Children Of Thalia

Children Of Thalia
Aliansi - 2


__ADS_3

Kunci dari strategi musuh adalah Haris Dassler, si pengguna ilusi yang berhasil mengelabui beruang timur. Selama dia ada, sulit mengalahkan siapa pun karena ilusinya yang mengganggu.


Makannya, rencanaku sebetulnya sederhana; lumpuhkan Haris Dassler, kalahkan yang lain. Tidak sesimpel itu memang, tapi mari dicoba.


"WILL, FOKUS PADA SI PENGGUNA ES!!!!!!"


Tak perlu aku tunggu balasan. Aku langsung berlari tanpa memberikan instruksi lanjutan lagi. Ada satu lagi yang perlu aku pastikan.


Si pengguna debu di depan menyilangkan lengannya, tapi tidak mencoba mundur. Cepat dia menyadari kalau ada yang salah, tapi terlambat karena tinjuku lebih cepat.


"HAAA!!!!!!!!!"


Aku melompat. Sebuah lompatan tinggi dengan tangan terangkat. Pemuda itu mendongak, menatapku terkejut. Dia punya banyak pertanyaan, maka biar aku jawab dengan pukulan.


Dia terpental setelah tinjuku mengenai wajahnya tepat. Oh, itu melegakan setelah sejak tadi hanya memukul dan menendang angin kosong. Dia mencoba bangkit, menutup hidung yang mengucurkan darah.


"KAUU!!!!!!!!!"


Kilau kebiruan membuat mataku bergulir ke atas. Itu adalah bunga es. Bunga es bercahaya yang jelas tampak berbahaya. Aku melompat mundur, segera mendapati kalau tanah yang kena serangan bunga es itu langsung saja membeku dengan salju kecil di atasnya.


Tak lama setelahnya, panah-panah angin melesat dari belakang, cepat berdesis menuju arah serang si pengguna es. Tentu tak langsung tertuju pada target, Will juga tak mau terdiskualifikasi aku yakin, tapi dia membuat satu puing-puing rumah kayu roboh. Pekik kepanikan terdengar dari sana, diikuti sosok seorang gadis berambut hitam yang berlari keluar dari persembunyian.


"Kau, ya?"


Aku ingin langsung mengejarnya, secara ini adalah kesempatan, tapi petir biru cepat melesat di sampingku. Selanjutnya yang aku tangkap adalah sosok gadis DiMichelle itu sudah siap mengayunkan tendangan pada si gadis es.


Si gadis es menciptakan perisai biru dsri es, tapi melawan gadis petir itu percuma. Esnya pecah seketika, membuat tendangan keras itu langsung menuju muka. Dia terpental, darah bercipratan dari hidungnya.


Kenapa aku merasa kasihan?


"URUS DI SANA, RAMBUT HITAM!!!!!!"


Si gadis DiMichelle itu berteriak padaku? Julukan rambut hitam? Hahah, itu tidak buruk.


Refleks membuatku tiba-tiba mengayunkan tangan, menepis tinju yang diarahkan langsung ke wajah. Mataku bergulir, menangkap raut penuh amarah si pemuda debu yang anehnya tidak berubah menjadi debu.


Pukulan kedua diarahkan ke perut. Langkah cepat aku ambil ke samping, menghindari pukulan karena aku tahu sulit untuk menangkisnya. Cepat aku angkat siku, menghantam dagu pemuda itu hingga dia melangkah mundur memegangi mulutnya yang berdarah.


Angin kembali berputar, mengalir dari kaki pemuda itu, membawa pasir dan debu dari tanah hingga ke lehernya. Meski begitu, amarah yang dia pancarkan tampak belum sebegitunya padam.


"Apa yang kau lakukan?" tanya pemuda itu menggeram.


"Apa maksudmu?"


"Kekuatanku, tadi hilang sejenak. Apa yang kau lakukan???"


Oh, jadi itu efeknya. Mari kita ingat-ingat lagi. Sekitar semenit, benar? Itu cukup lama.


"Tidak ada trik kotor, itu hanya kekuatanku."


Pemuda itu segera mengencangkan gigitan. Itu bukan lagi kekesalan, itu amarah murni. Apa kekuatanku benar-benar membuatnya sejengkel itu?


"Sudah aku duga, kau akan jadi pengganggu!"


"Aku tersanjung."


Dia akan menyerang lagi, tapi kenapa pukulannya ditahan?


Apa ini sudah saatnya masuk tahap dua?


"Hump!"


Aku melompat duluan. Hanya ada satu cara untuk mengetahui apakah rencanaku sudah masuk ke tahap dua atau belum. Serang duluan si debu, lalu lihat reaksinya.


Dia tersenyum, jelas terlihat.


Artinya aku benar.


Pandanganku tiba-tiba berbayang lagi. Si pemuda debu di depan.... rasanya seperti ada dua. Dunia tampak samar seperti berada di mimpi. Aku bisa melihat jelas dunia, tapi pada saat yang sama juga tidak bisa melihatnya.


Inikah rasanya ilusi itu? Memang membuatku kebingungan, tapi aku bilang ini punya kelemahan.


"WILL!!!!!!!"


Aku tidak bisa melihat apa yang terjadi, tapi aku tahu Will melesatkan panahnya. Siulan nyaring itu tak pernah membuatku bosan. Tiga tembakan, tapi aku tak tahu mengarah ke mana.


Tubuhku melaju melewati si pemuda debu. Aku bisa merasakannya. Seperti melewati dinding air. Dia bisa dilewati, tapi tak cukup padat untuk membuatku terbentur.


"SIALAN!!!!!"


Aku menunduk, entah apakah itu langkah yang bagus. Ini hanya refleks, tapi cukup berguna.


Sedetik kemudian, pandanganku kembali pulih. Rerumputan di atas tanah, rumah-rumah kayu yang terbakar, pertarungan petir dan es di depan, semuanga dapat aku lihat jelas.


Sedikit aku melirik ke belakang, pemuda itu mengangkat kakinya tinggi. Tubuhnya masih diselimuti debu. Aku berbalik segera ketika dia mengayunkan kakinya. Dia tidak bisa dihentikan, dan aku tidak berharap dia menghentikan serangan. Tangan kiriku diluncurkan, mencengkeram tepat pergelangan kaki si pemuda. Pita-pita tujuh warna mengembang. Tamatlah untuk pemuda debu ini.


"HAAAAA!!!!!!!!!!!!!"


Aku kencangkan langkah ke depan, mengangkat kaki si pemuda itu sekaligus menangkis sebelah lagi kakinya yang menjadi tumpuan. Punggungnya keras menghantam tanah. Aku lepaskan kakinya, lalu cepat merayap menahan lengan kanannya dengan lutut. Tangan kanan diangkat tinggi.


Pemuda ini terlalu terbiasa menggunakan gift untuk membuat serangan apa pun melewatinya. Dia tidak punya refleks yang bagus untuk benar-benar menghindari serangan.


Karena itu, begitu aku ayunkan tinjuku kuat dan cepat, dia hanya bisa melihat. Tinjuku tak sekuat Val, tak secepat si gadis DiMichelle, tak juga setajam Ansel, tapi aku yakin ini akan membuat lawan di depanku paham.


"HEAAAAA!!!!!!!!!!!"


Lutut pemuda ini sampai berkedut terangkat begitu tinjuku menghantam kuat hidungnya. Aku tarik lagi tanganku, diluncurkan lagi cepat ke titik yang sama. Aku angkat lagi, luncurkan lagi, angkat lagi, luncurkan lagi, hingga aku rasakan lengan yang aku tahan ini tidak lagi memberikan perlawanan.

__ADS_1


Wajah si debu ini bengkak biru. Matanya lebam, pelipisnya berdarah, bibirnya robek, hidungnya..... mungkin bengkok cukup menjelaskan. Meski begitu, dia belum tereliminasi. Tampaknya sistem dunia ini menilai orang yang tereliminasi itu orang yang benar-benar mati.


Setidaknya perlawananku cukup bernilai. Pemuda ini sudah tidak bisa bergerak. Hantaman keras berkali-kali ke hidung jelas memberikan guncangan ke otak, tapi orang ini cukup tangguh.


Ah, pandanganku kabur lagi. Dia masih hidup?


"Kau di sana, Haris Dassler?"


"DIAM!!!"


Jawaban tegas itu terdengar dari belakang. Aku tidak menoleh, karena aku tahu tidak ada gunanya melihat dengan mata yang dipengaruhi ilusi seperti ini.


"Penyerangmu sudah kalah semua, kau memang mau apa?"


"Kalah?? Hahah, belum.... belum sampai semua dari kami kalah!"


Semua?


"Kau berharap pada si pengguna es?"


Jawaban pertama yang aku dengar adalah tawa yang mengganggu.


"AHAHAHAHAHAH!!!!!!!! Si pengguna es? Kau bercanda, dia ini amatir!"


"Pujian yang bagus untuk kawanmu." Maka artinya dia mengonfirmasi kalau pemburu itu berjumlah lebih dari ini. "Jika kau memilih untuk fokus ujian sekarang, mungkin aku akan melepaskanmu."


"Haah? Dasar bodoh, kenapa aku harus--"


Yah, aku sudah memperingatkan.


Suara yang aku dengar selanjutnya, setelah kata-kata orang itu terpotong adalah bunyi hantaman yang terdengar renyah, dilanjut bunyi gesrekan dari benda yang terseret di atas tanah berkerikil.


Pandangan mataku kembali seperti semula tiba-tiba. Aku tidak terkejut. Dari suara hantaman itu saja aku sudah tahu siapa. Aku menoleh dengan seringai puas.


"Kerja bagus, gadis DiMichelle."


Gadis itu berdiri di sana, terbanjiri keringat dan bertumpu pada lutut.


"Sama-sama."


Ketika aku melirik sekitar, si gadis pengguna es ternyata sudah tak sadarkan diri, bersandar pada pilar kayu yang terbakar dengan matanya yang putih. Aku tidak mau membayangkan tendangan macam apa yang dia terima. Si gadis petir ini tidak kenal ampun.


"Kau tidak menggunakan gift?" Tanyaku sembari menghampirinya.


"Dia mungkin bisa melemparkan bola salju, tapi dia lambat." Balas gadis itu, menatap si pengguna es. "Aku yakin bahkan kau bisa mengalahkannya mudah."


Apa itu pujian? Rasanya tidak seperti itu.


"Nah, aku punya cara lain mengalahkannya."


"Memantulkan esnya."


"Membuat dia sendiri yang membeku?"


"Itu lebih baik daripada dihajar habis-habisan, benar?"


"Tidak terdengar lebih baik."


"Ahahahah......."


Aku menoleh. Langkah diambil perlahan, menghampiri si pengguna ilusi. Wajah penuh lebamnya membuatku merasa sedikit bersalah, tapi langsung sirna begitu melihat tangan kananku yang melepuh akibat bola api sebelumnya. Aku berjongkok, memerhatikan pakaian si pengguna ilusi. Barangkali ada sesuatu yang bisa aku temukan.


Sangat disayangkan, nyatanya tidak.


"Dia betul-betul dari SMP Hirsch?"


"Hirsch?" kata gadis itu, menghampiri dari belakang.


"Ah, waktu kami berkenalan, dia berkata kalau dia dari SMP Hirsch di Argon."


"Hee......" Gadis itu juga ikut memandangi setiap atribut si pengguna ilusi ini. "Hirsch adalah SMP yang cukup terkenal. Aku yakin pakaian ini asli dari sana."


"Jadi dia memang benar peserta legal?"


"Kau pikir seseorang bisa masuk ke sini secara ilegal?"


Dia ada benarnya, membuatku malu sendiri karena begitu polos bertanya.


"Tidak, kau benar. Mana mungkin Helder membiarkan." Tapi aku juga mendapat pemikiran lain, langsung saat itu juga. "Walau...... bagaimana jika masalah utamanya bukan legal atau ilegal?"


Telinga gadis itu berkedut. Aku tepat sasaran. Dia menatapku beberapa detik. Aku sadar, tapi mari bersikap seolah aku tidak tahu. Dia menghela napas panjang kemudian.


"Kau terlalu banyak tahu untuk ukuran peserta biasa." ujar gadis itu. Sekarang aku menganggapnya pujian.


"Aku sering dibilang seperti itu."


"Sepertinya memang cocok." Gadis itu terdiam, menelan ludah, mengatur napas. Aku berdiri, berniat pergi tanpa peduli, tapi gadis itu memanggil. "Hei, dengar dulu ini."


Rasanya tidak akan berakhir baik.


"Huh?"


"Dengar, aku minta maaf atas perlakuanku sebelumnya. Aku langsung menyerang, membuatmu terancam tereliminasi. Aku harap kau mengerti."


Dia lebih tulus dari yang aku duga. Aku kira puteri dari keluarga konglomerat akan bersikap lebih sombong. Maaf aku salah paham padamu.


"Setelah melihat semua ini, aku mengerti. Sulit bagimu mempercayai siapa pun."

__ADS_1


Dia tersenyum tipis, mengangguk lega setelah mendengar jawabanku. Tapi nada bicara selanjutnya masih terdengar serius.


"Dengar, aku tidak bermaksud buruk, tapi ini peringatan terakhir. Apa yang orang ini katakan soal jangan tahu terlalu banyak itu benar. Kau juga peserta, prioritasmu adalah lulus ujian, cukup itu saja. Aku mohon, menjauhlah dariku. Tidak perlu mencari tahu terlalu jauh, bantuanmu di sini saja sudah lebih dari cukup. Aku benar-benar berterima kasih padamu soal itu, tapi cukup itu, tidak perlu berbuat lebih jauh lagi."


Oh, dia juga lebih perhatian dari yang aku duga. Aku tersentuh. Apa yang dilakukannya hingga diincar orang-orang seperti ini? Sungguh sulit dipercaya, tapi mungkin memang seperti itulah politik bisnis. Ansel bilang konflik DiMichelle itu internal, aku duga mungkin perebutan kekuasaan atau omong kosong lainnya.


"Aku sangat tersanjung, Nona DiMichelle, tapi mungkin sudah terlambat bagiku menjauh. Si pengguna debu itu bilang kalau aku sudah ditetapkan sebagai pengganggu. Mungkin sekarang kita berada di masalah yang sama, mungkin aku juga diincar."


Ekspresinya mulai murung, merasa bersalah. Oh tidak, aku juga merasa buruk.


"Maaf." Kata gadis itu dengan suara bergetar.


"Tidak, tidak perlu dipikirkan. " Aku jawab spontan, mengambil jeda sejenak, kemudian melanjutkan. "Kau tahu, sewaktu lari dari bar, sebetulnya aku bisa lari menyelamatkan diri sendiri. Aku sudah berada di luar desa, Will--si pemuda yang tadi bersamaku juga akan memanggil kuda kami. Akulah yang memilih untuk kembali."


Gadis itu menoleh padaku. "Kenapa?"


Karena aku kagum denganmu yang berjuang mati-matian menghadapi tantangan untuk tujuanmu, sementara aku hanya bisa lari dari masalah.


Tapi aku tahu aku tidak bisa mengatakan itu, terlalu memalukan.


"Anggap saja aku orang pendendam. Aku tak bisa tidur nyenyak sebelum memberikan pelajaran pada si pelontar bola api."


Aku harap itu alasan yang bagus. Aku menjelaskannya sambil memalingkan muka, jelas sekali kebohongan. Tapi begitu mendengar gadis itu terkikik, kekhawatiranku rasanya langsung terangkat.


"Pft, apa-apaan itu!"


Dia ternyata bisa tertawa seperti ini juga.


"A.... ahahahah......."


Canggung, aku tidak bisa memikirkan kata-kata apa pun lagi. Sejak awal aku tidak ahli dalam mempertahankan konversasi, aku tidak pernah bagus dalam kata-kata. Untungnya, begitu mendengar seruan seseorang, kerisauanku langsung hilang.


"THEO!!!!!!!"


Aku menoleh, pemuda itu berlari padaku dengan muka khawatirnya yang jelas.


"Will, kerja bagus!"


"Bukan kerja bagus, bodoh!!" Sambil terengah-engah dia berteriak begitu, aku kagum dengan staminanya. "Menjadi umpan, huh? Rencana yang bagus, sialan! Lihat dirimu, salah sedikit maka kau akan tereliminasi!!"


"Sisi baiknya, aku masih bertahan."


Seolah kehilangan kata-kata, Will menutup mulutnya kembali. Hela napas panjangnya terdengar sambil menepuk jidat dan mengusap muka kuat-kuat. Aku hanya tersenyum.


"Benar, kabar baik kau masih bisa bertahan. Salahku terlalu khawatir, si gila penakluk beruang."


"Terima kasih untuk julukan barunya."


Mata Will bergulir ke samping. Walau tampak tidak puas, dia masih bisa menundukkan kepala untuk berterima kasih pada gadis petir di samping. Sungguh orang yang jujur.


"Terima kasih untukmu juga. Aku senang melihatmu baik-baik saja."


"Estrellita...." Gadis itu tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuatku dan Will menoleh padanya. Dia tersenyum. Bukan senyuman kasar seperti sebelumnya, dia benar-benar tersenyum. Dia meletakkan tangannya di dada, membungkuk sedikit, memperkenalkan diri dengan sopan. "Aku Estrellita Lorena DiMichelle, SMP Girivela, Kota Girivela Timur. Salam kenal."


Saling menatap, baik aku dan Will tidak menyangka perkenalan tiba-tiba darinya. Dengan canggung kami juga melakukan hal yang sama, meletakkan tangan di dada dan membungkuk memperkenalkan diri.


"Willard Lucas, SMP Hightown, Leanzea."


"Theodore Radley, SMP Polaris, Athem."


"Begitu... Will dan Theo...." dia bergumam. "Aku dengar kita berada di masalah yang sama sekarang. Sebelumnya aku minta maaf soal itu, kalian harus terlibat. Aku dengar kalian ingin ke titik tengah? Tujuan kita sama, bagaimana untuk aliansi sementara hingga sampai di sana?"


Itu bukan ide yang buruk, mengingat masalah kita sama.


"Aku tidak terlalu keberatan, bagaimana denganmu, Will?"


Namun, raut tidak puas Will malah terpancar jelas. Dia cemberut, memejamkan mata, menarik napas dalam, lalu mendesah panjang.


"Haaaa........ yah, mau bagaimana lagi. Tidak perlu merasa buruk, pilihan kami untuk ikut terlibat tadi. Aku juga berhutang pada Theo. Jika dia tidak keberatan, maka aku tidak ada masalah."


Kata-katamu terdengar tidak meyakinkan, Will.


"Itu artinya dia senang bekerja sama."


"Apa!? Tunggu, aku tidak--"


"Artinya dia tidak sabar untuk pergi, maka mari kita ambil sepeda motor itu dan tidak membuang waktu lebih banyak, Nona DiMichelle."


Maaf, Will, tapi lebih baik diam sebentar. Kerjasama ini aku nilai penting untuk ujian.


"Be-begitu ya. Kau benar, jangan membuang waktu lebih banyak. Ayo kalau begitu, motornya ada di balai kota." Gadis itu berbalik, mulai berjalan ke balai kota yang ada di ujung Utara desa, belum tersentuh pertarungan. "Oh, hentikan dengan Nona DiMichelle-mu, rasanya tidak nyaman terlalu formal."


"Begitukah?"


Aku melirik pada Will, yang mana juga melirikku balik dengan sedikit kekesalan tersisa. Dia lalu memejamkan mata, paham dengan apa yang aku maksud.


"Mungkin Lita cukup untukmu?" ujarnya. Gadis itu menoleh ke belakang. terkejut, tapi langsung tersenyum simpul.


"Ya.... ya, Lita... itu panggilan yang bagus. Maka aku Lita mulai sekarang!"


Dia kegirangan seperti anak kecil, membuatku tak bisa menahan senyum. Bahkan aku lihat Will juga tersenyum tipis. Selama ini berakhir baik, aku rasa tidak masalah.


"Maka aku Theo."


"Will, begitu saja."


...* * * * *...

__ADS_1


__ADS_2