Children Of Thalia

Children Of Thalia
Mengenal Lawan


__ADS_3

Aku pernah mendengarnya beberapa kali, di berbagai tempat. Nama itu memiliki kesan berbeda ketika diucapkan oleh orang berbeda, di waktu berbeda, di tempat berbeda. Misalnya, di tempat kerja, mereka disanjung sebagai pengusaha hebat. Di kelas sejarah, mereka dipuji sebagai pendekar dan pahlawan. Di kelas, orang-orang membicarakan gosip-gosip soal mereka.


Mendengar nama itu membuatku sedikit terkesiap. Oh, sungguh, aku tidak mengira nama itu akan keluar tahun ini. Saking terkejutnya, aku sampai menyeringai seram.


"Theo, DiMichelle itu....." 


"Pemilik CTI." Ucapku melanjutkan kata-kata Val. "Sungguh? Aku memang tahu kepala CTI punya anak yang masih muda, tapi aku tidak mengira dia seumuran denganku."


"Sudah aku bilang kau akan tertarik. Aku tidak bisa mengatakan nama lengkap atau wajahnya, itu rahasia Helder. Tapi aku yakin kau punya bayangan akan terlihat seperti apa dia."


Aku menggelengkan kepala sembari mengangkat tangan. "Nah, bahkan tidak terbersit sedikit pun. CreaTech Industries benar-benar menjaga kerahasiaan bos mereka. Aku pernah bekerja magang di anak perusahaannya, dan tidak secuil pun informasi soal anak-anak penerus muncul ke permukaan. Mungkin aku bisa bayangkan orang itu tipe Pangeran Konglomerat yang Sombong atau Putri Kaya Berduri."


"He, menarik juga. Jadi begitu kau membayangkan mereka?" Ansel terkekeh seperti orang tua. "Aku jamin mereka benar-benar berbeda dari bayanganmu itu."


Aku tahu, mana mungkin itu serius, 'kan? Jika apa yang aku katakan benar, maka aku memutuskan tidak akan mendekati mereka sepanjang aku bersekolah di Helder.


"Lalu, kenapa informasi itu begitu penting bagiku?" Tanyaku sembari melahap roti. Namun, Ansel malah menatap heran.


"Oh, tentu saja kau tidak tahu tentang mereka, ya?" Katanya. Dia lalu tersenyum lagi. "Yah, ini bukan sesuatu yang bisa atau boleh aku jelaskan. Nanti kau akan mengerti. Aku hanya ingin memberimu peringatan dini. Aku tidak melarangmu terlibat dengan mereka, tapi boleh dibilang konsekuensinya berat."


"Seperti?"


Aku mengharapkan "tidak lulus ujian", tapi jawaban Ansel membuatku sedikit merinding.


"Bangun lagi di rumah sakit, dengan badan yang benar-benar diperban."


Baik Val maupun Lee tampak tersentak mendengarnya. Baru beberapa hari sebelumnya mereka melihatku keluar dari rumah sakit, baru dua Minggu lalu mereka melihatku terkapar berlumuran darah dengan luka tembak di dada. Mendengarku akan bangun di rumah sakit lagi mungkin membuat mereka khawatir.


"Apa mereka sudah tahu tentangku?" Tanyaku pada Ansel, tapi dia menggelengkan kepala sembari mengangkat tangan.


"Tidak ada informasi. Kami juga kesusahan untuk menghubungi mereka, kau tahu? Anggap saja kalau orang itu tahu tentangmu, mungkin kau akan diincar dari awal ujian."


"Tidak aneh." Sahutku singkat. Aku melemaskan punggung, bertumpu pada kedua tangan di belakang. "Susah juga kalau begini."

__ADS_1


Lee melirik padaku. Suaranya ketika berbicara terdengar sayup-sayup. "Theo, kau berniat batal mendaftar?"


Wajar Lee berpikiran begitu. Ujian ini mungkin lebih berbahaya dari yang aku bisa duga. Tapi aku sudah melangkah terlalu jauh. Lagipula, kenapa aku harus mundur?


"Kau bercanda?" Aku menampakkan seringai lebar, atau begitulah aku rasa. "Ini menarik. Permasalahan internal keluarga konglomerat. Permasalahan yang menyangkut anak yang akan mendaftar dengan risiko rumah sakit, itu berarti satu keluarga mengincar keluarga lain, mungkin menggunakan penyusup. Yang pasti antara keluarga DiMichelle ingin seseorang tidak lulus, atau orang lain ingin DiMichelle tidak lulus. Jika ini terhubung denganku, salah satu dari kedua pihak mungkin akan mengincarku bukan sebagai lawan, tapi untuk menjadi kawan. Benar begitu, Ansel?"


Ansel terkekeh geli sementara Val dan Lee melotot heran. Gawat, ini menyenangkan. Hanya Ansel yang mengerti, mungkin lebih mengerti lebih banyak lagi daripada aku.


"Luar biasa, kau menebak garis besarnya." Puji Ansel sambil bertepuk tangan. "Benar, salah satu dari pihak terkait mungkin akan mendatangimu untuk menjadi sekutu. Itupun kalau mereka tahu tentangmu. Aku hanya bisa bilang agar siap-siap saja. Pertarunganmu akan melawan sesama manusia."


"Aku tahu."


Aku habiskan roti di tangan, lalu meneguk minum hingga mengosongkan botol. Terasa segar kembali. Aku menatap gedung sekolah di seberang. Tiga tahun yang aku habiskan di sana, meski aku tidak terlalu dikenal di sekolah, tapi rasanya rindu juga.


"Omong-omong, kalian tidak ada kelas?" Tanya Ansel lagi.


"Kau sendiri?" Balasku bertanya balik.


"Ujian beres Minggu lalu. Kerjaanku di Divisi Keamanan tahun ini juga beres. Tinggal menunggu tahun ajaran baru dimulai. Kalian sendiri?"


"Hee.... Kau sendiri daftar ke mana?"


"Val dapat beasiswa di SMA Argon, Lee daftar di kejuruan arsitek Leanzea." Jawabku, membuat Ansel menganga terkejut.


"Tunggu, sungguh? Kalian memang terkenal di sini?"


Baiklah, saatnya membusungkan dada. "Heh, kau tidak tahu? Val juara tiga kali berturut karate tingkat nasional, Lee dipuji beberapa kali oleh guru seninya untuk urusan perspektif dan seni bangunan."


"Berkata begitu seolah kau tidak terkenal saja.", Val memotong kata-kataku.


"Theo, berlian dalam lumpur sepertimu tak bisa berkata begitu pada kami." Lee melanjutkan.


"Ayolah. Kalian tidak dengar apa yang mereka katakan kemarin-kemarin? Mereka menganggap kalau anak bermasalah sepertiku tak pantas masuk Helder."

__ADS_1


"Oh, begitukah?" Tanya Ansel lagi.


"Sayangnya, iya." Lee meneguk air dahulu sebelum melanjutkan. "Kau tahu Theo ini sering bertengkar, 'kan? Saking seringnya, semua prestasi yang dia punya seolah tertutup oleh rumor kalau dia ini anak bermasalah. Sekarang setelah ada kabar kalau dia masuk Helder, semua orang terkejut."


"Makannya kami ada di sini, sendiri. Sekalian melatih Theo sedikit beladiri." Lanjut Val.


Ansel terkesiap mendengarnya. "Kau? Belajar beladiri?"


Ya, sulit dimengerti memang, apalagi setelah dia tahu aku bisa bertengkar.


"Aku tahu lawanku selanjutnya itu manusia. Aku yakin akan lebih sering menggunakan tangan daripada gift. Selama ini gaya bertarungku gaya jalanan, aku tidak yakin bisa menang melawan yang benar-benar terlatih."


"Tapi lumayan merepotkan juga." Val menimpal, "Theo tidak fokus di tenaga, dia fokusnya kecepatan. Susah untukku melatihnya."


"Dia tidak perlu berlatih banyak. Kuatkan saja dasar-dasar dan semua beres." Ansel membalas santai. "Tidak perlu berpikir kalau kau akan lebih sering menggunakan tangan di sana. Efektivitas penggunaan gift juga jadi penilaian. Mengingat kau lebih sering bertarung menggunakan taktik, aku rasa kau aman."


Ansel melompat berdiri, melakukan peregangan sedikit sembari menepuk-nepuk celananya. Sekali lagi dia menarik pinggangnya ke atas, lalu menghela napas panjang.


"Sudah mau pergi?" Tanyaku.


"Ada penjelajahan dungeon nanti sore."


"Oh, apa itu? Midgard Quest?"


Ansel tergemap, walau tampangnya masih mencoba tenang. "Kau tahu itu juga?"


"Sedikit."


"Kalau begitu datanglah setelah ujian masuk. Mungkin aku bisa membantumu menaikkan level."


"Tidak perlu menunggu, aku akan segera ke sana."


"Sebaiknya itu benar."

__ADS_1


...* * * * *...


__ADS_2