
Aku bangun lebih pagi dari biasanya. Jam setengah lima. Ini menjelang musim gugur, jadi udara pagi terasa lebih dingin dari minggu-minggu sebelumnya. Tapi aku tidak merasa kantuk sedikit pun. Mungkin karena kemarin juga aku tidur lebih awal.
Aku raih kartu ujian yang tergeletak di kasur. Ya, aku terus memeriksa informasi soal kartu ini kemarin. Setelah Ansel memanggilku untuk mengambil kartu, aku segera pergi ke Helder. Dia mengoceh soal banyak hal, tapi tidak terlalu lama juga. Setelah pulang ke hotel lagi, aku langsung mengecek segala informasi soal kartu. Data lengkap ujian dan aku sendiri sebagai peserta ujian tertulis digital dalam nanochip yang terpasang di dalamnya. Teknologi setelan CTI, tentu saja. CreaTech Industries telah menjadi penyokong teknologi utama untuk Helder sejak lama.
Hari ini hari ujian. Aku tahu, tapi aku aku bangun jam delapan. Sungguh sial, meski anehnya aku tidak termakan kepanikan. Jam sepuluh adalah waktu pembukaan ujian praktik, berisi pengumuman tentang bagaimana ujian akan berjalan, aturan-aturan yang harus dipenuhi, syarat kelulusan, dan sebagainya. Semua itu ada di kartu peserta, dan mudah ditebak akan seperti apa ujian nanti.
Aku bangkit dengan penuh rasa tidak semangat. Tidak ada amarah, tidak ada kebencian. Hanya sedikit kecewa ketika menyadari apa maksud Ansel dan Sean untukku berhati-hati. Aku basuh tubuhku cepat, lalu mengenakan pakaian olahraga SMP--salah satu syarat ujian. Aku rapikan rambut. Untungnya sudah dipotong, jadi tak perlu aku ikat seperti biasanya aku mengikuti kelas olahraga. Aku ambil tas berisi baju ganti dan beberapa barang tambahan, lallu menatap cermin.
Rasanya garis mataku sedikit berbeda dari biasanya. Apakah caraku menatap sesuatu juga berubah? Tubuhku lebih tegap, mungkin karena sedikit latihan kemarin-kemarin. Walau, yah, aku masih sedikit tidak percaya diri soal tinggiku. Biasanya anak 15 tahun sudah mulai tumbuh. Mungkin aku sedikit terlambat, atau apakah aku akan seperti ini seterusnya? Nah, tidak mungkin, kan? Aku ingat ibu sangat tinggi, atau apakah ayah yang pendek? Rasanya aku lupa bagaimana rupa ayah. Ibu bilang ayah meninggal sewaktu Lizzy berusia tiga bulan, berarti aku masih sekitar tiga atau empat tahun.
Sekarang setelah aku pikir, aku belum pernah melihat foto ayah. Tapi yah, akan aku pikirkan itu nanti. Fokusku sekarang adalah ujian praktik.
"Kau lambat." Keluh Ansel ketika aku menghampirinya di luar hotel.
"Bukankah Sean bilang persiapanku harus matang?"
"Terserah. Ini, cepat pakai. Pembukaan mulai setengah jam lagi."
Aku mengambil helm yang diberikan Ansel. Agak terasa kebesaran, atau memang kepalaku yang lebih kecil. Nah, paling cuma untuk lima menit perjalanan, tidak masalah. Setelah aku duduk di jok penumpang, Ansel menarik tuas gas.
Aku memintanya menjemput, bukan dia yang menawarkan. Dia awalnya tidak mau, tapi aku punya hal yang mau dibicarakan cepat. Mungkin nanti setelah sampai di sana.
Bagusnya, Ansel memang cepat mengemudi. Gerbang sekolah ramai oleh peserta ujian praktik dengan seragam olahraga merekabyang bervariasi. Bus-bus berhenti di halte depan, menurunkan anak-anak dari berbagai sekolah. Aku tidak mau membayangkan bagaimana chaos setelah melewati gerbang. Peserta ujian sekarang aku dengar ada empat ribu, dengan jumlah yang dapat lolos hanya sekitar dua ratus. Sangat ketat, tapi menantang.
"Merasa ragu sekarang?" Tanya Ansel sembari melepas helmnya.
"Sedikit." Aku juga melepas helm, memberikannya kembali pada Ansel. Setelah aku lihat lagi, kantung matanya tampak hitam. "Kau tidak tidur?"
"Banyak masalah yang perlu dibereskan."
"Midgard Quest?"
Ansel tidak langsung menjawab. Aku tahu itu benar, tapi dia mencoba mengelak.
"Ada masalah juga, kau tahu?"
"Yeah, benar." Ansel melngaitkan dahulu helm yang aku kenakan ke jok belakang, lalu kembali mengenakan helmnya.
"Untuk memastikan, kau sudah tahu tantanganmu, bukan?"
__ADS_1
Tak perlu diingatkan lagi.
"Masalahku adalah DiMichelle, masalah kalian adalah orang di belakangnya. begitukah?"
"Heh-heh." Dia terkekeh, menepuk jidat dan mengusap wajahnya kuat. "Benar, itu benar. Tapi kau tidak boleh lupa kalau tugas utamamu itu adalah untuk lulus ujian. Jangan khawatir, perhatian kami sudah terkunci untuk beberapa pihak. Kau cukup fokus ke ujian saja."
Aku tahu dia sudah melakukannya. Dia juga cerdas meski sembrono. Aku hanya ingin dia tahu kalau aku juga paham siapa yang kita hadapi.
"Aku mengerti. Lakukan apa yang perlu aku lakukan, lakukan apa yang perlu kalian lakukan, benar?"
"Tepat."
"Baiklah, sampai nanti."
Aku mengangkat lengan, Ansel yang paham langsung memberikan fist bump dengan seringai puas.
"Sampai nanti."
Dia pun mengenakan helmnya dan pergi. Aku kira dia akan tidur lagi, baik di asrama atau di kantornya. Aku ingin bersimpati, melihat kantung mata tebalnya, tapi aku tahu dia terlihat seperti itu karena salahnya sendiri.
Setelah lampu penyeberangan bercahaya hijau, aku menyeberang jalan. Benar-benar ramai hingga aku merasa seperti berada di pasar di minggu pagi. Bahkan tampak mobil masih berdatangan hingga menimbulkan kemacetan kecil di depan sekolah. Gawat, dadaku benar-benar berdebar oleh rasa gugup luar biasa.
Pembukaan ujian praktik dilakukan di aula akdemi, yang mana tidak terlalu jauh dari gerbang depan. Aula itu biasa digunakan untuk acara-acara yang mengundang orang luar, sehingga ditempatkan di tempat yang mudah dijangkau. Arsitektur gedungnya mirip telur. Kalau dari informasi di kartu, katanya ini terinspirasi dari Tokyo Dome di masa lalu. Mungkin aku harus bertanya ke Kuro Fuyuki soal ini, aku belum pernah pergi ke wilayah Timur sebelumnya. Aula Helder juga sangat besar. Aku tidak tahu berapa total luasnya, tapi gedung ini bisa menampung hingga tujuh ribu orang. Cukup jika suatu hari ada acara yang mengharuskan seluruh warga Helder untuk berkumpul di satu tempat.
Setelah memperlihatkan kartu peserta ujian dan melewati pemindai, mataku benar-benar terasa dimanjakan oleh desain interior mewah dari aula yang lebih mirip rumah opera. Aku mendongak, tak dapat melepaskan pandanganku dari arsitektur langit-langit lengkung yang tampak elegan, dengan cat berwarna marmer hangat yang melapisinya. Aku mengerti, langit-langit melengkung dibuat agar suara bisa memantul sempurna. Aku tebak dinding aula juga dibuat dari beton tebal atau lapisan keramik agar gema suaranya sempurna. Kursi-kursi dibuat melingkar mengelilingi panggung di tengah, benar-benar seperti rumah opera. Aku harus berjalan melewati barisan depan peserta yang sudah tampak penuh sebelum menaiki tangga menuju barisan kelima dari bawah, kemudian duduk di kursi yang agak tengah.
Waktu tunggunya sekitar lima belas menit. Kurikulum Thalia mendidik anak untuk disiplin waktu sejak kecil, sehingga selama aku sekolah, atau selama aku hidup, aku belum pernah menemukan keterlambatan, setidaknya di sini. Ketika jam menunjukkan pukul sepuluh tepat, seluruh lampu dimatikan. Seluruh suara menghilang seketika, keheningan menyelimuti tiba-tiba. Kami tahu, kalau ini adalah waktunya untuk memerhatikan.
Lampu ruangan dipadamkan, berganti menjadi lampu sorot yang menerangi langkah seorang pria di atas panggung. Dia bukan kepala sekolah, aku tahu. Dia adalah pembawa acara undangan Helder. Begitu wajahnya disorot, semua terdiam dengan wajah merah seolah siap meledak akan antusiasme berlebih.
Pria itu berdiri di belakang podium, membetulkan mic di telinganya sebelum berbicara dengan suara lantang.
"Salam, seluruh calon siswa Helder, selamat atas keberhasilan kalian di ujian tertulis!"
Dan semua bertepuk tangan sembari bersorak-sorai. Pria itu membungkukkan badan sopan, meletakkan tangannya di dada. Gesturnya begitu halus, tapi cepat seperti terburu-buru. Itu adalah salah satu ciri khasnya, bahkan ketika dia tampil di televisi. Ketika dia mengangkat tangan, sorak-sorai itu mereda.
"Terima kasih. Saya sangat terhormat untuk bisa berdiri di sini, di depan calon-calon siswa yang akan memajukan Thalia di masa depan, generasi emas yang akan membawa kemenangan bagi Thalia. Izinkan saya memperkenalkan diri, saya Ellis Grant, seorang penyair biasa, tidak seperti kalian semua yang begitu luar biasa, setiap dari kalian membawa potensi besar untuk masa depan Thalia, tanpa terkecuali. Tugas kamilah, para generasi lama, untuk membimbing kalian ke masa depan cerah yang kita semua inginkan.
"Hadirin sekalian, hari ini menjadi sebuah tanda, sebuah pencapaian besar untuk langkah selanjutnya yang mesti kalian ambil untuk tujuan yang lebih besar pula. Kalian semua adalah "orang-orang di atas rata-rata". Ketika kalian lulus ujian tertulis, ketika kalian diajukan untuk mendaftar ke Helder, bahkan ketika kalian punya keberanian untuk mendaftar di Helder, kalian telah menjadi remaja di atas rata-rata. Berbanggalah pada diri kalian sendiri.
__ADS_1
"Saya ingin kalian mengingat, bahwa ujian yang akan kalian jalani hari ini bukan cuma tentang akademik, bukan cuma tentang gift, tapi juga tentang tekad, dorongan, keinginan, juga profesionalitas kalian sebagai peserta. Tiap-tiap dari kalian punya tujuan, punya keinginan yang ingin dicapai, dan akan melakukan yang terbaik untuk bisa mencapainya. Karena itulah kalian harus bersikap profesional terhadap keinginan tersebut, lakukanlah yang terbaik, tunjukkan kalau kalian memang pantas untuk ditunjukkan, perlihatkan kalau kalian memang pantas untuk melangkahkan kaki melewati gerbang Helder sebagai siswa akademi terbaik untuk receiver, Akademi Helder.
"Masa sekolah adalah masa terbaik untuk mengembangkan diri, untuk bereksplorasi, juga untuk menemukan hal baru. Masa-masa itu adalah waktu paling tepat bagi kalian untuk menantang diri kalian sendiri, untuk mendorong diri kalian melampaui batas yang kalian buat sendiri, juga untuk mencapai versi terhebat kalian. Dan semua itu bermula dari sini, Ujian Praktik Akademi Helder yang telah disiapkan khusus untuk menilai potensi kalian hingga ke titik tertinggi."
Ketika orang itu berbicara, aula bergetar layaknya digoncang ledakan, atau memang benar. Sebuah ledakan yang bernama semangat. Orang itu, Ellis Grant, adalah penyair terkemuka yang namanya tak lekang oleh zaman. Aku dengar dia pertama kali debut delapan belas tahun yang lalu, tiga tahun sebelum aku lahir. Dia adalah pria luar biasa yang bahkan ketika aku melihatnya sekilas, aku merasakan karisma luar biasa menggebu-gebu darinya. Dia mampu membuat semua orang benar-benar diam mendengarkan dengan wajah merah penuh semangat terlihat jelas.
Sorot sinar proyektor dari belakang aula menyinari layar besar di depan, sekitar satu meter di atas kepala Ellis Grant. Mereka menampilkan sebuah peta dari kota yang tidak pernah ada di dunia nyata, tapi terinspirasi atas kota asli yang pernah ada sebelum perang. Aku tahu itu karena semuanya tertulis di kartu peserta kami. Itu adalah kota tempat ujian praktik akan dilaksanakan.
"Hadirin sekalian, apa yang kalian lihat sekarang adalah arena tempat kalian menunjukkan potensi kalian. Helder telah merancang tempat paling cocok yang dapat memberi kalian tantangan baik secara pribadi maupun kelompok, sebuah kota kecil dengan empat iklim berbeda, dengan empat bioma berbeda, dengan kehidupan dan lingkungan yang dibuat semirip mungkin dengan kota nyata. Inilah Upgraded Synthesize City, atau kalian bisa menyebutnya Kota Sintes. Kota ini sepenuhnya buatan, tidak akan kalian temukan di negara manapun. Tiap-tiap dari kalian akan diluncurkan secara acak di dalam kota ini setelah ujian dimulai."
Slide berganti, memperbesar suasana di dalam dinding besar kota.
"Seperti yang kalian lihat, di dalamnya ada pula warga yang berinteraksi. Tentu saja, semuanya palsu. Apa yang akan kalian lihat dan rasakan nanti adalah program terbarukan dari teknologi kecerdasan buatan Helder. Setiap kehidupan di sana tidak nyata, tapi kalian akan dibingungkan oleh ilusi yang terasa begitu nyata. Kalian tidak perlu memikirkan itu, kalian hanya perlu berpikir soal ujian."
Slide berganti lagi. Kamera naik menuju langit, kemudian berbalik menampakkan potret kota dari atas. Terlihat seperti kota biasa saja, tapi memang benar ujung Utara, Selatan, Timur, dan Barat kota itu memiliki iklim yang berbeda. Utara memiliki iklim dingin dengan salju putih, Timur adalah iklin tropis, Barat adalah iklim kering, dan Selatan adalah lautan.
"Saya kira informasi tentang ujian sudah tersedia dalam kartu ujian kalian, tapi biarkan saya menjelaskan sedikit di sini."
Sebuah tabung berwarna merah dengan simbol beruang muncul di layar. Jadi itu yang kami cari, ya?
"Kita sebut ini "tiket". Apa yang penting bagi kalian bukanlah apa yang ada di dalam tabung, melainkan tentang tabung tersebut. Tabung ini adalah objek yang harus kalian cari agar bisa lolos. Ujian praktik kali ini adalah tentang bagaimana kalian yang akan diturunkan secara acak di Kota Sintes dapat menemukan tabung ini yang mungkin tersembunyi di sudut berbeda, dengan iklim yang berbeda. Bahkan mungkin setelah kalian mendapatkan salah satunya, kalian masih belum lulus, tergantung apa tantangan yang kalian dapat.
"Benar, tantangan. Penilaian tetap akan dilakukan secara personal. Kalian akan mendapatkan tantangan kalian sendiri untuk bisa meraih tabung ini. Akan ada dua puluh empat jenis tabung di seluruh penjuru kota. Kalian tidak perlu khawatir, bukan berarti jumlah tabung itu hanya dua puluh empat. Jika seseorang berhasil mendapatkan satu tabung, maka tabung lain akan muncul sebagai pengganti. Harus saya ingatkan lagi bahwa batas akhir ujian ini adalah ketika kuota kelulusan sudah terpenuhi, atau setelah batas waktu empat jam selesai. Tidak perlu khawatir, kalian akan mendapatkan petunjuk berupa teka-teki yang akan dikirim langsung ke kartu peserta kalian. Pecahkan teka-teki itu, raih tabungnya, dapatkan tiket kelulusan kalian. Jika kalian cerdas, yang mana aku yakin itu benar, harusnya kalian sadar kalau ujian ini adalah tentang kebijaksanaan kalian dalam menggunakan kekuatan kalian, dalam menggunakan bakat kalian. Jawab aku, apa kalian siap untuk ini?"
""""SIAP!!!!!""""
Gelegar jawaban dari aeluruh peserta yang antusias memecah ruang aula seperti guntur. Namun, orang itu tampaknya belum puas.
"Jawab aku, APA KALIAN SIAP???????"
Jawaban selanjutnya terdengar lebih memecah telinga.
""""""""SIAPP!!!!!!!!!!!!!!""""""""
"Kalau begitu mari kita mulai dari sekarang!"
Ketika orang itu mengangkat tangannya tinggi, lantai aula tiba-tiba bercahaya terang, menimbulkan kepanikan tiba-tiba. Cahaya itu bergerak di atas lantai membentuk lingkaran simetris besar dengan pola-pola geometri di tengahnya. Bahkan tanpa melihat langsung, aku bisa merasakan sekumpulan perhitungan kompleks beserta pola-pola yang belum pernah aku lihat sebelumnya perlahan merasuki kepalaku, membuat kepalaku penuh seketika, membuat mataku terasa berat.
"Tidak perlu terlalu khawatir. Prosesnya memang sedikit mengganggu. Helder sudah memastikan kalau semua ini aman, hanya saja memang agak geli." Ujar Ellis Grant. Dia menurunkan tangannya, kemudian tersenyum seolah merasa bangga. "Semua yang kalian butuhkan akan tersedia di kartu ujian kalian. Jadi tarik napas dalam, tetaplah tenang, dan tetap percaya pada diri kalian sendiri. Kalian telah berusaha sekeras mungkin untuk bisa mencapai titik ini, kalian memiliki semua yang dibutuhkan untuk bisa berhasil. Aku percaya pada kalian, kami percaya pada kalian, dan kami sangat tertarik untuk melihat bagaimana hasilnya nanti. Sampai jumpa di garis akhir."
__ADS_1
Kata-kata itu adalah kata-kata terakhir yang kami dengar sebelum pandangan kami memburam. Hanya warna putih, kosong tanpa warna lain sedikit pun yang dapat aku lihat. Telingaku berhenti mendengar suara, hidungku berhenti mencium bebauan. Kesadaranku tiba-tiba menghilang.
...* * * * *...