
Mayor Thorin berkata kalau Avid, kuda yang dipercayakannya pada kami, adalah yang tercepat di desa. Tadinya aku kira dia hanya sedikit melebih-lebihkan, secara kuda ini adalah kesayangannya. Tapi gelar itu ternyata bukan isapan jempol belaka.
Kami melesat melintasi sabana dengan kecepatan seperti menaiki sepeda motor. Kuat tanganku mencengkeram pelana, atau aku akan terbang terempas ke atas tanah oleh guncangan dan kecepatan kuda yang membuat angin yang menerpa wajahku terasa seperti fluida padat. Tapi ini benar-benar luar biasa. Jika rasanya naik motor itu hanya angin yang menerpa wajah, maka kuda adalah level yang berbeda. Aku benar-benar mengencangkan paha sepanjang jalan, sembari berpikir kalau sedikit saja lengah, aku akan jatuh.
"Hei, menurutmu kita istirahat lima menit?" Tanya Will, berteriak dengan nyaring di tengah terpaan angin yang terdengar lebih menggebu.
"Ide bagus!"
Padang rumput telah terlewati. Ini sejujurnya membuatku kagum. Ketika melihat cakrawala dari desa tadi, tidak ada yang bisa didapati kecuali padang rumput, hanya itu. Tapi untungnya merupakan pilihan benar untuk mengikuti alur sungai. Lima belas menit kami habiskan di atas kuda, dan sekarang hutan lebat sudah terlihat lagi.
Hutan hujan raksasa. Meski bukan pusatnya, tapi aku yakin hutan di depan kami adalah bagian dari itu. Kota Sintes memiliki susunan lingkaran besar di tengah dengan empat lingkaran kecil di empat arah mata angin. Di lingkaran Utara ada gunung es, di lingkaran barat ada gurun pasir, di lingkaran timur ada hutan hujan lebat, dan lingkaran Selatan adalah lautan. Aku tidak tahu bagaimana konsep iklim di sini bisa membuat lingkungan luar biasa ini menjadi mungkin, tapi jelas penyusun dunia palsu ini punya segudang imajinasi liar. Di depan kami sekarang adalah bagian dari hutan hujan yang memanjang. Aku sudah lihat peta, menuju titik tengah harus melewati dulu hutan ini, atau tundra di utara.
Will menarik Avid ke pinggir sebuah batu besar di bibir sungai. Batu yang halus dan basah, tapi tidak terlihat ada lumut. Apa data lumut juga tidak dimasukkan? Nah, tak masalah. Itu berarti akan lebih sedikit kejadian terpeleset nanti di dalam hutan.
"Di sini mungkin cocok, sebelum memasuki hutan besar." Usul Will sembari menarik penuh tali pelana, membuat Avid berhenti melangkah.
"Cocok." sahutku. Ini memang tempat duduk yang cocok. Tidak terlalu panas karena ada hutan, lebih sejuk di samping sungai. Apalagi sungainya bukanlah sungai yang deras.
Aku turun duluan dengan lompatan tak sabar, yang mana segera membuatku menyesal karena entakkan yang aku terima saat menapak di tanah ternyata sangat kuat. Kakiku kesemutan. Roboh tubuhku menghantam tanah, tapi aku tertawa keras bersamanya.
"Oh, hah-hah-hah! Sial, bodoh sekali aku tidak menduga ini." Aku berceletuk, menertawakan diri sendiri.
"Lagi pula siapa yang melompat seperti itu dari kuda sebesar ini? Dengan kaki kesemutan pula." Balas Will. Meski terdengar simpatik, aku yakin dia juga menahan tawa. Pose jatuhku tidak indah, benar?
"Aku lupa."
Siku dan lututku kotor, tapi peduli amat lah. Aku berbalik, menarik kedua kaki yang mati rasa ini dengan pinggang, lalu bersandar pada batu besar. Will turun dengan lebih hati-hati. Dia meregangkan badan, menarik pinggangnya tinggi hingga bajunya terangkat sedikit, kemudian meregangkan lengan dan mengentak-entakkan kedua kakinya ke tanah. Dia juga kesemutan. Jelas, Avid tidak seperti kuda yang lain. Dia benar-benar hewan buas.
"Masih kesemutan?" Tanya Will dengan serengit jahil yang membuatku kesal.
"Sedikit, tak perlu dihiraukan." Jawabku abai. "Mungkin ada baiknya kita lanjut dengan berjalan."
"Andai tadi kita meminta sebotol air."
Benar, itu juga yang membuatku merasa lebih bodoh. Aku benar-benar lupa soal air. Sekarang yang bisa aku lakukan hanya menertawakan diri.
"Aku lupa."
"Terlalu antusias itu tidak baik, huh?"
Will mengulurkan tangan, aku terima dengan cengkeraman kuat. Tenaganya besar, tidak terduga. Tapi itu masuk akal mengingat dia ini seorang pemanah. Dia menarikku mudah, karena aku sendiri yakin aku tidak terlalu menggunakan tenaga saat berusaha berdiri. Mungkin tubuhnya memang berotot di balik pakaian olahraga yang menutup hampir seluruh kulitnya itu.
__ADS_1
"Kita pergi sekarang?" Tanya Will. Aku meregangkan tubuh sejenak, mengentakkan kaki beberapa kali ke tanah yang lembap. Masih agak kesemutan, tapi bisa diatasi.
"Ayo."
Lanjut berjalanlah kami, masuk ke dalam hutan. Cukup istirahat singkat. Waktu ujian tinggal dua setengah jam lagi, sudah lebih dari tiga ratus orang tereliminasi, tapi belum ada yang mengisi kuota lolos ujian. Helder memang tidak menahan diri dengan memberikan lawan sekelas peri padang rumput di awal. Aku penasaran seperti apa lawan yang dihadapi peserta lain, terutama di wilayah lautan.
"Membahas sedikit soal Avid, bukankah tenaga buatan sepertinya akan berguna di dunia nyata?" tanyaku, melirik sedikit pada kuda mesin yang mengikuti kami dengan tenang di belakang.
"Mungkin tidak untuk ekonomi, tapi jelas kalau untuk pekerjaan berbahaya." Jawab Will tanpa menoleh. "Aku tidak terlalu paham soal teknologi, tapi cukup melihat sekilas untukku bisa tahu kalau Avid adalah teknologi di level berbeda. Dia benar-benar canggih. Jika ada di dunia nyata, mungkin akan diprotes satuan pekerja saking efisiennya penggunaan Avid. Tapi nah, aku yakin kau juga tahu perlu berapa tahun lagi hingga Avid benar-benar bisa dibuat di dunia nyata, bukan?"
Ternyata Will juga paham tentang itu. Tentu saja, dilihat saja sekilas, orang-orang bisa tahu betapa canggihnya teknologi penyusun Avid. Mungkin saking canggihnya masih berada di ranah hampir mustahil.
"Mungkin, setidaknya sepuluh tahun lagi." Jawabku, sedikit melempar pandangan ke atas mencoba memperhitungkan kemungkinan. "Aku rasa pembuat dunia simulasi ini hanya memasukkan input data kuda mesin mutakhir yang bisa bergerak ketika menciptakan Avid, sehingga beberapa fungsi terasa janggal."
"Tepat, ini cuma simulasi. Hampir semua yang ada di sini, semuanya tidak masuk akal. Bahkan desa itu. Sekumpulan droid mandiri, membangun desa, membuat semuanya bekerja. Mereka juga menciptakan sistem pemerintahan dengan seorang Mayor yang menjadi pemimpin. Tapi mungkin memang diprogram seperti itu dari awal, mungkin. Sekarang setelah diingat-ingat, Mayor Thorin sendiri bisa memperlihatkan ekspresi keterkejutan yang alami, seperti manusia nyata. Padahal semua yang kita lihat di sini cuma simulasi."
"Simulasi yang menyerupai dunia nyata........." Sesaat, aku merasa tengkukku bergidik. "Mengerikan."
Semakin jauh kami melewati hutan, semakin kami merasa kalau kami tersesat. Pepohonan semakin padat tumbuh menutup pandangan. Dedaunan berjatuhan, tanah mulai terasa padat dengan dedaunan dan ranting-rantibg basah yang berbau khas. Serangga-serangga bernyanyi bersama dengan kicauan burung hutan yang terdengar menggema. Apa yang terasa kurang adalah tidak ada nyamuk di sini. Padahal suasananya benar-benar suasana hutan. Tidak, ini justru menguntungkan. Akan mengganggu kalau aku berjalan sambil sibuk bertepuk tangan mencoba menghalau nyamuk.
"Ugh, apa kita menang harus melewati hutan ini?" keluh Will sambil menyeka keringat yang menetes dari dagunya. "Tidak ada jalan memutar atau langsung pergi ke pusat?"
"Mau bagaimana lagi, ya...."
"Sabar, hutan ini masih panjang."
Itulah yang aku lihat di peta. Kami bahkan belum setengah perjalanan melewati hutan. Keluar dari sini, ada dua desa lagi dan sabana kecil, lalu langsung ke gerbang distrik tengah. Hutan ini yang paling mengganggu, mungkin setengah perjalanan ini dihabiskan melewati hutan. Untungnya ini hutan hujan, jadi kami tidak perlu khawatir mati beku. Hanya melewati hutan hujan yang lembap dan gerah.
Itulah yang aku pikir, hingga suara raungan keras yang menggema ke seluruh penjuru hutan membuat kami tersentak sekaligus celingukan waspada. Burung-burung terbang panik menjauh, hewan-hewan berlarian gelisah, bahkan Avid pun melompat-lompat, berjalan di tempat seolah cemas akan apa yang datang. Tanpa berkata-kata lagi, aku dan Will langsung saling berhadapan punggung, waspada dengan apa yang ada di belakang. Will mengeluarkan panah anginnya, mencari keberadaan bahaya yang membuat seisi hutan kalut-kemelut.
"Dari mana??" Tanya Will.
"Suaranya bergema, tidak jelas dari mana."
"Sial. Tetap waspada!"
"Aku ta--"
Raungan kedua memotong kata-kataku, diikuti teriakan menyakitkan seseorang yang penuh akan rasa takut dan keputusasaan. Hewan-hewan semakin panik berlarian, kecuali Avid di belakang yang hanya berputar-putar di tempat. Itu programnya, aku paham. Programnya adalah untuk mengikuti kami, apa pun yang terjadi.
Will menoleh ke Selatan, fokus menatap ke kegelapan yang diciptakan dari bayangan pohon-pohon besar. Bahkan cahaya matahari pun sulit menembus tempat ini, tapi tatapan tajam Will terlihat seperti dia bisa melihat jelas apa yang ada di depan.
__ADS_1
"Dari sana, ya?" tanyaku memastikan. Will mengangguk.
"Ya. Kau dengar teriakan seseorang juga?"
"Terdengar."
"Kalau begitu, ayo pergi."
"Tunggu sebentar!" Aku menyeru, menarik bahu Will yang sudah duluan melangkah panjang. "Kau ingat apa yang dikatakan Mayor Thorin tadi?"
Will menoleh, agak kesal dan tak sabaran. "Tentang apa?"
Semoga ini salah, atau itulah yang ingin aku percaya. Pada kenyataannya tiap kali aku berkata seperti itu selalu berakhir menjadi benar.
"Peri padang rumput. Mayor Thorin bilang bahkan beruang timur saja tak bisa mengalahkannya." Jelasku, membuat Will tampak sedikit menarik napas.
"Tidak, tidak mungkin." Will menggeleng kuat. "Mana ada beruang di hutan hujan?"
"Tentu ada, kau tahu?" Jawabku tegas. Maaf, tapi aku harus tegas agar kita waspada. Untuk memastikan, aku membuka lagi buku panduan. Rasanya tertulis di salah satu halaman soal ini. "Ini bukan soal simulasi, beberapa hutan hujan memang habitat asli mereka... Nah, lihat ini."
Apa yang aku perlihatkan pada Will adalah gambar mengerikan dari makhluk raksasa, setinggi manusia ketika berjalan dengan empat kaki, tiga kali ketika berdiri. Kepalanya tengkorak, badannya berlapis zirah logam tebal. Rantai menggulung di keempat kakinya, dengan cakar-cakar metal mengilap. Kedua mata bulat bercahaya merah seolah menerawang di balik mata kami, seolah langsung mengawasi kami di tempat yang kami tidak bisa melihat.
"Beruang Timur, kah?" gumam Will menyebutkan nama monster ini. Dia menyeringai, terkekeh, mengusap wajahnya kuat. Dia tidak mau menerima fakta, tapi tak punya pilihan. "Benar, itu benar. Kenapa aku sampai lupa. Antara hutan dingin, tundra, dan sekumpulan serigala abu di Utara, atau hutan hujan dengan segala fauna berbahaya di sini."
"Mau bagaimana lagi, ini adalah ujian." ucapku sambil menutup buku panduan. "Bagaimana? Ingin pergi ke sana atau abai saja menghindar?"
"Apakah ini akan masuk ke dalam penilaian?"
"Mungkin..."
"Misi sampingan ujian?"
"Jelas."
"Heh-heh-heh.........." Will mengusap kuat kepalanya, menyisir sampai ujung rambut pirangnya yang halus. "Belum pasti ada beruang di sana. Tapi jika benar ada, apa kau pikir kita punya kesempatan menang?"
"Punya, jelas punya. Setidaknya satu banding delapan ratus."
"Itu angka yang besar." Will menghela napas panjang. Dia menepuk wajahnya sendiri kuat. Sorot matanya menajam, seperti seorang pemburu yang siap berburu. "Baiklah, ayo kalahkan dia."
...* * * * *...
__ADS_1