Children Of Thalia

Children Of Thalia
Operasi Pembersihan - 2


__ADS_3

Selagi berjalan menyusuri apartemen, Kuro melirik-lirik sekitar. Satu orang terkapar di depan pintu, tiga orang di ruang setelahnya, juga dua ruangan lain dengan pintu terbuka, mungkin ada lebih banyak tubuh di sana, tapi bukan itu yang perlu Kuro cemaskan sekarang.


"Tetha-1, Tetha-2, berhenti sejenak. Empat patroli di lantai atas.. Akan kami bereskan."


"Dimengerti. Tetha-1, tunggu sejenak."


"Tetha-2, tahan sejenak."


Desis halus peluru yang memotong udara mengantarkan peluru yang melesat cepat dari pistol-pistol bius anggota Tetha-3. Tak lama, suara gedebuk tubuh yang menghantam lantai terdengar disertai nyaring bunyi senjata yang jatuh.


"Penjaga telah dilumpuhkan." Lapor Tetha-3.


"Kerja bagus. Tetha-1, Tetha-2, menuju lantai dua."


Derap halus kaki bersepatu bot tebal menjadi hitung mundur acara utama. Pistol diarahkan ke atas, dicengkeram erat berusaha menahan gemetar. Napas penuh adrenalin terdengar dari depan maupun belakang, tapi Kuro tetap tenang seperti es. Dia sudah pernah mengalami hal yang lebih menegangkan dan lebih buruk dari ini. Meski sebetulnya bukan berarti dia tidak panik. Pada faktanya, pikiran Kuro saat ini tengah memproses segala macam informasi yang dapat dia tangkap selama dia berjalan menyusuri apartemen. Segala macam kemungkinan, segala macam strategi kalau-kalau ada penyerangan atau tersangka yang kabur, telah dia pikirkan.


"Tetha, melaju lurus. Waspada patroli."


"Komandan, ada kamera pengawas."


"Biarkan. Intel sudah mengurusnya."


"Dimengerti, Komandan."


"Komandan, dua mendatangi dari kiri, koridor menuju titik target."


"Berapa total di depan?"


"Empat, dengan dua lagi berjaga di depan pintu."


"Langsung bereskan. Tembak mereka."


"Laksanakan."


"Dimengerti, komandan."


Kuro meletakkan jari telunjuknya pada pelatuk, bersiap di balik tembok belokan. Derap langkah kaki semakin terdengar jelas seiring dengan semakin tingginya bayangan kedua orang yang mendekat. Kuro menarik napas dalam, kemudian menunggu perintah.


"Sekarang!!"


Laras pendek pistol segera diarahkan pada kepala dua orang penjaga yang mendekat. Ditarik pelatuk oleh Kuro dan Magz, tepat mengenai dahi kedua penjaga. Dua lagi di belakang langsung waspada ditariknya senjata mereka ke depan, bersiap menembak, tapi tim Tetha adalah ahli di kecepatan dan kelincahan. Kuro dan Magz langsung menarik kedua penjaga yang mendekat sembari tiarap, sementara dua Tetha lain di belakang melepas tembakan, tepat mengenai kepala dan leher hingga mereka pingsan tanpa sempat menarik pelatuk.


"Penjaga dibereskan, Komandan."


"Bagus. Maju ke lokasi."


Tanpa menghiraukan tubuh yang terkapar akibat obat bius, Tim Tetha cepat melangkah dan berkumpul di depan pintu kamar apartemenbertuliskan nomor 207. Itulah tujuan mereka. Tempat yang diduga menjadi sarang dari serigala alpha yang menjadi dalang di balik kematian Ellis Grant, sekaligus mencari informasi soal keterkaitan kematian Ellis Grant dengan kelompok receiver ekstremis yang diduga terlibat langsung dalam kasus tersebut.


"Pintu terkunci, Komandan."


"Tak perlu khawatir, aku sudah bersiap. Noe."

__ADS_1


"Siap."


Noe berjalan ke depan, menarik sebauh linggis dari balik rompinya. Dikaitkan linggis itu ke celah pintu, dan semua bersiap menerobos.


"Bersiap dalam hitungan tiga.... dua.... satu.... sekarang."


"Laksanakan."


Didorong linggis itu kuat ke arah dalam, mencongkel pintu yang tampak kokoh dengan mudah. Linggis dijatuhkan, menciptakan suara dentingan kasar yang langsung saja termakan suara derap langkah tim tetha yang menerobos ruangan. Moncong pistol diarahkan ke segala tempat, mencari adanya potensi bahaya. Kuro menggenggam gagang pedangnya, Magz bersiap dengan kaki apinya, Mei sudah mendinginkan tangannya, dan Noe sudah fokus dengan moncong pistolnya.


"JANGAN BERGERAK!!!!!!!!"


Di luar dugaan, di dalam sana hanya ada satu orang wanita. Seseorang yang tampak begitu lemah dengan tubuh kurus dan wajah panik ketakutan.


"TIDAK, JANGAN BUNUH AKU, AKU LAKUKAN SEMUANYA, AMPUNI AKU!!!!!"


Namun, meski berteriak-teriak, wanita itu tak berhenti bergerak, mondar-mandir di tengah ruangan layaknya orang yang benar-benar ketakutan.


"JANGAN BERGERAK, ANGKAT TANGAN!!!!!"


"BAIK, BAIK. AKU... AKU CERITAKAN SEMUANYA, JANGAN BUNUH AKU!! JANGAN BUNUH--"


Kuro dengan gesit menekan pelatuk. Peluru bius tepat menancap di dahi wanita itu, membuatnya jatuh tersungkur ke lantai kayu yang berdebu. Tangan kirinya yang sejak tadi masuk saku menjembul keluar, tergeletak masih menggenggam semacam tabung biru kecil yang mengedipkan cahaya merah. Noe menghampiri, mengambil tabung itu untuk dianalisis. Dia terbelalak.


"Lihat, Komandan. Doping yang membuat gift mengamuk sesat. Sudah dilengkapi suntikan yang mencuat keluar."


"Nyaris sekali. Kerja bagus, Kuro." Puji Komandan. Dia menekan tombol di kanan helm. Ketika garis-garis cahaya di sekitar helmnya mati, dia tarik helm sempit itu, memperlihatkan wajah tegas dengan mata yang sayu. "Tetha-2, Wild Dogs, geledah rumah, periksa apakah ada informasi yang penting mengenai kematian Ellis Grant dan hubungannya dengan grup ekstremis. Tetha-3, Noe, amankan seluruh tersangka, ikat semua, masukkan ke dalam truk. Kuro, tetap di sini. Laporkan penemuan kita pada Ansel."


"Dimengerti, Komandan."


"Laksanakan."


"Siap."


"Aku mengerti."


Seluruh kaki melangkah ke luar dengan tertib. Mereka tak perlu menyembunyikan keberadaan lagi. Tahap kedua sudah selesai. Mereka sudah berhasil menyusup dan membereskan para serigala. Tinggal penyelidikannya. Di ruangan itu, hanya tersisa Kuro dan si Komandan Tetha, Gian Narsete Angelis, atau Gianni si hantu.


Pistol diletakkan lagi ke sarungnya, pedang disimpan lagi ke sabuk. Gianni menyalakan senter yang terpasang di jam tangannya, memeriksa tembok dan sudut-sudut ruangan. Dokumen-dokumen, catatan-catatan, foto-foto orang banyak tertempel di tembok. Semuanya acak hingga sulit untuk mencari garis merahnya. Gianni memicingkan mata pada setiap foto. Wajah-wajah yang diberi lingkaran merah tidak dia kenal, tapi terasa familiar.


"Komandan, bisa ke sini sebentar?" tanya Kuro dari sudut seberang.


Gianni berbalik, menghampiri Kuro sembari tersenyum masam. "Ayolah, panggil aku Gianni seperti biasa."


"Negatif, komandan. Anda sudah diberi kepercayaan gelar Komandan untuk misi ini." Jawab Kuro, dengan nada datarnya seperti biasa. Ketika Gianni sudah ada di sebelahnya, jari telunjuk ramping Kuro menunjuk satu foto yang sebagiannya tetutup foto lain. "Lihat ini, Komandan. Apa wajah ini terasa familiar?"


"Semua wajah di sini juga terasa familiar bagiku..... tunggu....." Gianni memicingkan mata lagi, melihat foto itu lebih jelas. Wajah di sana, wajah yang agak buram akibat foto yang diperbesar, jelas memperlihatkan wajah yang akan selalu terukir di kepala Wild Dogs maupun Merlins. "Tidak mungkin.... wajah ini.... Jaimie Ferga??"


"Tepat. Si Pengendali Boneka yang isi kepalanya hancur sebulan yang lalu. Fotonya terpasang dengan tanda silang."


"Apa ini... dia juga menjadi target?"

__ADS_1


"Tidak, masih belum jelas." Kuro berjalan lagi ke dinding yang lain. Gianni mengikuti dari belakang, hingga dia berhenti di dinding sebelah, menunjuk lagi satu foto. "Masih ingat dengannya?"


Pertama melihat foto itu, dahi Gianni mengerut. Dia lalu melempar muka, berdecak, juga merasakan lagi penyesalan yang sudah lama terkubur. Tentu saja, Kuro paham dengan itu, karena dia juga merasakan hal yang sama.


"Tentu saja aku ingat. Dia guru berharga kita."


"Natalie Hirtzel. Meninggal tahun lalu. Foto ini juga berdebu dan tenggelam oleh foto-foto lain. Nah, lihat di sebelahnya."


Ekspresi yang ditampilkan Gianni tak dapat diterka lagi.


"....... Ellis Grant."


"Meninggal dua minggu yang lalu."


"Ini....." Dia mendongak, menyorot seluruh foto yang tertempel di dinding dengan senternya. Hampir semua foto memiliki tanda silang, yang mana sama seperti foto Ellis Grant. Matanya lalu melebar lagi, sadar akan sesuatu. "Tunggu, tunggu sebentar..."


Dia berjalan penuh kegelisahan, mengitari ruangan, melihat setiap foto. Jarinya lurus menunjuk satu persatu foto, mencari wajah-wajah familiar.


"Kuro, lihat ini." Ujar Gianni. Kuro menghampiri. "Dimitri Sazonov, kepala ******* Ulkafa yang tewas tahun kemarin."


Mata Kuro bergulir agak ke bawah, melihat foto yang ditunjuk Gianni dengan jari telunjuknya yang seperti dahan tebal.


"Mereka menempel fotonya seperti piagam."


Mengangguk dalam kengerian, Gianni hanya bisa menyeringai masam, tertawa pahit menyadari kalau tengah terjadi sesuatu yang mengerikan di bawah bayangan Thalia.


"Itu satu cara unik untuk menjelaskannya. Lihat ke atas."


Bahkan untuk Kuro yang telah melihat banyak sekali kejadian bersama Ansel sejak dia direkrut ke dalam Wild Dogs, dia masih terpaku tak berkata-kata ketika melihat sekumpulan foto yang ditempel agak ke atas.


"Nikita Zhabin, Volodya, Tristan Gilmore, Albert Willis......."


"Para pemimpin regu ekstremis yang sudah mati."


Kuro tak mampu berkata-kata. Dia mundur beberapa langkah, memejamkan mata sebelum mengusap mukanya kuat.


"Aku paham. Mereka bukan target, mereka adalah pengorbanan yang diperlukan."


"Cara unik untuk menjelaskannya, lagi." Sahut Gianni, sama-sama menghela napas juga. "Tembok ini berisi mereka yang mati oleh polisi khusus, tentara, atau kita sendiri. Dalang-dalang di balik kejadian besar yang terjadi beberapa waktu ke belakang."


"Benar...... ya, itu masuk akal." Kuro berbalik, melihat lagi dinding seberang. Foto-foto yang terpampang di sana sekarang terlihat lebih masuk akal baginya. "Jaimie Ferga, Fred Rocco, Willi Kautz. Semuanya kriminal yang tewas misterius. Ada beberapa anggota gila LOST juga yang tewas akibat ulah mereka sendiri. Dinding ini tampaknya untuk orang-orang yang berkorban."


"Tinggal yang tengah." Ujar Gianni.


"Bukannya jelas?" Kuro berjalan lagi ke dinding tengah, menunjuk beberapa foto. "Ini adalah orang-orang yang harus menjadi korban. Komandan, apa anda lupa soal kematian Ibu Nat?"


Dahi Gianni kembali mengernyit, mengingat lagi kejadian tahun lalu yang sebetulnya tidak mau lagi dia ingat meski hanya sedetik saja.


"Mana mungkin aku lupa kejadian itu."


"Maka tidak perlu aku ingatkan lagi."

__ADS_1


Tangannya mengepal. Jengkel, marah, wajahnya memerah. Jika mengingat lagi kejadian sewaktu dia menemukan jasad guru favorit seluruh siswa Helder tahun lalu, Gianni terkadang tak bisa menahan diri. Itu karena dialah yang pertama menemukannya waktu itu. Sosok tak bernyawa dari guru yang dia hormati.


...* * * * *...


__ADS_2