Children Of Thalia

Children Of Thalia
Desa Pertama


__ADS_3

Aku dan Will, pemuda yang baru aku temui sewaktu melawan peri padang rumput, diam terpana di depan desa yang menjadi destinasi pertama kami. Cuma menatap, tanpa berkomentar, mulut yang terbuka, mata yang lekat memandang arsitektur desa yang begitu unik.


Aku bukan ahli budaya, apalagi soal seni arsitektur. Itu keahlian Lee, tapi bahkan aku sendiri bisa melihat betapa uniknya selera Helder dalam membangun desa simulasi. Dalam keterkejutan itu, aku merasa geli hingga tanpa sadar terkekeh seperti orang tua.


"Ternyata..... memang begini gaya Helder?" gumamku.


"Tidak, aku yakin ini pesanan pribadi." sahut Will.


Desa ini punya arsitektur bertema Eropa abad pertengahan. Rumah-rumahnya kayu dan tumpukan batu, dengan atap segitiga dan kerucut. Catnya didominasi putih dan krem, beberapa warna kayu alami. Cukup besar, dengan beberapa rumah memiliki kincir air yang langsung digerakkan sungai, juga cerobong asap yang masih mengepulkan asap putih. Tampak dari luar memang tidak ada yang salah. Hanya desa yang biasa ada di game sekarang. Masalah sebenarnya adalah di dalamnya.


Bahkan dari gerbang depan saja, aku bisa melihat pompa-pompa uap yang terpajang di depan beberapa bangunan besar. Lampu-lampu jalanan pun bukan obor atau lentera minyak, tapi lampu gas. Aku juga bisa menebak kalau asap dari cerobong-cerobong itu bukanlah asap api unggun pengahangat, tapi industri. Itu karena rumah-rumah yang memiliki cerobong asap tampak memiliki etalase mesin-mesin kuno di terasnya. Aku katakan kuno karena itu memang terlihat seperti mesin-mesin abad 18 atau 19. Mesin-mesin uap berwarna cokelat keemasan dengan tabung-tabung dan pipa-pipa terpasang. Benar-benar antik hingga aku sendiri bisa membayangkan suasana Inggris era Victoria ketika melihatnya.


Akan tetapi, apa yang menjadi poin utama keanehan bukanlah arsitektur atau teknologi. Ketika kesan lingkungan di sini mengingatkan Eropa abad pertengahan, dan teknologi rumahannya mengingatkan era Victoria, warga desa malah membuatku melihat seribu tahun ke depan. Semuanya droid. Robot sempurna tanpa wajah. Mereka berjalan, berlari, menumbuk gandum, menimba air, menarik kuda yang juga adalah mesin. Kereta yang kuda-kuda itu tarik terbuat dari kayu, anehnya. 


"Apa yang bisa aku katakan?" ujar Will sambil menepuk jidat. "TIdak kusangka."


"Ya, tapi simpan dulu kekagumanmu. Kita dikejar waktu." Aku menepuk kedua pipiku. Aku tahu kalau di antara kami berdua, akulah yang sebenarnya paling kagum dengan konsep abstrak Helder. Tapi ya, aku sendiri paham kalau waktu terus berjalan. Pada akhirnya, aku jalan di depan.


Jalanan desa tersusun dari batu dengan permukaan halus. Batu-batu sungai. Tidak diplester, hanya ditancapkan di tanah. Aku penasaran apakah akan licin saat hujan. Tapi jalanan ini menjelaskan teknologi suspensi yang mereka pasang di kereta kuda, walau aku yakin pasti masih terasa sedikit hentakan.


Aku melirik kanan-kiri, celingukan, melihat-lihat, memerhatikan apapun yang aku lewati. Tidak ada satupun robot yang melihat kami, atau memerhatikan kami. Rasanya seperti berjalan melewati segerombolan NPC. Bahkan mereka tidak mencoba berbicara pada kami. Ketika aku mendekati seorang penumbuk gandum, dia tidak merespons apa pun. Begitupun dengan droid yang tengah membawa barang belanjaan dan yang tengah memperbaiki pompa airnya.


"Oh, halo. Apakah kalian pengunjung?"


Kami menoleh, melihat arah suara. Seorang pria tua berdiri sambil menarik tali yang mengikat kuda robot di belakangnya. Wajahnya agak kemerahan, dengan rambut dan janggut putih berantakan. Matanya sayu, tapi tatapannya tajam. Badannya kekar di balik kaos putih yang kusam. Aku perhatikan pinggangnya, ada sebuah pistol, di luar dugaan.


"Oh, halo. Senang berjumpa dengan anda. Benar, kami turis dari luar. Kami lihat desa ini begitu unik dengan perpaduan zaman yang ada, jadi kami memutuskan untuk mampir sejenak."


Will menjawab dengan natural. Kekuatan orang ekstrovert. Dia bahkan meletakkan tangannya di dada dengan benar, tapi tidak terkesan formal. Dia mungkin tidak memerhatikan pistol di samping.


Atau tidak. Jelas aku lihat matanya sesekali melirik sarung pistol itu. Dia jelas waspada, tapi tidak sebegitunya bereaksi. Lagipula pistol pria tua ini tipe lontak. Cuma sekali tembakan untuk paling cepat satu menit. Mungkin dia yakin bisa mengatasinya jika terjadi apa-apa. 


Tapi akan menjadi pilihan terbaik untuk bersikap ramah di saat seperti ini, ketika dikelilingi sekumpulan droid di tengah desa yang bahkan aku tidak tahu tingkat bahayanya.


"Aku Theodore Radley, ini Willard Lucas. Senang bertemu dengan anda." Aku memperkenalkan diri kami, sopan sesuai tata krama Thalia. Semoga ini masuk ke dalam penilaian. "Kami dari hutan Utara. Kami mengikuti alur sungai untuk ke hilir, lalu menemukan desa ini. Ya, rasanya memang desa ini seperti gabungan dari berbagai zaman yang ada."


"Tunggu sebentar, nak." Pria tua itu menyela. "Apa tadi kau bilang dari Utara?"


Aku dan Will saling bertukar pandang, merasa heran. Kami menatap pria itu lagi, lalu Will menjawab pertanyaannya.


"Benar. Kami berjalan dari hutan Utara, mengikuti aliran sungai sampai ke sini. Agak jauh, tapi untung saja kami bisa melewati padang rumput itu."


Serentak, seluruh droid yang berada di desa menghentikan pekerjaan mereka. Mereka terpaku, diam tanpa suara. Rasanya ada yang hilang ketika suara-suara logam yang berbenturan itu tak terdengar lagi seketika. Mereka lalu berdiri tegap, menatap kami dengan wajah rata mereka. Aku siapkan tinju, memerhatikan sekitar. Ini bahaya, jelas. Jumlah mereka terlalu banyak. Paling baik untuk mencari jalur pelarian. Tapi jika harus bertarung, aku siap. 


Namun, wajah pria itu menampakkan kekaguman, juga rasa syukur. Matanya berbinar, wajahnya memancarkan cahaya. Dia berjalan mendekatiku, sementara aku otomatis mundur beberapa langkah. Ketika wajahnya tinggal empat langkah lagi dariku, dia berhenti.


"Peri padang rumput."


Aku mengernyitkan dahi, refleks. "Apa?"

__ADS_1


"Peri padang rumput, iblis desa, mengurung kami di sini bertahun-tahun lamanya. Tidak ada yang bisa pergi dari desa ini kecuali bertemu dengannya di padang rumput utara. Jika kalian dari hutan utara, harusnya kalian bertemu dengannya." 


Pria itu berkata dengan gestur-gestur yang--menurutku--berlebihan. DIa mengangkat tangannya, menggelengkan kepala, melangkah cepat seperti tengah gelisah. Matanya melotot, tapi bola matanya bergulir tak karuan. Napasnya cepat, secepat dia berbicara. Aku terpaku sesaat ketika dia menjelaskan, hingga Will menepuk bahuku dan menjawab pria itu.


"Jika yang anda maksud adalah makhluk dengan sabit tak kasat mata yang membuat kami berputar-putar di padang rumput, kami sudah mengalahkannya."


Pria itu makin terbelalak. Tak percaya, ingin percaya, aku melihat kebingungan dan harapan. Dia mundur beberapa langkah ke balakang seperti akan roboh. Aku ingin membantu, tapi pria itu langsung bertumpu ke kuda mesin di sampingnya.


"ENNE!!"


Dua detik setelah dia berteriak, seorang droid berpakaian seperti seorang polisi langsung menghampiri. Sama seperti yang lain, dia tidak memiliki wajah.


"Anda memanggil, Mayor?" Sahut si droid dengan suara seperti seorang pria muda.


"Periksa Utara, lihat apakah yang mereka katakan benar."


"Baik, segera."


Droid itu mencabut radio tangan yang terpasang di dada kirinya. Radia itu diletakkan di telapak tangan. Setelah lompatan listrik kecil, itu berubah menjadi seekor kumbang hitam besar. Luar biasa, droid yang mampu berubah wujud. Padahal CTI saja belum sampai ke sana. Berapa banyak data yang diperlukan si pemilik gift untuk menciptakan robot itu?


Kumbang itu terbang, cepat. Sangat cepat seperti lebah. Si droid polisi berdiri tegap. Tidak sampai sepuluh detik, dia menyentuh kepalanya, mungkin di area telinga, lalu berdiri tegap lagi.


"Konfirmasi, Mayor. Di padang rumput Utara terdapat jasad makhluk kecil dengan telinga panjang dan tubuh biru. Dadanya berlubang, jantungnya tidak berdetak. Kematian sudah dipastikan."


Mendengar informasi itu, pria tua di depanku tiba-tiba saja berseri-seri. Dia terkekeh dengan suara habis khas orang tua, lalu mencengkeram kedua lenganku dengan tenaga yang tak disangka-sangka.


"Terima kasih, terima kasih!!" Ucap pria itu penuh rasa syukur. "Oh, betapa aku mendambakan hari ini. Sudah dua tahun semenjak makhluk itu menguasai desa. Kami tidak bisa keluar atau akan berhadapan dengannya. Dia bersarang di padang rumput Utara, biasanya tidak akan ada yang selamat jika datang dari sana, tidak sampai kalian. Theo dan Will, benar? Bagaimana kalian bisa mengalahkan makhluk itu? Bahkan Beruang Timur saja tidak berdaya."


"Kami punya semacam intuisi." Jawabku. Tidak bohong, aku memang menduga bagaimana pola serangan makhluk itu. "Peri padang rumput punya pola serangan yang mudah ditebak. Setelah mengetahuinya, kami bisa menemukan celah untuk mengalahkannya."


"Memang sulit, tapi mungkin keberuntungan kami cukup besar untuk bisa berhadapan dengannya." Lanjut Will.


"Luar biasa!"


Pria itu perlahan melepaskan tangannya dariku setelah mendengar penjelasan kami. Dia merapikan pakaiannya, berdiri tegap, lalu mendehem seolah berubah menjadi orang yang berbeda.


"Kau boleh kembali ke posmu, Enne." Ucap pria itu. Dia lalu meletakkan tangan di dada. "Mohon maaf, saya terlalu antusias sampai lupa memperkenalkan diri. Saya Thorin, Mayor kota ini. Saya kira kurang sopan jika kita berbicara di sini. Bolehkah saya ajak kalian ke kantor saya?"


Tidak ada waktu!


Itulah yang ingin aku katakan, tapi aku tahu itu tidak sopan. Kata-kata yang mestinya aku ucapkan harus lebih sopan, tapi aku tidak pandai dalam kata-kata. Beruntung, Will maju mengambil alih percakapan.


"Pak Mayor, kami ingin anda tahu kalau kami sangat-sangat senang dengan tawaran anda. Kami ini tidak lebih dari sekadar pengembara, dengan desa ini sebagai tujuan pertama. Mengalahkan peri padang rumput adalah salah satu usaha kami untuk bertahan hidup. Jika apa yang kami lakukan bermanfaat untuk kota ini, kami sangat tersanjung. Tawaran anda, membuat kami meras alebih dihargai, tapi kami harus meminta maaf karena kami dikejar waktu untuk pergi ke tujuan kami selanjutnya. Ada urusan penting yang menanti kami, dan kami tidak boleh terlambat. Karena itu, mohon maaf, tapi kami harus menolak tawaran anda."


Whoa, sungguh kata-kata yang formal dan sopan, panjang juga. Dia sudah terbiasa, atau begitulah yang aku duga. Mungkin dia sering berbicara dengan guru, atau seminar di depan umum. Bahkan senyuman di wajahnya saat dia mengatakan semua itu tampak ramah sekaligus misterius. Dia tidak menurunkan kewaspadaan, tapi juga tidak tampak seperti orang yang tengah waspada.


"Begitukah? Sungguh disayangkan." Balas Mayor Thorin, menurunkan matanya tampak kecewa. Maaf, tapi kami memang tidak punya pilihan lain. Waktu ujian cuma tiga jam, kami harus cepat.


"Maaf, kalau saja kami tidak buru-buru, pasti kami akan menerima tawaran anda." ujarku, merasa tidak enak. Mayor Thorin membalas dengan senyuman lebar.

__ADS_1


"Tidak, tidak apa. Bukan berarti saya memaksa. Kalian punya tujuan yang harus dikejar. Walaupun, memang kalian sudah berjasa besar bagi desa ini. Mulai sekarang penduduk bisa datang dan pergi lagi tanpa perlu khawatir. Jika ada sesuatu yang bisa kami lakukan sebagai balasan, bisa kalian mengatakannya?"


"Tidak, tidak, kami—"


Aku berusaha menolak, sebagaimana yang diajarkan guruku sewaktu SD, bahwa ketika berbuat kebaikan itu sebisa mungkin jangan mengharap balasan. Kerjakan kebaikan, lalu pergi setelah semua selesai, itulah filosofiku. Namun, Will segera menepuk bahuku lagi dan maju ke depan dengan seringainya.


"Terima kasih telah menawarkan. Kami sebetulnya ingin pergi ke kota tengah. Berjalan kaki mungkin akan memakan waktu lebih banyak. Kami akan sangat menghargai jika anda punya semacam kendaraan untuk mempercepat perjalanan."


Muka pria tua itu berseri-seri lagi. "Oh, tentu saja! Kami akan sangat senang untuk meminjamkan salah satu kuda— tidak, tidak perlu yang lain. Bawalah anak ini." Katanya sambil menarik kuda mesin di sampingnya ke depan. "Dia ini terbaik sedesa. Paling cepat di kelasnya. Kau lihat otot-ototnya ini? Dua orang ringan baginya tanpa perlu mengurangi terlalu banyak kecepatan. Dia juga jinak, ramah ke orang yang aku terima, asal kalian tidak berbuat bodoh saja."


Dia menjelaskan kuda mesinnya seolah tidak sadar kalau itu adalah mesin. Lapisan otot? Tidak seperti itu. Memang terlihat seperti serat otot, tapi itu baja. Juga, tersusun rapi seperti serat otot betulan. Jika ini di dunia nyata, mungkin teknologi seperti itu perlu setidaknya dua puluh tahun lagi untuk bisa tercapai.


Bukan saatnya berpikir kenyataan. Ketika pria itu memberikan tali yang mengikat kudanya, Will segera meraihnya. Pria itu memang sudah menjelaskan, tapi masih membuatku terpana ketika melihat Will bisa mengelus kuda itu mudah seolah mereka memang sudah saling kenal. Tidak ada perlawanan sedikit pun, benar-benar kuda yang jinak.


"Anak yang baik. Siapa namanya?" tanya Will sbari terus mengusap rambut sintetis di belakang kuda itu.


"Avid. Dia dari hutan Utara." Jawab pria itu bangga.


"Apa anda yakin untuk memberikan kuda anda pada kami?" Tanyaku, lagipula pria itu tampak begitu bangga dan sayang pada kudanya seperti menyayangi anaknya sendiri. Tentu saja aku akan bertanya seperti itu. Namun, reaksi Mayor sungguh tidak terduga.


"Tidak. Kalian membebaskan desa ini dari monster. Anak itu sudah dikurung di desa selama dua tahun tanpa melihat dunia luar, dan aku sendiri mungkin tak akan pergi ke luar untuk beberapa waktu. Membiarkannya pergi bersama kalian akan membuatnya senang. Lagi pula dia tahu jalan pulang ke rumah. Jika kalian suruh dia pulang, dia akan pulang dengan sendirinya."


Will, yang sejak tadi mengelus kuda itu, tersenyum semakin lebar. "Anak pintar." Ujarnya singkat. Dia menoleh lagi pada Mayor Thorin, menunduk berterima kasih dengan tangan di dada. "Terima kasih atas bantuan anda, Mayor Thorin."


"Kasih kembali, Nak." Balas Mayor itu ramah. "Sekarang bergegaslah. Aku ingat kalian tengah buru-buru?"


"Benar sekali." Will mencengkeram pegangan pada pelana kuda. Dia letakkan kakinya pada pijakan yang menggantung, kemudian naik dengan gesit ke punggung kuda. Kuda itu diam. Tidak ada perlawanan, tidak memberontak, bahkan malah merendahkan kepalanya untuk memudahkan Will naik. Sejujurnya, aku terkesan.


Ketika Will mengulurkan tangan, aku mencengkeramnya kuat. Aku pijak juga tumpuan itu, lalu naik ke atas pelana.m, di belakang Will. Biarkan dia mengemudi, aku belum belajar. Mungkin dia suka memanah sambil berkuda seperti prajurit zaman dulu.


"Terima kasih sekali lagi, Mayor Thorin. Anak ini akan pulang sebelum petang." Kata Will sembari mengencangkan pijakannya.


"Nah, bawa dia sampai besok, biarkan dia tahu bagaimana kota di malam hari."


"Saya rasa itu ide bagus." Will menarik tali kekangan, membuat leher kuda ini sedikit menggeliat seolah berkata kalau dia siap pergi. "Kami pamit."


Mayor Thorin tersenyum. Senyuman lebar penuh keramahan dan kebanggaan. Juga rasa terima kasih dan rasa syukur. Dia melepas topi kulit yang dia kenakan, lalu menunduk sedikit dengan tatapan yang tak lepas dari kami.


"Pergilah, potong sabana di depan. Semoga kalian selamat sampai tujuan."


Will tersenyum, mengangguk sebagai balasan dari pengantar yang ramah dari Mayor. Dia lalu fokus menatap ke depan, ke bentangan padang rumput luas yang mengisi cakrawala. Perjalanan kami jauh, tapi dia tampak siap dan percaya akan sampai dengan cepat. Dia menarik napas dalam, dan dengan seringai lebar kegirangan, dia kencangkan cengkeramannya pada tali kekang.


"Ayo, Avid."


...* * * * *...


Tambahan


Sketsa kasar peta buta Kota Sintes

__ADS_1



__ADS_2