Children Of Thalia

Children Of Thalia
Pertemuan Kedua


__ADS_3

Theo's PoV


"Jadi, teknik apa yang kau gunakan tadi?" Tanya Will dengan tetap fokus mengendalikan Avid. Aku tahu maksudnya soal pukulanku yang bisa menghancurkan lengan beruang itu, jadi aku langsung menjawab.


"Cuma trik kecil yang aku temukan setelah latihan sebelumnya. Kekuatan pemantulku akan memantulkan energi dari serangan apa pun yang dapat aku sentuh. Kalau pada saat pemantulan itu aku juga menyerang, energi pantulan akan membuat kekuatan pukulanku meningkat."


Terkesima, mata Will melebar. "Whoa, itu hebat. Kau bahkan bisa menghancurkan lengan seekor beruang. Berapa besar kekuatan yang kau dapat? Terlebih, bagaimana kau bisa menemukan trik itu?"


Aku tertawa kecil. Jika diingat lagi, memang kejadiannya lucu juga. "Seorang teman sampai terpental karena aku melakukan ini saat dia melakukan tendangan. Trik sederhana, tapi lumayan menghasilkan tenaga."


"Pft!" Dia juga tersedak menahan tawa. "Oh, luar biasa. Aku harap temanmu itu tidak terkena patah tulang atau semacamnya."


"Tidak, tapi dia jelas diperban keesokan harinya."


"Semoga dia sembuh cepat."


Aku tersenyum tipis, tidak berkata apapun lagi. Sedikit rindu aku rasakan pada mereka. Padahal baru dua hari. Mendapati Lee tidak membangunkanku di pagi hari, menjalani pagi tanpa mendengar satire Val akan kelakuanku yang terlalu bebas, aku juga khawatir pada Lizzy. Biasanya, akulah yang membantunya bersiap sekolah.


Dalam pikiran yang tengah pergi ke masa lalu, Avid membawa kami keluar dari hutan lebat. Setelah setengah jam perjalanan, akhirnya aku bisa melihat lagi matahari secara langsung. Sedikit denyut aku rasakan di mata ketika wajahku tersembur sinar terang mentari yang mulai condong ke barat. Sedikit aku menutup mata, hingga kemudian terbiasa dan bisa melihat jelas cakrawala. Desa selanjutnya ada di depan, mungkin sekitar satu kilo lagi. Mungkin di sana aku akan meminta kendaraan lain untukku sendiri.


"Hei, agak cepat tidak masalah?" tanya Will sambil mencengkeram tali kekang. Dia juga tampaknya sudah tidak sabar, sama sepertiku.


"Lakukan."


"Oke!"


Dikibaskannya tali pengekang itu dua kali, dan Avid lari lebih cepat. Jalur yang dilalui tidak semulus padang rumput sebelum masuk hutan, tapi setidaknya tidak seburuk hutan itu. Jalannya lebih berbatu dan bergelombang, membuat langkah kuda ini lebih kasar.


"Oh, benar, aku juga penasaran," Will melirik ke belakang sedikit sebelum bertanya. "Bagaimana kau tahu orang itu pengguna ilusi?"


"Aku tidak tahu." Jawabku spontan. "Sudah kubilang itu cuma taruhan."


"Tapi kau mestinya punya dugaan?"


"Memang, tapi hanya sebatas dugaan. Beruang itu lemah terhadap ilusi, itulah kenapa peri padang rumput bisa mengalahkannya. Jika pemuda itu masih hidup setelah berhadapan dengan beruang sebesar itu, maka dia punya gift yang menjadi kelemahan si beruang. Selebihnya aku hanya mengira-ngira."


"Bagaimana jika dugaanmu salah?"


"Akan aku hadapi beruang itu langsung."


Will terkekeh, menekan keterkejutannya. "Hahah, kau gila." 


"Gila dan cerdas itu beda satu tingkatan."


"Kau yang mana?"


"Gila, tentu saja."


Laju empat kaki logam Avid cepat membawa kami ke depan gapura desa yang terbuat dari kayu. Seni pahatan di gapura itu tampak begitu detail dan cantik, seperti pahatan-pahatan kursi zaman dulu.


Berbeda dengan desa sebelumnya, desa ini tampak lebih "normal" dengan warga desa yang lebih terlihat seperti manusia. Mereka beraktivitas; menarik lembu, memperbaiki gerobak, memanen padi, berjualan, berbelanja, dan sebagainya. Aku turun duluan, agak melompat dan langsung meregangkan pinggang. Will mengikuti setelahnya.


"Tunggu di sini, oke?" bisik Will lembut pada Avid. Kuda itu meringkik nyaring dengan campuran suara mesin seperti besi yang berbenturan. Helder bahkan menambahkan detail seperti ini, huh?


"Ayo pergi." Ucapku setelah melihat Avid tenang.


"Ayo!"

__ADS_1


Melewati gapura desa nyatanya memang terasa berbeda. Dadaku berdegup kencang, memikirkan dan menimbang-nimbang orang macam apa yang akan aku temui di sini. Sebelumnya, aku sempat panik ketika sekumpulan droid tiba-tiba saja melotot pada kami dengan wajah rata mereka. Aku harap orang-orang sini lebih normal dari sebelumnya.


Arsitektur desa sini lebih "ramah" dari desa awal. Semua bangunan terbuat dari kayu. Bahkan aku tak melihat batu sedikit pun pada tiang fondasi bangunan. Rumah-rumah memiliki pahatan rumit di plafon dan tembok, dihiasi anyaman-anyaman rotan dan bambu yang bergelantungan atau dipasang langsung di tembok. Penduduknya lebih tenang, tapi lebih cuek pula. Mereka seperti tak melihat kami yang lewat berjalan, berbeda dengan Mayor Thorin di desa sebelumnya yang langsung menghampiri begitu melihat kami yang kebingungan. Meski rupa orang-orang di desa ini lebih tampak seperti manusia, aku lebih merasa seperti berada di sekumpulan robot dibandingkan dengan desa awal.


"Apa dulu?" Tanya Will setelah kami berada di tengah desa. Benar juga, ada banyak hal terjadi dalam waktu singkat hingga aku lupa apa saja yang harus aku lakukan di pemberhentian ini.


"Air, aku haus. Setelah itu kita cari kendaraan lain untukku."


Lanjut aku berjalan, menengok sekeliling mencari kafe atau sekadar warung.


"Kau tidak suka naik kuda?" Tanya Will sembari mengikuti.


"Pinggangku sakit."


"Padahal belum seberapa."


"Untukmu." Perhatianku tiba-tiba terpancing oleh sebuah toko dengan logo gelas anggur di papan iklannya. "Hei, ada bar." Ujarku sambil menunjuk tempat itu.


Will menoleh, langsung menampakkan wajah yang seolah berkata serius?


"Theo, aku kira kau ini anak baik."


"Jangan salah paham, di sana juga pasti ada air atau jus buah biasa, bukan?" 


"Kita tidak akan kena hukum?"


"Aku rasa," aku mulai berjalan. "Mungkin bertanya dulu apa ada air atau tidak."


Toko yang aku maksud ada di simpang seberang, sekitar dua ratus meter dari aku berdiri. Jalanku lumayan cepat, kami sudah menghabiskan satu jam untuk ke desa ini saja. Lebih dari ini mungkin kami akan kehabisan waktu. Cepat-cepat meminta air, meminjam kendaraan, lalu pergi dari sini.


Sayangnya, ternyata semua itu tidak sesuai keinginan.


"MENUNDUK!!!!!"


Seruanku terdengar tepat sebelum sambaran besar petir berwarna keemasan menyerbu kami dari dalam toko. Petir itu menghancurkan apa yang ada di depan, bahkan pintu toko sampai terlempar dan hangus terbakar.


"Sambutan yang ramah, benar?" celetukku sambil menyeringai lebar. Cepat aku berguling ke belakang untuk bangkit berdiri. Tidak apa, tidak perlu panik. Tangan kananku sudah mulai baikan. Aku bisa mengendalikan situasi. "Will, tarik panahmu."


"Aku tahu."


Will segera berdiri, berpose seperti pemanah yang tengah menarik busurnya. Angin berputar, memadat membentuk anak panah panjang di ujung jarinya.


Aku tarik napas sebelum melangkah masuk ke dalam bar. Sinar emas itu belum hilang, malah memperlihatkan jelas sosok yang berdiri di tengah ruangan. Dia berdiri, tegap dengan kedua tangan dimasukkan saku. Matanya yang tajam itu tidak berubah sejak terakhir kami bertemu.


"Yah, entah bagaimana kita bertemu lagi, Nona DiMichelle." Ucapku menyapa. Aku rasa terdengar agak kasar, tapi dia sendiri tidak berniat menyambut kami dengan keramahan. "Kau mencari air juga?"


"Terkutuklah kalian." Balas gadis itu sembari mengangkat kakinya. Dia ayunkan kaki ramping itu cepat, membuat petir emas yang menyelimutinya melompat, menyambar cepat lurus ke arahku. Sontak, aku melompat ke kiri, sementara Will ke kanan. Serangan itu tidak menciptakan api, tapi tembok kayu di belakang langsung hangus karenanya.


"Sialan!"


Umpatan Will diikuti oleh tarikan kuat anak panah angin di jarinya. Dia lesatkan panah itu setelah mengunci target, langsung ke arah si gadis.


Bahkan dengan lesatan panah angin yang cepat, keawasan gadis itu seolah tanpa celah.


Tendangan sabit yang dia lakukan tepat menangkis panah angin Will, membuat serangan itu memecahkan kaca di samping. Belum berhenti, gadis itu menapakkan kakinya cepat, lalu berputar sebelum mengangkat kakinya yang lain tinggi-tinggi. Cahaya petirnya berubah menjadi biru tua. Aku tahu geraksn itu, tapi aku tidak tahu apa jurus petir yang dipakainya, tapi aku jelas tahu itu diarahkan pada siapa.


"WILL!!!!!!"

__ADS_1


Ketika gadis itu mengayunkan kaki, aku melompat maju. Dia melayangkan tendangan kapak, dengan petir yang meluncur ketika kakinya menapak. Petie dari lintasan tendangannya seperti sabit, meledak menyemburkan cahaya menyilaukan, melaju membelah udara dengan suara dentuman yang seolah menusuk telinga siapapun yang mendengar. Aku rentangkan tangan kiri pita-pita bercahaya mengembang seperti bunga.


Aku tidak terlalu mengetahui apa yang terjadi. Mataku terpejam ketika petir semakin mendekat. Apa yang aku dapati adalah serangan yang dipantulkan gift ini begitu berat, hingga aku merasa sedikit terdorong ke belakang sebelum bisa memantulkan penuh serangan itu. Yang terdengar selanjutnya adalah ledakan yang juga membuatku terpental akibat gelombang kejutnya. Ketika aku membuka mata, atap bar ini sudah hancur seperti diterjang angin topan.


Wajah gadis itu, aku bisa samar-samar melihatnya sekilas ketika memantulkan petir serangnya. Itu bukan ekspresi dari manusia tanpa nurani. Dia khawatir, tapi mungkin karena dia menyerang langsung peserta menggunakan gift. Dia jelas melanggar peraturan.


Tanganku gemetar. Sengatan-sengatan listrik ringan masih aku rasakan seperti tusukan-tusukan jarum. Aku kepalkan tangan, mencoba menekan efeknya. Tidak terlalu berhasil, tapi setidaknya gemetaranku tidak terlalu terlihat.


"Kau benar-benar tidak menahan diri, ya?" ucapku dengan suara yang tertahan akibat menahan sengatan listrik di tangan.


Meski ekspresinya tampak panik dan ketakutan, gadis itu tetap mencoba teguh.


"Aku sudah peringatkan kalian. Kita bertemu lagi, dan petirku akan langsung menyambar."


Petir di kaki gadis itu semakin besar saja terlihat. Dia mungkin ingin menggunakan jurus baru, tapi masih ragu apakah itu akan membuatnya terdiskualifikasi atau tidak.


Sekarang mulai kepikiran. Kenapa dia belum didiskualifikasi? Petirnya langsung menyambarku, benar?


"Sial," Will mengumpat sembari buru-buru bangkit dan menarik busur anginnya lagi. "Mundur, Theo."


Namun, aku segera memalangkan lenganku di depannya.


"Tenang, Will. Perang di sini tidak akan berguna." Aku berjalan beberapa langkah. Jangtung berdegup kencang, napas gemetar penuh adrenalin, tangan mengepal kuat siap jika dia menyerang, tapi aku berusaha keras agar tidak menampakkan ekspresi berlebihan. Semakin tenang diriku, semakin unggul aku di situasi ini. "Hei, gadis petir, sebelum berbuat gegabah, aku ingin kau tahu kalau kami di sini cuma mencari air minum dan kendaraan. Tidak lebih, tidak kurang."


Anak DiMichelle itu malah menaikkan sebelah alisnya. "Dan kenapa aku harus percaya?"


Merepotkan.


"Kenapa tidak?"


"Si pengguna ilusi hilang. Kau melindunginya, bukan?"


"Tidak pernah aku bilang aku tahu ke mana dia pergi. Dia orang asing, sama-sama peserta. Kenapa aku harus tahu ke mana dia berlari?"


Gadis petir itu terdiam sejenak. Dia melotot, menatapku tajam. Aku balas saja melotot padanya dengan pandangan yang lebih tenang. Tak lama, dia melangkah mendekat. Tiap langkahnya membuat petir di kakinya memadam.


"Sedari tadi aku penasaran," kata gadis itu. Dia berhenti enam langkah dariku. "Kau berlagak seolah tidak tahu soal ini, padahal kau bersama pemuda itu ketika aku datang, kau membantunya mengalahkan beruang yang sudah aku atur untuk mengejarnya dari sejak dia masuk hutan. Tapi apa yang kau katakan selalu saja tidak berhubungan dengan apa yang aku maksud, seolah kau, aku, dan orang itu tidak pernah ada dalam satu bahasan yang sama. Biar aku tanya padamu sebelum ini menjadi lucu: apa kau suruhan Darvan?"


Akhirnya kami kembali ke garis awal, sesuai harapan.


"Apa yang lucu di sini adalah kau yang sejak awal mengancam kami tanpa memberitahu alasannya, Nona." Jawabku setenang mungkin. "Lagi pula, siapa itu Darvan?"


Kerutan di dahi gadis itu belum hilang meski aku sudah berusaha berkata-kata. Tidak memuaskan? Tidak apa, dia tampaknya sudah mulai dingin. Petirnya padam, tidak terasa pula akan ada serangan mendadak. Kalaupun ada, aku sudah siap, Will juga sudah menarik panahnya.


Setelah lima detik penuh keheningan, gadis itu mulai membuka mulutnya lagi. "Kau tidak sedang membual, benar?"


"Untuk apa?" Jawabku spontan. Di saat seperti ini, aku harus menegaskan keyakinan.


Gadis itu diam sekali lagi. Tatapannya tak lepas dariku, tapi aku tahu pikirannya tengah menerawang entah ke mana. Bagus, berpikirlah. Kalau bisa lakukan cepat, karena punggung tanganku sendiri mulai meneteskan keringat. Gelisah, waktu semakin berjalan. Gadis itu menghela napas ketika aku mulai merasa akan memotong sendiri keheningan.


Dia mengangkat kedua tangan setelinga, lalu mulai berbicara. "Baiklah, aku paham. Kalian mungkin tidak terlibat."


Oh, terima kasih.


"Akhirnya kau mengerti."


"Jangan terlalu sombong," lanjut gadis itu langsung setelah mendengarku yang menyahut santai. "Aku tidak tahu apakah yang kau katakan itu benar atau tidak, tapi mau benar atau tidak, aku menyarankan kalian untuk menjaga jarak. Jika ternyata kalian berbohong, ancamanku sejak awal adalah nyata, tapi jika kalian memang benar-benar hanya peserta ujian biasa, maka aku pribadi meminta maaf atas kelakuanku selama ini."

__ADS_1


Gadis itu menurunkan kepala, membungkuk sopan sembari meminta maaf.


...* * * * *...


__ADS_2