di timku."


"Dengan bayaran nyawamu?"


Ansel melirik padaku, seolah sudah tahu apa rencanaku dari awal. Mungkin jelas tergambar di wajahku ketika aku memutuskan untuk mendaftar ke Helder. Dia tidak salah, tapi aku berbohong jika aku bilang kalau aku yakin akan menang melawannya.


"Aku harap." Jawabku singkat.


Sean menepuk tangannya sekali, membuat fokusku langsung tertuju padanya. Dia berdiri, melirik jam dinding di tembok belakang kami.


"Nah, lihat sudah jam berapa sekarang. Perjalanan dari sana jauh, kan? Istirahatlah dulu sekarang. Kau menginap di mana?"


"Hotel Saunman di jalan Egerney." Jawab Ansel, menggantikanku. "Hebatnya, dia menyewa hotel itu sendiri."


Mata Sean melebar, terkesima mendengar jawaban Ansel. Aku memalingkan pandangan ketika mata Sean bergulir padaku. Agak malu juga dipelototi seperti ini.


"Kau sudah bekerja? Hebat." puji Sean penuh rasa kagum. Aku lihat sekilas matanya berbinar. Di luar dugaan, dia sangat ekspresif. 


"...... Cuma pekerja lepas." gumamku menyahut.


"Ya, di CTI." Lanjut Ansel.


"Anak perusahaannya."


"Eh, bukankah kau pernah di CTI?"


Dia memojokkanku, dengan sengaja. Aku yakin setelah melihat seringainya yang menyebalkan. Aku ingin menyangkal, tapi tidak ada yang bisa disangkal. Ansel menyelidiki latar belakangku, yang mana aku sendiri memang tak berniat menyembunyikannya karena aku pikir siapa yang mau tahu tentangku? Berbohong pun tak ada gunanya, aku kehabisan kata-kata hingga Sean tertawa kecil dengan senyum simpulnya yang begitu hangat.

__ADS_1


"Tidak heran kau mendapat undangan." ujar Sean, "pergilah, istirahat yang cukup. Ujian nanti lusa akan sangat menantang. Kau tidak ikut ujian tertulis besok, jadi bersiaplah yang matang."


Oh, mataku benar-benar tak bisa mengalihkan pandangan darinya. benar-benar sosok yang luar biasa. Dewasa dan menawan, hingga aku merasa seperti benar-benar berhadapan dengan sosok pemimpin yang ramah. Benar, inilah harusnya standar untuk seseorang yang besar, aku terlalu teralihkan ketika melihat gaya Ansel yang sembrono. Sean ada di tingkatan berbeda.


Hingga, suara kecil pemuda di sebelahku menghancurkan bayangan idealku lagi.


"Jangan terkecoh, dia ini orang yang selalu berteriak tak karuan ketika bermain game. Ditambah lagi, dia payah."


"..... Terima kasih atas informasinya." gumamku membalas. Suaraku hampir tidak terdengar, aku yakin, tapi aku tahu Ansel yang pengendali getaran itu bisa mendengarnya jelas. 


Aku letakkan lagi tangan kanan di dada, membungkuk lebih rendah dari sebelumnya, dengan gerakan yang lebih halus dari sebelumnya, lalu berucap salam.


"Sampai jumpa lagi lain waktu, Senior Sean. Terima kasih atas bantuannya."


Sean melakukan gestur yang sama, dengan pandangan yang benar-benar tak lepas dariku. "Sampai jumpa lagi."


Aku ingin berbalik, langsung pergi ke hotel, berbaring, lalu tidur pulas untuk malam ini. Tapi seruan yang terdengar tiba-tiba membuatku berhenti sejenak.


"Oh, satu lagi. Aku hanya ingin memastikan, kau benar-benar pernah kerja di CTI?"


Aku sebenarnya tidak mau membahas tentang itu, karena aku tidak mau orang-orang melihatku lebih dari sekadar anak remaja biasa. Tapi aku ingin percaya kalau Sean memang hanya ingin memastikan. Lagi pula dia ini teman Ansel.


"Hanya magang, itu pun tidak lama. Kenapa?"


"Ah, tidak. Tidak apa-apa kalau begitu." Sean kembali duduk, bersandar pada sofanya dan meraih lagi controller di atas meja. "Ini hanya peringatan dini, tak perlu dipikirkan terlalu keras, tapi aku harap kau memperhitungkannya. Jika kau bertemu nama DiMichelle nanti, lebih baik segera pergi saja. Aku tak bisa memberitahu lebih jauh, itu informasi rahasia. Tapi aku memberitahumu untuk hati-hati mengingat kau adalah Asera."


DiMichelle lagi, ya? Aku tahu keluarga konglomerat terkadang terlibat dalam konflik internal serius, seperti perebutan kekuasaan atau harta warisan, tapi apakah benar-benar serius hingga aku harus hati-hati? Atau apakah ada hubungannya dengan potensiku sebagai receiver, atau sebagai Theodore Radley sendiri?


"Ansel sudah memperingatiku juga kemarin-kemarin. Aku akan hati-hati."


Tanpa kata-kata lagi, aku membungkukkan badan untuk yang terakhir kali sebagai salam akhir, lalu berjalan ke luar ruangan. Ansel juga berjalan mengikuti. Dia memperlihatkan tanda peace di jarinya sebelum keluar juga.


"Sampai nanti, semoga kau berhasil mengalahkan boss itu."


"Oh, tidak perlu khawatir. Eli akan membantuku."


Tanpa membalas lagi, Ansel menutup pintu hitam rapat-rapat. Seperti sebelumnya, tak terdegnar suara apapun ketika pintu ditutup. Benar-benar teknologi yang hebat. 


"Apa konflik DiMichelle memang serumit itu?" Tanyaku sambil berjalan cepat menyusuri koridor. Di luar dugaan, Ansel menghela napas panjang sambil menepuk jidat. Baru kali ini aku melihat raut muka seperti itu di wajahnya. Itu berarti masalah ini lebih serius dari yang aku kira.


"Ini kasus paling rumit yang aku hadapi. Kalau saja masalahnya cuma menangkap atau menyergap, akan mudah."


"Kalau masalah ini?"


Ansel memalingkan pandangan sebentar. Ketika kami keluar koridor, matahari sudah hampir terbenam. langit bermandikan cahaya oranye kemerahan yang tampak cantik. Cuaca juga hangat hari ini, cuaca yang bagus untuk berjalan-jalan sore hari. Namun, kata-kata Ansel selanjutnya malah membuat angin di sekitarku terasa dingin bak badai salju yang kuat.


"Mengambil nyawa."


...* * * * *...

__ADS_1


__ADS_2