Children Of Thalia

Children Of Thalia
Peri Padang Rumput


__ADS_3

Aku tidak terlalu memerhatikan apa yang terjadi setelahnya. Punggungku menghantam tanah gembur berlumpur, sosok lain yang tampaknya juga peserta menahanku di atas, mendekapku kuat sementara pedang tak kasat mata melintas memotong sedikit rambut pirangnya.


Dalam sekejap, benar-benar hanya sepersekian detik, lahan ilalang yang mengelilingiku habis terbabat seperti ditebas sabit yang tajam. Namun, sedetik kemudian, rumput-rumput itu kembali tumbuh meninggi seperti sedia kala. Keganjilan yang mematikan, kenapa aku sampai lupa soal ini. Tertulis di peraturan, aku rasa sekitar halaman lima puluh, tentang perkiraan musuh yang akan dihadapi.


Ini semua jebakan. Dari awal, semuanya adalah jebakan eliminasi. Sungai itu, warga-warga sekitar, padang rumput yang seolah tak berujung, ilalang tinggi. Semuanya adalah untuk mengaburkan pandangan dan instingku soal arah, agar musuh di depan bisa meluncurkan serangan telak.


Pemuda berambut pirang yang tadi mendorongku melompat bangkit, langsung waspada dengan lingkungan sekitar. Wajahnya, rasanya aku pernah bertemu dengannya, tapi di mana?


"Ini belum selesai, cepat bangun!" Dia mengulurkan tangan padaku. Tangan itu hanya sedikit lebih besar dariku. Namun, ketika aku menerima ulurannya, ternyata telapak tangannya kasar. Tangan pekerja keras. Cengkeramannya juga kuat. Padahal wajahnya tampak begitu muda.


"Terima kasih."


"Jangan dipikirkan. Berjaga!"


Kami berhadapan punggung, saling menjaga belakang. Musuh yang kami hadapi saat ini cukup bermasalah. Aku juga tidak mengira akan menghadapi mereka begitu awal. Tampaknya memang tidak ada pilihan untuk tingkat kesulitan, he?


"Rumput-rumput ini sudah meninggi lagi." Ujar pemuda itu. "Bersiaplah, serangan akan datang."


Fokus. Fokus adalah senjata utama untuk melawan mereka. Arah serangan tidak diketahui. Serangan cepat dan tajam, memberikan luka lumayan jika kena. Kalau kena telak ke bagian vital, langsung dinyatakan gagal. Maka dari itu, aku perlu memperhitungkan seluruh informasi yang sudah aku terima.


Ilalang setinggi kepala, sama seperti sebelumnya. Jalan setapak berlumpur, perasaan aneh seolah tersesat, angin yang mengalir mengantarkan suara riang penduduk.


"MERUNDUK!!!!!!!"


"YA!!!!!!!"


Kami merunduk bersamaan, tepat sebelum sabit tak kasat mata itu meluncur lagi memotong rerumputan tinggi. Aku tidak memerhatikannya tadi, tapi potongan sabit itu benar-benar rapi, seperti diayunkan dengan sangat cepat oleh tangan yang sangat kuat. Segera aku berdiri, memerhatikan setiap ilalang yang terbang oleh serangan. Potongan yang rapi, tepat di titik setinggi leher. Ini tidak main-main. Mereka benar-benar menurunkan senjata eliminasi instan di awal. Serangan tadi jelas bisa langsung membuat kepalaku melayang.


"SIAGA!!"


Pemuda itu berteriak lagi begitu mendapati rerumputan yang tumbuh semakin cepat. Kami berhadapan punggung lagi, berhati-hati, fokus dengan serangan yang akan datang. Iramanya sudah aku dapat, pola serangannya sudah aku ketahui, tinggal arahnya. Aku bisa, ini terbaca.


Rumput meninggi setinggi kepala, tanah becek basah membuat kaki terbenam, cahaya matahari meredup, perasaan akan sudah tersesat jauh di hutan datang. Aku memejamkan mata, fokus penuh pada suara. Angin semilir menerpa rerumputan, langkah tegas pemuda di belakang, suara aliran air..... suara tawa riang.


Segera aku membuka mata, berbalik mendorong pemuda itu ke samping. Serangan akan muncul dari sini, aku yakin itu. Dari ilalang yang terbang sebelumnya, aku bisa tahu kalau serangan sabit tak kasat mata ini hanya diluncurkan satu kali, dalam satu arah, dalam satu waktu. Tangkis serangan ini dan semuanya akan jelas. Siapa musuhku, di mana dia, bagaimana cara mengalahkannya.


Aku rentangkan tangan kanan ke depan. Gift-ku aktif. Pita-pita bercahaya mengembang, berputar di lengan. Angin tajam itu mulai memotong rerumputan, cepat meluncur menuju tanganku yang merentang. Aku menahan napas, berharap semoga ini berhasil. Kekuatanku memang hanya terbatas pada apa yang aku sentuh, setidaknya itulah yang aku tahu. Sekarang kita lihat, jika aku bisa membelokkan serangan berbasis cahaya, harusnya angin pun tidak masalah.


Tepat setelah pita-pita itu menghilang, aku merasakan sesuatu menghantam keras tangan kananku. Sesuatu yang kuat dan tajam, seperti tombak yang dilempar atlet profesional. Tapi bukannya menusuk, serangan ini adalah tebasan. Seperti menahan langsung ayunan pedang dengan tangan kosong. Berat, tapi jika aku melepaskannya, kepalaku yang akan melayang.

__ADS_1


"URRYAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!"


Mengerahkan tenaga, aku berteriak. Tangan kananku bercahaya sejenak, memantulkan apa-pun-itu yang menyerangku sebelumnya. Aku tahu itu sudah dipantulkan ketika tanganku terdorong balik oleh recoil. Rerumputan di belakang tak terpotong, tapi di depan terpotong dua kali, tanda lain kalau aku berhasil memantulkan serangan. Mataku menatap lekat ke depan. Bahkan meski efek samping kemampuanku mulai terasa, aku tak mengalihkan pandangan. 


Sepersekian detik itu adalah kunci penting. Mataku menangkap sosok pendek, melompat menjauh berlumuran darah. Seperti gremlin dalam mitologi, tapi badannya biru. Ah, persetan dengan wujudnya, aku yakin itulah musuhku.


"HEI, DI SANA!!!!!!!!!!"


Tapi pemuda itu diam di tempat. "Tenanglah, aku tahu." Ucapnya. Dia berdiri, posturnya tegap dengan tangan kiri direntangkan dan tangan kanan ditarik ke belakang layaknya seorang pemanah. Udara mengalir, berputar di lengannya, berkumpul membentuk anak panah yang panjang. Dia membidik, fokus yang luar biasa. Tidak sedikit pun matanya berkedip meski angin kuat telah mengibaskan rambut pirangnya. Mata itu melekat kuat pada target, mencari titik terbaik untuk disergap oleh anak panah yang siap melesat seperti elang yang terbang melingkar mengincar mangsa.


Panah dilesatkan ketika dia merasa target sudah terkunci. Angin membuat rerumputan yang terpotong itu beterbangan, berputar mengikuti jalur lesat panah. Sedikit aku menutup wajah ketika merasa rumput-rumput kecil yang tajam menusuk muka, tapi mataku tak lepas menatap cepatnya lesatan panah menyerbu makhluk berlumuran darah tak berdaya yang tengah berusaha menyelamatkan diri, jauh di depan. Seperti burung alap-alap, tak perlu waktu lama hingga panah itu menembus dada musuh, membuatnya ambruk, mati seketika. Aku tak melihat lebih jelas apa yang terjadi setelahnya, dan aku rasa aku juga tak akan mau melihatnya.


Kepalaku terasa pening sejenak, berdenyut dan berputar seperti akan demam, tapi segera menghilang beberapa detik kemudian. Aku angkat kepala. Rerumputan sekitar ternyata hanya setinggi dada, dan tidak ada yang terpotong pula. Aku lihat langit biru. Tenang rasanya, seolah perasaan tersesat tadi hanya fatamorgana, atau tidak, bukan fatamorgana. Itu semua ilusi.


"Lebih segar rasanya," gumamku. Aku bertumpu pada kedua tangan, menghela napas sejenak setelah akhirnya merasa menang.


"Peri padang rumput di awal. Mereka tidak main-main." Ujar pemuda itu, melepas posenya dan menghela napas juga sepertiku.


"Ya. Kemampuan hipnotis dan pedang udara," aku menepuk muka. "Bodoh sekali aku terjebak, padahal sudah tahu."


"Tidak apa, aku juga sama sepertimu." Pemuda itu mengulurkan tangan lagi. Kali ini, dia tersenyum. "Willard Lucas, SMP Hightown, Leanzea."


Menerima ulurannya, aku memperkenalkan diri juga. "Theodore Radley, SMP Polaris, Athem. Senang bertemu denganmu, Lucas." Aku menepuk-nepuk pakaianku yang kotor. Seingatku tadi aku sempat jatuh ke tanah berlumpur, tapi punggungku tidak basah. Aku lihat lagi ke tanah, jalan setapak tadi tidak ada, tidak ada tanah berlumpur sama sekali. Yang aku lihat hanya jalanan kering berumput. Bahkan ilalang yang tumbuh paling tinggi pun hanya sebahu saja.


"Pedesaan..... bagaimana........" Kepalaku tiba-tiba mencoba mengurutkan seluruh kejadian dan kemungkinan. Ketika sudah terurut, aku akhirnya mendapat gambaran tentang apa yang terjadi, dan aku tak bisa menahan gelak tawa. "Yang benar saja, sejak tadi kita hanya berputar-putar di sini?"


"Makannya aku bilang ini menyebalkan." Lucas mulai berjalan. "Ayo, kita tidak boleh membuang waktu."


Berpikir tentang batas waktu, memang benar aku tidak bisa berleha-leha, tapi berjalan bersama? Benarkah itu menguntungkan? Bukankah dia dan aku adalah saingan? Akan lebih mudah baginya untuk menyingkirkanku saja, tapi dia memilih menolongku, dengan alasan yang aku belum tahu. Baiklah, kami punya tujuan yang sama untuk saat ini: menemukan pemukiman terdekat. Aku rasa tidak masalah berjalan dengannya selama aku tidak menurunkan kewaspadaan.


"Gift-mu unik juga." Kata pemuda itu, mungkin agar suasana tidak canggung. "Aku pernah melihat gift yang membatalkan serangan, tapi baru kali ini aku melihat yang sepertimu. Apa itu seperti mengacaukan arah gerak?"


Apa tidak masalah bertanya seperti itu?


"Menjawabnya hanya akan memberi informasi pada lawan, 'kan?"


Pemuda itu tersenyum mendengar reaksiku. "Benar juga. Bagaimanapun, kita adalah saingan, ya? Kalau begitu begini saja." Dia merogoh kartu ujian dari saku celananya. Segera dia nyalakan ke jendela teka-teki petunjuk. "Ini teka-tekiku. Informasi ini cukup?"


Orang ini..... apa dia tahu, atau memang hanya kebetulan saja? Teka-tekinya sama sepertiku. Tabung yang dia cari juga tabung yang sama.

__ADS_1


"Siapa yang mau mencari tabung orang lain di waktu seperti ini?"


Ekspresinya berubah seketika. Cemberut, tapi seperti orang yang baru sadar akan sesuatu, yakni kesalahannya sendiri.


"Sekarang kau mengatakannya, itu benar juga." Lucas kembali menyimpan kartunya. "Tidak adil. Gift-ku sudah kau lihat tadi. Aku bisa mengkompresi jumlah tertentu angin untuk menjadi senjata."


Itu berarti, kemampuan memanahnya memang murni kemampuannya tanpa gift apapun. Luar biasa, apalagi setelah aku melihat sorot matanya saat tengah membidik.


"Kau memanah?"


"Aku suka panah sejak kecil. Setelah mendapat Gift, semangatku berlatih semakin membara. Bukankah keren menggunakan panah angin seperti tadi?"


"Hahah, kau benar soal itu."


Aku belum melepaskan kecurigaanku padanya, tapi baiklah. Dia juga sudah melihat gift-ku, dan aku sejauh ini tidak mendekati siapapun dengan nama belakang DiMichelle. Memberinya sedikit informasi tidak akan terlalu masalah.


"Supaya adil, aku beri tahu juga sedikit tentangku." Aku ambil kartu ujian dari saku jaket dalam, memperlihatkan teka-tekiku padanya. "Kita sama, kebetulan."


Mata pemuda itu berbinar seperti anak kecil. "Kebetulan sekali!"


"Ya." Aku matikan lagi layar hologram itu. Cukup agar dia tahu kalau situasi kami berdua sama. "Gift-ku, seperti yang tadi kau lihat, aku bisa memantulkan energi serang yang menyentuh tanganku. Namanya «Reflector»."


Mata pemuda itu berbinar seperti anak kecil. "Ooh, itu menjelaskan kenapa serangan tadi berbalik ke si peri. Gift yang bagus!"


"Haha, kau juga punya panah angin. Itu hebat, bisa digunakan untuk menyerang. Kekuatanku sulit digunakan kecuali untuk bertahan. Kau bisa menyerang, apa kau Aggressor?"


Lucas menggelengkan kepala bersamaan dengan mengibaskan tangan, "Ah, tidak-tidak. Aku Enhancer. Aku bisa membuat panah angin, tapi itu saja. Harus punya kemampuan memanah dulu untuk bisa digunakan."


Di luar dugaan, sangat di luar dugaan. Tapi dia sendiri secara karakter cukup ekspresif. Seperti berbicara dengan Ansel, tapi lebih sopan.


"Itu bagus untukmu." Aku berhenti melangkah, menunjuk ke desa yang sudah dekat di depan. "Sekarang, lihat, desa ada di depan. Cari apa dulu?"


"Air." Jawab Lucas tanpa pikir panjang. Dia ternyata lebih pintar dari yang aku duga.


"Setuju." Dan kami melanjutkan perjalanan, agak memutar untuk setidaknya bersikap hormat dengan masuk desa melalui gerbang utama. "Omong-omong, panggil aku Theo."


"Okee." Dia menunjukkan gestur ok dengan jarinya. Pemuda yang benar-benar ekspresif. "Nah, aku juga sedikit aneh jika dipanggil Lucas. Mungkin Will saja cukup."


"Baiklah, Will. Kita adakan kerja sama kecil sampai ujian selesai."

__ADS_1


"Siap!"


...* * * * *...


__ADS_2