Children Of Thalia

Children Of Thalia
Operasi Pembersihan - 1


__ADS_3

Kuro's PoV


"Baiklah, semua bisa mendengar?"


"Suara masuk."


"Masuk."


"Terdengar, Ketua."


"Bagus. Kita turun dalam dua menit. Sesuai rapat sebelumnya, Intel memastikan si hyena ada di lantai dua, kamar di pojok kanan dengan penjagaan ketat. Tetha-1, amankan basement, masuk dari pintu kayu di belakang. Tetha-2, turun dari atas, masuk melalui jendela di sayap kiri. Amankan lantai tiga. Tetha-3, dobrak pintu depan. Kita kepung musuh di lantai dua. Pastikan tempat itu bersih dari jebakan untuk penyelidikan selanjutnya. Mengerti?"


"Siap, dimengerti."


"Mengerti."


"Dapat dipahami."


"Aku mengerti."


"..... Laksanakan."


Pemuda itu memejamkan mata. Tubuhnya berguncang akibat jalanan yang tidak rata, tapi dia tidak kehilangan fokus. Suara-suara, cahaya, rasa-rasa, semuanya mati sejenak. Hening, gelap, dia tidak merasakan apapun. Fokusnya terpaku pada satu titik. Titik yang selama ini membuatnya kuat.


Tepat dua menit selanjutnya, mobil berhenti bergerak. Dua orang di depan memeriksa perlengkapan. Bom asap, granat kejut, sebuah granat tangan untuk jaga-jaga, pistol khusus dengan peluru bius instan, pisau untuk pertahanan diri, amunisi, juga perlengkapan pendukung khusus gift masing-masing.


Bahkan untuk pemuda itu--seseorang yang memegang pedang sepanjang hidupnya, paham kalau misi ini membutuhkan pistol dan bukan hanya senjata tajam. Dia mengokang pistol bius itu, mengecek empat slot magasin penuh peluru bius rancangan khusus Helder dan Divisi Keamanan, memeriksa ketajaman pisau yang tersembunyi di lengan, paha, dan lutut, juga mengelap sedikit gagang pedang berwarna merah tua yang dia simpan bersama pedang lain di pinggangnya. Dia lalu mengenakan helm, memeriksa apakah rompinya sudah terpasang, kemudian memejamkan mata.


Hening, tenang, suara-suara di pikirannya menghilang sejenak. Dirinya bersatu dengan lingkungan, napasnya selaras dengan semilir angin, tubuhnya tak bergeming meski mobil yang mereka naiki melaju di jalur berbatu. Sejenak pikirannya kosong, fokus, hanya terisi oleh satu wajah; target yang dia lihat di foto intel ketika rapat tadi pagi.


Mesin mobil berhenti bergetar, semua bersiap, semua menarik napas. Bukan saatnya gugup, tapi tidak mungkin tidak ada yang gugup. Misi mereka sekarang adalah misi berbahaya, selevel dengan pengejaran U-1 dan U-2 sebelumnya, tapi lebih menekankan agresi ketimbang penyelidikan. Bagian penyelidikan sudah dilakukan sebelumnya, sekarang adalah bagian penyergapan.

__ADS_1


Kuro Fuyuki, pemuda yang selalu memasang wajah tenang itu, menggenggam erat gagang pedangnya setelah membuka mata kembali. Dia gugup. Sangat jelas. Tapi dia juga berusaha untuk tetap profesional.


"Baiklah, semuanya. Aku ulangi lagi sekali. Target kita, si Hyena, ada di lantai dua, pojok di sayap kanan. Penjagaannya lengkap. Kalian memiliki izin untuk menggunakan senjata atau gift. Tidak ada warga sipil, kalian diizinkan menembak setiap target yang terlihat."


Kuro membuka mata, mengatur pernapasan, menarik napas dalam, lalu menjawab singkat.


"Mengerti."


Pintu van dibuka. Satu persatu personel melompat turun dan berlari ke arah rumah. Kuro duduk paling ujung, dekat sekat sopir, sehingga dia turun terakhir. Siaga pistol di lengan, Kuro lalu melompat turun, berlari mengikuti rekan-rekannya yang sudah duluan melangkah mengitari apartemen.


Dia adalah bagian dari Tetha-1, regu pengaman basement. Totalnya adalah empat orang, tiga di antaranya adalah Wild Dogs. Pemuda yang berjalan dengan langkah lebar di depan Kuro adalah Andrea Eugen Grisbaum, atau lebih sering dipanggil Magz, si pemuda dengan tato api di wajahnya. Di depannya lagi adalah seorang gadis, sepaket dengan Magz, tapi punya kekuatan yang berkebalikan. Dia adalah Mei Kinsella si Kupu-kupu Salju. Mereka bertiga memang sering diterjunkan untuk misi intelijen karena punya kelebihan di bidang kelincahan dan kesenyapan.


Dipimpin seorang kakak kelas dari regu Merlins, "The Sentient" Noe, Tetha-1 berjalan cepat dan senyap mengitari apartemen kecil yang berdiri di atas lahan tanah satu hektar. Sangat luas, terlalu luas. Padahal lokasi apartemen ini tidak jauh dari pusat kota. Penyusupan kendaraan juga sulit, secara apartemen itu telah disewa lebih dari enam bulan, seluruh gedung termasuk basement. Namun, Kuro dan yang lain tidak disebut ahli kerja intelijen tanpa alasan.


"Patroli mendekat. Tetha-1, bereskan dua di barat. Tetha-3 akan membereskan di selatan." Kata Gianni, komandan pasukan sekaligus kapten regu Tetha-3.


"Dimengerti, komandan. Kuro, segera bersihkan lokasi."


Kuro segera mempercepat langkah. Dicabutnya gagang pedang merah dari gantungan di pinggangnya. Sembunyi dirinya di balik tembok, membelakangi satu orang yang tengah patroli. Dia gigit gagang pedang itu di rahang. Dia memejamkan mata lagi, fokus pada pendengaran. Raung suara kendaraan, gemerisik suara rerumputan, kicauan burung di pepohonan, hingga decit sepatu ketika melangkah dapat dia dengar. Suara langkah itu semakin dekat, semakin dekat, hingga satu suara terasa berada tepat di belakangnya. Lalu suara itu menjauh lagi.


Kura membuka mata. Itu adalah kesempatannya. Dia berlari ke depan, berbalik, mengambil ancang-ancang, berlari lagi ke tembok, lalu melompat tinggi. Kedua tangan meraih ujung tembok pagar setinggi dua setengah meter, kemudian dengan mudah mengangkat tubuhnya yang ramping itu ke atas, melewati pagar dengan mudah, lalu mendarat tanpa suara. Dia raih lagi gagang pedang merah di mulut, ditariknya ke samping dengan bilah hitam yang keluar dari gumpalan material hitam yang membentuk bunga mawar di pangkal pedang.


Pria patroli itu tampaknya sadar. Dia berbalik. Di tangannya ada senjata api, tapi Kuro tidak panik sedikit pun. Ketika pria itu menarik napas sembari mengangkat senjata, Kuro mengayunkan pedangnya. Ketika pedang itu melewati si pria, langsung dia bertingkah seperti boneka yang putus talinya. Dia jatuh, tersungkur di atas tanah berumput. Seperti biasa, Kuro membuat mereka kehilangan kesadaran.


"Patroli dilumpuhkan." Ujar Kuro sembari menekan radio mini di telinganya.


"Kerja bagus. Sekarang kita bergerak kembali." Balas Noe. Ketika Kuro menoleh ke belakang, tiga orang masuk mengendap-endap. Dia mengikuti dari belakang. Dia simpan gagang pedang merahnya, kemudian mengambil pistol.


Mereka memutar, terpisah dengan dua tim lain. Kuro menghitung langkah, memperkirakan luas bangunan. Dia lirik-lirik sekitar. Meski masih siang hari, tapi suasana apartemen itu begitu sepi. Benar-benar terasa seperti rumah para penjahat.


Bagian belakang apartemen tertutup dinding tinggi, lebih tinggi daripada dinding depan. Juga didukung baris pohon cemara lebat yang membuat orang luar semakin sukar mengintip ke dalam. Wajar, di sana ada kolam renang kecil, walau tengah ditutup karena akhir-akhir ini sering hujan. Di samping kolam itulah jalan tim Alpha-1 berada. Sebuah pintu kayu tebal dengan rantai dan gembok besar, langsung terhubung ke basement.

__ADS_1


"Granat kejut, Mei." Titah Noe setelah mereka mengelilingi pintu.


"Dimengerti. Magz, buka kuncinya."


"Aku tahu."


Magz melepas sarung tangannya. Tangan putih-kurus terlihat dengan urat nadi menonjol jelas. Dia mencengkeram rantai yang melilit slot kunci pintu kayu itu. Tak lama, tangannya bercahaya biru, semakin terang seperti pijar, juga terasa panas. Dalam tiga detik, rantai itu mencair, menjatuhkan gembok tebal ke tanah. Cepat dia tarik kembali tangannya sebelum membakar pintu itu, diganti oleh Kuro yang mencengkeram gagang pintu dengan kuat.


"Siap?" tanya Kuro, Mei mengangguk sembari mencabut pin granat kejutnya.


Pintu kayu ditarik, terbuka lebar. Gelap ruangan bawah tanah menyambut mereka. Tangga kayu yang kotor dan lorong penuh akan jaring laba-laba menjadi apa yang mereka lihat. Bukan masalah sebetulnya. Mei segera melempar granat kejut itu ke dalam, dan mereka pun berbalik.


Seberkas cahaya terang memyinari singkat ruangan gelap bawah tanah, bersamaan dengan suara ledakan keras yang menggema, mengiringi jeritann-jeritan manusia yang terkejut karena harus buta sesaat.


Noe langsung masuk sambil mengacungkan pistol, diikuti Magz, Mei, dan Kuro. Lorong itu tak terlalu panjang. Setelah sampai menginjak lantai, Noe melepas tembakan. Empat orang meraung, meringis akibat granat kejut dadakan. Rasa sakit mereka selesai. Noe dan Mags mendapat dua, Kuro dan Mei masing-masing satu. Semua tembakan ke leher, membuat mereka tidur seketika.


Basement itu sendiri memiliki tiga pintu lain, terhubung pada ruangan yang berbeda. Noe, Magz, dan Mei memeriksa satu persatu, sementara Kuro mengamankan jalur ke atas. Noe tidak melepaskan tembakan. Ruangannya adalah gudang kosong dengan segudang peralatan rusak. Mei juga tidak secara yang dia buka adalah ruang dengan meja di tengah, mungkin tempat rapat. Namun, Magz membuka sebuah kamar tidur, dengan dua orang tengah berbaring di sana. Melesat peluru bius dari moncong pistol, membuat dua orang target mengerang sebentar sebelum kembali kehilangan kesadaran. Mereka tidak akan bangun hingga pagi dua hari ke depan.


"Basement aman." Lapor Noe pada saluran universal, dilanjutkan laporan dari tim yang lain.


"Atap aman."


"Lantai satu aman."


"Baiklah, semua langsung bergerak menuju titik utama. Tetap senyap, ini operasi kejutan."


"Dimengerti, Komandan."


"Laksanakan, Komandan."


Dan mereka pun bergerak, mengendap-endap menuju lantai dua.

__ADS_1


...* * * * *...


__ADS_2