
Val meluncurkan kakinya ke perutku. Tendangan yang berat, penuh tenaga. Tapi aku tahu poin terbaikku adalah kecepatan. Dengan lincah aku mencengkeram kakinya. Aku tarik ke depan sembari berputar, membantingkannya ke tanah, lalu mengarahkan tinjuku tepat ke wajahnya. Aku menyeringai.
"Aku menang?"
Val balas seringaiku dengan senyuman "yah mau bagaimana lagi" seraya mengangkat kedua tangannya. "Kau menang."
Aku lepaskan kuncianku darinya, kemudian berdiri menjauh. Lumayan menguras tenaga juga. Setelah sekian lama akhirnya aku merasa terengah-engah lagi ketika berolahraga. Keringat bahkan membasahi sebagian pakaianku. Val, yang juga mencoba berdiri, lebih kebasahan lagi. Pundaknya kotor terkena tanah kering, bercampur keringat yang mengguyur tubuhnya.
"Kerja bagus." Kata Lee, menghampiri kami untuk memberikan handuk kecil. Aku mengambil satu, satunya lagi untuk Val. Dia juga memberikan kami masing-masing sebotol minum.
"Pengalaman memang tak bisa bohong, ya?" Ujar Val.
"Kau berjaya di turnamen nasional, pengalamanmu tak kalah hebat."
"Tak sehebat dirimu, penguasa daerah?"
"Oh, ayolah." Aku memukul pelan perut Val. Perutnya keras, benar-benar keras seperti dinding. Tak heran, dia ini ahli beladiri. "Badanmu sekeras batu, apa kurangnya itu?"
"Batu itu berat. Susah bergerak melawan anjing hitam lincah sepertimu." Balas Val sambil terkekeh.
Aku meneguk minuman. Staminaku terasa dipulihkan kembali. Apa yang Val katakan tidak salah. Selama latihan dua hari ini, aku sadar akan sesuatu. Val jelas cepat, dia bukan cuma dilatih kekuatan, tapi juga kecepatan. Namun, tubuhnya yang tinggi besar tak bisa menghasilkan kelincahan tinggi. Itulah keuntungan bagiku. Jika aku menyerang dengan pergerakan yang tak henti, Val akan kesusahan.
Meski begitu, aku juga punya kekurangan. Kecepatan dan kelincahan memang poinku, tapi tubuh kecil ini tidak menghasilkan kekuatan besar. Hasilnya, jika Val berhasil meraihku dengan benar, aku bisa dibanting dengan mudah, seperti saat latihan kemarin. Itu juga kenapa tiap pukulan Val benar-benar terasa untukku.
"Aku rasa aku belum bisa menghilangkan gaya bertarung jalanan." Keluhku sambil menatap tangan yang penuh tonjolan urat nadi. "Tadinya aku ingin membuat pergerakanku punya pola sepertimu. Mungkin dengan begitu aku bisa memancing musuh ke gerakan selanjutnya."
"Kau bisa, tentu saja." Val menyeka keringat yang mengalir di dahinya, lalu melanjutkan, "tapi punya pola serangan itu jadi kelemahan kalau musuh juga tahu polanya."
Itu ada benarnya. Serangan berpola mudah untuk dibaca, apalagi jika penggunanya bodoh dalam memainkan pola itu. Pada akhirnya, kegilaan adalah kunci terbaik dalam pertarungan. Aku pun sama saja, apa yang aku ingat setiap kali selesai bertengkar adalah tubuhku yang bergerak sendiri, lalu aku berdiri di akhir.
"Tentu saja, tapi bukankah lebih keren jika aku punya seni dalam bergerak?"
"Tidak ada seni di pertarungan sungguhan." Val berjalan, menepuk pundakku ketika lewat. "Ayo, sudah jam sebelas."
__ADS_1
Aku menoleh pada Lee yang membuka ponsel. Dia mengangguk. Sudah waktunya. Ugh, rasanya baru sepuluh menit kami di sini. Semuanya berakhir begitu cepat. Val dan aku pergi ke ruang ganti untuk membasuh diri, sementara Lee menunggu di luar sambil membereskan barang.
Val dan Lee mendaftar SMA hari ini. Setelah menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan, mereka akan pergi nanti sore ke kota tujuan untuk ujian besok lusa. Aku juga sama, aku akan dijemput Wild Dogs nanti sore. Pada dasarnya pendaftaran untuk SMA memang relatif sama karena kurikulumnya pun berjalan bersamaan.
"Tapi itu membuatku heran juga," Val berkata dengan suara bergema. Tentu saja, ini kamar mandi. "Kau dapat undangan, kan? Kenapa harus ikut ujian lagi?"
Pertanyaan bagus. Aku juga sempat heran saat mendengar kalau aku tetap harus ikut ujian, tapi alasan yang aku terima ternyata masuk akal.
"Helder mengakui nilaiku di bidang akademik. Kau pasti tahu, semua lomba dan peringkat yang aku dapat. Aku bebas ujian tertulis, tapi masih harus ikut ujian praktik nanti lusa." Jawabku sambil menggosok rambut dengan shampoo. Setelah membilasnya, aku lanjut menjelaskan. "Ujian tertulis Helder sebetulnya diadakan untuk mengetahui arah akademik siswa, karena itu hampir seluruh mata pelajaran dibuat ujian. Tentu, ada seleksinya juga karena ada batas nilai kelulusan. Bagi mereka, mungkin aku sudah jelas fokus ke bidang pemrograman atau otomasi, bagus di sana juga, jadi aku tidak perlu mengambil ujian tertulis. Meski begitu, tujuan ujian praktik diadakan sangatlah beda."
"Menilai kemampuan kita dalam gift?"
"Menilai kebijaksanaan kita dalam menggunakan gift."
Sekitar lima menit kami habiskan di kamar mandi. Aku mematikan shower duluan, diikuti Val setelahnya. Tidak banyak berbicara, kami mengenakan pakaian di loker, lalu pergi ke luar. Lee benar-benar menunggu di samping pintu ruang ganti, bersandar pada tembok abu sambil melihat langit. Ketika aku dan Val keluar, Lee langsung datang menghampiri.
"Theo, ponselmu berdering tadi." Katanya sambil memberikan ponselku. Aku buka layar kunci, lalu meligat riwayat panggilan.
"Kau tidak menelepon balik?" Tanya Val.
"Tidak perlu."
Aku meraih tas di belakang, tapi Val langsung merebutnya. "Jalan saja, biar aku bawakan."
"Tumben baik."
"Berisik."
Val berjalan duluan seolah tidak mau wajahnya kelihatan. Dia mencoba keren lagi, aku yakin itu. Hanya senyuman tipis yang bisa aku beri sebagai reaksi. Mataku melirik sedikit ke belakang. Bangunan sekolah tampak semakin kecil saja semakin aku berjalan meninggalkannya. Tiga tahun aku di sini. Meski memang hampir tidak ada pengalaman yang benar-benar berkesan, tapi begitu banyak yang terjadi selama tiga tahun ke belakang.
"Sudah merasa nostalgia?" Tanya Lee dengan seringainya yang biasa.
"Nah, hanya tidak percaya pada akhirnya aku akan pergi dari sini."
__ADS_1
"Masih teringat soal Lizzy dan yang lain?"
Tepat sasaran sekali, Lee, sampai-sampai membuatku termenung sebentar. Dia benar, aku masih terpikirkan soal itu. Tahun depan Lizzy akan masuk SMP, akan ada banyak hal yang perlu disiapkan. Jujur aku ingin mengantarnya untuk hari pertama, atau membantunya selama ujian masuk. Aku juga masih khawatir soal kondisi Lizzy yang masih lemah, juga adik-adikku yang lain. Tapi, yah, aku yakin Lee dan Val juga memikirkan mereka, sama sepertiku.
"Bohong kalau aku bilang tidak. Tapi aku pegang juga kata-kata kalian."
"Bagus, kau sudah mengerti." Timpal Val di depan. "Kau punya tujuan. Fokus saja ke sana, kami yang urus di sini."
"Oh, sekarang aku ingat. Kau dulu bilang ada alasan lain kenapa kau tidak mau masuk Helder?" Tanya Lee, melanjutkan.
Sial, dia ternyata ingat. Bukan berarti aku tidak mau cerita, tapi aku yakin akan merepotkan untuk selanjutnya.
"Nanti aku cerita di mobil. Aku rasa Ansel juga mesti tahu."
Cepat atau lambat, aku harus memberitahu mereka, aku tahu itu. Lagi pula Ansel pasti sudah tahu soal ini. Bercerita di mobil akan menahan reaksi berlebihan mereka sedikit.
Mobil berwarna cokelat tembaga parkir di tempat parkir khusus jemputan di seberang sekolah. Dua orang berdiri di sana. Satunya Ansel, satunya lagi temannya. Seorang pemuda bertubuh besar dengan wajah ramah. Jika aku tidak salah ingat, namanya Rolfe Van Hyden. Aku tidak akan terkejut jika Ansel bilang mobil itu milik temannya pribadi. Van Hyden, keluarga konglomerat yang tak kalah besarnya dengan keluarga DiMichelle. Tentu saja aku juga cukup penasaran kenapa orang sepertinya ingin menjadi anggota Wild Dogs, tapi aku rasa itu pertanyaan untuk lain waktu.
Zebra cross terletak agak jauh dari gerbang, tapi memang kami sudah dibiasakan sejak kecil untuk tetap menyebrang di sana. Setelah lampu penyeberangan menyala hijau, kami melangkah menyebrang, lalu menghampiri dua orang yang menunggu di samping mobil. Muka kesal Ansel begitu menarik dilihat, rasanya puas setelah dia yang membuatku kesal selama beberapa minggu ke belakang.
"Aku ingin bertanya kenapa teleponku tidak diangkat, tapi mengetahui yang aku telepon adalah kau, sudah cukup bagiku sebagai alasan." Keluh Ansel ketika kami sampai.
"Keluhan bukan salam yang baik ketika berjumpa." Timpalku dengan seringai, yang mana membuatnya semakin murung. Bagus, aku puas. Aku menoleh ke Rolfe, menundukkan kepala sedikit sembari menyapa. "Lama tak jumpa, dan maaf membuatmu menunggu."
Berbeda dengan Ansel, Rolfe tersenyum lebar ketika melihatku. "Tidak apa. Kadang aku juga sengaja tidak mengangkat telepon orang ini."
"Benar, itulah kenapa aku selalu datang saja ke mana pun kau berdiri." Sahut Ansel, masih menggeram seperti singa yang marah.
Tidak menghiraukan Ansel, Rolfe berjalan selangkah ke depan. Dengan badan yang tegap, dia meletakkan tangan kanan di dadanya, lalu membungkuk dengan gerakan yang halus.
"Lama tidak bertemu. Aku Rolfe van Hyden, bisa dipanggil Rolfe saja. Aku yakin kalian ini Val dan Lee? Salam kenal."
...* * * * *...
__ADS_1