Children Of Thalia

Children Of Thalia
Resolusi


__ADS_3

Ketika aku setuju untuk ikut ujian masuk, aku terus berkata pada diriku sendiri: cukup ikuti ujian dan lulus dengan damai. Aku ingin menerapkan apa yang ayah kami ajarkan, tidak perlu terlalu ikut campur pada masalah yang ada, kecuali aku sudah punya resolusi untuk terlibat sampai akhir.


Dari awal, Ansel sudah memperingatkanku akan siapa musuh yang akan aku hadapi. Bukan orang-orang biasa, bukan regu ekstremis biasa. Mereka adalah LOST, organisasi mengerikan yang sempat membuat Thalia resah. Aku tidak tahu konflik apa yang sedang terjadi, tapi aku bersumpah akan menghadapi apapun untuk satu tujuan: melihat Lizzy hidup bahagia.


Ansel, dari seminggu sebelum ujian dimulai, sudah memperingatkanku akan DiMichelle. Jangan pernah terlibat dengan mereka, atau aku akan kena sial. Waktu itu aku hanya mengiyakan saja, toh sejak awal juga aku tidak tahu siapa DiMichelle yang harus aku waspadai. Jika mereka memang bermasalah, maka memang sebaiknya aku menjauhi mereka, benar?


Peringatan itu dipertegas lagi ketika aku bertemu Senior Sean, membuatku semakin yakin kalau DiMichelle memang orang yang mesti aku jauhi. Terlibat dengan mereka, maka aku tamat. Setidaknya itulah pikiranku selama ini, sebelum aku dibuat bingung oleh apa yang sebenarnya terjadi.


Gadis itu, si pengendali petir dari DiMichelle, tidak terlihat seperti seseorang yang suka membawa masalah.


Tidak terlihat seperti orang yang suka mendekati masalah.


Tidak terlihat seperti orang yang memang bermasalah, tidak sepertiku.


Dia adalah orang yang didekati masalah, yang dikejar-kejar masalah sampai mengganggunya di ujian praktik. Dia mengancamku dari sejak awal kita bertemu, karena dia punya masalah pada kepercayaan. Dia tahu seberapa berbahaya musuhnya, tapi tidak bisa menentukan siapa saja mereka. Bahkan setelah menganggap kalau aku dan Will hanya peserta biasa, dia tetap memperingatkan kami untuk menjauhinya, atau kami akan terlibat masalah.


Dalam debu-debu dan tanah kering yang beterbangan, aku melihat dirinya bertarung.


Kenapa mesti bertarung sedemikian berat?


Karena dia punya tujuan.


Kenapa mesti mempertahankan sebuah tujuan?


Karena dia punya tekad untuk mencapainya.


Memang apa arti sebuah tekad?


Artinya dia punya alasan. Sebuah alasan kuat mengapa dia harus terus berjuang.


Sejak awal aku sudah tahu apa dan kenapa, aku hanya berusaha bersikap egois. Aku tidak mau terlibat masalah, aku tidak mau gagal di ujian. Tapi melihat gadis berambut biru yang tengah berusaha keras mempertahankan tekadnya di sana, aku merasakan keinginan kuat untuk memukul diriku sendiri, untuk mengutuk diriku sendiri.


"Tidak, tidak perlu memanggil dulu Avid." ujarku tanpa sadar, membuat Will melotot.


Satu langkah ini akan membuatku tidak bisa kembali. Satu langkah yang menentukan apakah aku akan menjadi pengecut egois yang hanya diam melihat apa yang aku rasa tidak benar tengah terjadi di depan, atau menjadi si bodoh yang terlampau gila untuk terlibat dalam masalah orang lain ketika aku sendiri punya masalah yang mesti diurus.


Aku lebih senang disebut orang gila.


Kata-kata itu terngiang-ngiang di kepalaku.

__ADS_1


Yah, lagi pula jika dilihat sekilas, aku dan gadis itu punya satu kesamaan: musuh kami sama. Dia diincar oleh orang yang juga membuat Wild Dogs pening. Artinya, orang yang mengincarnya, orang yang diburu Wild Dogs, dan orang yang aku anggap musuh adalah sama.


"Ada air?" tanyaku sambil mengulurkan tangan.


"O-oh, ada."


Will meraih sebuah botol kecil penuh air yang diselipkan di ikat pinggangnya. Setelah dia buka tutupnya, segera dia berikan padaku tanpa ragu.


"Ini persediaan darurat, tapi ambil saja semuanya. Aku berhutang untuk bola api tadi." Ujar Will.


"Terima kasih." Sahutku sembari menyambar botol itu. Aku teguk sedikit air hingga tenggorokanku cukup basah untuk bisa berbicara normal, lalu aku tumpahkan sisa airnya ke lengan kanan yang merah akibat luka bakar.


Perih. Ini tidak membuatku baik sama sekali, tapi cukup untuk membuat kesadaranku kembali. Aku tumpahkan juga ke kepala dan muka. Segar rasanya mendinginkan kepala setelah diterjang bola api raksasa.


"Kau juga." kataku sambil menyodorkan botol itu pada Will, tapi Will menolak.


"Ah, tidak, aku punya satu botol lagi." Ucapnya sambil meraih sebotol air lain dari balik jaketnya. "Kalau sudah merasa baikan, ayo lari! Kau sendiri bilang tidak perlu terlibat, bukan?"


"Benar, aku yang begitu bodoh." Aku mengakuinya, terasa begitu memuaskan. Aku teguk lagi air itu sembari menumpahkan sisanya ke kepala sampai habis. "Ayo kembali ke sana."


"Apa?"


"Kita pemanasan sedikit sebelum melawan bos akhir. Kita bawa gadis itu keluar dari sana."


"Kau salah di sana, di sana, dan di sana." Aku memotong, sedikit melirik pada Will. "Membuang tujuanku? Tahu apa kau soal tujuanku? Aku yang sebelumnya itulah yang sebetulnya membuang tujuan utamaku. Ini bukan soal ujian, ini soal menjadi siswa Helder, soal menjadi apa yang aku inginkan, soal menjadi diriku yang sebenarnya. Aku punya tujuan, dan itu adalah melihat adikku hidup bahagia. Untuk itu, aku perlu membuat dunia di sekitarnya menjadi tempat yang aman, tempat di mana orang-orang tertawa ketika hidup di sana. Maka itu artinya aku perlu resolusi untuk melindungi orang-orang yang ada di sana. Jika saat ini aku bersikap tidak peduli, lari dari masalah yang ada untuk apa yang aku inginkan, maka apa artinya tujuanku selama ini?"


Aku mengatakannya. Aku benar-benar mengatakannya. Itu adalah apa yang aku pikirkan tadi, apa yang menjadi resolusiku saat ini. Meski, aku tahu aku mungkin tak punya kekuatan untuk membagikan apa yang aku percayai pada orang-orang.


"Kau tidak perlu ikut, aku tidak memaksa. Kau dan aku punya tujuan masing-masing, punya jalan pemikiran masing-masing. Aku hanya malu. Gadis itu berusaha keras memperjuangkan tujuan dengan tekadnya, sementara aku berusaha lari dari tantangan. Akan jadi apa aku nantinya?"


Will mengernyit, menunduk, menatap tajam ke bawah. Pikirannya bergejolak, aku tahu. Berbeda denganku, Will memiliki tingkat simpati lebih tinggi. Dia akan memikirkan kata-kataku lebih dalam, sangat jelas terlihat dari air mukanya.


"Dia.... dia tidak mengenal kita, kita tidak mengenalnya. Apa kau setidaknya tahu siapa namanya?"


"Itu mungkin benar. Dia tidak mengenalku, aku tidak tahu siapa dia. Kami, kita hanyalah peserta ujian yang kebetulan bertemu satu sama lain. Tapi memang kenapa? Kenapa aku memerlukan nama? Dia dan aku punya kesamaan: kami punya tujuan yang ingin kami perjuangkan. Itu saja sudah cukup, aku berjuang, dia juga berjuang. Apa salahnya kita saling membantu?"


Will terdiam, semakin kebingungan dengan pilihan yang dia inginkan.


"Aku sudah bilang tidak akan memaksa. Kau dan aku sama-sama ingin lulus. Bedanya, aku mengambil jalan memutar. Kau tidak perlu ikut kalau punya jalan pintas, ikuti saja jalanmu. Aku hanya orang bodoh dan gila yang dengan senang hati mengambil jalan memutar yang sulit."

__ADS_1


Aku kepalkan tangan, mengurangi gemetar. Ini cukup, adrenalin akan membantu sisanya nanti. Aku ambil langkah. Sial, kakiku sakit. Perutku berdenyut, napasku terhalang. Wajar, jika diingat lagi, tubuhku tertimpa gelondongan kayu tebal dari bar tadi. Mungkin ada tulang patah, mungkin ada otot yang cedera. Rasa sakitnya memang tidak separah dunia nyata, tapi ini tetap mengurangi mobilitas. Semoga tingkat regenerasiku juga meningkat di sini.


"Ayo, aku bantu."


Ketika aku menoleh, Will tengah melangkah ke arah yang sama sembari membantuku berjalan. Dia tampak kesal, tapi matanya berapi-api. Aku ingin bertanya, tapi dia keburu menjelaskan.


"Jangan kau pikir aku tidak malu meninggalkan gadis dalam masalah sendirian." Ujarnya tegas. Dia mendecak kesal, tapi tidak berhenti melangkah. "Sejujurnya, aku terkesan dengan kemampuanmu menganalisis keadaan sewaktu melawan Beruang Timur. Selama ini aku selalu menghadapi musuh dengan menyerang di depan dan improvisasi sesuai kemampuanku. Tapi kau membuatku sadar kalau strategi juga diperlukan. Karena itu, aku mengandalkanmu. Aku urus serangan jarak jauh, cukup katakan apa yang perlu aku lakukan."


Ha... hahaha, aku tidak menduga. Aku kira kata-kataku berantakan. Bagus jika orang lain bisa ikut paham.


"Heh, kau terlalu menyanjung."


"Aku berkata sesuai fakta."


"Aku tersanjung."


Meski begitu, aku belum mendapat strategi apapun untuk menghadapi mereka. Dari yang aku lihat, ada empat tipe serangan jarak jauh yang diluncurkan: bola api, plasma, es, dan ilusi menyebalkan itu. Jika tidak ada ilusi, gadis berambut biru di sana tak akan mudah terdesak. Petarung jarak dekat berjumlah tiga. Satu orang bisa mengubah tubuhnya menjadi debu, satu orang membuat pedang dari darahnya, satu orang lagi membuat semacam perisai.


Sekarang setelah aku pikir lagi, hebat juga gadis itu masih bisa bertahan. Dia tampak kelelahan, tapi masih bisa menangkis tiap serangan. Dia jelas telah melalui berbagai tingkatan pelatihan berat, yang mana aku sendiri saja sulit membayangka seperti apa. Dia lincah, mampu menggunakan tangan dan kaki meski dominan di kaki, mampu mengubah arah dan intensitas petirnya, mampu pula untuk mengatur target Sambaran petir. Dia mungkin merupakan salah satu peserta terkuat di sini.


Aku menarik lenganku dari Will. Kedua kakiku sudah mulai terasa lagi. Ini cukup. Waktunya untuk serius. Masih belum kepikiran bagaimana cara mengalahkan mereka, tapi apa salahnya mengumpulkan dahulu informasi?


"Will, kau urus jarak jauh. Lihat arah serangan-serangan yang datang, lalu panah saja ke sana. Tak perlu mencari keberadaan si penyerang, cukup buat mereka keluar dari persembunyian."


Will mengangguk. Ekspresinya berubah. "Aku mengerti. Kau sendiri?"


Sejujurnya aku juga tidak tahu melakukan apa. Apa tugasku hanya menganilisis dahulu? Atau langsung membantu gadis itu di jarak dekat? Tapi kemudian aku memikirkan ide yang bagus.


"Jadi umpan. Bertarung jarak dekat sambil menganalisis situasi."


Mata Will melebar begitu mendengar jawaban gilaku. Dia menyeringai kikuk, terkekeh tak percaya. "Hahah.... Hahahah.... Aku mengerti." Dia tengok sekitar, mencari sesuatu, kemudian menunjuk sebuah gedung dengan telunjuknya. "Membidik dari sana tidak apa, bukan?"


Gedung yang dimaksud agak jauh dari pertarungan. Mungkin sekitar dua ratus meter. Entah apa panah bisa mencapai titik-titik yang aku mau dari sana, tapi jika itu Will, aku percaya.


"Itu sudah bagus."


Will mengangguk lagi. Dia ulurkan kepalan tangan dengan senyuman lebar. Aku terpaku sejenak, tak menyangka akan melihatnya lagi sekarang, tapi aku juga menyeringai. Aku tinju kepalannya dengan bangga.


"Semoga beruntung."

__ADS_1


"Ya, kau juga."


...* * * * *...


__ADS_2