
Tidak dapat dipercaya, tapi aku berhasil. Beruang itu meraung kesakitan ketika darah palsu memancar deras dari lengannya yang putus. Peranku belum selesai.
"ILUSI!!!!!!!"
Peluru cahaya kecil itu melesat lagi ke kepala si beruang. Aku melompat, berguling menjauh ke belakang monster ini. Lengan kiri beruang itu berayun menyerang membabi buta. Panik, ketakutan, kesakitan. Itulah yang bisa aku lihat. Ironis, sekarang si pemburu merasakan apa yang dirasakan mangsanya. Bahkan mangsa kecil yang lemah pun bisa menghadapi pemburu besar kalau bekerja sama, benar?
Sepuluh detik, aku menghitungnya sejak awal ilusi pemuda itu mengenai si beruang. Sekarang detik kedelapan, detik kesembilan, dan kesepuluh.
"PANAH!!!!!!!"
Desis lesatan panah lewat tepat di samping telingaku. Udara berputar menerbangkan daun-daun yang berguguran, kemudian hancur mengenai tengkuk besi si beruang. Inilah saatnya. Aku mengambil langkah pertama dengan tenaga besar hingga kakiku sedikit terbenam ke tanah. Lompatan awal lumayan lebar, dilanjutkan langkah cepat dan lari sekuat tenaga menuju monster di depan.
Terkejut akan datangnya panah, si beruang menoleh. Pergerakannya terbatasi karena kedua kaki yang terluka dan lengan yang putus. Dia ketakutan. Mangsa yang dia buru kini memburu dirinya. Dia ini hewan buas. Ketika krisis yang mengancam nyawa menghampiri, dia akan melakukan apa saja untuk menghindarinya, dan malah cenderung menyerang membabi-buta.
Beruang itu mengaum begitu mendapati aku yang berlari ke arahnya. Dia angkat lagi sebelah lengannya tinggi. Refleks akibat ketakutan, sesuai rencana. Aku tarik lagi tangan kananku yang mulai sakit akibat recoil dari «reflector». Masih bisa digunakan untuk menghajar sekali lagi monster jelek ini.
"UWOOOOOOO!!!!!!!!!!!!!!!!!"
Lengan kiri si beruang diayunkan, bersamaan dengan tangan kananku yang juga diluncurkan. Pita tujuh warna mengembang seperti bunga. Begitu indah dan bercahaya, kemudian diikuti warna merah pekat cairan yang menyembur dari lengan kiri si beruang yang juga hancur seperti lengan satunya.
Kedua lengannya putus, kedua kakinya terluka. Beruang yang malang, tapi ini adalah situasi "makan atau dimakan". Jeritan si beruang terasa begitu menyakitkan. Telingaku berdengung, tapi aku tidak menutupnya sama sekali. Rasanya gendang telingaku akan pecah, tapi aku tetap bergerak. Adrenalin memenuhi kepala, rasanya aku melayang, tapi mataku tetap fokus. Dadaku berdegup kencang, rasanya seperti akan terbakar.
Aku raih rantai licin berlumuran darah palsu yang tergeletak di atas tanah. Tepat di belakang beruang itu berdiri pohon berukuran sedang. Batangnya tebal, tapi tak terlalu besar. Persis seperti yang aku inginkan. Semuanya sesuai rencana, itu bagus. Segera aku lempar ujung rantai itu seperti cambuk, melewati pohon, mengait leher kekar si beruang yang masih menjerit kesakitan, lalu diraih lagi oleh tanganku yang satunya. Tenagaku tidak cukup kuat untuk menahannya, tapi cukup untuk sekadar membuat monster ini roboh. Aku entakkan kedua kaki ke pohon, kemudian menarik rantai dengan sekuat tenaga hingga suara keras ambruknya beruang di belakang terdengar berdentum di dada.
"SEKARANG, WILL!!!!!!!!!!!!!!!"
Mataku dipejamkan erat. Tugasku sekarang cuma menahan rantai ini sekuat tenaga, tidak lebih. Sisanya aku serahkan pada partner yang mengawasi dari jauh. Siulan nyaring itu bisa aku dengar lagi di balik kerasnya suara raungan dan kuatnya tenaga berontak si beruang yang aku tahan lehernya. Napas kutahan, cengkeraman aku eratkan. Rasanya seluruh darah di tubuhku naik menuju kepala, berkumpul, menggumpal, membuat wajahku membiru, tapi aku masih menahan beruang yang tenaganya terasa semakin besar. Siulan panah itu terdengar beberapa kali, tapi aku tidak tahu berapa. Tiap kali satu siulan terdengar, tenaga beruang ini naik satu tingkatan. Terdengar lagi, naik lagi, terdengar lagi, naik lagi. Hingga kemudian aku tersentak ke belakang dan jatuh tersungkur dengan tangan yang masih kuat mencengkeram rantai.
Napas..... akhirnya aku bisa bernapas lagi. Aku melotot, sakit di belakang bola mataku berdenyut hingga ke ubun-ubun. Keringat mengucur deras membasaih dahi dan kerah pakaian. Tanganku kesemutan, kaku, bahkan aku sendiri kesulitan untuk melepaskan cengkeramanku dari rantai ini. Jantungku berdebar, kakiku lemas. Perlahan aku merangkak, menjauh dari pohon di belakang. Bertumpu pada tangan pun sulit karena mati rasa. Pada akhirnya aku hanya berbaring, tersungkur seperti orang mati. Apa semuanya sudah selesai?
"THEO!!!!!!!!!"
Seruan seorang pemuda membuat mataku tetap terjaga. Aku mendongak sedikit, mendapati Will yang tengah menuruni jurang landai dengan tergesa-gesa. Wajahnya penuh kekhawatiran. Dia sedikit terpeleset ketika berhenti mendadak di sampingku, lalu berjalan lagi menghampiriku dengan napas yang hampir habis.
"THEO!! THEO!!! OI, SADARLAH!!!!!"
Kenapa mengguncangkan tubuhku, bodoh? Mana cengkeramannya kuat. Ini sakit, sialan.
"Oi.... stop......"
Muka berseri-seri Will yang penuh rasa syukur setelah mendapatiku masih sadar benar-benar membuatku sedikit tenang.
__ADS_1
"Theo, syukurlah!"
"Uh-huh, bantu aku berdiri, bisa?"
"Tentu saja!"
Genggamannya pada pergelangan tanganku kuat, tapi penuh kehati-hatian. Aku perlahan berdiri, tidak begitu ditarik oleh Will, tapi benar-benar aku sendiri yang mencoba. Setelah setidaknya mampu menapak lagi dengan kedua kaki, Will mengalungkan tangan kiriku pada pundaknya, menarik lenganku kuat supaya tidak mudah jatuh tersungkur lagi. Sial, tanganku kesemutan. Tubuhku lemas, tangan kananku masih gemetar akibat recoil. Seolah tidak bisa tambah buruk, tiba-tiba seluruh ototku terasa sakit. Apa selama ini adrenalin yang menahanku?
"Kau berhasil." Kata Will ketika kami melewati monster yang kini bersandar pada pohon tebal, tak bernyawa.
"Kita berhasil." Sahutku. Mataku melirik jasad beruang itu. Tragis, kalau bisa aku katakan dengan singkat. Kedua lengannya hancur, tendon kakinya terkoyak. Tadi aku sempat merasakan sentakan ketika menarik rantai, itu karena rantaiku lepas dari lehernya. Kepala beruang itu hancur, diterjang serangan panah beruntun yang tepat mengenai wajahnya tanpa ampun.
Itu adalah apa yang aku minta pada Will. Sewaktu menceritakan rencanaku padanya. Dia tampak terkejut, tidak percaya, khawatir. Jelas, karena risiko rencana ini begitu besar. Sejatinya aku bertaruh pada kekuatan orang ketiga; ilusi pemuda itu. Setelah aku menolong pemuda itu kabur dari si beruang, aku akan mengalihkan perhatiannya. Si pengguna ilusi akan membantuku kabur dan membuat si beruang kebingungan, lalu Will akan memanah kedua kakinya agar pergerakan si beruang tertahan, juga dua tembakan ke tengkuk agar memastikan kalau bagian belakang si beruang memang terjaga. Selanjutnya, dengan trik yang baru aku temukan, aku akan menghancurkan lengannya. Aku percaya aku bisa, tapi aku tidak punya bukti. Itu adalah taruhanku yang kedua. Untungnya berhasil. Setelah kedua tangannya putus, tinggal menahan kepalanya ke belakang pohon dengan rantai, lalu membiarkan Will memanah bagian dalam mulut monster itu sampai..... aku tidak menyangka akan sampai seperti itu. Aku hanya ingin sampai setidaknya beruang ini tidak bergerak lagi. Sekeras apapun kulit beruang ini, bagian dalam mulutnya pasti tidak terlindungi. Itulah kenapa aku bertanya pada Will soal akurasinya. Beruntung, semuanya berjalan sesuai rencana.
Rencana ini terpikirkan mendadak, benar-benar mendadak. Makannya tidak matang. Tapi melihat hasilnya aku rasa tidak terlalu buruk juga. Melihat sekilas jasad beruang itu saja cukup untuk langsung membuatku melempar pandangan ke arah lain. Ugh, aku tidak menyangka Helder akan membuatnya serealistis itu.
"Bagaimana dengan pemuda yang tadi?" tanyaku dengan napas yang masih terengah-engah.
"Aku belum memeriksa."
"Kalau begitu ke sana dulu. Dia juga ikut andil dalam rencana kita."
"Tentu saja."
Pemuda ini berambut merah, panjang sebahu. Berantakan di atas tanah. Tubuhnya kurus, mungkin lebih kurus dariku, tapi dia jangkung. Pakaian olahraganya menutup seluruh tubuh. Berwarna biru dan oranye, lambang sekolah di dada kirinya jelas terlihat, tapi aku tidak menghiraukan.
"Hei, kau baik-baik saja?" tanyaku pada pemuda itu. Dia melepaskan tangannya, memperlihatkan mata yang sayu seperti tanpa cahaya.
"Aku baik-baik saja." jawab pemuda itu. Suaranya sangat serak, tapi bukan tipe suara berat. "Hei, terima kasih sudah menolongku, bung."
"Oh, tidak. Kita saling bantu." Jawabku sambil tersenyum tipis.
"Kau sudah bekerja cukup keras." puji Will. Dia ulurkan tangan pada pemuda itu. "Willard Lucas, SMP Hightown, Leanzea."
Si pemuda yang tampaknya kelelahan menerima uluran itu. Dia berdiri dibantu Will, kemudian menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor oleh lumpur yang sudah mengering.
"Haris Dassler. SMP Hirsch, Argon." Pemuda itu lalu melirik padaku. Ya, aku mengerti.
"Theodore Radley. SMP Polaris, Athem. Senang bertemu denganmu."
Baiklah, setidaknya dia bukan DiMichelle. Aku rasa masih aman, mungkin.
__ADS_1
"Taktik kalian hebat," ujar pemuda itu terkesan. "Bisa mengalahkan beruang itu betul-betul sulit terpikirkan."
"Oh, puji orang ini," kata Will sambil menoleh padaku. "Dia merencanakan semuanya. Aku sendiri terkejut rencana ini bekerja."
"Benarkah?" Dia terkejut sampai menutup mulutnya dengan tangan kiri.
"Whoa, kau membuat rencana sampai akhir?"
"Hidup akan lebih mudah kalau kita membuat rencana."
"Tapi akan kurang menarik kalau rencana itu berjalan semestinya dugaan awal, benar?" sahut Will melanjutkan kata-kataku.
"Kalau tidak sesuai, mungkin aku sudah tereliminasi sekarang."
"Oh, aku yakin kau punya rencana."
Oh, aku ingin menghajarnya, mencabut seringai menyebalkan itu dari mulutnya, tapi tangan kananku masih berdenyut kesakitan. Biarlah, simpan saja kekesalanku untuk nanti.
"Hei, sekarang kau mau ke mana?" Tanyaku pada pemuda itu.
"Aku tidak tahu, aku hanya mencari petunjuk. Mungkin titik tengah kota."
"Kalau begitu sama dengan kami!" sahut Will girang. Sedikit aku memelototinya, karena buat apa juga memberitahukan tujuan kita pada orang lain? Itu informasi berharga.
"Seperti yang dia katakan, kami juga mencari petunjuk di titik tengah. Kami punya kuda, tapi tidak cukup bertiga." tegasku padanya. Maaf, mungkin terkesan kurang sopan. Aku tahu, Will memelototiku karena aku berkata seperti itu, tapi di tempat ini kita tidak tahu siapa kawan atau lawan.
"Oh, tidak perlu repot-repot. Kalian duluan saja pergi. Aku masih mencari petunjuk. Mungkin aku akan menemukannya kebetulan di hutan ini. Lagi pula aku tidak tahu apakah kita punya teka-teki yang sama atau tidak."
Dia benar. Dia setidaknya lebih pintar dari Will soal itu. Dia tidak gegabah. Dia juga paham situasi dan langsung mengatakan kalau dia ingin berjalan sendiri. Aku jadi merasa bersalah mencoba untuk tidak mengajaknya.
"Haris, benar? Ikut saja dengan kami ke titik tengah. Keluar dari hutan ini ada desa, mungkin kita bisa meminjam kereta di sana." ujarku mencoba memperbaiki situasi. Will tersenyum, berarti kerjaku bagus.
"Benar, ayo ikut saja! Lagi pula kau terluka. Siapa yang tahu ada bahaya apa lagi di hutan ini?" Lanjut Will penuh nada persuasif.
Namun, pemuda itu masih menggelengkan kepala sembari menyilangkan lengannya, berusaha menolak tawaran kami sebisa mungkin.
"Oh, tidak. Tidak perlu seperti itu. Seperti yang aku bilang, aku--"
Tiba-tiba kami terpaku, tersentak, dibuat berhenti bernapas sejenak. Kata-kata pemuda itu terpotong. Tubuh kami bertiga, semuanya sontak berhenti bergerak. Membatu, terlumpuhkan, tapi kami bisa mendengar, bisa melihat apa yang mendekat perlahan.
Ya, itu kucing yang besar.
__ADS_1
...* * * * *...