
Natalie Hirtzel, guru muda yang baru masuk tiga tahun ke Helder. Lulusan Helder juga, melanjutkan kuliah hingga lulus doktoral di usia 27. Guru berbakat, baik hati, cantik dan menawan. Gianni, yang di kehidupan siswa biasanya memiliki tugas sebagai ketua ekstrakulikuler palang merah remaja, begitu dekat dengan Natalie Hirtzel yang merupakan pembina ekstrakurikuler itu.
Itulah kenapa, ketika Gianni menemukan Natalie Hirtzel terkapar tak bernyawa di dalam tempat sampah bau di dalam lorong kotor yang becek akibat hujan, dengan luka memar di seluruh tubuh, beberapa anggota tubuh yang hilang, juga sayatan dalam yang membuatnya meninggal kehabisan darah, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak marah. Itu adalah kali pertama, dan mungkin hanya di saat itu saja dalam satu tahun, Gianni yang terkenal penyabar tampak begitu murka hingga Ansel sendiri mesti menggunakan gift untuk menghentikannya.
"Mungkin inilah alasan kenapa kita tidak pernah bisa menemukan dalang sebenarnya." Ujar Kuro sambil mencabut foto mendiang gurunya itu dari dinding yang kotor. "Kasus-kasus ini mungkin terhubung satu sama lain, dikendalikan satu orang yang sama."
"Orang yang terlampau cerdas hingga Wild Dogs juga tidak bisa berbuat banyak, benar?"
"Aku tidak bisa menyangkalnya." sahut Kuro. Dia tidak menyangkal, karena itu semua memang benar. Wild Dogs tidak berkutik di hadapan si dalang. Kasus Natalie Hirtzel adalah kasus yang juga mengantar Ansel untuk membentuk Wild Dogs. Kasus itulah yang akhirnya membuat dua teman Ansel tewas terbunuh. Meski begitu, sampai saat ini Ansel belum menemukan titik terang. "Katakan, kau masih punya dendam pada mereka?"
Pertanyaan Kuro membuat Gianni terkekeh. "Kenapa kau pikir amarahku bisa padam?"
"Aku tahu itu tidak akan padam, aku hanya ingin memastikan." Dia mencabut satu foto lagi, agak berjinjit ketika meraihnya. "Lihat, ini petunjuknya."
Itu adalah foto seorang gadis. Berambut biru tua dan bermata emas, dilingkari tinta merah yang meluber seperti darah.
"Dia.... jika aku tidak salah ingat, dia salah satu peserta ujian, bukan?"
"Bukan cuma peserta, dia adalah No. 308, peserta atas nama Estrellita Lorena DiMichelle."
"DiMichelle!!" Gianni terperanjat. "Aku mengerti. Anak inilah yang dimaksud Eli dan yang lain."
"Tepat." Kuro berjalan lagi, menghampiri tubuh si wanita yang tadi ditembaknya dengan pistol peluru bius. "Komandan, boleh aku katakan kalau kasus ini akan menjadi kasus terbesar kita, dari Wild Dogs, Merlins, atau seluruh Divisi Keamanan."
Dia merogoh seluruh saku yang ada di pakaian wanita itu. Saku celana, jaket, kemeja, hingga memeriksa sepatunya. Setelah merasa tidak menemukan apapun, dia mengambil ponsel wanita itu.
"Wanita ini bukan pemimpin sebenarnya, bukan?" tanya Gianni.
"Ya, aku rasa begitu. Estrellita Lorena DiMichelle adalah target yang masih diincar, mungkin itu sebabnya di fotonya ada lingkaran. Namun, fotonya diletakkan di tempat yang aku sendiri mesti berjinjit. Jika wanita ini dalang sebenarnya, kenapa dia harus menempelkan foto target yang masih diburu di tempat yang susah dijangkau?"
"Tunggu, yang dilingkari itu adalah target yang masih diburu?"
"Hanya itu penjelasan yang masuk akal, benar?"
"Itu artinya...." Gianni mendongak, berputar melihat seluruh foto berlingkaran merah yang tertempel di seluruh ruangan. "Ada lebih dari selusin orang lagi yang mereka buru?"
"Itulah tugas kita untuk menghentikannya." Kuro kembali berdiri setelah berhasil melakukan sedikit peretasan pada ponsel wanita itu, membuat seluruh data dalam ponselnya ditampilkan ke ponsel Kuro. "Komandan, coba lihat ini."
Apa yang ditampilkan di sana adalah serangkaian pesan. Pesan-pesan itu dikirimkan melalui aplikasi buatan sendiri, dengan server pribadi yang mustahil terlacak. Isinya adalah percakapan wanita itu dengan seseorang, tentang rencana mereka dalam membunuh Ellis Grant.
"Wanita ini eksekutor!" tegas Gianni setelah membaca pesan-pesan itu.
"Tampaknya begitu. Orang yang disebut Myling inilah dalang sebenarnya. Lihat, rencana-rencananya dijelaskan detail dengan kata-kata manipulatif. Boleh jadi wanita ini sendiri tidak sadar apa yang dilakukannya."
"Pada akhirnya hanya pion lagi, huh?"
"Sayang sekali, Komandan. Orang itu selangkah lebih maju lagi dari kita."
Kepalan tangan Gianni dikencangkan hingga tampak gemetar. Kecewa. Itulah yang jelas terpampang di wajahnya. Dia harus menerima fakt akalau dia kalah lagi dari mereka.
"Periksa apakah ada foto-foto yang mendukung penyelidikan. Mungkin target yang akan dieksekusi setelah inu atau apapun."
"Baik, segera."
Sementara Kuro memeriksa ponsel wanita itu, Gianni yang merasa pikirannya begitu berkecamuk mencoba menenangkan diri dengan mengitari ruangan sambil memejamkan mata. Dia atur napas, menenangkan irama jantung, mencoba menjernihkan pikiran. Dia lihat-lihat lagi foto-foto di dinding. Semua itu adalah foto orang mati, atau orang yang akan dibunuh nanti. Mereka bukan orang-orang biasa, malah ada beberapa selebriti dan orang penting yang diketahui Gianni. Agak sulit dipercaya kelompok itu tidak ketahuan hingga sekarang.
"Hm?"
Pemuda itu mendekatkan wajahnya pada salah satu foto. Wajah di sana adalah wajah yang benar-benar terasa familiar, wajah yang rasanya baru saja dia lihat.
"Komandan, lihat ini." seru Kuro, membuat Gianni mengalihkan perhatiannya dari foto itu sejenak.
"Menemukan sesuatu?"
"Ya, coba lihat." Kuro menunjukkan sebuah foto yang tampaknya diambil diam-diam. Itu adalah foto seorang pria yang tengah berdiskusi dengan dua pria lain. Wajah pria itu tebal, matanya sayu, rambutnya cokelat tua. Dia mengenakan jas abu, juga tengah bersandar pada kap mobil keluaran lama. Wajah dua pria yang tengah berdiskusi dengannya tidak terlihat karena tengah membelakangi kamera, tapi tampaknya mereka adalah orang penting jika dilihat dari cara mereka berpakaian.
"Aku belum pernah melihat orang ini. Apa dia target juga?" Tanya Gianni.
"Aku kira juga begitu tadi, tapi lihat ini." Kuro memperbesar gambar, fokus pada sosok buram di dalam mobil itu. Tengah duduk bersandar dengan wajah masam, itu adalah wajah pemuda yang benar-benar dikenal Gianni. Wajah yang membuat Gianni terperanjat sekali lagi.
__ADS_1
"Sulit dipercaya!"
"Itu jugalah reaksiku." Kuro menutup foto itu. Sekarang semuanya mulai jelas. "Komandan, jika dugaan kita benar, maka para peserta ujian tengah berada dalam bahaya!"
"Jelas sekali. Segera hubungi Ansel. Suruh Wild Dogs melakukan gerakan. Oh, laporkan juga ini pada Squirrel, tampaknya kita perlu sedikit bantuan untuk--"
Sayangnya, kata-kata Gianni terpotong oleh bunyi radio kecil di telinga mereka. Tanpa basa-basi, Gianni langsung menekan tombol di radio itu, menghubungkan koneksi terbatas antar anggota Tetha.
"Gianni di sini, ada apa?"
Orang yang berada dalam sambungan, orang yang terdengar tengah panik itu adalah Noe.
"Di sini Noe. Komandan, ini gawat. Seorang wanita ekstremis yang kita tangkap tewas mendadak!"
"Apa!?"
Belum sempat Gianni memproses apa yang dia dengar, laporan lain datang.
"Liv izin masuk sambungan, Komandan. Truk kami juga mengalami hal yang sama. Seorang pria tiba-tiba tewas dengan dada yang meledak!"
"Tunggu, apa? APA YANG KALIAN LAKUKAN DI SANA, HAH!!!??"
"Selanjutnya adalah seorang wanita." Ujar Kuro tenang, membuat Gianni tiba-tiba menoleh. Gianni beleum bertanya apapun ketika laporan kembali masuk lagi.
"Di sini Magz, izin melaporkan. Seorang wanita yang kami amankan tiba-tiba tewas dengan jantung yang meledak, Komandan."
"Tung--"
"Selanjutnya pria tua." Kuro melanjutkan lagi tanpa menghiraukan Gianni yang kebingungan.
"Di sini Alp, melaporkan pria tua di lantai tiga tewas dengan mata, hidung dan telinga yang mengucurkan darah."
"Selanjutnya gadis rambut merah." Dia melanjutkan lagi.
"Komandan, izin melaporkan lagi kalau wanita di basement juga tewas dengan dada meledak!"
"Selanjutnya--"
"Tenangkan dirimu, Komandan." Ujar Kuro, yang mana malah membuat Gianni semakin kesal.
"Diam. Sebaiknya kau cepat jelaskan saja soal bagaimana kau bisa tahu soal siapa yang akan mati."
"Ini salah satu yang aku temukan lagi." Kuro melangkah mundur sedikit, membiarkan Gianni melihat apa ya g dia lihat. Foto-foto yang menempel di dinding, yang tadinya cuma dilingkari tinta merah, kini berubah menjadi tanda silang. Lebih mengerikan, Kuro dan Gianni melihat tanda itu perlahan berubah sendiri tanpa ada siapa pun yang menghapus dan menggambarnya ulang.
"Ini...."
"Ulah Gift." Lanjut Kuro tegas. "Tak ada penjelasan lain lagi."
Gianni menengadah, melihat setiap foto dengan lingkaran merah yang perlahan berubah menjadi tanda silang. Tiap foto, tiap wajah, perasaan familiar, akhirnya Gianni paham.
"Sekarang aku ingat. Wajah-wajah di foto ini adalah orang-orang yang aku tembak dengan bius. Mereka adalah orang-orang di apartemen ini!"
"Lebih tepatnya, orang-orang yang pernah ada di apartemen." Kuro menegaskan. "Sekarang hanya tinggal satu tersisa."
Kuro tiba-tiba menarik pedang. Bukan gagang pedang hitam, tapi pedang sungguhan yang menggantung di pinggang. Dia ayunkan pedang itu cepat ke belakang dengan tebasan diagonal ke atas, kemudian dilanjutkan dengan tebasan vertikal kuat ke bawah.
"Itu yang terakhir." Ujar Kuro.
Wanita itu tersungkur. Wajahnya membenam ke lantai. Darah perlahan merembes, membanjiri lantai ruangan.
"Dia... bangkit lagi?"
"Dikendalikan, tepatnya. Lihat tangan kanan itu."
Yang mereka lihat adalah sebuah tabung. Lebih kecil dari tabung pertama, juga fungsi yang berbeda.
"Ini detonator!?"
"Dia ingin meledakkan sesuatu."
__ADS_1
"Jangan bilang dia ingin menyerang Helder?"
"Ada kemungkinan, tapi aku tidak tahu. Kita laporkan saja."
Namun, sebelum Kuro sempat menekan tombol-tombol di ponselnya, bunyi radio kecil kembali nyaring terdengar. Tak lama untuk Gianni mengangkatnya, juga tak lama hingga dia terkesiap akan apa yang dia dengar.
"KURO, TIARAP!!!!!!"
Tepat setelah teriakan itu, suara ledakan tiba-tiba terdengar dari bawah. Ledakan yang kuat, membuat foto-foto yang menempel di dinding berjatuhan tergenang di atas merahnya darah segar. Api cepat menyambar, tampak sudah berkobar di pilar penyangga di depan kamar apartemen tempat Kuro dan Gianni berada.
"Mereka ingin menghilangkan bukti!" seru Gianni setelah menyadari apa yang terjadi.
"Lantai satu terlalap api, jalur evakuasi tertutup. Komandan, tak ada pilihan lain!"
"Aku tahu!"
Gianni melepas sarung tangan, topeng, masker, juga rompi anti pelurunya. Dia pasang kuda-kuda, mengatur napas meski udara terasa panas. Perlahan, tubuhnya memancarkan pijar merah. Pijar yang membuat kedua tangannya menyala panas.
"Akan aku hancurkan dinding ini. KURO, MUNDUR!"
Tanpa banyak basa-basi lagi, Gianni merespons dengan mengepalkan tangannya erat. Dia luncurkan tinju kuat pada tembok rata di belakang, langsung mengarah ke luar.
"URYAAAAA!!!!!!!!!!!!"
Tinju merah menyala itu menyentuh, menghantam tembok dengan gift yang aktif, menciptakan ledakan besar lain yang merobohkan tembok tebal apartemen, memperlihatkan dunia luar yang langsung tertutup asap hitam kebakaran.
"KURO, LOMPAT!!!!!!"
"BAIK!!!!!!!"
Langkah lebar mereka ambil sebagai ancang-ancang. Di ujung hancur ruangan apartemen, Gianni dan Kuro mengambil lompatan kurus ke luar. Mereka di lantai dua, mereka tahu itu, tapi tidak ada pilihan lain. Api berasal dari lantai bawah. Jika mereka memaksa untuk menerobos, mereka akan terpanggang hingga hanya tersisa tulang.
Tubuh mereka mendarat di atas tanah berumput. Agak keras menghantam tanah, lalu berguling hingga dihentikan oleh tembok yang mengelilingi apartemen sebagai pagar tinggi. Kuro menatap gedung apartemen di depan. Ledakan lain terjadi, menyemburkan hawa panas menyengat yang langsung membuat wajahnya perih. Seluruh tubuhnya sakit, mungkin ada beberapa yang retak, tapi dia juga bersyukur masih bisa selamat.
"Trik kotor yang pintar." Puji Kuro sembari menatap lidah api yang menjilati langit biru. "Jika pengendalian wanita itu berhasil, bom meledak melalui tombol detonator. Jika gagal dan wanita itu mati, sensor akan mendeteksi kalau detak jantungnya berhenti dan mengirim sinyal peledak ke bom di bawah." Dia terkikik, menertawakan kebodohannya sendiri yang tidak segera sadar akan trik itu. "Komandan.... kau masih hidup?"
"Masih.... sialan...." Jawab Gianni, kesal sekaligus lega karena rencana evakuasinya berhasil. "Bagaimana dengan informasinya?"
"Sayang sekali."
Kuro memperlihatkan kedua ponsel di tangannya. Keduanya mati. Bahkan setelah Kuro menekan beberapa kali tombol-tombol di sana, ponsel itu tetap tidak merespons.
"Mustahil......"
"Inilah faktanya."
Baru saja Kuro melempar kedua ponsel itu sewaktu percikan api terjadi. Ketika ponsel membentur tanah, ledakan kecil langsung membuat badan kedua ponsel berhamburan dengan asap membumbung.
Hilang sudah informasi yang ada. Ponsel itu telah disabotase agar hancur setelah memenuhi syarat tertentu. Apartemen juga kemungkinan sudah diset untuk hancur setelah Tim Tetha mendapat sedikit informasi tanpa bukti. Sejak awal, mereka sudah dijebak.
"Sialan!" Gianni menekan beberapa tombol di helmnya, kemudian melempar helm itu ke samping. Frustrasi utamanya yang dia rasakan. Dia bersandar pada tembok yang dingin, merenung, mengutuk dirinya sendiri. Rambut berantakan tanda pikiran tak karuan, tapi dia masih mencoba untuk melakukan tugasnya. "Aku sudah mengirimkan sinyal."
"Kerja bagus, Komandan."
"Aku tidak tahu apa kau sedang memuji atau menyindirku."
"Aku serius memuji."
"Maka terima kasih, itu membuatku sedikit lebih baik, meski kita gagal mendapat apa yang harusnya kita dapatkan."
"Oh, tidak seburuk itu juga." Kuro merogoh kantong rompinya, mengeluarkan dua lembar foto. Itu adalah foto yang dia cabut tadi, foto dengan tanda silang dan tanda lingkaran. "Cukup kirimkan ini. Ansel akan mengerti."
Wajah yang terpampang di sana adalah wajah dua orang wanita. Mendiang guru mereka, Natalie Hirtzel dan peserta nomor 308, Estrellita Lorena DiMichelle. Begitu melihat foto itu, muka kusut Gianni sedikit membaik.
"Aku paham, itu pesan yang bagus."
Kuro membuka ponselnya, menulis laporan singkat operasi Pembersihan yang akan dikirimkan langsung ke kontak pribadi Ansel, disertai foto dua lembar bukti yang berhasil dia amankan. "Ansel mesti melakukan beberapa pemeriksaan terhadap orang-orang di Helder."
Gianni menghela napas. "DiMichelle, huh...." Dia juga membuka ponselnya, menulis laporan yang sama. "Aku minta juga Eli dan Sean menyelidiki orang itu di Helder. Mereka akan terkejut."
__ADS_1
"Jelas. Dia orang DiMichelle juga soalnya."
...* * * * *...