
Raungan ketiga terdengar lebih keras dan menggema, tapi reaksi dari hewan-hewan lebih tenang seolah sudah kehabisan suara. Itu mungkin raungan kemenangan, atau kesakitan. Aku tidak tahu.
Aku berlari cepat mengikuti Will di depan. Dia tahu dari mana asal raungan itu. Larinya cepat, sangat cepat. Bahkan aku pun yang disebut paling cepat sekelas kehabisan napas saat berusaha mengejarnya. Apa ini perbedaan dari atlet terlatih dan siswa biasa?
Pohon-pohon, rerumputan, tanah gembur dan lembap, kami lewati tanpa lirikan sedikit pun. Hewan-hewan berlarian, ketakutan akan apa yang ada di belakang mereka. Hampir semuanya robot, tapi perilaku mereka benar-benar mirip hewan asli. Avid mengikuti di belakang. Terima kasih pada tanah basah, langkah Avid tidak terdengar meski dia berlari.
Kami berlari, senyap menapak di tanah basah yang membuat sepatu kami sedikit berat. Cepat melintasi hutan yang lebat. Napas mulai tersenggal-senggal terasa, tapi kakiku tak melambat barang hanya sebentar. Ragu dadaku berdebar, tidak yakin kalau aku bisa sekadar menempelkan telapak tangan pada makhluk yang menanti kami di depan, tapi aku pukul dadaku kuat, berusaha menyingkirkan keraguan. Setelah melewati sebatang pohon besar yang melintang menghalangi jalan, tanah mulai menurun. Will melompat, meluncur epat ke bawah, tak menghiraukan dedaunan dan ranting-ranting yang jelas menusuk-nusuk tangannya sedikit. Aku kira aku juga harus melakukan hal yang sama. Aku melompat, meluncur cepat meski tidak sehalus Will. Setelah berlari lagi sebentar, Will tiba-tiba saja berhenti dan menunduk di balik pohon.
"Stop, senyap!!" bisik Will sambil merentangkan tangannya, menghalauku yang sempat akan berjalan lebih jauh. Ditempelkannya punggung ke kulit kasar pohon berwarna cokelat tua, yang mana aku ikuti juga. Perlahan kami jembulkan kepala, melirik pada apa yang ada di balik pohon tempat kami bersembunyi.
"Jadi itu dia."
Monster itu tampak lebih mengerikan dari fotonya di buku panduan. Beruang Timur, salah satu monster yang menjadi lawan berat peserta ujian. Wujudnya sama seperti yang dijelaskan, memiliki tinggi sekitar empat meter kalau berdiri, kekar, bercakar panjang-tajam, moncongnya panjang, dada dan perutnya ditutup logam tebal, sementara sisa tubuhnya berbulu merah gelap. Rantai mengikat keempat kakinya, menciptakan suara gemerincing logam yang membuat bergidik. Aku memang sudah membayangkan wujud monster itu sebagai raksasa haus darah yang membuat bulu kuduk berdiri, tapi melihatnya langsung ternyata jauh melampaui ekspektasi.
Sekarang, mari kita revisi sedikit soal apa yang aku katakan. Ini bukan satu banding delapan ratus. Aku, Will juga, beruntung jika kami bahkan mendekati kesempatan menang 1 : 2000.
"Aku menyerang, kau pendukung." Jelas Will. Tangannya berpose seperti seorang pemanah ketika dia mulai berjalan maju, tapi aku langsung mencengkeram bahunya.
"Tunggu, itu bukan hewan, itu mesin. Panah anginmu memang bisa menembus logam?"
"Lantas apa yang kau usulkan?"
Pertanyaan bagus. Tidak satu pun terpikir.
Terdiam, sulit bagiku menjawabnya. Will melotot tak sabar, sementara aku melempar pandangan. Sedikit aku lirik lagi beruang itu. Dia tampak kebingungan. Kepalanya diayunkan berkali-kali seperti mencoba untuk melepas sesuatu, tapi aku tidak melihat apapun bergelatungan di kepalanya. Dia juga berjalan gelisah, berputar-putar, mengaum tak karuan. Tak lama kemudian dia berdiri dengan dua kaki, mengusap-usap wajah, memukul-mukul kepalanya, kemudian kembali empat kaki menapak tanah.
"Perilaku yang janggal......." gumamku pelan. Aku angkat sedikit leher, memutar mata mencari satu keberadaan. Ada yang hilang, aku yakin ada sesuatu yang tertinggal. Ada perasaan aneh yang mengganjal. Mataku bergulir, menyipit, fokus melihat apa yang bersembunyi di balik semak-semak seberang. Itu adalah manusia, mengangkat dua jarinya seperti pistol ke arah si beruang, perlahan mundur dengan tubuh berlumuran darah.
__ADS_1
Oh, begitu ya. Aku paham. Sekarang semuanya tergambarkan jelas. Alasan kenapa monster sebesar ini kalah melawan peri padang rumput.
"Hei, Will," seruku dengan berbisik, "seberapa akurat panahmu?"
Will mengerutkan dahi, merasa direndahkan. "Kau serius bertanya begitu?"
"Jawab saja!"
Dia masih tidak paham. Maaf, tapi tidak ada waktu menjelaskan. Akhirnya WIll menghela napas meski masih tidak terima. "Poin sempurna di turnamen provinsi."
Oh, wow. Aku tidak menduganya, tapi itu bagus. Bagus sekali hingga aku tak bisa menahan keinginan untuk menyeringai lebar.
"Sempurna!"
Will yang masih tidak paham mulai jengkel. "Katakan, kau punya rencana?"
Menjelaskan rencanaku padanya menghabiskan lima menit, tapi dia lebih mudah paham dari yang aku duga. Dia diam sepanjang aku menjelaskan, mengangguk-angguk, memastikan apakah perannya memang sesuai. Dia juga bertanya sedikit ketika bingung, hingga aku menjelaskannya dengan menggambar di atas tanah, barulah dia mengangguk paham. Setelah aku selesai menjelaskan, komentarnya pertama kali membuat aku menyeringai puas.
"ini gila!"
"Aku tahu, karena itulah ini akan bekerja."
Will menggaruk pipinya, kebingungan. "Baiklah, anggap semua dugaanmu benar. Apa rencana ini memang punya tingkat keberhasilan tinggi? Maksudku, ini membahayakan nyawamu sendiri."
"Beruang Timur kalah oleh peri padang rumput. Itu menjelaskan semuanya."
Will menatap lagi skema rencana yang aku gambar di atas tanah. Berpikir, memutar jari-jemarinya, memiringkan kepalanya, lalu menghela napas setelah paham apa yang aku maksudkan.
__ADS_1
"Baiklah, kita lakukan sesuai rencana ini. Peranku sederhana, gagal pun bisa aku improvisasi, tapi bagaimana denganmu sendiri?"
Oh, dia khawatir padaku. Aku tersentuh.
"Aku juga bisa improvisasi. Jangan khawatir, aku tidak berniat tereliminasi secepat ini."
"Aku pegang kata-katamu." Will menyisir rambut panjangnya ke belakang, membuat mata dan dahinya tampak bebas. "Ayo lakukan."
Dia merentangkan tangan kiri, lurus, tinggi ke langit, sementara tangan kanannya ditarik kuat hingga menyentuh dada. Angin berputar, berkumpul dan memadat, membentuk pusaran berwujud anak panah panjang. Bahkan busurnya terbuat dari angin yang kencang. Rambutku, dedaunan sekitar, ranting-ranting pohon, semuanya ikut diterbangkan pusaran udara itu. Mataku tak lepas dari beruang di depan, dan bisa aku dapati kalau beruang itu mulai gelisah.
Will tajam menatap targetnya, tak lepas sedikit pun seakan sudah terkunci. Angin berputar semakin kencang, semakin padat dibentuknya panah di tangan Will. Ketika kekuatan yang diperlukan dirasa sudah cukup, dia melepas jari-jemarinya dari anak panah, membuatnya melesat tinggi dengan cahaya hijau yang mengikuti sebagai lintasan tampak. Pemecah udara bersiul nyaring seperti kembang api yang meluncur menuju langit, membuat burung-burung terbang menjauh, membuat monster di depan meraung-raung panik. Beberapa detik setelahnya adalah saat di mana aku beraksi.
Panah itu mengenai dahan-dahan dan ranting-ranting di atas pohon, menembus tebalnya dedaunan terus menuju langit terbuka. Memang bukan serangan langsung yang aku inginkan. Setelah beberapa detik, daun-daun mulai berguguran seperti hujan. Daun-daun hijau yang degar, sayang sekali melihat mereka berjatuhan, tapi ini untuk kemenangan kami. Beruang itu semakin celingukan mencari tahu apa yang terjadi, tapi dia tidak bergerak sedikit pun dari teritorinya. Itu memperlancar rencana, sejujurnya.
"Will!"
"Aku tahu!"
Anak panah ditarik lagi. Aku tahu untuk sekelas panah angin, memotong dahan setebal dan sekeras itu pasti sulit. Perlu dua atau tiga kali tembak, dan aku siap untuk itu. Hanya perlu menunggu, menanti Will untuk melakukan apa yang harus dia lakukan.
Panah dilesatkan, kembali membawakan siulan nyaring kembang api dan cahaya hijau lintasan tampak. Arahnya sama, targetnya beda. Setelah panah itu melesat jauh ke langit bebas, suara derit kayu langsung terdengar, beserta suara rimbun dedaunan yang mulai berjatuhan ke tanah. Aku menghela napas, bersiap dengan pose seperti sprinter. Kerja bagus, Will. Sekarang adalah bagianku.
Tiga detik, lima detik, sepuluh detik, dan entakkan keras kami rasakan bersamaan dengan suara kuat dari dahan pohon setebal lengan jatuh menghantam tanah. Beruang itu terkejut. Refleks ia menoleh ke arah dahan yang jatuh, kemudian langsung mengaum dan menyergapnya.
Sekarang!!!
...* * * * *...
__ADS_1