
Mereka bilang raungan harimau dibuat untuk menciptakan teror. Saking luar biasanya teror yang mereka ciptakan hingga mampu membuat mangsanya terlumpuhkan sejenak. Yah, sekarang aku bisa memastikan. Ketika raungan serak bak mesin mobil tua itu terdengar menyentak dari belakang, yang bisa aku lakukan hanya terpaku tak bergerak.
Ini adalah hutan hujan, tentu saja. Kenapa aku tidak mengira kalau akan ada harimau di sini. Terlebih, yang saat ini lewat di depanku adalah harimau yang besar. Itu lewat di belakang si pemuda, jadi aku bisa lihat jelas kalau tinggi harimau itu mencapai bahu si pemuda, yang mana berarti sekitar 140 atau 150 cm. Panjangnya sendiri, aku tidak bisa memastikan. Ujung ekornya baru terlihat setelah kepala harimau itu sudah lewat dari jarak pandangku.
Dia menggeram, mengaum ringan beberapa kali. Baris gigi taringnya mengerikan, ditambah liur yang menetes tanda lapar. Kami tidak bergerak sedikit pun, bukan karena berharap tidak diserang, kami tenggelam dalam ketakutan.
Perlahan harimau itu melangkah, melintas ke belakangku. Rasanya punggungku geli, seolah semua pertahananku difokuskan ke punggung. Aku tatap pemuda ilusi di depan. Dia balik menatapku. Rasanya kami sepaham. Aku hanya menggulirkan mata, kemudian mengangguk. Pemuda itu juga mengangguk paham. Perlahan dia gerakkan jarinya, mengarah ke harimau di belakang. Setelah mengunci target, dia tembakkan peluru cahaya kecil itu, membuat harimau di belakangku tiba-tiba saja mengaum terkejut.
"LARI!!!!!!"
Kesempatan sudah tercipta. Sepuluh detik. Dalam waktu sepuluh detik kami harus lari menjauh. Tidak peduli ke mana, apakah hanya lari atau sembunyi. Si pengguna ilusi tampaknya sudah menjauh ke arah berbeda. Mungkin bersembunyi juga karena memang pilihan terbaik saat ini hanya bersembunyi.
Apa yang aku lupa adalah, harimau juga punya penciuman yang kuat selain matanya yang tajam. Ketika aku melirik ke belakang, makhluk itu tengah berlari cepat dengan tatapan tajam predator dan kaki-kaki yang penuh oleh cakar yang siap menerkam.
Melihat hewan itu menghampiriku dengan cepat saja sudah cukup membuatku bergidik. Kami pasti terkejar. Will masih mencengkeram lenganku erat sembari kepayahan bergerak, sementara harimau itu mengikuti penciumannya untuk mengejar. Dalam dua atau tiga detik lagi, penglihatannya akan kembali normal dan akan langsung mengejar kami dengan mudah.
Maka, untuk kali ini, untuk situasi seperti ini, tidak ada pilihan lain lagi. Seseorang harus dikorbankan sebagai umpan.
Aku tahu soal itu, aku benar-benar paham kalau seseorang harus dikorbankan. Namun, tubuhku bergerak sendiri untuk mendorong rekanku yang memapahku sejauh ini. Ada lekukan tanah di bawah, hewan itu tidak akan sadar. Kedua tanganku mendorong Will ke sana. Dalam detik-detik yang terasa seperti selamanya bisa aku lihat ekspresi keterkejutan si pemuda berambut pirang. Entah apa yang dia lihat, entah bagaimana ekspresiku saat aku mendorongnya, karena aku juga terkejut mendapati aku melakukannya.
__ADS_1
Aku berdiri, tegap di atas mulut lekukan. Menengadah, menatap langit yang tertutup dedaunan tebal. Tampaknya memang tak ada pilihan lain. Lagi pula ini cuma ujian masuk, bukan dunia nyata. Aku tidak benar-benar mati. Paling hanya tereliminasi. Lagi pula selama ini aku memang selalu berkata tidak mau masuk Helder. Apa salahnya jika itu benar?
Aku memejamkan mata, pasrah. Aku rasakan keberadaan harimau itu semakin mendekat. Benar-benar tenang. Sedikit ketenangan sebelum akhir memang luar biasa.
Hingga, ketenangan itu pecah begitu saja ketika aku mendengar gemuruh suara yang merambat di belakang, meluncur cepat dengan lompatan-lompatan listrik yang terasa geli di punggungku, diikuti jeritan nyaring seorang gadis yang terdengar seperti petir yang menyambar.
"URYAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!"
Ledakan udara membuatku terlempar beberapa meter ke depan. Dengan agak linglung akibat benturan, bisa aku lihat cahaya emas menyala-nyala dari tempat di mana aku berdiri sebelumnya. Itu adalah listrik. Lompatan listrik dalam jumlah besar menyebar ke udara, membakar dedaunan dan ranting-rantibg kering sekitar. Sinarnya berwarna emas, warna petir yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Bahkan pola rambatan listriknya pun tidak mengikuti ilmu fisika. Sumbernya dari kaki kanan, merambat di udara seperti akar. Rasanya seperti melihat petir dari dunia fantasi.
Aku menengadah sedikit lagi, melihat wajah si pengguna petir. Dia seorang gadis. Tingginya mungkin sama dengan Lee. Mungkin lebih tinggi sedikit. Rambutnya berwarna biru tua, dikuncir, lurus jatuh meski di tengah listrik yang menyambar-nyambar. Matanya emas rembulan malam, kulitnya putih agak pucat. Setelan olahraga berwarna biru-putih menutup seluruh tubuhnya. Dia berdiri dengan postur yang rasanya familiar.
Raungan lain bisa aku dengar lagi dari samping. Harimau itu masih hidup. Tampaknya amarah juga sudah tersulut. Rahangnya dibuka lebar memperlihatkan baris gigi tajam yang mwnakutkan, tapi gadis itu tidak sedikit pun bergeming. Begitu tenang, begitu tangguh. Ketahanan mental yang luar biasa.
Gadis itu mengangkat kaki kanannya perlahan. Aku baru sadar sepatu yang dikenakannya itu adalah sepatu bot hitam tebal seperti sepatu kemiliteran. Pasti berat, tapi tampaknya dia bisa bergerak leluasa. Posenya itu ditahan beberapa detik sembair memejamkan mata. Listrik di kakinya bergemuruh semakin besar, semakin terang aku lihat cahaya emas yang dipancarkannya. Namun, harimau di depan juga tampaknya masih mencoba menyerang seolah yakin bakal menang.
Ketika harimau itu melompat jauh untuk menerkam mangsanya, gadis itu membuka mata. Dia layangkan kakinya ke depan. Sebuah tendangan yang tajam dan bertenaga. Bahkan tanpa gift sekali pun aku ingat itu dianggap mematikan karena menyalurkan seluruh tenaga pada satu tendangan tajam. Si gadis tahu kalau lawannya itu hewan buas, tapi tetap menyerang dengan serangan jarak dekat. Itu membutuhkan keyakinan mental yang tinggi. Berapa lama dia latihan hingga bisa sekuat itu?
"HAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!"
__ADS_1
Tendangan langsung mengenai kepala si harimau, diikuti gemuruh dan ledakan udara yang membuatku terpental ke balakang. Seberkas cahaya emas bersinar menyilaukan pandangan dalam sekejap, membuatku buta sesaat. Setelah pandanganku kembali, yang bisa aku lihat adalah pemandangan seorang gadis dengan kaki yang masih menyemburkan listrik, berdiri mengatur napas di atas batang pohon yang runtuh. Harimau raksasa itu, yang dia tendang dengan petir tadi, tersungkur jauh menghancurkan barisan pohon di belakang.
Terkesima mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang aku rasakan saat ini. Harimau itu mungkin sekelas Beruang Timur, atau mungkin lebih kuat darinya. Gadis itu mengalahkan musuh yang perlu tiga dari kami untuk mengalahkannya. Kekuatan manipulasi petir yang dipadukan dengan kemampuan bela diri sehingga pengendaliannya sempurna.
Gadis itu menoleh padaku. Tatapannya begitu dingin meski warna irisnya emas hangat rembulan malam. Cepat langkahnya melompat-lompat menuruni tanjakan. Tiap langkahnya membawa petir, membakar dedaunan dan ranting kering, menyambar serangga-serangga dan bunga kecil, berdesis merambat dengan cahaya emas yang tidak sedikit pun memadam.
Dia berdiri di hadapanku. Enam langkah. Menatapku dingin, sepasang mata yang sadis. Bahkan punggungku terasa membeku ketika menatap matanya. Mulut tertutup rapat, kami berdua. Tidak berbicara, tidak bersuara. Apa yang terdengar hanya desis listrik. Hingga, gadis itu mengangkat kaki kanannya tiba-tiba. Nyala cahaya petir keemasan berubah jadi biru tua. Seketika wajahku bisa merasakan ujung-ujung lompatan listrik itu seperti ditusuk-tusuk jarum. Sontak aku melompat ke pinggir, tiarap sembari menutup kepala dengan kedua lengan.
Dentuman terdengar begitu keras ketika gadis itu mengayunkan kakinya seperti sabit. Anehnya, aku tidak terlempar seperti sebelumnya. Telingaku langsung berdengung, tidak terdengar apa pun, tapi aku bisa menangkap samar suara kertakan pohon di belakang, diikuti guncangan yang terasa seperti pukulan pada rongga dadaku.
Aku membuka mata, perlahan bangkit melihat gadis dengan kaki terangkat yang masih diselimuti listrik biru tua. Sedikit melirik ke belakang, pohon besar itu roboh, hancur ditebang tendangan petir yang juga terlihat membakar bekas potongannya. Itulah asal dentuman tadi, juga memberikan kesan kalau wanita ini bukan wanita sembarangan. Kembali aku menatap gadis itu.
"Siapa.... kau?" tanyaku dengan suara gemetar.
Gadis itu menjawab setelah menurunkan kakinya. Jawaban singkat, tapi membuatku menarik napas.
"DiMichelle. Dan aku peringatkan kau untuk tidak menggangguku."
Oh, jadi dia orangnya.
__ADS_1
...* * * * *...