Children Of Thalia

Children Of Thalia
Si Penyair


__ADS_3

Ellis Grant's PoV


"Kerja bagus." Sean Fabre Sephoris berjalan tenang ke atas panggung sambil bertepuk tangan. "Pidato anda membuat mereka sangat berapi-api."


Pria yang berdiri dengan keringat mengucur di dahi itu menoleh, menampakkan seringai lebar seperti puas akan satu pencapaian. "Oh, saya tersanjung, terima kasih. Kerja keras kalian juga luar biasa di balik layar."


"Tidak sebaik anda." Sean tersenyum tipis. "Sekarang, anda ingin minuman apa? Kami bisa menyediakan apa pun, kecuali anggur. Ini wilayah sekolah, bagaimanapun juga."


Pria itu diam sejenak, matanya bergulir ke atas ketika berpikir. Dia lalu berkata, "kopi akan luar biasa."


"Pilihan bagus. Persediaan biji kopi terbaik kami baru datang kemarin. Mungkin menunggu sekitar lima menit untuk itu?"


"Oh, kalau begitu bawa saja ke paviliun. Saya akan ke sana sebentar lagi."


"Saya mengerti." Sean meletakkan tangan di dada, lalu membungkuk memberi hormat. "Sampai jumpa lagi, Tuan Grant."


Pria itu juga melakukan gestur hormat yang sama. Salah satu adab di Republik Thalia.


Sean kemudian berjalan pergi dengan langkah tegap dan postur terjaga. Pria itu menggelengkan kepala, melepas kacamata kecil yang dia kenakan, lalu bertepuk tangan.


"Hahahah, sungguh adab yang luar biasa. Tak mengherankan dari seorang Ketua OSIS akademi ternama. Bukan begitu, Bu Rita?"


Pria itu melirik ke belakang. Seorang guru wanita berdiri di depan bari kursi peserta. Dia tersenyum bangga sembari mengangguk menyampaikan reaksi setuju dari apa yang dinyatakan pria di depannya.


"Betul sekali. Bahkan sebagai guru, saya seringkali kagum oleh tatakrama Nak Sephoris. Dia akan jadi orang besar nanti." Bu Rita kemudian berjalan mendekat. "Bagaimana menurut anda tentang sistem ujian ini? Bukankah luar biasa?"


Apa yang diperlihatkan Bu Rita dengan lengannya, tempat mereka berdiri, adalah tepat di atas panggung tempat pria itu, Ellis Grant, memberikan pidato pembukaan. Di sekeliling mereka adalah para peserta, duduk tak sadarkan diri di kursi mereka yang dibuat senyaman mungkin. Mata mereka menutup, tangan mereka lemas. Tentu saja, itulah bagaimana ujian ini bekerja. Membuat seluruh peserta memasuki dunia alternatif buatan gift. Itulah sebabnya lingkungan mustahil seperti Kota Sintes dapat tercipta, karena itu semua hanya dunia ilusi.


"Ini akan menjadi terobosan baru untuk ujian di tiap sekolah." Komentar Ellis, menyatakan kekagumannya. Ketika pola mirip lingkaran sihir itu muncul di lantai tadi, dia agak panik sebetulnya, tapi ternyata dia memang tak terpengaruh gift itu sama sekali. "Bagaimana jaminan keamanannya? Apakah memang semua ini aman bagi peserta?"


"Terjamin, standar Helder." Jawab Bu Rita antusias. "Setiap siswa duduk di kursi dengan desain ergonomis tingkat tinggi, sudah termasuk desain anti-jatuh, anti-pegal, juga tempat lengan dengan sudut dan ketinggian yang sudah diperhitungkan. Bagian sandaran pun sudah dilengkapi sirkulasi udara yang baik, sehingga tidak akan terasa panas. Untuk mekanisme ujian sendiri, gift yang digunakan sudah dipastikan tidak berbahaya, meski memang tipe Aggressor. Kesadaran seluruh siswa dikirimkan ke satu tempat besar di dimensi berbeda, dengan program dunia yang sudah dibuat sedemikian rupa berdasarkan peraturan yang ada. Jika ada siswa yang melanggar aturan, kesadaran mereka akan langsung kembali ke tubuhnya dan dinyatakan gagal. Kalau ada yang berhasil, mereka akan bangun dengan semacam tato semi-permanen di punggung lengan mereka. Di dunia sana juga mereka bisa mendapat luka, tapi tidak akan dibawa ke dunia nyata."


Mendengarkan saksama, Ellis mengangguk paham. "Begitu, memang Helder sudah memperhitungkan semuanya. Apakah itu termasuk... anda tahu? Bagaimana jika ada kasus di mana kesadaran peserta tidak kembali ke tubuhnya?"

__ADS_1


"Oh, itu mustahil, sangat mustahil." Bu Rita menjawab tanpa ragu, menggelengkan kepalanya tegas. "Agar lebih jelas, teknik ini bukan berarti benar-benar memindahkan kesadaran peserta ke tempat lain. Kesadaran mereka masih ada di sana, di titik cahaya di dalam otak mereka. Lebih tepat jika aku bilang gift ini menyuntikkan data Kota Sintes ke dalam otak mereka, untuk kemudian membangun simulasi sempurna dengan kesadaran mereka yang masuk ke sana. Seperti mimpi saja bagaimana. Tapi konsep gift ini bisa diibaratkan seperti seseorang yang mengunggah sebuah file permainan ke internet, kemudian banyak orang mengunduhnya dan memainkannya di komputer mereka. Bukan berarti komputer mereka berpindah ke dunia dalam permainan, hanya saja kesadaran yang dapat dikendalikan di komputer itu memproses data yang diunduh untuk kemudian ditampilkan."


"Begitu.... dapat dimengerti." Ellis mengangguk paham. "Boleh dibilang lingkaran sihir tadi itu semacam QR Code, yang akan dipindai langsung oleh mata peserta, kemudian menyuntikkan data Kota Sintes ke otak peserta. Otak peserta akan langsung memproses data itu dan menjalankan perintah yang diberikan untuk membuat kesadaran peserta bermain di dalam Kota Sintes. Benar begitu?"


"Tepat sekali."


"Tapi, sekarang jika diibaratkan seperti file komputer, tentu ada masalah lain, bukan? Bagaimana jika gift ini disusupi virus?"


"Mungkin perlu saya ingatkan lagi kalau gift ini bukanlah komputer. Itu hanya perumpamaan. Selama formula awal sudah benar, tak akan ada faktor luar yang bisa mengganggu."


"Bagaimana kalau virus itu bertipe malware? Bagaimana jika peserta kita sendiri virus itu?"


Bu Rita terdiam sejenak. Matanya bergulir, jari-jemarinya bergerak tak karuan. Selang lima detik, dia mulai membuka mulutnya lagi. "Itu boleh jadi berbahaya. Poin anda benar juga. Peserta yang tidak baik bisa dikatakan sebagai virus berbahaya, karena bisa luput dari pemeriksaan. Tapi karena itulah kita menerapkan aturan-aturan, seperti komputer memasang anti-virus. Jika ada pelanggaran, langsung diskualifikasi."


"Aku mengerti. Mungkin memang percaya pada kalian adalah hal terbaik, melihat betapa ketatnya standar di sini."


"Tentu saja, kami bangga akan standar kami."


Sejatinya tidak. Ellis tahu itu adalah celah, dan Bu Rita sendiri paham kalau siswa yang memang berniat buruk bisa menjadi virus itu sendiri. Mereka tahu, tapi tidak membahasnya. Setidaknya, dunia tempat para peserta melaksanakan ujian adalah dunia simulasi, bukan dunia nyata. Kalaupun ada kejadian, kesadaran mereka akan langsung kembali ke tubuh asli mereka di aula. Dunia itu sudah diberikan program yang ketat dan rumit, semuanya untuk mencegah tindak kriminal yang mungkin dilakukan, bahkan pengamatannya sendiri ada di hampir setiap sudut. Karena itulah, Bu Rita meyakinkan dirinya sendiri bahwa Kota Sintes adalah kota simulasi yang aman.


Tentu saja, dia juga sadar akan kebiasaannya. Dia genggam erat pulpennya itu kuat, memejamkan mata, lalu menghela napas panjang. Informasi yang dibutuhkan sudah didapat, sisanya tinggal serahkan pada yang lain.


"Baiklah, mungkin itu saja dariku." Ellis merapikan jas merahnya, diam-diam meletakkan pulpennya ke saku celana. "Terima kasih untuk waktunya, Bu Rita. Terkadang rasa penasaran saya memang sulit dikendalikan."


"Oh, tidak apa-apa," Bu Rita menggeleng halus sembari tersenyum. Wanita yang elegan, cerminan guru Akademi Helder. "Saya senang dengan orang yang penasaran tentang gift. Saya sendiri guru ahli keterampilan gift. Bagi saya, bertemu orang yang tertarik dengan gift mungkin sama seperti anda yang bertemu penggemar anda. Bagaimanapun, gift adalah ciri khas kita sebagai receiver, dan saya senang bertemu orang-orang yang tertarik akan gift. Jika ada yang ingin anda tanyakan lagi, anda bisa menemui saya untuk disuksi lebih lanjut."


Ellis tersenyum, menunduk sopan, "Saya sangat menghargainya," kemudian meletakkan tangan di dada, salam terakhir. "Sampai jumpa." Dan dia berjalan lurus meninggalkan panggung.


Dia adalah Ellis Grant, penyair terkenal, paling disegani seantero Thalia. Syair-syairnya membawakan semangat bagi rakyat Thalia sewaktu Insiden Malaikat Jatuh, kariernya memuncak ketika pertama kali agresi Ulkafa terhadap Thalia. Syair-syairnya menjadi pesan perjuangan bagi rakyat, membawakan setiap kabar melalui media digital, dan yang pertama memberitakan kemenangan Thalia terhadap agresi Ulkafa waktu itu.


"Akting yang bagus, ya. Bahkan Bu Rita tidak menyadarinya."


Ellis Grant menoleh ke arah suara. Seorang pemuda menyeringai lebar, bersandar pada tembok tebal-dingin yang menjadi gerbang utama aula. Tidak ada penjaga, semua sudah masuk ke dalam untuk mengamankan para peserta yang tengah ujian. Atau tidak, harusnya ada. Harusnya ada penjaga di sana, tapi semua itu sudah dibawah kendali.

__ADS_1


Pemuda itu berjalan di bawah bayangan, mendekati Ellis Grant yang terpaku kebingungan. Seringai di wajahnya menampakkan pengetahuan, gerak tubuhnya menampakkan ketenangan dan percaya diri. Dia tidak ragu sedikit pun, karena dia tahu kalau pria di depannya tidak seperti yang orang-orang lihat.


"Kenapa bingung? Kau ada di sana, kan?"


Ellis tidak menjawab, tidak membuka mulutnya sedikit pun, tidak berkeringat sedikit pun. Dia tampak tidak tergoyahkan, tapi ekspresi di wajahnya menampakkan keterkejutan. Pemuda di depannya maju lagi, membuatnya berjalan mundur perlahan hingga keluar dari bayangan gedung aula.


Dirinya terpojok, tak diragukan lagi, tapi reaksi Ellis Grant adalah tersenyum tenang. Dia membetulkan dasi, membetulkan jas, lalu menatap pemuda itu tajam.


"Barangkali akan lebih bijaksana jika kita berdiskusi di paviliun. Cuaca hari ini cukup panas untuk kita berdiam diri di luar." Ajak Ellis sambil meletakkan tangan di dada. Meski sudah begitu sopan, tapi senyum di wajah pemuda itu malah menghilang.


Pemuda itu hanya mengangguk pelan, mengikuti apa yang Ellis mau. "Ya, terserah saja."


Mereka akhirnya pergi, meninggalkan aula yang hening. Cara melangkah mereka begitu kontras satu sama lain. Ellis melangkah tegap dan tegas, sementara pemuda di belakangnya lebih santai dan bebas. Plaza depan yang ramai dilewati, orang-orang memerhatikan, membicarakan diam-diam, terbelalak, menarik napas tak percaya akan sosok yang baru saja melewati mereka. Beberapa mencoba menghampiri, direspons dengan ramah, tapi juga diberitahu kalau dirinya tengah buru-buru.


"Merepotkan menjadi terkenal, bukan?" Sindir pemuda itu. Mereka sudah di depan paviliun setelah lima belas menit berjalan dan dikerumuni orang-orang.


"Oh, saya cukup menikmatinya." Ellis menyahut, "saya melihat anak-anak remaja sekarang berarti belum melupakan sastra lalu."


"Heh..... Hahahah..... ironis kata itu datang darimu yang tidak sebegitunya suka membaca."


Ketika Ellis masuk ruang paviliun, seorang lagi sudah ada di sana, duduk sopan sembari menghisap secangkir kopi yng dia siapkan sendiri. Tatakramanya yang luar biasa itu mudah dikenali, tapi tatapannya pada Ellis berbeda dengan saat mereka ada di atas panggung.


"Oh, tepat waktu sekali."


Ellis menyeringai. "Jadi benar-benar disiapkan, ya?"


"Tentu, tawaran Helder selalu benar." Orang itu meletakkan cangkir kopinya di meja perlahan. "Duduklah, ruangan ini kedap suara."


"Luar biasa, bisa lebih cepat kalau begitu."


Ellis Grant, tanpa duduk dahulu, mencubit pipinya sendiri dengan kuat, hingga pipi itu tampak lepas dari wajahnya. Dia tarik penuh wajah itu, mengoyaknya, kemudian melemparnya ke pojok ruangan. Wajah lain terlihat, sebuah wajah yang familiar. Itu adalah wajah dari ketua Satuan Rahasia Merlins, Elijah Marceau.


"Panas juga menggunakan topeng itu." Pemuda itu melepas juga dasi dan jas merahnya, lalu melepas dua kancing atas kemejanya. Dia merobohkan diri, duduk santai di atas karpet seperti jeli yang mencair. "Hari ini sangat panas."

__ADS_1


...* * * * *...


__ADS_2